NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Mantan Istri Tersenyum Bersama Pria Lain

#16

Beberapa hari berlalu, seiring dengan terus membaiknya kesehatan Dina, Pak Hermanto tak perlu lagi mencemaskan putrinya. Pria itu kembali beraktivitas seperti semula, sesekali sibuk di luar, sesekali juga hanya di rumah menikmati hari tenang selama pensiun. 

Sementara Dina, ia semakin aktif dan energik seperti saat sebelum masa kehamilan datang. Wanita itu tak mau diam tanpa menghasilkan karya, justru ia kini diam-diam aktif mencari informasi tentang Permana Group, rasanya masih belum puas meski ia sudah lepas dari keluarga mereka. 

Padahal Pak Hermanto sudah mengingatkannya bahwa ia sudah mengurusnya. Ada orang-orang terpercaya yang kini sedang membantunya di balik layar, salah satunya adalah ArreV, Tapi karena Tuan Aldy adalah pebisnis yang bersih, maka mereka pun akan membantu Pak Hermanto dengan cara yang legal. 

“Baiklah, Pa. Tapi, tolong jangan menyembunyikan perkembangan apapun dariku.” Akhirnya Dina hanya bisa pasrah dan mempercayai Pak Hermanto. 

“Iya, papa tahu.” 

“Kalau begitu aku pamit dulu, mau mengantar ASI, sekaligus menengok Ghazi.” 

Diam-diam Pak Hermanto ikut senang melihat perubahan Dina, putrinya kini sangat ceria, seperti kembali menemukan hidup barunya. Padahal sebelumnya ia terpuruk ke dasar jurang kesedihan sejak kembali ke rumah dalam keadaan hamil tua, serta hati yang hancur porak poranda. 

“Bagaimana keadaannya sekarang?” 

“Alhamdulilah, Pa, semakin baik. Dan kemungkinan Ghazi bisa segera dibawa pulang.” 

“Alhamdulillah, syukurlah, Mama juga ikut senang,” cetus Bu Rara yang baru saja bergabung. “Nanti, jangan lupa sampaikan salam Mama untuk Jeng Hilda.”

“Iya, Ma.” 

Setelah selesai mengemas ASIP dalam cooler bag, Dina pun pamit pada kedua orang tuanya. 

Sendirian? 

Iya, kini Dina harus bertransformasi menjadi wanita mandiri, tidak ingin sekedar menjadi benalu, apalagi sampai merepotkan kedua orang tuanya. Entah pekerjaan apa nanti yang akan ia pilih, masih belum bisa Dina tentukan. Sekarang ia hanya ingin fokus membantu Ghazi yang membutuhkan ASI darinya. 

Sungguh lingkaran takdir yang rumit, tapi beginilah cara takdir hidup bekerja dengan tangan ajaibnya. Kini tugas Dina hanya menjalankan peran sebaik-baiknya. Peran barunya sebagai ibu ASI dari Ghazi. Selanjutnya biar Tuhan saja yang mengatur kemana arah jalan hidupnya kelak. 

Dina tidak pernah menyangka bahwa setelah kehilangan Ghaza, ia justru dipertemukan dengan seorang bayi lain yang membutuhkan sesuatu yang masih bisa ia berikan. 

Sejak pertemuannya dengan keluarga Azam di rumah sakit, ia seperti menemukan kebahagiaan ajaib yang ampuh mengusir kesedihannya setelah kehilangan Ghaza. 

Hingga setiap tahapan pemberian donor ASI yang katanya harus melalui prosedur pemeriksaan, tak jadi masalah untuk Dina. Dengan senang hati Dina menyerahkan ASI perahnya kepada pihak rumah sakit, setelah semuanya dipastikan aman untuk konsumsi oleh Ghazi, barulah diberikan pada bayi itu. 

Bagi Dina, itu bukan pengorbanan. Melainkan hadiah berharga untuk satu nyawa berharga pula. Daripada berakhir menganggur di kulkas, atau hanya terbuang sia-sia, bukankah itu mubazir namanya? 

Tiba di rumah sakit, Dina kembali bertemu Bunda Hilda, yang lagi-lagi hanya seorang diri saja. “Tante apa kabar?” 

“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, Terima kasih, Nak,” ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. “Kamu tidak tahu betapa berarti bantuan ini bagi kami.”

Dina menggeleng, “Jangan berterima kasih terlalu banyak, Tante. Saya hanya bantu sebatas ini.” 

Dina membersihkan kedua telapak tangannya dengan hand sanitizer, sebelum menggendong Ghazi. “Hai, Jagoan. Tante Dina datang lagi, bagaimana kabarmu hari ini?” 

“Oh, iya, Tante. Apa kata dokter soal perkembangan Ghazi setelah mendapatkan suplai ASI?” imbuh Dina. 

“Alhamdulillah, katanya sih, Ghazi sudah cukup kuat, pencernaannya juga sudah bisa menerima dengan baik ASI pemberianmu. Jika begini terus, paling lambat besok, atau lusa, Ghazi bisa pulang ke rumah.” 

Tak terkira bahagianya Dina mendengar kabar tersebut. “Alhamdulillah, aku ikut senang, Tante.” 

