NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Bayang Masa Lalu & Pilihan yang Menyakitkan

Hari-hari berikutnya terasa damai, seperti sungai yang mengalir tenang di bawah sinar matahari. Wei Chen dan Meiying makan bersama, berjalan-jalan di kebun krisan, duduk berjam-jam di perpustakaan sambil membaca buku secara bergantian. Tembok dingin yang dulu memisahkan mereka runtuh sepenuhnya, digantikan kehangatan yang lembut dan nyata.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

Sore itu, saat mereka sedang duduk di beranda, melihat matahari perlahan turun ke balik perbukitan, A-Mei datang dengan wajah pucat dan terguncang.

"Nyonya... di gerbang... ada seseorang yang mencari Nyonya," suaranya bergetar. "Dia menyebutkan nama Rouran."

Jantung Meiying mencelos. Wei Chen menegang di sampingnya. "Siapa dia?"

"Dia sendiri yang datang," jawab A-Mei menunduk. "Dia bilang dia Rouran. Dia bilang ini kediamannya dan dia ingin masuk."

Darah seakan membeku di tubuh Meiying. Dia datang. Sepupunya, wanita yang kabur, yang menggantikannya — kini kembali, tepat saat segalanya mulai terasa baik.

Wei Chen bangkit berdiri, meremas pelan bahu Meiying. "Tetap di sini. Aku akan menemui dia."

"Tidak," jawab Meiying, berdiri juga, meski lututnya gemetar. "Ini urusan saya juga. Saya harus menghadapinya."

Bersama-sama mereka berjalan ke gerbang depan. Di sana, di bawah sinar matahari yang mulai memerah, berdiri seorang wanita muda mengenakan gaun perjalanan yang lusuh, rambutnya berantakan, wajahnya lelah namun matanya tajam dan penuh kemarahan. Itu Rouran.

Saat melihat Meiying, ia melangkah maju, suaranya melengking. "Kau! Kau mengambil semuanya dariku! Rumah ini, suamiku, kedudukanku! Kau hidup mewah di sini sementara aku lari kelaparan, tak punya tempat berteduh!"

Meiying melangkah maju, berusaha tetap tenang. "Rouran... aku tidak mengambil apa pun. Aku datang karena kau pergi. Keluarga kita terancam."

"Kau berpura-pura baik!" bentak Rouran. "Kau selalu iri padaku, bukan? Sekarang kau menikmatinya, hidup sebagai istri Jenderal, dicintainya..." Ia melirik Wei Chen dengan pandangan berharap sekaligus curiga. "Apakah dia mencintaimu? Padahal dia seharusnya menikahiku!"

Wei Chen melangkah ke depan, berdiri di samping Meiying, suaranya tegas namun tenang. "Aku tidak pernah mencintaimu, Rouran. Pernikahan ini diatur. Tapi Meiying... dia bukan sekadar istri yang diatur. Dia orang yang aku pilih dengan hatiku sendiri."

Wajah Rouran memerah, matanya memancarkan kebencian. "Kau membela dia? Dia penipu! Dia menyamar jadi aku! Kalau bukan karena dia, aku yang akan berdiri di sini!"

"Kau pergi sendiri," kata Meiying lembut namun mantap. "Kau meninggalkan semua orang yang mencintaimu. Kau meninggalkan Ayah, Ibu, adik-adik kita. Aku datang bukan untuk merebut tempatmu, tapi untuk menyelamatkan mereka."

Rouran terdiam sesaat, lalu tersenyum miring yang menakutkan. "Baiklah. Kalau begitu, kembalikan tempatku. Pergilah. Katakan kebenaran pada semua orang. Biarkan aku yang menggantikanmu sekarang."

Meiying terkejut. "Apa?"

"Kau dengar aku," ucap Rouran, menatapnya tajam. "Kau sudah menikmati kemewahan ini cukup lama. Sekarang giliranku. Pergilah, dan biarkan aku tinggal di sini sebagai istri Wei Chen. Atau..." Ia berhenti, menatap mereka berdua. "Atau aku akan pergi ke istana sendiri. Aku akan memberi tahu Kaisar siapa yang sebenarnya tinggal di sini. Biarkan dia yang memutuskan nasib kalian."

