NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sasi berlari keluar rumah dengan linangan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.

Tubuhnya gemetar hebat, diselimuti rasa takut yang amat pekat.

Di halaman depan, Darren—sahabat sekaligus pengacara kepercayaan keluarga—baru saja turun dari mobil.

Begitu melihat kondisi Sasi yang histeris dengan tangan bersimbah gemetar, Darren langsung mencegatnya.

"Sasi! Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?!" seru Darren panik.

"Mas Adrian, Darren. Mas Adrian ditusuk Fitria di rumah sakit! Dia kritis!" jerit Sasi dengan suara serak menahan sesak di dadanya.

"Antar aku ke Rumah Sakit Bhayangkara sekarang, Darren! Cepat!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Darren menyuruh Sasi masuk ke kursi penumpang.

Sedan hitam itu melaju kencang menembus keheningan malam, membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi.

Darren menekan klakson berkali-kali, melompati beberapa lampu merah demi memangkas waktu.

Di dalam mobil, Sasi meremas jemarinya erat-erat, meratapi nasib dengan Isak tangis yang pecah.

"Tolong bertahan, Mas. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon."

Darren mengeratkan cengkeramannya pada kemudi, matanya menatap tajam ke depan dengan raut penuh ketegangan.

"Sasi, tenanglah! Adrian pria yang kuat, dia pasti bisa bertahan!"

Setibanya di Rumah Sakit Bhayangkara, Darren menghentikan mobilnya sembarangan di depan pintu IGD.

Sasi langsung melompat keluar dan berlari kencang menyusuri lorong yang berbau antiseptik tajam, diikuti Darren dari belakang.

Di depan ruang operasi, lampu merah menyala terang penanda tindakan medis kritis sedang berlangsung.

Lampu itu terus menyala hingga jam demi jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa.

Satu jam... tiga jam... hingga lima jam berlalu.

Sasi berlutut di lantai dingin depan ruang operasi, tak henti-hentinya berdoa dengan tubuh lunglai.

Darren berdiri bersandar di dinding, mondar-mandir menahan kecemasan yang membakar dada.

Tepat saat fajar menyingsing, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.

Dokter utama keluar dengan raut wajah sangat lelah, pakaian kimononya masih terciprat noda darah.

Sasi dan Darren langsung menghambur mendekat.

"Dokter! Bagaimana suami saya?!" panggil Sasi histeris.

Dokter menghela napas berat, mengusap keringat di dahinya.

"Operasi berjalan sangat rumit selama lima jam. Pisau bedah itu mengenai pembuluh darah besar di dekat jantungnya dan memicu pendarahan hebat. Kami berhasil menghentikan pendarahan dan menutupi lukanya."

"Lalu bagaimana kondisinya sekarang, Dok?" potong Darren cepat.

Dokter menatap Sasi dengan sorot mata prihatin. "Pak Adrian berhasil melewati masa kritis operasi, namun lukanya terlalu parah dan tubuhnya mengalami syok berat. Saat ini beliau berada dalam kondisi koma."

Kata-kata dokter bagaikan petir yang menyambar habis seluruh kekuatan Sasi.

Lututnya lemas, dan tubuhnya seketika ambruk jika Darren tidak dengan sigap menahan kedua bahunya.

"Koma, Dok?" suara Sasi terdengar seperti bisikan patah yang hampir tenggelam dalam tangisnya.

"Benar, Bu," lanjut dokter dengan nada berat.

"48 jam ke depan adalah masa yang sangat krusial. Kami harus memindahkan Pak Adrian ke ruang ICU untuk pemantauan intensif selama 24 jam penuh. Kami akan melakukan yang terbaik."

Pintu ruang operasi kembali terbuka lebar. Roda-roda brangkar berderit keras membelah lorong, membawa tubuh Adrian yang terbaring kaku.

Wajah pria itu pucat pasi bagai kertas, dilengkapi selang pernapasan ventilator yang terpasang di mulutnya serta berbagai kabel monitor yang melingkari tubuhnya.

Balutan perban tebal membungkus rapat dada sebelah kirinya.

"Mas Adrian!" jerit Sasi histeris, berlari kecil di samping ranjang dorong itu.

Ia meraih jemari Adrian yang terasa begitu dingin dan tak berdaya.

"Mas, bangun. Ini aku, Sasi. Mas sudah janji mau merawat Ayah sama-sama. Mas janji tidak akan tinggalkan aku."

Darren meremas rahangnya kuat-kuat, menahan gejolak emosi dan amarah yang membakar dadanya melihat sahabat karibnya terbaring tak sadarkan diri.

