NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Ayah

Setelah Althan benar-benar pergi, Gala masuk ke kamar dan mendapati Rea berbaring membelakangi pintu, menangis dalam diam.

Gala mendekat, lalu duduk di sisi ranjang yang lain, di hadapan Rea.

Tanpa mengatakan apapun, Gala mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

Rea mendongak sekilas, sebelum bergerak memeluk pinggang Gala dan menyembunyikan wajahnya di sana.

Isakan yang ia tahan sejak tadi, kini mulai terdengar jelas.

"Lo benci sama Ayah?" tanya Gala menatap lekat kepala Rea yang masih bersembunyi di balik pinggangnya.

Rea menjawabnya dengan gelengan pelan.

Gala menghela nafas pelan, sebelum menarik Rea agar bangkit.

"Sini," katanya seraya membawa Rea ke pangkuan dan memeluknya.

Rea memeluk leher Gala, dan menyembunyikan wajahnya di cerukan leher cowok itu.

Gala mengusap rambut Rea yang menutupi sebagian wajah gadis itu.

Ia kemudian memeluknya, mengusap punggung istrinya dengan lembut.

"Dengerin gue, oke?"

Rea mengangguk tanpa melepas pelukannya, ia berusaha untuk meredakan isak tangisnya, agar dapat mendengar dengan jelas apa yang Gala ucapkan.

"Seburuk apapun orang tua, dia tetap manusia pertama yang membuat lo bisa ada di sini, di dunia ini. Tanpa adanya mereka, lo bukan Rea."

Gala berusaha menjelaskannya dengan suara penuh kelembutan, tanpa melepas pelukannya dan menghentikan usapannya.

"Mungkin, apa yang Ayah lakukan seringkali bertolak belakang sama lo. Tapi, bukan berarti Ayah gak sayang."

"Ayah itu sayang banget sama lo, Re. Apa yang beliau lakukan, itu semua demi lo. Sekarang lo merasa Ayah jahat, karena lo belum ngerti maksud Ayah melakukan itu semua. Lo kenal Ayah, kan?"

Rea diam, ia tidak menjawab, namun mendengar jelas ucapan Gala.

"Ayah itu hebat. Beliau selalu berusaha terlihat baik-baik aja, bahkan di saat hatinya sedang hancur melihat putrinya menangis karena dia."

Dapat Gala rasakan lehernya basah karena air mata Rea yang tak berhenti menetes.

"Kalau Ayah bisa memilih, mungkin Ayah lebih milih untuk terluka, dari pada bikin lo sedih. Tapi Ayah gak bisa, Re. Ayah ada di tengah pilihan yang sulit."

Rea melepas pelukannya, menatap Gala dengan sorot penuh tanya.

Gala bergerak mengusap wajah gadis itu yang dipenuhi air mata.

"Kalau gue jadi Ayah, mungkin gue juga akan melakukan hal yang sama. Lebih baik melihat anak gue sedih dan benci sama gue, dari pada melihat dia terluka. Itu yang ada di pikiran Ayah sekarang."

"Maksudnya apa?" tanya Rea dengan raut yang sudah bersiap untuk kembali menangis.

Gala kembali mengusap kelopak mata Rea, membuat air mata itu kembali menetes dari genangannya.

"Pilihan Ayah cuma ada dua, bikin lo sedih atau lo terluka."

Rea menggeleng, ia masih tak mengerti dengan ucapan Gala.

"Kalau lo sedih, Ayah masih punya kesempatan melihat lo tersenyum sama orang lain, salah satunya gue. Tapi di saat lo terluka, semua dunianya hancur. Lo hancur, dan dia lebih hancur. Di saat lo terluka, lo gak akan bisa tersenyum kecuali senyum palsu."

Rea mengerang dan menangis frustasi. Ia kembali memeluk Gala dan sedikit meremas rambut cowok itu.

"Maksudnya apa, gue gak ngerti, Kak!"

Rea berucap dengan suara sedikit meninggi. Ia kesal karena tidak bisa menebak teka-teki dari setiap kata yang Gala ucapkan.

Rea kembali terisak, membuat Gala menepuk punggungnya.

Gala memejamkan mata dan membuang nafas pelan.

