NovelToon NovelToon
I AM The Mirecle Itself

I AM The Mirecle Itself

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad wahyu

I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lift magitech berbentuk tabung kaca tebal meluncur turun menembus kerak bumi dengan kecepatan tinggi. Gesekan antara medan magnetik lift dan dinding poros batu basalt menimbulkan kilatan cahaya biru redup. Di dalam tabung rapat itu, kedalaman sepuluh kilometer menuju perut bumi terasa seperti perjalanan masuk ke rahang monster yang siap menelan mereka bulat-bulat.

​Rayker berdiri di barisan depan, telapak tangannya menggenggam erat gagang Solaris-Core Greatsword. Dengungan energi panas membakar berkilat di sepanjang bilah baja beratnya. Di sebelahnya, Lyra mengetukkan ujung Aegis-Staff ke lantai, memancarkan jaring-jaring cahaya perak untuk mengisolasi tekanan atmosfer ekstrem yang mulai menghimpit dada.

​Caelum terus-menerus mengusap lensa proyeksi Quantum Neural Interface di mata kanannya. "Fluktuasi energi Inti Arsitek meningkat empat ratus persen," bisik Caelum dengan napas memburu. "Segel tingkat lima Dewan Agung runtuh! Apa pun yang ada di bawah sana... sedang merusak hukum ruang lokal!"

​Di sudut belakang, Ren Vaelen menyandarkan bahunya di dinding kaca. Mantel panjang sutra hitam-gading yang baru digantinya di Atelier Apex tampak rapi, namun garis wajah Ren sama sekali tidak sesantai sebelumnya. Matanya menyipit menatap kegelapan di luar lift.

​Ren tahu persis posisinya: ia hanyalah manusia fana. Tubuh daging dan darah ini adalah wadah yang dipinjamkan—sebuah mainan sementara bagi keberadaan di baliknya. Jika dada Ren tertembus pedang atau kepalanya terpenggal oleh hukum ruang di bawah sana, ia akan mati. Tidak ada jaminan perlindungan otomatis. Sang Absolute Anomaly tidak akan repot-repot menyelamatkan mainannya jika Ren bertindak ceroboh.

​Ting.

​Lift berhenti mendadak. Pintu kaca bergeser terbuka, menyeburkan bau tembaga terbakar dan ozon bertekanan tinggi.

​Mereka keluar ke sebuah rongga raksasa seluas kota. Di tengah kegelapan abisal itu, tergantung organ mekanis raksasa berdiameter ratusan meter—Inti Arsitek. Sisa-sisa artefak purba itu bocor, meneteskan cairan Aetheria hitam yang membusuk ke dalam jurang tanpa dasar.

​Tiba-tiba, sirene gawat darurat meraung keras. Dari gerbang Ruang Segel Utama, gelombang merah pekat memancar—prosedur pertahanan otomatis Isolasi Dimensional Absolute yang terkorupsi!

​"Mundur!" teriak Rayker seraya menebaskan pedang besarnya untuk menciptakan gelombang panas pemotong. "Gelombang itu memotong variabel massa! Jika terkena, tubuh fisik kalian akan hancur terbelah!"

​Lyra mengangkat tongkatnya, membangun Aegis-Barrier. Namun, dalam hitungan detik, perisai perak milik Lyra retak dan hancur berkeping-keping dihentam bilah-bilah ruang tak kasat mata.

​"Penghalangku tidak sanggup menahannya!" jerit Lyra saat terlempar mundur, bahunya tergores hingga mengeluarkan darah.

​Satu sabetan gelombang merah meluncur cepat menghantam sudut tempat Ren berdiri.

​Ren tidak berdiam diri. Insting bertahannya berteriak keras. Ia melompat memutar ke udara, memanfaatkan manuver kelincahan fisiknya. Bilah ruang merah itu menyambar tepat di samping badannya—menyobek lengan mantel sutra gadingnya dan menorehkan luka sabetan dangkal di kulit tangannya.

​Darah segar menetes dari lengan Ren. Rasa perih yang menusuk menegaskan kenyataan dingin: ia terluka.

​Ren mendarat dengan bertumpu pada satu lutut, napasnya sedikit memburu. Ia menyapu darah di lengannya dengan ujung jari, lalu menyeringai tipis yang penuh ketegangan.

​‘Tentu saja... kau cuma menonton di dalam sana, kan?’ batin Ren, meringis merasakan perih luka di tangannya saat berbicara pada entitas tak berwujud di dalam jiwanya.

​Bagi sang Absolute Anomaly, situasi hidup-mati ini hanyalah hiburan. Kalau Ren mati di sini karena gagal menghindar, permainan selesai begitu saja.

​"Caelum! Di mana celah gelombangnya?!" teriak Ren sambil berguling menepis sabetan gelombang kedua yang menghancurkan pilar batu di sampingnya.

​"Interval pancarannya setiap 1,8 detik di bagian kiri bawah!" seru Caelum sambil menembakkan tembakan penekan dari senjatanya untuk memecah fokus energi pertahanan.

​"Rayker, tahan bagian atas! Lyra, lindungi Caelum!" perintah Ren cepat.

​Ren memusatkan pendaran Liquid Silver Radiance tipis di kedua kakinya—bukan untuk menolak hukum alam, melainkan murni untuk meningkatkan kecepatan refleks fisiknya sebagai seorang petarung. Dengan sapuan langkah cepat dan perhitungan taktis yang presisi, Ren menerobos celah badai gelombang dimensi tersebut. Ia melompat dari satu puing ke puing lainnya, menghindari setiap tebasan maut yang bisa mengakhiri nyawanya dalam sekejap.

​Dengan sisa tenaga dan keringat yang membasahi pelipisnya, Ren berhasil mendarat di ambang pintu Ruang Segel Utama bersama Rayker yang bertelanjang dada penuh luka goresan.

​Di depan mereka, pintu segel besi purba itu sudah jebol dari dalam. Bau busuk anomali yang kental merembes keluar dari dalam kegelapan.

​Ren menepuk lengannya yang terluka untuk menghentikan pendarahan, lalu menatap Rayker dan Lyra yang terengah-engah.

​"Perjalanan ini baru saja dimulai," bisik Ren, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan Ruang Segel Utama.

1
indah Mayaddah f
Kerja berat tiap hari, di panggil si nol terus di hina tapi Ren diam aja. Sabar sekali dia 😔
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Saya biasanya lihat kultivasi, hari ini belajar sihir🤣
Myz Pena
waoow meskioun makhluk itu sebesar bukit kecil namun kekuatannya tidak kaleng - kaleng.. sungguh dahsyat
CNNTAYY
haha rahasia valeria aja sampai ketahuan mana ukuran sepatu dan rambut lagi🤭
iorlif
siapakah sosok tanpa tubuh pasti itu?
Siti Aisyah
Hebat sekali valeria bisa mengalahkan seekor calamity wolf itu👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
mampir auhtor. mau tanya mau ikut masuk grup aku gak. saling berbagai ceritaa dan support
Muhammad Wahyu: gimana kak?
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!