 

Malam itu, keheningan menyelimuti kediaman, namun bukan keheningan yang damai. Meiying duduk di tepi tempat tidur, menatap ke luar jendela, pikirannya berkecamuk. Rouran menginap di kamar tamu, tepat di sayap yang sama — bayangannya terus menghantui setiap sudut ruangan.

Pintu terbuka perlahan. Wei Chen masuk, duduk di sampingnya, meraih tangannya.

"Kau tidak perlu melakukan apa yang dia minta," ucapnya lembut namun tegas. "Kita bisa menghadapinya. Kita jelaskan kebenarannya."

Meiying menghela napas panjang. "Tidak semudah itu, Wei Chen. Dia benar. Aku menyamar. Itu fakta. Jika Kaisar tahu, keluargaku bisa hancur. Dan kau... kau juga bisa dihukum karena menyembunyikan kebenaran ini."

"Biarkan aku menghadapinya," kata Wei Chen, memeluknya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

"Tapi aku tidak bisa membiarkan keluargaku hancur," suaranya pecah. "Aku tidak bisa membiarkanmu dihukum karena kesalahanku."

Mereka duduk dalam keheningan yang menyakitkan. Cinta mereka nyata, kuat, namun dibangun di atas kebohongan yang bisa runtuh kapan saja. Dan sekarang, orang yang paling berhak membongkarnya memegang kekuasaan itu di tangannya.

 

Keesokan paginya, Meiying menemui Rouran di halaman belakang, di bawah pohon persik yang daunnya mulai rontok. Rouran sedang duduk di bangku batu, memandang ke arah kebun krisan dengan tatapan yang tidak bisa dibaca — iri, rindu, dan kesepian sekaligus.

"Kau mau apa sebenarnya?" tanya Meiying pelan.

Rouran menoleh, menyeringai tipis. "Aku mau hidup yang seharusnya menjadi milikku. Pesta, pakaian indah, dihormati semua orang... dulu aku pikir itu yang aku inginkan. Tapi saat lari... aku sadar aku tak punya apa-apa. Tak ada yang peduli apakah aku hidup atau mati." Ia terdiam, suaranya melemah. "Kau selalu punya cara membuat orang mencintaimu, ya? Bahkan Wei Chen..."

"Dia mencintai aku karena siapa aku," jawab Meiying duduk di sebelahnya, menjaga jarak. "Bukan karena kedudukanku. Bukan karena nama apa pun."

"Kalau begitu tinggalkanlah dia," kata Rouran tajam. "Biarkan aku mencoba. Siapa tahu dia bisa mencintaiku juga."

Meiying menunduk, menahan rasa sakit di dadanya. "Itu bukan cara mencintai seseorang, Rouran. Kau tidak bisa memaksa hati seseorang."

"Kau tidak tahu apa-apa tentang hati!" bentak Rouran, matanya berkaca-kaca. "Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya di pesta musim semi itu! Aku kabur bukan karena takut... aku kabur karena aku pikir dia tidak akan pernah melihatku! Tapi kau... kau datang dan mengambilnya seolah itu milikmu!"

Meiying terkejut. Ia tidak pernah menyangka perasaan tersembunyi itu. Rouran tidak hanya iri — ia terluka.

"Aku tidak tahu..." suaranya pelan.

"Tentu saja tidak," Rouran menyeka air matanya kasar. "Kau tidak pernah tahu rasanya menjadi bayangan orang lain. Selalu nomor dua. Selalu kurang cantik, kurang pandai, kurang disukai."

Meiying menatap sepupunya dengan perasaan bercampur — sakit sekaligus iba. "Kau tidak pernah nomor dua bagiku, Rouran. Aku selalu mengagumimu. Kau cerah, berani, semua orang menyukaimu."

Rouran tertawa pahit. "Itu hanya topeng."

 

Sore itu, Meiying mencari Wei Chen di ruang kerjanya. Ia berdiri di jendela, memandang ke arah kebun, punggungnya kaku.

"Aku mendengar percakapan kalian," katanya tanpa menoleh.

Meiying melangkah mendekat. "Wei Chen..."

Ia berbalik, matanya serius. "Meiying, dengarkan aku. Aku tidak peduli siapa yang datang, apa ancamannya. Aku tidak akan mengirimmu pergi. Kita akan bicara pada Kaisar bersama-sama. Aku akan menjelaskan semuanya — keputusanku, perasaanku, segalanya. Biarkan apa yang terjadi, terjadi."

