Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 - Gudang Baru, Musuh Lama
Pak Hartono berseri-seri mendengar jawaban Intan.
"Sama sekali tidak jadi masalah! Kontraknya bisa kusiapkan siang ini juga. Kalian bisa datang kapan saja menandatangani; begitu uang sewa dibayarkan, kunci langsung kuserahkan."
Kedua pihak mengobrol ramah, dan kesepakatan itu tuntas dalam waktu setengah jam.
Sesudah itu Pak Hartono menambahkan satu keterangan lagi: "Pintu garasi bisa dikunci dengan gembok sendiri setelah kontrak ditandatangani. Saya hanya memegang satu kunci cadangan, untuk membukanya kalau-kalau ada pipa yang bocor."
Intan mengangguk puas; sekarang ia tak perlu cemas soal garasi ini.
Sepulang meninggalkan perumahan, Dimas bertanya dengan bingung: "Kenapa tadi tidak menekan harga dulu, Intan? Garasi sebelah saja cuma empat ratus ribu; mungkin bisa ditawar supaya lebih murah."
Ia selalu merasa sewa garasi itu agak mahal.
Intan justru tidak menganggapnya begitu: "Kak, lihat kompleks kita yang tua dan lusuh ini."
"Satu unit lantai dasar berukuran empat puluh sampai lima puluh meter persegi saja disewa delapan ratus ribu sebulan."
"Ini perumahan baru; fasilitasnya paling lengkap, lingkungannya paling rapi."
"Meski garasi tidak sebesar unit rumah, ruangannya tetap lega."
"Sudah ada pula jalur pipa air dan titik sambungannya; tinggal dibuatkan pipa pembuangan lagi, dan itu bisa dikerjakan Bapak, hanya perlu beberapa meter paralon dan sedikit semen."
"Satu hal lagi, mutu penduduk kompleks itu cukup baik dan tidak ada satu pun yang mengenal kita, jadi tidak perlu khawatir ada orang menyelinap diam-diam ke gudang kita."
"Orang tua bisa bekerja di sana tanpa harus selalu waspada menjaga barang dari pencuri. Nanti semua perlengkapan untuk membuat es campur kita pindahkan ke sana, rumah jadi bersih, dan perempuan semacam Bu Irma itu tidak akan bisa mendapat tahu apa-apa walau terus menanya. Pfft!"
Dimas tertawa keras mendengar kalimat terakhir itu.
Ia tahu adiknya membenci Bu Irma, tetapi tidak menyangka adiknya sampai sedetail itu.
"Sudahlah, kudengar. Kita pulang, racik dulu adonan-adonan bakso ini. Nanti malam ketika orang tua pulang, kita bicarakan soal sewa gudang."
Intan menyahut: "Kalau bisa, semua urusan gerobak nanti dikerjakan di sana, dan orang tua tinggal berangkat langsung dari gudang itu."
"Termasuk becak sewaan. Waktu itu kutrasikan dua bulan; dua bulan lagi kita kembalikan, lalu beli becak yang lebih besar sendiri."
"Sewa gudang setengah tahun saja tiga juta; ditambah lemari pendingin dan becak baru, jumlahnya kira-kira sama dengan hasil jualan dua pekan kemarin."
Setelah memperhitungkan semuanya, pengeluaran pun bertambah lagi.
Dimas yang tadi sempat merasa lima ratus ribu sudah besar, kini merasakan uang keluarga memang belum cukup dan harus bertambah terus.
Kedua kakak beradik itu pulang dan segera mengunci pintu dari dalam.
Di seberang, Bu Irma semakin tidak enak hati mendengar suara pintu tertutup yang begitu cepat; ia tidak menyangka pintunya bisa sekeras itu, dan merasa makin kesal.
Suara benturan terdengar cukup keras sampai ke telinga Intan; ia tahu betul perempuan seberang itu sedang cemberut di balik jendela.
Sambil menatap pintu seberang, Intan mencibir: "Lihat, inilah bedanya mutu."
Bertetangga dengan perempuan semacam itu benar-benar sial delapan turunan!
"Mending kita cepat mengumpulkan uang, jual tempat ini, lalu pindah ke lingkungan yang lebih baik."
