Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Penobatan dan Langkah Keluar Benteng
Kemenangan mutlak Cheon Ryeon di laga puncak Turnamen Antar-Klan mengubah jalannya sejarah Akademi Kultus Iblis secara permanen. Klan Ma dan Klan Baek yang selama ini bertindak sewenang-wenang terpaksa gigit jari. Sesuai hukum adat Kultus, hak pengelolaan tambang besi utama dan alokasi dana terbesar Akademi resmi dialihkan kepada Keluarga Cheon.
Dua minggu setelah turnamen usai, sebuah upacara megah digelar di Aula Bintang Hitam, aula tertinggi Istana Utama Akademi.
Di hadapan belasan Tetua Tinggi, para instruktur, serta perwakilan dari seluruh klan, Cheon Ryeon berdiri tegap di atas mimbar batu. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam pekat dengan sulaman benang perak berbentuk Roda Bintang di dadanya.
"Atas nama Dewan Tetua Kultus Iblis," suara Tetua Utama bergema dipenuhi dorongan Ki jernih, "dengan ini menetapkan Cheon Ryeon secara resmi sebagai Pemimpin Muda Generasi Baru (Young Master) dan menganugerahkan panji kepemimpinan penuh atas wilayah Lembah Barat kepada Ordo Roda Bintang!"
DANGGG!
Suara gong raksasa bergema jernih.
Para murid dari klan-klan bawah bersorak gemuruh dari luar aula. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun terakhir, sosok yang berdiri di puncak hierarki Akademi bukanlah anak dari klan elit utama, melainkan pemuda yang bangkit dari barak terbuang.
Di barisan depan penonton, Tang Jin-Bao dan Gong Son-mi berdiri gagah mengenakan zirah komposit terbaru mereka. Jin-Bao kini menjabat sebagai Pengelola Logistik dan Keuangan Ordo, sementara Son-mi ditunjuk sebagai Komandan Pasukan Garda Depan.
"Lihat tuh, Son-mi," bisik Jin-Bao sambil tersenyum lebar dan menepuk kantong koin di pinggangnya. "Sekarang tidak ada satu pun murid Klan Ma yang berani memandang sebelah mata ke arah kita. Bahkan Tetua Pasar saja memberi kita diskon lima puluh persen buat semua pembelian herba!"
Son-mi terkekeh pelan, mengelus tangkai palu besinya. "Itu semua karena analisis dan kepemimpinan Ryeon. Sekarang tugas kita adalah memastikan Ordo ini makin solid."
Malam harinya, di markas pusat Ordo Roda Bintang yang baru—sebuah kompleks bangunan luas di kawasan pertengahan bukit yang dulu dimiliki oleh Klan Ma.
Ryeon duduk di ruang kerja utamanya. Di atas meja kayunya yang besar, terhampar sebuah peta raksasa benang yang menggambarkan seluruh wilayah benua Murim: Pegunungan Shiwan di barat, wilayah kekuasaan Aliansi Ortodoks di Central Plains, serta zona bebas di perbatasan selatan.
Di samping peta tersebut, kepingan Logam Paduan Bumi pemberian Jaegal So-yeon berpendar halus di bawah cahaya lilin.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan diketuk pelan. Jin-Bao melangkah masuk membawa gulungan laporan keuangan dan beberapa surat rahasia.
"Bos," panggil Jin-Bao dengan raut wajah yang berubah agak serius. "Laporan dari tim intelijen jalanan Baek Hyun sudah masuk."
"Baek Hyun?" Ryeon menaikkan sebelah alisnya.
Baek Hyun adalah mantan pembunuh jalanan muda yang baru saja direkrut Ryeon beberapa hari lalu karena bakat alaminya dalam ilmu penyamaran dan pengumpulan informasi rahasia di pasar gelap.
"Iya, Baek Hyun dapat info valid dari perbatasan," lanjut Jin-Bao sambil membentangkan gulungan surat. "Ada pergerakan aneh di luar Pegunungan Shiwan. Beberapa kelompok karavan pedagang dari Aliansi Ortodoks mendadak hilang tanpa jejak di sekitar Lembah Tengkorak Merah."
Ryeon mengamati peta. Lembah Tengkorak Merah adalah wilayah tak bertuan yang berada di perbatasan antara Kultus Iblis dan Central Plains.
"Bukan cuma karavan biasa," Jin-Bao berbisik pelan, mendekat ke meja Ryeon. "Baek Hyun bilang, di lokasi hilangnya karavan itu ditemukan bekas-bekas benturan Ki yang aneh... serta jejak-jejak logam paduan cair yang baunya persis sama kaya bahan eksperimen tungku kita."
Mata hitam Ryeon menyempit kilat.
Organisasi rahasia itu... mereka mulai bergerak di perbatasan, batin Ryeon.
Ryeon berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah benteng luar Pegunungan Shiwan.
Akademi dan Lembah Barat kini sudah aman di bawah kendali Ordo Roda Bintang. Fondasi ekonomi, pasukan, serta teknologi awal mereka sudah terbentuk kokoh. Namun, untuk mengungkap misteri di balik kematiannya di Bumi serta ancaman nyata yang mengintai seluruh dunia Murim, tetap berada di dalam tembok Akademi tidak akan pernah cukup.
"Siapkan tim inti," perintah Ryeon dingin tanpa ragu.
Jin-Bao tertegun sejenak. "Tim inti? Kita mau keluar dari Pegunungan Shiwan, Bos?"
"Gong Son-mi, kau, dan Baek Hyun ikut denganku," jawab Ryeon tegas. "Kita bakal ambil misi pengawalan dan investigasi di Lembah Tengkorak Merah secara langsung."
Ryeon merogoh token giok komunikasi milik Jaegal So-yeon dari dalam jubahnya.
"Lagipula..." Ryeon menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna, "sudah waktunya menagih janji informasi dari sang Bintang Catur Perak."
Jin-Bao meneguk ludahnya, lalu mengangguk mantap dengan mata berbinar. "Siap, Bos! Aku bakal siapkan perbekalan bahan kimia dan senjata komposit terbaik malam ini!"
Ryeon menatap keluar jendela, memandangi hamparan bintang-bintang di angkasa malam yang membentang luas di atas benua Murim.
Babak pertarungan skala kecil di dalam tembok Akademi telah selesai. Dan kini, dengan sains biomekanika di otaknya serta pasukan Ordo Roda Bintang di sampingnya, Cheon Ryeon siap melangkah keluar menundukkan seluruh benua Murim!