"Dan jika hukuman itu datang?" tanya Meiying pelan. "Jika keluargaku dihukum? Jika kau dijatuhkan?"

Wei Chen memegang kedua bahunya, menatapnya dalam-dalam. "Lebih baik aku menghadapi kebenaran bersamamu daripada hidup dalam kebohongan tanpa dirimu. Aku sudah hidup sendirian terlalu lama. Aku tidak bisa kembali kesendirian itu."

Air mata jatuh di pipi Meiying. Ia memeluknya erat, menyandarkan kepala di dadanya. "Aku juga tidak bisa kehilanganmu."

"Jadi kita hadapi bersama," bisiknya, mencium puncak kepalanya. "Satu langkah pada satu waktu."

 

Namun takdir punya cara sendiri untuk menguji.

Malam itu, sebelum fajar menyingsing, Rouran datang ke kamar Meiying. Wajahnya tidak lagi penuh kemarahan, melainkan pucat dan lelah, seakan semua tenaganya telah habis. Di tangannya ada selembar surat yang sudah tertutup rapat.

"Aku tidak pergi ke istana," ucapnya pelan, suaranya berbeda dari biasanya.

Meiying bangkit duduk. "Rouran..."

"Dengar aku," potongnya lembut. "Aku sudah berpikir semalaman. Kalau aku pergi ke istana, aku akan menghancurkan kalian berdua. Tapi... aku juga akan menghancurkan Ayah, Ibu, adik-adik kita. Mereka tidak bersalah." Ia menghela napas panjang. "Dan aku sadar... kalau aku menggantikanmu, aku tidak akan bahagia. Karena dia tidak akan pernah mencintaiku. Aku hanya akan hidup di bayangmu, sama seperti dulu aku hidup di bayang orang lain."

Ia meletakkan surat itu di meja.

"Ini surat pengakuan. Aku tulis sendiri. Isinya aku mengaku kabur karena takut, lalu kembali dan menyadari kesalahanku. Aku memohon maaf dan meminta izin untuk pergi jauh, agar tidak ada keraguan lagi tentang siapa yang ada di sini."

Meiying menatapnya tak percaya. "Rouran... kenapa?"

Sepupunya tersenyum tipis, senyum yang paling tulus yang pernah ia lihat darinya. "Karena untuk pertama kalinya, aku ingin melakukan sesuatu yang benar. Bukan untuk dipuji, bukan untuk dicintai... tapi karena memang seharusnya begitu."

"Ke mana kau akan pergi?" tanya Meiying cemas.

"Ke tempat yang tenang," jawab Rouran. "Aku punya teman jauh di pegunungan. Mereka mengajakku tinggal di sana. Aku akan mulai hidup baru — sebagai diriku sendiri, bukan sebagai pengantin yang dijanjikan, bukan sebagai putri yang diharapkan orang lain." Ia memegang tangan Meiying sejenak. "Jaga dia baik-baik. Dia pria yang berharga."

Sebelum Meiying sempat menjawab, Rouran berbalik dan pergi — langkahnya ringan, bebas, seakan beban berat yang memikulnya selama ini akhirnya terangkat.

 

Saat fajar menyingsing, Wei Chen menemukan Meiying duduk di beranda, memegang surat itu. Ia membacanya, lalu duduk di sampingnya, diam cukup lama.

"Dia pergi," kata Meiying pelan.

Wei Chen mengangguk, merangkul bahunya. "Dia menemukan kebebasannya sendiri."

Matahari terbit perlahan, menyinari kebun krisan yang mekar indah. Tidak ada ancaman, tidak ada bayang yang mengintai. Hanya mereka — dua orang yang bertahan melewati kebohongan, ketakutan, dan ujian yang datang dari masa lalu sendiri.

Meiying menyandarkan kepala di bahu Wei Chen. "Apakah ini benar-benar berakhir?"

Ia mencium keningnya lembut. "Bab yang menyakitkan sudah berakhir. Bab baru kita dimulai sekarang."

Di kejauhan, di jalan yang menanjak ke arah pegunungan, seorang wanita muda berjalan sendirian, tas kain di bahunya, wajahnya menghadap ke depan tanpa menoleh ke belakang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak berjalan mengikuti orang lain. Ia berjalan menuju jalannya sendiri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!