Dimas tersenyum cerah: "Baik, kudengar."
"Nanti kalau sudah dapat uang, kita pindah. Tapi itu urusan nanti. Yang penting bagimu, kau baru akan masuk SMA Nusantara 1; lingkungan yang baik itu penting."
"Kau berencana pulang setiap minggu, atau langsung tinggal di asrama sekolah?"
Intan menggeleng: "Aku tidak berencana tinggal di asrama."
"Aku ingin jadi siswa pulang pergi. SMA Nusantara 1 tidak jauh dari rumah; aku bisa bolak-balik setiap hari."
"Tinggal di asrama tidak lebih nyaman daripada di rumah."
Dimas mengerutkan kening mendengar itu: "Intan, kakak berharap kau mau tinggal di asrama, supaya bisa makin akrab dengan teman sekelas dan segera menyesuaikan diri dengan kehidupan asrama, sehingga tidak kaku-kaku semua nanti saat memasuki perguruan tinggi."
Intan tahu Dimas benar, tetapi ia adalah Intan yang terlahir kembali. Ia sudah pernah menjalani hidup yang jauh lebih rumit daripada sekadar membaur dengan sesama siswa baru, sehingga tidak ada lagi hal yang terasa asing baginya.
Melihat Intan tidak bergerak sedikit pun, Dimas menghela napas dan tidak meneruskan; ia membantu Intan memilah, menimbang, dan mencatat bumbu-bumbu yang baru dibeli.
Dari balik kertas catatan, dua kepala itu terus berbisik tentang takaran, gilingan, dan lamanya perendaman; rumah yang kecil itu untuk sesaat berubah menjadi laboratorium kecil yang penuh pertanyaan.
Mereka menyusun empat atau lima resep, masing-masing mengolah sejumlah daging ayam cincang menjadi adonan bakso dengan komposisi bumbu berbeda.
Bawang putih dan bawang merah ditumbuk, lada hitam digiling, pala dan jintan disangrai sebentar di wajan, lalu seluruhnya dicampur satu per satu ke dalam mangkuk besar yang sudah diberi nomor.
Aroma pedas itu memenuhi ruang tamu sampai dapur, membuat Dimas bersin beruntun sambil tertawa; setiap kali ia bersin, bumbu dari tumpukan di meja ikut terbang ke lengan bajunya.
Ketika pekerjaan itu selesai, Ibu baru saja pulang.
"Mereka sedang apa?"
Mata Ibu membulat melihat tumpukan barang yang tidak ia kenal di atas meja ruang tamu, masing-masing diberi catatan kecil.
Intan dan Dimas datang dari balkon.
Melihat kedua anaknya dalam keadaan kusut, Ibu naik darah: "Kalian berbuat apa? Kok sampai begini keadaannya? Bau amis pula!"
Intan segera menyela: "Bu, tenang dulu, jangan panik. Aku dan kakak tadi mengerjakan adonan-adonan bakso dan bumbu."
"Kakak bilang saking hebohnya, dia terus-terusan bersin dan percikannya sampai ke aku."
Intan berusaha meredakan Ibu. Setelah tahu penyebabnya, Ibu akhirnya mereda; dengan ragu ia menyuruh keduanya mandi lebih dulu, sementara ia sendiri bertolak ke dapur menyiapkan makanan.
Sepulang mandi dan berganti pakaian, Intan memanfaatkan kesempatan itu untuk menceritakan soal sewa garasi: "Bu, lingkungan rumah kita memang tidak cocok untuk usaha."
"Kemarin kami sempat melihat kompleks dekat Plaza Cendrawasih. Kompleks itu baru dibangun, dan penghuninya tidak ada yang kita kenal."
"Sewanya cuma lima ratus ribu sebulan; kupikir cukup murah."
"Nanti aku beli lemari pendingin bekas yang masih bagus dan becak yang lebih besar; kalau semuanya lancar, bulan depan gerobak bakso sudah bisa berangkat dari gudang itu."
"Lalu Bapak diminta menyambungkan pipa air dan listriknya; pekerjaan semacam itu biasanya ia selesaikan tidak lebih dari sehari."
