NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:247
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7 Aku Berharap Kepadamu

8/7/349

Pagi hari...

Tidak semua warga negara Kekaisaran mendukung pemerintahannya sendiri. Kurtz adalah salah satu contoh nyata yang diam-diam bergabung dengan kelompok pergerakan bawah tanah bernama 'The Brotherhood'.

Nyonya Mener dan Tuan Lynden merupakan tokoh kunci di dalam organisasi tersebut. Namun, Tuan Lynden tidak pernah terdengar kabarnya lagi sejak menginisiasi pemberontakan kaum petani di Kerajaan Zurich, wilayah yang takluk di bawah kekuasaan Kekaisaran sejak keruntuhan kerajaan itu.

Wajib militer menjadi alasan utama pembelotan Kurtz, yang memaksanya terpisah dari istri serta anak-anaknya.

Kaisar Abdius sangat berbeda dari pemimpin pada umumnya; ia menduduki tampuk kekuasaan setelah melancarkan revolusi menggulingkan raja sebelumnya. Sebagai seorang orator ulung, ia kerap menebar janji manis bagi masyarakat tertindas. Kenyataannya, begitu naik tahta, rakyat justru dipaksa mengangkat senjata demi mewujudkan ambisi ekspansinya.

Mengetahui ada penyintas lain selain Kyrin Arslan, Nyonya Mener langsung mengundangku untuk bergabung ke dalam pergerakan mereka. Siapa lagi kalau bukan Kyrin yang membocorkan keberadaanku di sini?

Surat dari Kurtz itu memuat koordinat lokasi markas rahasia mereka. Kendati demikian, sebelum memutuskan pergi ke sana, ada satu pertandingan penting yang harus kusaksikan lebih dulu.

Sandra, kuharap kamu beruntung.

"Bagaimana pertarunganku tadi?"

"Kamu seharusnya memperbarui biodata. Steven, kamu jauh lebih cocok masuk kelas Knight daripada Rookie."

Steven duduk di sampingku. Aroma keringat sisa pertandingannya menguar cukup menyengat.

"Bisa aja kamu!" Balasnya menyikut lenganku pelan. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pertandinganmu?"

"Besok."

Babak enam belas besar, ya... Ekspektasiku benar-benar diuji. Steven telah menyingkirkan tiga peserta, dan dua di antaranya berada satu tingkat di atasnya. Walaupun Sandra dan Steven terdaftar di tingkat Rookie, sistem turnamen ini memang sengaja dirancang untuk mempertemukan berbagai level, mulai dari Rookie hingga Professional.

Sebelum Steven menyelesaikan pertandingannya tadi, Kurtz sempat menjelaskan struktur tingkatan kelas Fighter, Thief, dan Shieldren. Kelas-kelas tersebut ternyata juga terbagi menjadi delapan jenjang: Rookie, Professional, Knight, Commander, King, Emperor, Dragon, hingga Conquest.

"... Dan berikutnya!" Godot naik ke atas arena, berteriak kencang memancing atensi penonton. "Pertandingan yang paling kita tunggu-tunggu! Pertarungan antara Sandra, wakil dari Airstrip One, melawan Estevan, sang juara bertahan dari Airstrip Two!"

Ah, benar juga. Kekaisaran sebenarnya memberi nama tiga permukiman itu dengan sebutan Airstrip. Nama-nama seperti Landmine, Harvestland, dan Tremisland murni sebutan yang dicetuskan oleh Sandra.

"Kalau begitu, tidak perlu berlama-lama lagi. Saksikan duel yang mendebarkan!"

Tepuk tangan dan sorak-sorai langsung bergemuruh dari tribun selatan yang dihuni oleh para pendukung Harvestland. Di sisi lain, tribun utara, tempat pendukung Sandra berkumpul sama sekali tidak mau kalah memberikan dukungan. Walau skalanya tidak semeriah duel kelas Knight atau Commander, antusiasme penonton tetap tinggi.

Dari dalam lorong yang gelap, sesosok pria berpostur dua kali lipat lebih besar ketimbang Sandra menampakkan diri. Tanpa mengenakan baju, otot-otot di tubuhnya tampak berkedut tegang. Alih-alih membawa pedang, ia menenteng sebuah palu besar sambil melambaikan tangan membalas riuh penonton. Tidak salah lagi, dialah Estevan. Aku bahkan bisa merasakan pusaran mana mengalir pekat di dalam pembuluh darahnya—ia mampu menggunakan mana, dan ini murni pancaran aura bertarungnya tanpa ada indikasi kecurangan.

"... Dan Sandra!"

Kepulan asap putih membubung di tengah arena. Tepat saat asap itu mulai pudar, Sandra berdiri dengan postur tegak, sementara pedang beratnya tertancap kokoh di lantai marmer.