Ia mengusap punggung Sasi yang berguncang hebat oleh isak tangis.

"Sasi, kamu harus kuat. Adrian butuh kamu sekarang," bisik Darren dengan suara parau yang menahan serak.

Tubuh Adrian perlahan dimasukkan ke dalam ruang ICU yang steril dan dingin.

Sasi hanya bisa berdiri terpaku di balik kaca tebal, menempelkan telapak tangannya pada permukaan kaca dingin yang memisahkan mereka.

Di dalam sana, satu-satunya penanda bahwa Adrian masih berjuang hidup hanyalah garis hijau dan suara bip monoton dari monitor detak jantung yang berbunyi teratur namun lemah.

Sasi berlutut di balik kaca itu, memeluk dirinya sendiri.

Di tengah remang sinar fajar yang mulai menyusup dari luar rumah sakit, Sasi berbisik lirih penuh kehitaman rasa sakit, berjanji tidak akan bergeming sedetik pun sampai mata suaminya kembali terbuka.

Darren berjalan pelan menyusuri lorong ICU yang lengang dengan kantong plastik di tangannya.

Langkah kakinya terasa berat melihat Sasi yang masih setia duduk membeku di kursi besi, menempelkan dahinya pada kaca tebal yang memisahkan dirinya dari Adrian.

Darren mendekat, lalu berlutut di sebelah Sasi. Ia meletakkan sebotol air mineral dan sebungkus roti hangat di samping wanita itu.

"Sasi," panggil Darren pelan dengan suara yang sarat akan simpati.

Sasi tidak bergeming. Matanya yang sembap dan memerah terus tertuju pada sosok Adrian yang terbaring kaku dengan selang ventilator di dalam sana.

"Kamu harus makan sedikit, Sasi. Dari semalam kamu belum diisi makanan sama sekali," bisik Darren seraya mengangsurkan botol air minum yang sudah ia buka tutupnya.

Sasi menggeleng pelan, air matanya kembali menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang kian pucat.

"Aku tidak lapar, Darren. Aku cuma mau Mas Adrian bangun. Aku takut."

"Kamu harus kuat, Sasi," tegas Darren lembut namun penuh penekanan, menatap lurus mata Sasi untuk menyalurkan kekuatan.

"Adrian sedang berjuang keras di dalam sana. Kalau kamu ambruk dan sakit, siapa yang akan menyambutnya saat dia sadar nanti? Siapa yang menjaga Ayah di rumah? Adrian butuh kamu yang kuat, bukan yang menyerah."

Mendengar nama suaminya dan sang ayah disebut, pertahanan Sasi runtuh.

Dada Sasi naik turun menahan isak tangis yang kembali pecah.

Ia menerima botol air dari tangan Darren dengan jemari yang gemetar hebat, menyadari bahwa Darren benar—ia harus bertahan demi Adrian yang kini tengah mempertaruhkan nyawanya di balik kaca dingin itu.

Sasi meneguk air mineral itu perlahan, berusaha menenangkan badai di dadanya.

Roti di tangannya ia kunyah pelan meski rasanya hambar.

Kata-kata Darren menyadarkannya—ia tidak boleh runtuh di saat Adrian sedang mempertaruhkan nyawa.

"Terima kasih, Darren," tutur Sasi lirih, menyapu sisa air mata di pipinya. "Kamu benar. Aku harus kuat untuk Mas Adrian."

Darren mengangguk lega, mengulas senyum tipis.

"Itu baru Sasi yang dikenal Adrian. Aku sudah minta tim hukumku untuk mengawal kasus penusukan ini secara khusus. Pihak kepolisian sudah mengamankan Fitria, dan kali ini dia tidak akan bisa lolos lagi dari hukuman berat atas tindakan percobaan pembunuhan berencana."

Sorot mata Sasi mendadak mengeras ketika mendengar nama itu.

Tidak ada lagi rasa kasihan atau keraguan. Yang tersisa hanyalah tekad bulat untuk melindungi suaminya dan menuntut keadilan sedalam-dalamnya.

"Pastikan dia mendapat hukuman seberat-beratnya, Darren," ucap Sasi tegas, suaranya terdengar dingin dan mantap.

"Jangan biarkan dia menyentuh atau merusak kehidupan kami lagi."

"Serahkan semuanya padaku, Sasi. Fokusmu sekarang hanya mendampingi Adrian," jawab Darren mantap.

Tepat saat ucapan Darren terhenti, suara alarm dari dalam ruang ICU mendadak melengking nyaring memecah keheningan lorong.

Bip! Bip! Bip!