"Ayah hidup dalam ancaman Bella dan Papa kandungnya."

***

"Sana, minta maaf sama Ayah. Gue ke cafe dulu, entar gue jemput," kata Gala setelah memarkirkan mobilnya di jalan depan rumah Althan.

"Lo gak ikut masuk aja?" Tampak raut memelas Rea pasang di wajahnya, membuat Gala memutar bola matanya malas.

"Kalau gue ikutan masuk, yang ada lo ngedusel di gue terus. Lo, kan kecanduan bau ketek gue," ledek Gala, dibalas dengusan sebal oleh Rea.

"Sudah, deh! Sana pergi! Ngeledek mulu bisanya." Dengan kesal, Rea turun dari mobil Gala dan menutup pintunya dengan kasar.

Gala terkekeh melihat ekspresi Rea yang terlampau menggemaskan di matanya. Membuka jendela di sampingnya, ia kemudian berucap, "Gak mau salam, Adek?"

Rea yang sudah hampir sampai di depan pintu, sontak berbalik dan terlihat semakin kesal.

"Enggak! Tangan lo bau tai!"

Gala melotot. "Heh! Sembarangan!"

Rea tertawa pelan seraya memeletkan lidah, sebelum melambaikan tangan dan masuk ke dalam.

"Bella mau, Ayah berhenti temui dia. Jangan memberikan apapun untuk anak pungut Ayah itu. Karena semua milik Ayah cuma buat Bella. Rea gak punya hak apapun."

Langkah Rea terhenti mendengar suara yang sangat ia kenal, berasal dari ruang tengah rumah itu.

"Iya. Ayah gak akan ketemu sama dia lagi. Ayah gak akan memberikan apapun lagi untuk dia. Semua milik Ayah, itu milik kamu, putri kesayangan Ayah."

Rea mengepalkan tangannya, menahan sesak di dada. Melihat jauh di depan sana, Althan yang tengah duduk sambil mengusap kepala Bella penuh kasih sayang, dengan posisi membelakanginya.

"Ayah, janji?"

Althan lagi-lagi tampak tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ayah janji. Cuma kamu putri Ayah satu-satunya, gak ada yang lain."

"Oh gitu?"

Keduanya sama-sama menoleh, Bella dengan raut sinis dan senyum miring, sedangkan Althan tampak terkejut dan menatapnya sendu.

"Rea?"

Althan mendekat, diikuti Bella. Althan hendak meraih tangan Rea, namun gadis itu lebih dulu menepisnya kasar.

"Rea ini--"

"Ayah gak sayang sama Rea!" teriak Reana pada sang Ayah yang berdiri mematung di hadapannya.

"Rea bukan anak Ayah!"

"Ayah jahat!"

"AYAH JAHAT!"

Baru saja Reana hendak berlalu, tangannya dicekal erat oleh gadis yang sejak tadi berdiri di belakang Ayahnya.

Tangan Bella bergerak meremas tangan Rea kencang. Kuku-kuku lentik dengan cat yang melapisinya itu tertancap di tangan Rea dan menimbulkan beberapa luka goresan.

"Lo memang gak pantas untuk mendapat kasih sayang Ayah," katanya sembari menyeringai sinis.

"Lihat aja! Waktu akan membuktikan segalanya!" balas Rea tanpa peduli darah yang mulai keluar dari sela kuku Bella yang menancap di tangannya.

Reana menyentak kasar tangan yang melukainya, sebelum berlalu begitu saja. Bahkan teriakan Althan yang sejak tadi menyerukan namanya, pun ia abaikan.

"Rea! Rea, tunggu! Dengerin Ayah dulu, Nak."

Belum sempat ia keluar dari pintu, tubuhnya lebih dulu menabrak dada bidang seseorang. Ia mendongak, tatapan matanya mengabur seketika melihat sosok yang ia butuhkan.

"Bawa Rea pergi," lirihnya setelah menghambur ke dalam pelukan hangat cowok di hadapannya.

Gala, mengusap punggung Rea agar merasa sedikit lebih tenang. Ia menatap datar ke arah mertua dan saudara iparnya.

Sebelum akhirnya, ia berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan Rea yang setia didekapnya.

.

.

To be continue ....

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!