NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Manuver Tikungan Tanpa Rem & Undangan Ke Sentul

Tol Serpong–Balaraja.

Langit sore perlahan berubah warna.

Jingga di ujung barat, ungu tipis di atasnya.

Yuda mengemudikan Jesko Attack dengan satu tangan di setir.

Suara mesin di belakang kabin menggeram rendah seperti hewan besar yang sedang puas.

Ia menikmati perjalanan itu lebih dari yang ia kira.

Dari kejauhan, di depan, ia melihat sesuatu yang berkilau.

Di lajur kanan Tol Serbaraja, rombongan empat supercar berbalut warna-warni mencolok melaju rapi berderet ke belakang.

Kevin, yang berada di posisi paling depan mengendarai Porsche 911 GT3 RS kuningnya, mengendalikan kemudi dengan santai di kecepatan 150 km/jam.

Melalui radio komunikasi antar-mobil, percakapan santai di antara para pemuda kaya itu terdengar jernih.

"Jalanan sore ini sepi banget ya, Vin," kata pengemudi Lamborghini Huracán hijau di belakangnya. "Enak banget buat sunset run."

Kevin melirik angka 150 km/jam di spidometer digitalnya, lalu terkekeh pelan. "Yoi bro. Habis pintu tol keluar BSD nanti kita langsung mampir—"

WHUUUSSHH!

Belum sempat Kevin menyelesaikan kalimatnya, sebuah kilatan putih di lajur kiri melesat mendahului mereka dengan begitu tenang dan presisi.

Suara raungan mesin V8 flat-plane crank yang melengking tajam dan padat menyapu kaca jendela Porsche Kevin.

Sentak tekanan udara yang diseret bodi mobil putih itu bahkan membuat sasis Porsche sempat bergetar pelan.

"Anjg! Apaan tuh yang nyalip?!" Teriak pengemudi Lamborghini di radio, suaranya sedikit bergetar. "Laju kita padahal udah 150 km/jam!"

"Vin! Lu lihat gak?! Bodi putih, sayap belakang raksasa... Itu Jesko?! Koenigsegg Jesko?!" pengemudi Ferrari F8 di posisi paling belakang berseru.

"Gak mungkin! Di RI mana ada Jesko?!" Kevin tidak percaya.

Sifat gengsinya mendadak meluap seolah terprovokasi sama mobil putih yang menyalipnya.

Ia melempar pandangan dari angka spidometernya beralih ke arah bayangan mobil putih di depannya.

Di depan mereka, lintasan Tol Serbaraja mendekati area Simpang Susun BSD Barat mulai melengkung tajam.

Sebuah tikungan sweeping bend lebar yang secara teknis memaksa kendaraan apa pun menurunkan kecepatan ke 110 km/jam jika tidak ingin terlempar keluar lajur.

"Kejar! Lihat gimana dia ngerem di tikungan depan!" Kevin di radio berteriak sambil memindahkan kakinya ke pedal rem.

Namun, dugaan mereka meleset total.

Di dalam kokpit Jesko Attack, Yuda sama sekali tidak menyentuh pedal rem.

Berbekal Skill Mengemudi Tingkat Dewa, instingnya membaca setiap jengkal traksi jalanan secara sempurna.

Yuda hanya memutar sedikit saja lingkar kemudi Alcantara-nya.

Sret!

Fitur active rear-wheel steering dan sasis karbon kaku milik Jesko bekerja seketika.

Moncong mobil putih itu langsung "mematuk" masuk ke apex tikungan dengan kepatuhan mutlak—persis seperti mobil balap Formula 1 yang memiliki turn-in response tanpa jeda!

Tanpa rem, tanpa decitan ban selip, dan tanpa gejala miring sedikit pun, hypercar itu melibas tikungan di kecepatan 200 km/jam bagai kereta cepat yang terkunci di atas relnya.

Lampu belakang Jesko meliuk anggun di balik lekukan jalan, lalu menghilang di kejauhan.

Di dalam kabin Porsche, Kevin menganga lebar.

Radio komunikasi mendadak hening seketika.

Semua pemuda di dalam rombongan itu terdiam, benar-benar syok melihat manuver melibas tikungan maut tanpa rem yang baru saja diperagakan di depan mata mereka.

Sepuluh menit kemudian, Yuda memutuskan untuk memelankan laju kendaraannya dan membelokkan mobilnya ke SPBU Shell terdekat di jalur keluar tol untuk meluruskan kaki.

Ia memarkirkan Jesko Attack putihnya tepat di pelataran minimarket.

