Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bruk!
Bagas mendorong tubuh kurus Dito hingga punggung anak itu menabrak dinding batu bata dengan keras.
"Ampun, Gas, maafkan aku," rintih Dito sambil memeluk tasnya melindungi dada.
"Gara-gara lo sok pintar dan gak mau bagi jawaban, nilai sejarah gue hancur dapat dua puluh empat!" teriak Bagas marah.
"Besok orang tuaku pasti dipanggil wali kelas, dan ini semua gara-gara lo!"
Reno langsung maju dan menendang tulang kering Dito hingga anak itu jatuh terduduk di tanah.
"Bikin cacat aja tangannya, Gas, biar dia gak bisa nulis sok pintar lagi besok," hasut Reno sambil tertawa kejam.
Bagas mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat dan bersiap untuk memukul wajah Dito yang sudah menangis ketakutan.
Di balik tembok sudut gedung, Tommy berdiri dengan tenang mengamati situasi tersebut.
"Waktunya mencoba mainan baru," gumam Tommy pelan.
Ia menarik napas panjang, mengaktifkan skill barunya, dan memanggil memori suara Pak Darmawan dari dalam otaknya.
"Bagas! Reno! Apa yang kalian lakukan di sana?!"
Suara bariton yang sangat keras dan berat itu menggema memantul di dinding gedung olahraga.
Bagas dan Reno langsung membeku di tempat seperti patung es.
Mereka berdua sangat mengenali suara guru matematika paling galak di sekolah itu.
"Mampus, Pak Darmawan," bisik Reno dengan wajah pucat pasi.
"Siapa yang menyuruh kalian berani menindas teman kalian sendiri?!" teriak suara itu lagi terdengar semakin dekat dan penuh amarah.
"Bapak akan laporkan kalian ke polisi atas tuduhan penganiayaan, jangan lari kalian!"
Bagas menelan ludah dengan susah payah, nyalinya langsung ciut mendadak mendengar ancaman polisi.
"Lari, Ren, lari!" teriak Bagas panik tanpa berani menoleh ke arah sumber suara.
Kedua preman sekolah itu langsung mengambil langkah seribu, berlari terbirit-birit kabur ke arah gerbang belakang sekolah.
Dito yang masih terduduk di tanah dengan napas terengah-engah hanya bisa mematung kebingungan.
Ia menunggu Pak Darmawan muncul dari balik tembok untuk menolongnya.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki pelan terdengar mendekat dari sudut gedung.
Namun bukan sosok guru paruh baya berwajah galak yang muncul dari sana, melainkan Tommy.
Tommy berjalan santai dengan tas ransel kusamnya, memasang wajah kaget yang sangat natural.
"Loh, Dito? Kamu kenapa duduk di tanah begitu?" tanya Tommy sambil mendekat dan mengulurkan tangannya.
Dito menatap tangan Tommy, lalu menatap wajah polos anak itu dengan perasaan campur aduk.
Ia menyambut uluran tangan Tommy dan berdiri sambil membersihkan debu di celananya.
"Tom, kamu lihat Pak Darmawan tidak?" tanya Dito masih celingukan mencari sosok gurunya.
"Pak Darmawan? Tidak tuh," jawab Tommy sambil menggelengkan kepala.
"Aku baru saja lewat dari arah kantin mau pulang ke rumah, tiba-tiba lihat Bagas dan Reno lari kencang sekali seperti dikejar hantu."
Dito mengerutkan keningnya dari balik kacamata tebalnya.
"Tapi tadi jelas-jelas ada suara Pak Darmawan memarahi mereka berdua," ucap Dito keheranan.
"Mungkin perasaanmu saja, To, atau mungkin ada guru lain yang mirip suaranya," balas Tommy santai.
Dito terdiam sejenak menatap lurus ke arah mata Tommy.
Sebagai anak yang cerdas dan sering mengamati keadaan, Dito tahu bahwa lorong ini buntu dan hanya memiliki satu akses masuk tempat Tommy baru saja muncul.
Tidak mungkin ada orang lain di sana selain Tommy.
Dan Dito juga belum lupa bahwa kunci jawaban sempurna saat ujian sejarah kemarin berasal dari tangan anak ini.
"Tommy," panggil Dito pelan dengan nada suara yang bergetar.
"Iya?"
"Terima kasih banyak," ucap Dito tulus sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Untuk bantuan ujian sejarahnya kemarin, dan juga untuk suara Pak Darmawan barusan."
Tommy sedikit tersentak di dalam hatinya mendengar analisis tajam dari Dito.
Ternyata murid berkacamata ini jauh lebih peka dan pintar daripada kelihatannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu, To," bohong Tommy sambil tersenyum canggung.
"Kunci jawaban itu kebetulan aku temukan di laci, dan soal suara tadi aku benar-benar tidak tahu."
Dito tersenyum penuh arti mendengar bantahan Tommy tersebut.
"Tidak apa-apa, Tom, aku mengerti," ucap Dito dengan nada pelan.
"Setiap orang punya rahasianya masing-masing, dan aku berjanji akan menyimpan rahasiamu ini rapat-rapat."
Tommy menatap Dito dengan tatapan yang perlahan berubah menjadi serius dan dingin.
Skill Manipulasi Ekspresi Mikronya perlahan dinonaktifkan, membiarkan aura kecerdasannya sedikit terpancar keluar.
"Kamu anak yang pintar, Dito," ucap Tommy dengan nada suaranya yang asli, tenang dan penuh wibawa.
"Pastikan mulutmu tetap terkunci rapat jika kamu masih ingin bersekolah dengan tenang tanpa gangguan Bagas."
Dito merinding mendengar perubahan drastis pada nada suara dan tatapan mata Tommy.
Anak yang selama ini dianggap sebagai sampah kelas itu, kini memancarkan tekanan yang bahkan lebih menakutkan daripada kepala sekolah.
"Aku berjanji, Tom," jawab Dito mantap sambil menganggukkan kepalanya.
Ting!
Layar biru transparan tiba-tiba muncul di antara mereka berdua tanpa bisa dilihat oleh Dito.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menyelamatkan target dari bahaya fisik menggunakan manipulasi tanpa kekerasan langsung.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +15 PS.]
[Selamat! Anda telah mendapatkan sekutu pertama Anda.]
Tommy tersenyum tipis membaca notifikasi dari sistem tersebut.
Memiliki sekutu cerdas yang bisa tutup mulut sepertinya akan sangat berguna untuk rencananya di masa depan.
"Ayo kita pulang, tidak aman berlama-lama di sini," ajak Tommy sambil menepuk pundak Dito.
Mereka berdua berjalan berdampingan meninggalkan area sekolah yang mulai sepi.
Sementara itu, dari jendela kelas di lantai dua, sepasang mata sedang mengawasi mereka sedari tadi.
Nadin berdiri di balik tirai jendela dengan dahi berkerut dalam.
Ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi ia melihat jelas Tommy dan Dito berjalan bersama seperti teman dekat.
"Tommy dan Dito? Sejak kapan mereka akrab?" gumam Nadin penuh kecurigaan.
Rentetan kejadian aneh mulai dari koreksi rumus fisika, ujian tanpa hukuman DO, hingga anomali nilai sejarah Tommy, semuanya mulai merangkai sebuah pola di otak Nadin.
"Ada yang tidak beres denganmu, Tommy Nugroho," batin gadis pintar itu.
"Dan aku akan mencari tahu kebenarannya apa pun yang terjadi."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