NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang CEO Beranak Tiga

Istri Pengganti Sang CEO Beranak Tiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Moon28

"Apa?! Kak Rania kabur?!"

Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.

Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.

Tubuh Gladis mendadak lemas.

Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.

Namun sang calon pengantin justru menghilang.

"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.

Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.

Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.

"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."

"Tapi Kak Rania sudah pergi!"

"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.

Gadis itu terdiam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermain Di Taman.

Dua hari berlalu sejak keberangkatan Arsen ke luar negeri.

Rumah keluarga Wijaya perlahan menemukan ritmenya yang baru.

Setiap pagi, Gladis membangunkan Raka dan Raina untuk bersiap ke sekolah.

Rian, seperti biasa, menjadi penghuni rumah yang paling ribut.

"Ma!"

"Iya?"

"Kaos kaki Rian hilang!"

"Lihat di laci."

"Sudah."

"Ada?"

"Tidak."

Gladis berjalan ke kamar Rian.

Begitu membuka pintu, ia langsung menghela napas.

Kaos kaki yang dicari ternyata sedang dipakai.

"Rian."

"Hm?"

"Itu apa?"

Rian menunduk melihat kakinya.

"Oh."

Lalu tersenyum polos.

"Ketemu."

Gladis hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ya Allah... kamu memang luar biasa."

Raka yang lewat di depan kamar hanya berkomentar singkat.

"Kasus berat."

Raina mengangguk setuju.

"Sangat berat."

Rian langsung cemberut.

"Kalian jahat."

"Tidak."

Jawab si kembar kompak.

"Kami jujur."

Rumah itu pun dipenuhi tawa.

Siang hari berlalu dengan cepat.

Menjelang sore...

Bel rumah kembali berbunyi.

Ting tong...

Rian yang sedang bermain langsung berteriak.

"Aku buka!"

Belum sempat Gladis melarang, bocah kecil itu sudah berlari ke pintu.

Begitu pintu terbuka...

"WAAAAAA!"

"Om Roy!"

"Tante Salsa!"

Salsa langsung membuka kedua tangannya.

"Sini peluk tante cantik."

Rian berhenti.

Menatap Salsa dari atas sampai bawah.

Lalu berkata polos.

"Tante cantik yang mana?"

Sunyi.

Roy langsung memalingkan wajah.

Bahu pria itu bergetar menahan tawa.

Sedangkan Salsa...

Membeku.

"Tante..."

"Aku."

"Cantik."

"Aku."

"Cantik."

"Aku."

"Cantik."

"Iya."

"Berarti tadi benar."

"Tante cantik."

Salsa langsung memeluk Rian.

"Nah begitu dong."

Roy berbisik pelan.

"Itu hasil ancaman."

"Aku dengar!"

teriak Salsa.

Gladis keluar sambil tersenyum.

"Kalian datang lagi."

Roy mengangguk.

"Kemarin sudah izin sama Tante Ratih."

"Iya."

"Beliau malah bilang anak-anak jangan bosan di rumah."

Gladis mengangguk pelan.

Memang ibu Gladis sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama.

Asal anak-anak senang.

Asal tetap dijaga.

Tidak masalah.

Roy kemudian berjongkok di depan Rian.

"Mau jalan-jalan?"

"Mau!"

Rian langsung mengangkat tangan.

Roy menoleh kepada si kembar.

"Kalau kalian?"

Raka dan Raina saling pandang.

Biasanya...

Jawaban mereka pasti sederhana.

"Terserah."

Atau...

"Tidak usah."

Namun kali ini berbeda.

"Boleh."

Jawab Raina pelan.

Raka bahkan menambahkan.

"Kalau ke taman."

Roy tersenyum lebar.

"Kebetulan."

"Kita memang mau ke taman."

Tak lama kemudian.

Dua mobil keluar dari rumah keluarga Wijaya.

Gladis ikut karena tentu saja ia tidak mungkin membiarkan anak-anak pergi tanpa dirinya.

Salsa duduk di sebelahnya.

Sedangkan Roy mengemudikan mobil di depan.

Begitu sampai di taman kota...

Rian langsung berlari.

"Ayunan!"

"Perosotan!"

"Jungkat-jungkit!"

Salsa sampai kewalahan mengejarnya.

"Rian!"

"Pelan!"

"Nanti jatuh!"

"Tidak!"

"Kalau jatuh?"

"Bangun lagi!"

Salsa langsung menoleh ke Gladis.

"Anak ini terlalu optimis."

Gladis tertawa kecil.

Yang paling mengejutkan justru...

Raka dan Raina.

Biasanya mereka hanya duduk membaca buku.

Atau memperhatikan orang lain bermain.

Namun hari itu...

Rian berhasil menyeret keduanya.

"Kak!"

"Ayo!"

"Tidak."

Jawab Raka.

"Ayo!"

"Tidak."

"Ayo!"

"Tidak."

"Ayo!"

"Tidak."

Rian berpikir beberapa detik.

Lalu berteriak keras.

"Kalau tidak mau main berarti penakut!"

Deg.

Raka langsung berdiri.

"Aku bukan penakut."

"Kalau begitu naik flying fox."

"Ayo."

Raina menatap kakaknya.

"Kamu serius?"

"Iya."

"Kamu takut ketinggian."

"Aku tidak takut."

Lima menit kemudian...

"Aaaaaaaaaaa!"

Suara Raka menggema di seluruh taman saat meluncur di flying fox.

