Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bimbingan Tetua Wang
Bimbingan khusus dari Tetua Wang ternyata jauh lebih berat dari yang Chu Feng bayangkan.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia sudah harus berada di halaman belakang menara pusat—tempat latihan pribadi Tetua Wang yang jarang sekali dikunjungi murid biasa—untuk memulai rutinitas yang menggabungkan meditasi mendalam, latihan teknik tombak tingkat lanjut, dan diskusi panjang tentang teori kultivasi yang jauh melampaui apa yang pernah ia pelajari dari kitab-kitab tua perpustakaan istana.
"Kekuatanmu berkembang cepat," komentar Tetua Wang suatu pagi, mengamati Chu Feng yang baru saja menyelesaikan sesi meditasi mengalirkan qi menyusuri meridian keempat—pencapaian yang menurut standar kultivasi normal seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan, namun berhasil ia capai hanya dalam tiga minggu sejak tiba di sekte. "Terlalu cepat, sejujurnya, untuk seseorang tanpa warisan keluarga kultivator yang kuat."
Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa jauh ia harus jujur pada tetua yang sudah menunjukkan kebaikan dan kepercayaan besar padanya sejak hari pertama.
"Tetua," katanya akhirnya, memutuskan bahwa kejujuran adalah pilihan yang lebih bijaksana dibandingkan terus menyembunyikan kebenaran dari seseorang yang sudah mengenal ibunya. "Ada sesuatu yang perlu kuceritakan."
Tetua Wang menatapnya, ekspresinya tenang namun penuh perhatian. "Aku mendengarkan."
Dengan hati-hati, Chu Feng menceritakan tentang malam di reruntuhan Lembah Kabut, pertemuannya dengan pecahan tubuh Dewa, dan kekuatan-kekuatan yang perlahan mulai terbuka dalam dirinya sejak saat itu—meski ia memilih untuk tidak mengungkapkan detail spesifik tentang Mata Dewa atau kemampuan lain yang masih ia rahasiakan bahkan dari tetua sekte ini.
Tetua Wang mendengarkan dengan saksama, ekspresinya berubah dari terkejut menjadi sesuatu yang menyerupai pengertian mendalam, hingga akhirnya menghela napas panjang ketika Chu Feng selesai bercerita.
"Jadi benar," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Chu Feng. "Setelah sepuluh tahun, pecahan yang berhasil disembunyikan ibumu akhirnya menemukan jalan kembali."
"Anda tidak terkejut?" tanya Chu Feng.
"Aku curiga sejak awal," Tetua Wang tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kesedihan lama. "Pola energi yang kau tunjukkan terlalu familiar bagiku—aku pernah merasakannya sekali, ketika ibumu menggunakan sisa kekuatannya untuk menyembunyikan pecahan-pecahan itu malam tragedi itu terjadi. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk kau ceritakan sendiri, alih-alih memaksa."
Chu Feng merasakan rasa hormat baru pada tetua yang telah menunjukkan kebijaksanaan dan kesabaran yang luar biasa. "Terima kasih sudah menunggu, Tetua."
"Jangan berterima kasih," Tetua Wang menggeleng pelan. "Ini adalah hutang yang harus kubayar pada ibumu, dan pada keluarga penjaga yang telah berkorban begitu banyak. Membantumu berkembang, melindungimu selama kau berada di sekte ini—itu adalah kewajiban moralku, bukan sekadar kebaikan hati."
Sejak percakapan itu, bimbingan Tetua Wang menjadi jauh lebih intensif dan personal. Ia mulai mengajarkan Chu Feng teknik-teknik tombak yang lebih kompleks, jauh melampaui apa yang biasa diajarkan pada murid tingkat awal—termasuk beberapa variasi dari teknik "Hujan Seribu Tombak" yang konon merupakan salah satu teknik andalan sekte ini di masa kejayaannya.
"Teknik ini membutuhkan kontrol qi yang sangat presisi," jelas Tetua Wang suatu sore, mendemonstrasikan rangkaian gerakan yang menciptakan puluhan bayangan tombak di udara, masing-masing bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda namun tetap terkoordinasi sempurna. "Kesalahan kecil bisa membuat seluruh formasi serangan kacau, atau lebih buruk, melukai dirimu sendiri karena qi yang terpecah tidak merata."
Chu Feng mengamati dengan saksama, Mata Dewa-nya diam-diam diaktifkan untuk mempelajari pola aliran qi yang mendasari teknik itu—sebuah kebiasaan yang mulai ia sadari sebagai keuntungan besar dalam mempelajari teknik-teknik baru, meski ia tetap berhati-hati untuk tidak menunjukkan kemampuan itu secara terang-terangan bahkan pada Tetua Wang yang sudah ia percayai.