Garis hijau pada monitor jantung Adrian di balik kaca meliuk tak beraturan sebelum merosot drastis.

Sasi langsung meloncat berdiri, menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca tebal dengan dada bergemuruh hebat.

"Mas Adrian.!" jerit Sasi menahan napas.

Pintu ICU didobrak dari luar. Dua dokter dan tiga perawat menyerbu masuk dengan raut wajah panik.

"Tekanan darah drop! Detak jantung melambat drastis! Siapkan defibillator sekarang!" bentak dokter utama, menggunting balutan perban di dada Adrian yang kembali merembeskan darah segar.

Darren memegang bahu Sasi erat-erat, menahan wanita itu agar tidak nekat menerobos masuk.

Di balik kaca tebal, Sasi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh kaku Adrian tersentak hebat setiap kali alat pemacu jantung itu dihantamkan ke dadanya.

"Satu... dua... clear!"

Bzzzt!

Tubuh Adrian terangkat lalu terbanting kembali ke atas ranjang.

"Belum ada respon! Naikkan dosisnya! Clear!"

Bzzzt!

Air mata Sasi menetes deras tanpa suara. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meremas jemarinya hingga memutih.

'Mas, tolong, kembali ke aku. Jangan tinggalkan aku sendiri, Mas.' bisiknya memohon dalam hati, menumpahkan seluruh harapan hidupnya pada keajaiban Tuhan malam itu.

Melihat tubuh Adrian tersentak hebat di bawah dentuman alat pemacu jantung, pandangan Sasi mendadak mengabur.

Suara alarm yang melengking dan teriakan dokter di dalam ruangan seolah menjauh, berganti dengan dengung nyaring yang memenuhi kepalanya.

Dada Sasi terasa sesak luar biasa, nafasnya tercekat, dan kesadarannya merosot cepat. Kakinya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya.

"Sasi!" seru Darren kaget saat merasakan beban tubuh Sasi sepenuhnya jatuh meluruh di pelukannya.

Wajah wanita itu pucat pasi bagai kertas, kedua matanya terpejam rapat dengan sisa air mata yang masih menggenang di sudut mata.

"Perawat! Tolong! Ada yang pingsan di sini!" teriak Darren panik, suaranya menggema keras membelah lorong ICU.

Seorang perawat yang berada di dekat sana langsung berlari mendekat membawa ranjang dorong darurat.

Dengan sigap, Darren mengangkat tubuh Sasi yang terkulai lemas dan membaringkannya di atas brangkar.

"Tekanan darahnya drop drastis karena syok dan kelelahan berat," ujar perawat itu cepat setelah memeriksa denyut nadi Sasi.

"Kita harus bawa beliau ke ruang perawatan sekarang untuk dipasang infus!"

Darren mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap bergantian antara ruang ICU tempat Adrian dipertaruhkan nyawanya dan brangkar.

Sasi yang mulai didorong cepat menuju ruang rawat.

Rasa cemas dan ketegangan makin membakar dadanya di tengah malam yang kian mencekam itu.

1
sunaryati jarum
Selamat Sasi Adrian kaliin akan jadi orang tua
sunaryati jarum
Setelah badai berlalu semoga hanya kebahagiaan yang kalian dapatkan, sedangkan Fitria menghabisinya sisa hidup di penjara
sunaryati jarum
Hebat kau Sasi dari wanita yang diperkosa dan dijadikan pion rencana jahat dari Hendrik bisa menyelesaikan masalah perusahaan dengan memuaskan, semoga berhasil dan perusahaan semakin berkembang dan menuntaskan masalah,selama Adrian dirawat
sunaryati jarum
Mudah sekali menangkap dua ular berbisa tanpa perlawanan dan drama
sunaryati jarum
wow mantap semoga berhasil
sunaryati jarum
Hendrik dan Fitria sedang menggali kuburan untuk mereka sendiri 😂😂😂
sunaryati jarum
Menyesal kan Adrian.Pests dan nikmati kebebasan sementara kamu, Fitria.Pembalasan Adrian nanti ,kamu ingat seumur hidupmu
sunaryati jarum
Semoga perangkap untuk Hendrik dan Fitria berhasil Adrian
sunaryati jarum
Drama yang sempurna , semoga Sasi selamat
sunaryati jarum
Analisis dokter masuk akal
sunaryati jarum
Timbul iba jadi cinta , Adrian
sunaryati jarum
Istri nggak mau punya anak sendiri, tidak usah menikah Fitria.Beriksn tubuhmu pada banyak pria tidak terikat apa- apa.
sunaryati jarum
Emak suka karakter Sasi yang tidak mau ditindas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!