Seketika, kehadiran mobil itu mengubah atmosfer SPBU.

Bodi serat karbon yang futuristik, lekukan aerodinamis ekstrem, serta sayap belakang raksasa yang berkilauan di bawah pendar lampu neon langsung menyedot perhatian semua orang di lokasi.

Seorang petugas SPBU yang sedang memegang nozel bensin mendadak menghentikan aktivitasnya, matanya membelalak.

Beberapa pengendara motor dan mobil lain langsung merogoh saku, mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen langka tersebut.

"Gila... mobil apaan itu? Keren, mirip pesawat jet darat!" salah satu pengunjung SPBU terkesima.

Yuda keluar dari pintu dihedral yang terangkat otomatis, berjalan santai ke dalam toko, dan membeli satu botol air mineral.

Yuda melangkah keluar dari minimarket sambil meneguk air mineral dinginnya.

Di luar toko, suasana pelataran SPBU sudah jauh lebih ramai dari sebelumnya.

Beberapa pengunjung rest area, pengemudi mobil lain terlihat berkumpul mengelilingi Jesko Attack dari jarak aman.

Beberapa anak muda sibuk merekam video pendek, sementara yang lain sibuk mengambil foto dari berbagai sudut dengan raut wajah takjub.

"Buset, mobil apaan nih? Gak pernah lihat lambangnya..."

"Bentuknya mirip pesawat tempur, lihat tuh sayap belakangnya gede banget!"

"Jangan dekat-dekat, Bro! Kalau tergores sedikit aja bisa melayang harga rumah!"

Yuda menyunggingkan senyum tipis melihat kehebohan kecil itu.

Ia tak langsung menghampiri mobilnya, tapi duduk dikursi teras minimarket, memandangi hypercar putihnya yang memantulkan cahaya lampu neon SPBU.

Ingatannya melayang kembali ke manuver di tikungan interchange Tol Serbaraja beberapa menit lalu.

Jantungnya masih berdebar kencang mengingat aksinya tadi.

Kombinasi lecutan adrenalin tinggi dan kepuasan mutlak meluap didadanya.

'Gila bener... refleks tadi beneran luar biasa,' Yuda merasa takjub dan tidak percaya dalam hatinya.

'Tanpa pengereman sedikit pun di kecepatan 200 km/jam, seolah-olah mobil ini bagian dari tubuhku, mulus banget gerakannya.'

[Ding! Tuan Rumah berhasil mengeksekusi manuver berkendara tingkat ekstrem & mencapai sensasi lonjakan adrenalin yang memuaskan!]

[Hadiah:]

[Uang Tunai: Rp100.000.000 (Telah ditransfer ke rekening Tuan Rumah)]

[Skill Pasif: Insting Traksi Tingkat Dewa]

[Tuan Rumah dapat merasakan batas cengkeraman ban dan kondisi jalan secara instan, termasuk di medan ekstrem atau cuaca buruk.]

Yuda terkejut sesaat ketika membaca notifikasi tersebut. 'Merasakan kepuasan adrenalin di jalanan juga ada hadiahnya? Hehe.'

'Skill pasif insting traksi? Apa sistem ingin membuatku jadi dewa balap?'

Tiba-tiba, saat skill itu masuk, Yuda tidak merasakan aliran ingatan seperti sebelumnya.

Yang ia rasakan justru sensasi hangat yang menjalar ke ujung jari dan telapak kaki.

Ia merasa botol air mineral di tangannya terasa lebih jelas-tekstur plastik, embun dingin, bahkan sedikit cekungan di label.

Ia menggeser kakinya, dan bisa merasakan tekstur keramik di bawah sandalnya.

Beberapa menit berlalu.

Baru saja ia hendak kembali ke mobilnya, raungan buas empat mesin supercar mendadak menggelegar nyaring dari arah jalur masuk SPBU!

​VROOOOMMM!

​Deru mesin V10 dan V8 dari Porsche 911 GT3 RS, Lamborghini Huracán, serta dua Ferrari F8 bergema bersahut-sahutan, serta-merta membelah keheningan malam dan menarik perhatian seluruh orang di area SPBU.

​Kehadiran rombongan mobil eksotis yang mendadak itu membuat suasana rest area gempar total.

Orang-orang yang tadinya hendak kembali ke kendaraan masing-masing langsung menghentikan langkah, bergerak mendekat untuk merekam pemandangan langka tersebut.

​"Gokil! Rombongan supercar masuk!"

"Mimpi apa aku malam ini, nemu kombo mobil puluhan miliar ngumpul di SPBU ini!"