Roy sampai memegang perutnya karena tertawa.

Salsa bahkan sudah merekam semuanya.

"Wah."

"Ini bukti sejarah."

Raka turun dengan wajah pucat.

Jas sekolahnya sedikit berantakan.

Roy menghampiri.

"Gimana?"

"Anginnya terlalu banyak."

Semua langsung tertawa.

Bahkan Raina sampai ikut tersenyum lebar.

"Itu alasan apa?"

"Terlalu berangin."

Jawab Raka serius.

Sementara anak-anak kembali bermain...

Roy membeli minuman.

Salsa menarik Gladis duduk di bangku taman.

Angin sore berembus lembut.

Suasana terasa damai.

Salsa menatap Gladis beberapa saat.

"Dis."

"Hm?"

"Aku mau cerita."

"Apa?"

Salsa melirik ke arah Roy yang sedang mengantre minuman.

"Tahu tidak?"

"Apa?"

"Roy bilang sama aku..."

"...dia bakal nunggu kamu."

Deg.

Gladis langsung menoleh.

"Apa?"

"Iya."

"Dia bilang begitu saja?"

"Iya."

Gladis menggeleng cepat.

"Sa."

"Hm?"

"Jangan bercanda."

"Aku serius."

"Roy tidak mungkin bilang begitu."

Salsa mengangkat kedua tangan.

"Demi brownies keluarga Wijaya."

Gladis langsung tertawa.

"Itu sumpah macam apa?"

"Sumpah paling sakral."

Lalu Salsa kembali serius.

"Dia memang bilang."

"Kalau nanti kamu benar-benar pergi dari rumah ini..."

"...dia akan tetap menunggu."

Gladis menunduk.

Jilbabnya tertiup angin.

"Sa..."

"Hm?"

"Aku tidak pernah menganggap Roy seperti itu."

"Aku tahu."

"Dia sahabatku."

"Roy juga tahu."

"Lalu kenapa?"

Salsa menghela napas panjang.

"Cinta itu memang aneh."

"Kamu bisa memilih makanan."

"Bisa memilih baju."

"Bisa memilih sepatu."

"Tapi..."

"Jarang bisa memilih hati."

Gladis tidak menjawab.

Salsa menyenggol pelan lengannya.

"Ck."

"Hm?"

"Dia sepertinya cinta mati sama kamu."

"Huss!"

Gladis langsung menoleh.

"Jangan bilang begitu."

"Kenapa?"

"Aku tidak enak."

"Kenyataannya memang begitu."

"Tetap saja jangan."

Gladis menggigit bibir bawahnya.

"Aku tidak mau memberi harapan kepada siapa pun."

Salsa memandang sahabatnya beberapa saat.

Lalu mengangguk.

"Aku tahu."

"Tapi..."

"Kamu juga jangan menyakiti dirimu sendiri."

Kalimat itu membuat Gladis terdiam.

Di sisi lain taman...

Roy sedang membantu Rian menaiki perosotan.

Sedangkan Raka dan Raina mulai terlihat jauh lebih santai.

Bahkan...

Raka beberapa kali tertawa ketika Rian salah menyebut nama dinosaurus.

"Ini T-Rex!"

"Bukan."

"Itu Triceratops."

"Oh."

"Kalau ini?"

"Itu juga Triceratops."

"Oh."

"Kalau ini?"

"Itu tas sekolah."

Roy sampai tertawa keras.

"Rian..."

"Kamu luar biasa."

Saat suasana sedang hangat-hangatnya...

Tiba-tiba...

Ponsel Gladis bergetar.

Nama di layar membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Mas Arsen.

Ia menatap layar beberapa detik.

Salsa yang duduk di sebelahnya ikut melirik.

"Siapa?"

Gladis memperlihatkan layar ponselnya.

"Papanya anak-anak."

Salsa langsung membulatkan mata.

"Angkat."

"Iya."

Gladis menarik napas pelan.

Lalu menerima panggilan itu.

"Assalamualaikum, Mas."

Suara Arsen terdengar jelas dari seberang.

"Waalaikumsalam."

"Sedang apa?"

Gladis tanpa sadar menoleh ke arah anak-anak yang sedang bermain riang.

"Kami sedang di taman."

"Taman?"

"Iya."

"Roy dan Salsa mengajak anak-anak jalan-jalan."

Hening beberapa detik.

Gladis sempat mengira sambungan terputus.

"Mas?"

"Aku masih di sini."

"Oh."

"Anak-anak senang?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun nada suara Arsen kali ini...

Jauh lebih lembut daripada biasanya.

Gladis tersenyum tipis.

"Iya."

"Bahkan Raka mau naik flying fox."

Di ujung sana...

Terdengar suara napas pelan.

"Benarkah?"

"Iya."

"Dia pasti dipaksa Rian."

Gladis tertawa kecil.

"Benar."

"Dan sekarang dia sedang mencari alasan kenapa tadi berteriak."

"Apa alasannya?"

"Katanya anginnya terlalu banyak."

Untuk pertama kalinya...

Gladis mendengar suara tawa pelan dari Arsen.

Sangat singkat.

Namun cukup membuat sudut bibir Gladis ikut terangkat tanpa sadar.

Sementara dari kejauhan...

Roy yang baru kembali membawa minuman menghentikan langkahnya.

Matanya tertuju pada Gladis yang sedang berbicara di telepon.

Dan entah kenapa...

Hatinya mendadak terasa sedikit sesak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!