Butuh waktu hampir dua minggu latihan intensif sebelum Chu Feng berhasil menguasai versi dasar dari teknik tersebut—jauh lebih cepat dari perkiraan awal Tetua Wang, yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi murid biasa untuk menguasai teknik serupa.
"Kau benar-benar anomali, Nak," komentar Tetua Wang, geli namun juga bangga, ketika menyaksikan Chu Feng berhasil menciptakan sepuluh bayangan tombak yang terkoordinasi dengan cukup baik dalam sesi latihan sore itu. "Pada tingkat perkembangan seperti ini, aku ragu ada murid sekte lain, bahkan di sekte-sekte besar sekalipun, yang bisa menyainginya di usiamu."
Sementara itu, Hei juga menunjukkan perkembangan yang tidak kalah mengejutkan.
Anak serigala yang dulu ditemukan Chu Feng dalam kondisi kurus dan terluka parah, kini tumbuh dengan kecepatan yang jauh melampaui serigala normal—bulu hitamnya semakin berkilau, tubuhnya semakin kekar, dan yang lebih mengejutkan, sesekali ia menunjukkan kemampuan-kemampuan kecil yang tidak lazim dimiliki serigala biasa, seperti kemampuan bergerak dengan kecepatan yang jauh melampaui ukuran tubuhnya, atau sesekali mata kekuningannya berkilau dengan cahaya samar ketika ia merasa terancam.
Tetua Mei, ahli formasi dan alkimia sekte, pernah memeriksa Hei secara singkat ketika Chu Feng meminta pendapatnya tentang kondisi kesehatan makhluk kecil itu.
"Menarik," komentarnya, matanya menyipit mengamati pola energi yang mengalir dalam tubuh Hei. "Ada resonansi garis keturunan kuno dalam dirinya, meski masih terlalu samar untuk kupastikan jenisnya secara spesifik. Biarkan dia terus berkembang secara alami—kalau memang ada sesuatu yang istimewa dalam darahnya, itu akan terungkap dengan sendirinya seiring waktu."
Chu Feng mengangguk, mengelus kepala Hei yang menggosokkan diri ke kakinya dengan penuh kasih sayang. Ia tidak terburu-buru untuk mengetahui rahasia di balik garis keturunan Hei—yang penting baginya sekarang adalah ikatan yang telah terbentuk di antara mereka, sesuatu yang tulus dan tidak dilandasi kepentingan apa pun, berbeda jauh dari dinamika penuh perhitungan yang selama ini ia kenal di istana.
Satu bulan berlalu sejak Chu Feng tiba di Sekte Awan Langit, dan perkembangannya—baik dalam kultivasi, penguasaan teknik tombak, maupun hubungannya dengan sesama murid sekte—telah melampaui ekspektasi siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Suatu malam, ketika ia duduk di beranda asramanya, menatap bintang-bintang yang bertabur di langit malam yang cerah, suara di dalam dirinya kembali bergema, nada yang jarang sekali terdengar begitu serius.
"Kau berkembang dengan baik, Pangeran Ketujuh. Tapi aku harus memperingatkanmu tentang sesuatu."
Apa itu? tanya Chu Feng, merasakan keseriusan yang tidak biasa dalam nada suara itu.
"Resonansi kekuatanmu, meski masih relatif lemah dibandingkan potensi penuhmu, mulai menyebar lebih jauh dari yang kau sadari—terutama setiap kali kau menggunakan Mata Dewa atau teknik-teknik tingkat lanjut. Ada kemungkinan, cepat atau lambat, sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar rival sekte akan mulai merasakannya."
Chu Feng terdiam, mengingat kembali peringatan ayahnya tentang kelompok berjubah hitam yang menyerang Desa Kabut Hening—kelompok yang, menurut firasatnya sendiri, mungkin masih mencari sisa-sisa pecahan tubuh Dewa yang tersebar di dunia ini.
Aku akan berhati-hati, pikirnya, tekadnya semakin mantap meski bayang-bayang bahaya yang belum jelas bentuknya mulai menghantui benaknya. Tapi aku juga tidak akan berhenti berkembang. Cepat atau lambat, aku harus cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
"Sikap yang tepat," setuju suara itu. "Tapi ingatlah, Pangeran Ketujuh—kekuatan tanpa kewaspadaan hanya akan membawamu pada kehancuran yang lebih cepat, bukan perlindungan yang lebih baik."
Chu Feng mengangguk dalam hati, menatap ke arah langit malam yang tenang, tidak menyadari bahwa jauh di luar sana, bayangan yang sudah lama mengamati dari kejauhan mulai bergerak lebih dekat—perlahan, namun pasti, menuju sekte kecil yang kini menjadi rumah bagi warisan yang telah mereka cari selama bertahun-tahun.