"Keren!" gumam Patricia.

Patricia duduk di sampingku. Sempat ada niat untuk mengusirnya, tapi Steven melarangku. Sama seperti Patricia, para penonton terkejut sesaat sebelum sorak-sorai keras kembali pecah menyambut aksi pembuka Sandra.

"Wah, wah, wah..." Estevan bertepuk tangan berulang kali. "Menarik sekali lawan yang satu ini. Kuharap kamu bisa menghiburku!"

"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan berakhir di ruang medis," balas Sandra dengan senyum menyindir.

Wasit berdiri di antara mereka berdua, mengangkat satu tangannya untuk memulai pertandingan, sementara Godot memantau dari pinggir arena. Kurtz tetap duduk di belakangku, sibuk memperhatikan cincin pendeteksi mana di jarinya. Aku sempat mengajukan pertanyaan padanya tentang risiko membantu peserta lain. Ia memperbolehkannya, meski risikonya cukup besar.

Di satu sisi, aku bimbang apakah harus membantu Sandra atau membiarkannya. Kurtz mungkin akan tutup mulut, tapi melihat tekad kuat Sandra, aku merasa kasihan jika ia tahu kemenangannya nanti bukan murni dari hasil usahanya sendiri. Baiklah, kulihat situasi dulu. Jika Sandra mulai terdesak, aku akan ikut campur.

"Bersiap... Mulai!"

Pertandingan resmi dimulai. Estevan langsung melompat menerjang dengan palu raksasa yang diangkat tinggi-tinggi. Di sisi lain, Sandra berusaha mencabut pedangnya yang tertancap, mengabaikan rasa sakit yang merhujam tangan kanannya. Dengan sisa tenaga, ia berhasil menarik pedang itu tepat waktu untuk menangkis hantaman Estevan.

Bum!

"Bukannya senjata kelas Fighter itu wajib berupa pedang?" tanyaku pada Kurtz.

"Itu bukan palu biasa," jawab Kurtz tenang.

Ha?

"Kamu pikir ini palu biasa, ya?" geram Estevan tepat di hadapan Sandra, suara gigi bergemeretak terdengar jelas saat Sandra bersusah payah menahan beban hantaman tersebut. "Akan kuhancurkan seluruh tulangmu sampai menjadi bubur!"

Seketika, palu raksasa itu berubah bentuk menjadi bilah pedang panjang. Tekanan mendadak yang begitu berat membuat Sandra langsung terhempas ke belakang, gagal menahan transformasi senjata lawannya.

"Lemah!" Sergah Estevan. Ia melangkah mendekati Sandra yang terkapar.

Godot yang melihat terpojoknya salah-satu peserta. Masuk ke arena kembali. "Kamu sudah mau menyerah? Aku akan hitung satu sampai sepuluh."

Ketika Godot mulai menghitung. Sandra mencengkram tangannya yang terluka lalu berteriak sekencang mungkin. Mengangkat pedangnya yang terjatuh. Ia berdiri kembali, sekujur tubuhnya dipenuhi memar.

Tidak ada pilihan lain aku harus membantunya—

Saat aku mengangkat tangan. Steven dan Patricia menghentikanku sebelum memusatkan 'Mana'.

"Oh~ masih bisa bangkit ya?"

"Masih! Selama masih ada harapan!" Teriak Sandra. Ia berlari ke arah Estevan sambil mengangkat senjatanya tinggi-tinggi. "Aku kubuat kamu mengerti arti dari perjuangan!"

Tidak memberi Sandra kesempatan untuk mendaratkan serangan, Estevan melancarkan serangan balik. Kali ini jauh lebih agresif. Palu yang berubah bentuk menjadi pedang membuat fleksibilitas gerakannya meningkat drastis. Tapi ia harus membayar mahal pilihan itu dengan melemahkan area pertahanannya.

Melihat celah, Sandra meluncur cepat di bawah kaki Estevan yang terbuka, lalu menghunjamkan belatinya tepat ke arah pinggang lawan. Kehilangan tumpuan dan keseimbangan, Estevan roboh seketika ke atas lantai marmer.

"Dia... menggunakan rencanaku," gumam Patricia pelan, terperangah.

"Baguslah, sekarang kamu resmi mengajarinya cara bertindak seperti seorang Thief yang licik," singungku dingin, melipat tangan di dada.

Di tengah keheningan penonton, Godot berlari tergesa-gesa menuju arena untuk memastikan kondisi Estevan. Tepat saat semua orang mengira pertandingan telah usai, kejanggalan terjadi.

Otot-otot di sekujur tubuh Estevan bergejolak hebat. Darah yang tadinya mengalir dari luka robek di pinggangnya mendadak berhenti, dan jaringan daging itu menutup kembali dalam hitungan detik. Ia bangkit perlahan, menyeringai lebar dengan tatapan mata yang memerah.