Ini pertemuan kedua Dina dengan Ghazi, karena beberapa hari lalu, Azam yang datang ke rumahnya untuk mengambil stok ASIP simpanan Dina. Dan hari ini Dina sengaja tak meminta Azam datang, sebab ia ingin bertemu dan menanyakan langsung kabar Ghazi. 

Seperti saat kali pertama melihat Dina di ruang perawatan putranya, kali ini pun Azam sengaja berdiri di kejauhan, tepatnya di dekat pintu. Karena ada batasan yang tak boleh ia langgar sebagai seorang pria terhadap seorang wanita yang bukan mahramnya. Apalagi Dina datang untuk menyusui putranya. 

Azam menjauh dari pintu saat ponselnya bergetar, “Assalamualaikum, Ayah?” 

“Waalaikumsalam, Zam. Kamu dimana?” 

“Aku ke rumah sakit sejenak, Yah. Menengok Ghazi.” 

“Oh, Ayah kira kemana. Soal saham Pak Hermanto, bagaimana hasilnya?” tanya Ayah Irfan. Sebagai teman, Ayah Irfan ingin totalitas memberikan bantuan. Apalagi Pak Hermanto juga sudah sering memberinya bantuan.

“Sepertinya, ada upaya untuk merubah struktur kepemilikan secara sepihak. Apakah Pak Hermanto memiliki bukti kuat bahwa ia menanamkan sejumlah saham.” 

“Seingat Ayah, ada. Namun, hanya berupa bukti bermaterai, yang disaksikan notaris. Tak ada syarat dan ketentuan khusus, bilamana beberapa tahun ke depan ada masalah yang terjadi seperti saat ini.” 

Azam terdiam, ia berpikir sejenak. “Kalau begitu, akan sulit dilakukan jika kita menggunakan cara yang bersih.” 

“Maksudmu?!” 

“Kadang kala kita perlu menggunakan cara curang untuk melawan kecurangan. Ayah tenang saja, itu akan menjadi urusanku, karena aku juga baru dapat info bahwa Permana Group baru saja menandatangani kesepakatan dengan ArreV.” 

“Lho, itu kan—” 

Azam tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi. 

•••

Satu jam kemudian, Dina pamit pulang. 

“Eh, Azam. Sejak kapan duduk di sini? Bukannya masuk ke dalam?” kata Bunda Hilda saat mengantarkan Dina sampai ke pintu. 

Azam segera berdiri, pria itu mengusap tengkuknya malu. “Sudah lama, sih, Bund. Aku cuma nggak pengen ganggu obrolan Bunda dan Dina, sepertinya asik sekali.” 

“Tante, Zam. Aku pamit pulang dulu.” Dina tak sanggup berlama-lama di dekat Azam, karena jantungnya kembali berdebar tak sopan sejak ia berjumpa kembali dengan cinta pertamanya itu. 

“Eh, jangan sendirian, biar Azam antar.”

“Nggak usah, Tante. Aku bisa naik taksi,” tolak Dina cepat. 

“Eh, jangan begitu.” 

“Iya, Din. Ayo aku antar, rumahmu cukup jauh dari sini.” 

Didesak dua orang, membuat Dina tak kuasa menolak. Akhirnya, Dina pun pasrah saja. Sambil berharap jantungnya baik-baik saja. 

Keduanya berjalan beriringan, namun, tetap menjaga jarak aman. 

“Emm, Din. Terima kasih,” ucap Azam saat mereka menunggu di depan lift. 

“Terima kasih untuk?” 

“Pertolonganmu pada putraku.” 

Dina mengangguk paham. “Ini adalah bentuk kasih sayang seorang ibu. Bukankah Ghazi juga putraku sekarang?” 

Deg! 

Azam terdiam, kedua matanya menatap wajah Dina yang berbinar bahagia saat mengatakan Ghazi adalah putranya. “Ah, iya, kamu benar.” 

Pintu lift terbuka. Beberapa orang turun dari dalamnya, setelah itu barulah Azam dan Dina melangkah masuk. 

Tak ada lagi topik pembicaraan selama benda kotak raksasa itu bergerak turun ke lantai dasar. Saat hendak turun, keduanya sama-sama menunggu siapa yang hendak turun lebih dulu. 

“Kamu dulu.” 

“Eh, tidak. Ladies first.” Azam mencoba berkelakar, untuk memecah kebekuan diantara mereka.

Dina tersenyum, senyum yang cukup lebar, sebab hatinya sedang berbunga bahagia. Tak salah bukan? Toh ia sudah tidak terikat dengan pria manapun. Dan setelah masa nifasnya berakhir, berakhir pula masa iddahnya. 

Sayangnya kebahagiaan Dina itu, membuat sepasang mata Farhan memanas, dadanya bergemuruh saat melihat mantan istrinya tersenyum se bahagia itu di sisi pria lain. 

Farhan sendiri sudah lupa, kapan terakhir kali ia melihat senyum bahagia di wajah mantan istrinya. Saat hari pernikahan? Saat mereka baru saja menikmati hangatnya malam pertama? Atau saat berita kehamilan itu terdengar? Karena setelah hamil, Dina justru hanya menerima kabar yang menyakiti hatinya saja. 

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
Sh: aku ga usah banyak banyak, 9 kg qja😂😂
total 4 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!