​Rombongan Kevin ternyata keluar di pintu tol yang sama.

​Ketika mata Kevin menangkap sosok mobil putih yang parkir di depan toko, ia langsung menginjak rem mendadak.

​"Itu mobilnya! Dia berhenti di sini!" Kevin di radio berseru.

​Keempat supercar itu langsung parkir berjajar tak jauh dari lokasi Jesko.

Kevin dan tiga temannya keluar dari mobil masing-masing dengan wajah penuh decak kagum.

​"Gila... ini beneran Koenigsegg Jesko Attack..." bisik pemuda pemilik Lamborghini dengan napas terengah.

"Harga resminya kalau masuk RI bisa mencapai Rp130 Miliar lebih... Siapa pemiliknya?!"

​Saat mereka sedang terheran-heran, Yuda berjalan santai mendekati mobilnya sambil meminum air mineral.

Kevin, yang menyadari pemuda berkaos kasual dan celana santai itu memegang kunci unik berbentuk tameng perak milik Koenigsegg, langsung mengambil inisiatif melangkah maju.

Nada bicaranya sama sekali tidak sombong, melainkan penuh rasa hormat.

"Permisi, Bro... maaf mengganggu," sapa Kevin sambil mengulurkan tangan. "Ini... mobil punya Bro sendiri?"

Yuda menoleh dan tersenyum tipis, membalas jabat tangannya. "Iya, Bro. Ada apa?"

"Gokil... Asli keren banget, Bro!" Kevin memujinya dengan tulus.

"Namaku Kevin. Tadi kita yang berderet di jalan tol. Cara lu nyalip dan ambil garis tikungan di persimpangan tadi... asli skill-nya hebat banget. Tanpa ngerem sama sekali di kecepatan segitu, kita semua sampai melongo di belakang."

Tiga pemuda lainnya ikut mendekat dan memperkenalkan diri dengan antusias.

Pengemudi Lamborghini Huracan bernama Dion, sedangkan kedua pengemudi Ferarri F8 bernama Indra dan Ryan.

Mereka semua seumuran dengannya.

Mereka berempat yang biasanya dipandang sebagai penguasa jalanan dengan supercar belasan miliar, kini merasa seperti "adik kelas" di hadapan Yuda dan hypercar Rp130 miliarnya.

"Cuma keliling santai tes mesin kok, Bro," Yuda menjawab tenang.

"Santai gimana, Bro... itu Jesko Attack! Cuma ada satu-satunya di RI setahuku!" pemilik Lamborghini yang bernama Dion merasa kagum.

Kevin menyodorkan sebuah kartu nama elegan berembos emas kepada Yuda. "Oya Bro, Malam Minggu besok klub kita ada acara Track Day dan Freestyle Run privat di Sirkuit Sentul. Sirkuitnya udah disewa penuh khusus komunitas supercar dan hypercar," kata Kevin penuh harap.

"Kalau Bro Yuda ada waktu dan gak keberatan, kita bakal merasa terhormat banget kalau Bro mau datang bawa monster ini."

Yuda menerima kartu nama itu, melihat nama komunitas mobil sport papan atas Jabodetabek yang tertera di sana.

Bertemu dengan orang-orang dari kalangan atas seperti ini tentu bisa memperluas jaringan dan koneksinya.

"Sirkuit Sentul ya?" Yuda mengangguk-angguk pelan. "Boleh juga. Kalau tidak ada halangan, Malam Minggu saya usahakan datang."

Ia sedikit bimbang awalnya, karena malam minggu itu 5 hari lagi, sedangkan hari minggunya dia mau pulang kampung pagi-pagi.

Namun di pikir-pikir, sepertinya masih ada sedikit waktu jadi ia setuju.

Dan ia juga sedikit penasaran dengan kehidupan generasi kedua kaya dunia ini seperti apa.

Mendengar jawaban Yuda, mata Kevin dan teman-temannya langsung berbinar gembira. "Serius, Bro?! Wah, mantap banget! Nanti aku sendiri yang bakal sambut Bro Yuda di pit stop utama!"

"Tapi aku tidak bisa sampai malam banget."

"Haha tidak apa, selama Bro Yuda hadir saja itu sudah cukup."

Setelah bertukar nomor telepon singkat, Yuda berpamitan, masuk kembali ke kokpit Jesko, dan meluncur pergi membelah kegelapan malam.

Sementara itu, empat pemuda kaya itu masih berdiri di area SPBU, menatap kepergian lampu belakang Jesko dengan perasaan takjub yang tak terlupakan.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!