"... Baru pertama kali aku merasakan adrenalin segila ini!" jeritnya menggelegar ke seluruh penjuru Colosseum. "Sepuluh tahun... Sepuluh tahun... Sepuluh tahun! Aku akhirnya menemukan lawan yang seimbang!"

"SAATNYA!"

Entah hanya perasaanku saja, atau udara di sekitar mendadak menjadi jauh lebih berat. Detik berikutnya, Colosseum bergetar hebat.

"Gempa?"

"Tidak salah lagi, ini gempa!" teriak Kurtz panik.

Para penonton yang baru menyadari getaran tersebut langsung berhamburan menuju pintu keluar. Kepanikan meledak dalam sekejap. Prajurit kekaisaran yang mencoba membendung arus massa justru tersapu dan terinjak-injak oleh penonton yang berebut menyelamatkan diri.

"Sialan!" Kurtz merangsek maju, mencengkeram bahuku. "Dia sedang membangkitkan kemampuan sihir tingkat King di dalam tubuhnya! Tidak mungkin seorang petarung di tingkat Profesional bisa mengaktifkan kekuatan sebesar ini secara mentah!"

"Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini, Lyan!" seru Kurtz menarik lenganku dengan kasar. "Jika kita tetap bertahan di sini, reruntuhan bangunan bisa menimbun kita hidup-hidup!"

"Tenang saja," jawabku datar.

"Bagaimana aku bisa tenang, bodoh?!"

Steven, yang sudah cukup lama mengenalku dan tahu persis apa yang mampu kulakukan, langsung menahan Kurtz dan menyuruhnya duduk kembali. Patricia yang sempat ikut melarikan diri pun mengurungkan niatnya, memilih kembali menempati kursi penonton dengan napas tertahan.

Aku maju satu langkah, mengangkat tangan kanan tanpa ragu.

"Oh Dewi Charlotte, lindungilah hamba-Mu yang penuh kasih ini dari segala bencana—Shildren Globe!"

"Awas!" teriak Kurtz yang refleks menutup matanya.

Bum!

Tepat sebelum sebuah reruntuhan dinding menghantam kepala kami, sebuah bola transparan berpendar kebiruan menyelimuti bangku penonton tempat kami berada. Puing-puing batu raksasa itu menghantam pelindung magis tersebut, hancur berkeping-keping menjadi butiran debu sebelum sempat melukai siapapun.

"Sudah aman, tak perlu khawatir lagi," sahutku santai.

"Eh?"

Kurtz membuka matanya perlahan. Ia langsung tersadar dari rasa tegangnya, lalu menampakkan ekspresi salah tingkah saat mendapati kami bertiga menatapnya dengan tatapan datar dan penuh kebingungan.

"Sudah, lupakan! Bagaimana kondisi di luar sana?" ucap Kurtz cepat, berusaha mengalihkan perhatian dari rasa malunya.

Sementara itu, di atas balkon, Duke Welding justru tampak begitu antusias. Senyum lebar dan tepuk tangan meriahnya menggema di tengah Colosseum yang kini sudah kosong dari penonton. Pria itu awalnya berniat langsung pergi usai pertandingan sebelumnya, kini mendadak berubah pikiran setelah menyaksikan ledakan kekuatan yang luar biasa.

Tentu saja, situasi itu memicu perdebatan sengit. Para pengawal membutuhkan waktu cukup lama untuk memaksa sang Duke agar mau segera mengungsi demi keselamatan nyawanya.

Sebelum membalikkan badan meninggalkan balkon, Duke Welding sempat memicingkan mata tajam ke arah tribun tempat kami berada. Namun, usahanya sia-sia—asap tebal dan debu reruntuhan yang membubung tinggi di udara 'mungkin' menyamarkan keberadaan kami sepenuhnya dari penglihatannya.

"Getaran terasa lagi!" Teriak Patricia panik.

"Berjongkok semuanya!"

Mengikuti perintah Kurtz kami berempat berjongkok. Tepat saat arena mulai terlihat kembali. Tubuh Estevan membengkak, aku bisa melihat melalui 'Open The Truth' ia sedang menyerap seluruh 'Mana' dari unsur alam dengan tubuh manusianya yang rapuh.

"Hanya menunggu waktu sampai kekuatannya bakalan membunuh dirinya sendiri."

"Benar!" Balasku.

Disini yang mengerti Konsep Mantra hanya aku dan Kurtz. Sandra cuma perlu menahannya sedikit lebih lama sampai ia menyerah dengan keadaan. Kemungkinan besar Estevan bakalan mati dalam proses ini. Mudah untuk mengatakannya, tapi sulit untuk mempraktekkan hal itu.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!