"Garasi itu memang tempat menyimpan barang, tidak dipakai. Asal kita tidak merombak macam-macam, pemiliknya tidak akan datang; pembayaran enam bulan pertama sudah kusiapkan dari uang bonus."
"Cukup aman. Bagaimana, Bu?"
Tangan Ibu sempat bergetar saat pertama kali mendengar rencana menyewa, tetapi kemudian ia pasrah:
"Kalian sudah membulatkan tekad, apa lagi kata ibumu?"
"Hanya saja keluarga kita memang tidak pantas terus begini."
"Sekarang ini banyak orang menanya-nanya berapa hasil berjualan; aku selalu bilang tidak tahu, tetapi boleh jadi mereka tidak percaya."
"Nanti kalau aku sendiri ikut berjualan, orang-orang itu pasti iri, dan urusannya makin banyak."
"Lebih baik disewa saja."
Intan mengangguk; gudang itu tidak lagi sekadar usul, melainkan keputusan yang telah disepakati satu keluarga.
Sebuah hantaman keras mengejutkan Ibu dan anak yang sedang yang sedang bertukar pikiran itu.
Sebelum sempat bereaksi, terdengar hantaman susulan di pintu, disertai suara Bu Irma yang mengumpat dengan kata-kata kasar. Pintu itu lalu digedor berulang kali, semakin lama semakin keras.
Intan langsung naik darah; tanpa basa-basi ia membuka pintu dan membentak: "Orang sinting kurang ajar mana yang menggedor pintuku?"
"Berani-beraninya bersikap tidak tahu malu! Kau kira hanya kau yang bisa berlaku nakal?"
"Perempuan busuk!"
Kalimat itu hampir saja ia ucapkan dengan suara berteriak.
Suara masak dari rumah-rumah di sekitar mendadak hilang; suasana hening yang aneh menyelimuti gang.
Selang beberapa saat, pintu rumah Bu Irma juga terbuka: "Kau memaki siapa? Dasar orang tidak berpendidikan!"
Intan tidak mundur sedikit pun, suaranya naik beberapa derajat dan nyaris histeris: "Meski aku tidak berpendidikan, aku ini tidak akan kalah dengan orang yang tidak punya muka, tidak beradab, tidak bermutu, kasar, dan tidak tahu malu!"
Bu Irma bukan tipe orang yang bisa menahan penghinaan seperti itu; ia segera melangkah keluar dari pintunya dengan niat berkelahi.
Di belakang Intan, Ibu memegang lengannya, tetapi Intan sendiri tidak tampak berniat surut; kedua tangannya tetap menggenggam sapu, siap menghadapi seisi rumah seberang.
Intan tidak takut. Ia menyambar sapu yang bersandar di tepi pintu dan berseru dengan marah: "Mau apa? Kalau mau berkelahi, berkelahi saja! Kalau hari ini tidak kubuat kepalamu babak belur, namaku bukan Intan!"
Beberapa tetangga mengintip dari balik tirai jendela, tetapi tidak seorang pun berani menegur; mereka hanya menahan napas menyaksikan dua suara bercakar.
Namun orang-orang yang mendengar keributan itu tak bisa lagi berdiam; mereka berdatangan melerai.
Nenek tua yang biasa duduk di depan pintu memegang pagar tangga sambil terengah-engah naik: "Ini sekalian ada keributan apa?"
"Bu, tolong adili saya, gadis kecil ini mau menginjak kepala saya!" pekik Bu Irma begitu melihat orang datang.
Nenek tua memindahkan pandangannya dari wajah Bu Irma ke sapu di tangan Intan, lalu berucap pelan tetapi tajam: "Kau yang lebih dulu menggedor pintu orang, Ibu Irma. Apa kau kira semua orang di gang ini tuli?"
Bu Irma membeku; suara nenek itu rendah, tetapi menusuk sampai ke tengkuk.
Dimas yang datang belakangan menahan bahu Intan diam-diam, bukan untuk meredakan, tetapi sekadar mengingatkan agar adiknya tidak terpancing lebih jauh.
Intan menatapnya dengan muram, nyaris ingin mencabik-cabik Bu Irma di Tempat itu juga.