Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Bab 27 — Rencana di Balik Tembok Istana
Ruang pertemuan darurat di istana Wanunggalih dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Raja duduk di kursi utama, wajahnya keras menahan amarah dan kekhawatiran. Di sekelilingnya, para jenderal, Aryasatya, dan Rania sendiri duduk mengelilingi meja besar dengan peta wilayah Wanunggalih-Arkapura terbentang di tengahnya.
"Berdasarkan laporan pengawal yang selamat," salah satu jenderal berkata, menunjuk ke beberapa titik di peta, "pasukan bayangan Paman Surya kemungkinan besar bermarkas di wilayah hutan selatan, dekat perbatasan yang jarang dipatroli."
Rania memperhatikan peta itu dengan seksama, pikirannya masih dipenuhi bayangan Nyonya Ratih yang tertawan entah di mana.
"Berapa banyak loyalisnya di dalam istana sendiri?" tanya Aryasatya, suaranya tajam dan fokus.
Hening sejenak sebelum salah satu penasihat lain—pengganti sementara Paman Surya—menjawab dengan hati-hati. "Kami belum bisa memastikan, Raden. Tapi mengingat dia sudah mengabdi empat puluh tahun, kemungkinan ada beberapa pejabat atau pengawal yang masih loyal padanya tanpa sepenuhnya tahu rencana jahatnya."
Raja mengetuk meja pelan, wajahnya lelah. "Itu artinya kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada siapa pun di dalam istana ini sampai semua loyalisnya teridentifikasi."
Rania mengangkat tangan, mencoba menyuarakan pemikirannya. "Yang Mulia, kalau boleh usul—kita butuh seseorang yang bisa menyusup diam-diam, cari tahu lokasi pasti markas mereka tanpa memicu kecurigaan."
"Dan siapa yang kau usulkan untuk tugas itu?" tanya Raja, menatapnya penuh perhatian.
Rania menarik napas dalam. "Aku."
Seisi ruangan langsung ribut protes, termasuk Aryasatya yang menatapnya dengan ekspresi tidak setuju.
"Wening, itu terlalu berbahaya," katanya tegas. "Kau sudah jadi target utama mereka."
"Justru karena itu," balas Rania, "mereka nggak akan curiga kalau aku 'mencoba kabur' dari istana sendirian. Mereka pasti udah punya mata-mata yang mengawasi gerak-gerikku. Aku bisa manfaatkan itu buat mancing mereka keluar."
"Itu rencana yang sangat berisiko," jenderal senior menimpali, wajahnya khawatir. "Kalau mereka berhasil menangkapmu sungguhan, kita kehilangan leverage besar."
Rania menggeleng pelan. "Makanya kita butuh rencana cadangan. Aku pakai diri aku sebagai umpan, tapi kalian siapkan pasukan buat ngikutin dari jarak aman, siap nyerbu begitu lokasi markas mereka kekonfirmasi."
Aryasatya menatapnya lama, pertarungan batin jelas terlihat di matanya antara logika strategi dan kekhawatiran pribadi.
"Kalau kau nekat lakukan ini," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan, "aku ikut. Tidak ada negosiasi soal itu."
Rania menatap balik, dan untuk sesaat, di tengah ruangan penuh ketegangan itu, ada momen kecil kehangatan yang terselip di antara mereka berdua.
"Baik," katanya, "tapi kau harus janji, kalau rencana ini mulai berantakan, prioritasmu bukan nyelametin aku, tapi nyelametin informasi yang kita dapat soal lokasi markas mereka."
"Aku tidak bisa janjiin itu," jawab Aryasatya tegas, tidak mau berkompromi soal ini.
Rania ingin membantah, namun melihat ketetapan hati di mata Aryasatya, ia memutuskan untuk tidak memperdebatkannya lebih jauh di depan semua orang.
Raja menatap keduanya, lalu menghela napas panjang. "Baiklah. Kita jalankan rencana ini, tapi dengan pengamanan ekstra ketat. Wening, kau akan 'mencoba kabur' tiga hari dari sekarang, memberi waktu kita menyiapkan pasukan bayangan sendiri untuk mengikuti tanpa terdeteksi."
Rania mengangguk mantap, meski dalam hati jantungnya berdegup kencang membayangkan risiko yang akan ia hadapi.
***
Malam itu, setelah pertemuan selesai, Rania berdiri sendirian di balkon kamarnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Pikirannya penuh dengan rencana besok, strategi yang mereka susun, dan bayang-bayang Nyonya Ratih yang masih tertawan di suatu tempat.
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Kau seharusnya istirahat," kata Aryasatya, berdiri di sampingnya, menatap langit yang sama.
"Nggak bisa tidur," jawab Rania jujur. "Terlalu banyak yang dipikirin."
Mereka berdiri dalam diam untuk sementara, hanya suara angin malam yang mengisi kesunyian.
"Wening," Aryasatya akhirnya bicara, suaranya lebih lembut dari biasanya, "sebelum rencana besok dimulai, ada yang ingin kukatakan."
Rania menoleh menatapnya, jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda. "Apa?"
Aryasatya menatapnya lama, seolah mengumpulkan keberanian untuk kata-kata yang akan ia ucapkan.
"Aku tahu kau mungkin akan ditarik kembali ke duniamu kapan saja," katanya pelan. "Dan aku tahu itu di luar kendali kita berdua. Tapi aku ingin kau tahu, apa pun yang terjadi besok, atau kapan pun waktu itu tiba—"
Ia berhenti sejenak, menatap mata Rania dengan ketulusan yang membuat napas Rania tercekat.
"—aku bersyukur pernah mengenalmu. Siapa pun kau sebenarnya, dari dunia mana pun kau berasal."
Rania merasakan matanya memanas, air mata yang sudah lama ia tahan akhirnya mulai menetes.
"Raden," bisiknya, suaranya bergetar, "aku juga. Aku bersyukur banget ketemu kamu di sini."
Mereka berdiri berhadapan di bawah cahaya bintang, jarak di antara mereka semakin menipis, hingga akhirnya Aryasatya perlahan meraih tangan Rania, menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Besok," katanya pelan, "kita hadapi semuanya bersama. Dan apa pun hasilnya, aku tidak akan menyesali satu momen pun yang kita habiskan untuk mencari kebenaran ini."
Rania mengangguk, menggenggam tangannya balik dengan erat, merasakan kehangatan yang menenangkan di tengah semua ketidakpastian yang menunggu di depan mereka.
Di kejauhan, bintang-bintang terus bersinar tenang, menyaksikan diam-diam janji kecil yang terucap di balkon malam itu—janji untuk menghadapi apa pun yang akan datang, bersama, sampai akhir cerita ini benar-benar terungkap.
---