Ardio adalah seorang mafia kejam sejak kematian istri yang meninggal karena di bunuh oleh musuhnya, padahal istrinya bari melahirkan seorang bayi.
Setelah kepergian istrinya, ia menjadi bertambah kejam, meskipun begitu, ia sangta lembut kepada putri kecilnya yang bernama Adel, bahkan menggantikan popok pun ia mau bahkan rela begadang agar buah hatinya tidak terganggu oleh masalah.
Hari ini ia sedang mengeksekusi penjahat yang ingin menganggu bisnisnya, Tiba-tiba saja ia mendapat telpon dari pengasuh anaknya jika Adel tidak bisa tidur tanpa dirinya, dan ia rela pulang, dan menyurh anak buahnya untuk mengeksekusi penjahat tersebut.
Meskipun ia mafia kejam, tapi ia adalah ayah yang penyayang.
Adel pun berusia masuk SMA favorit, tapi ia mendapatkan pembullyan daei teman Sekolahnya karena ada seorang pria primadona yang mendekatinya.
Sementara ia tidak sedikit pun menyukai sang primadona tersebut.
Tapi Adel menyimpan sendiri pembullyan itu hingga akhirnya di ketahui oleh Ardio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Ardio menatap Sisca sejenak dari kejauhan dengan tatapan dingin tanpa belas kasih.
"Adel. Sesuai janjimu, kamu sudah mencoba hidup sebagai murid biasa. Dan Papa bangga karena putri Papa sangat kuat dan berbudi pekerti tinggi. Tapi ingat pesan Papa... kesabaranmu adalah kebaikan, tapi perlindungan Papa adalah hukuman!" kata Ardio lembut.
Adel menatap ayahnya dengan rasa haru. Meski kedatangan Ardio menghancurkan penyamarannya dan membuat gempar seluruh sekolah, Adel tahu bahwa semua ini dilakukan Ardio karena rasa cinta untuk melindunginya.
Adel mengulas senyum manis. "Iya, Papa. Adel paham," sahut Adel pelan.
Ardio tersenyum puas, lalu mengulurkan telapak tangannya yang lebar dan kekar di hadapan Adel.
"Ayo, Sayang. Hari ini Papa mau menemanimu belajar di kelas sampai bel pulang sekolah berbunyi. Papa sudah minta izin pada Kepala Sekolahmu," ujar Ardio santai sambil melirik Kepala Sekolah yang langsung mengangguk-angguk cepat dengan ketakutan.
"Apa?! Papa mau ikut duduk di kelas Adel?!" kata Adel kaget.
"Tentu saja. Papa ingin tahu bagaimana putri cantik Papa belajar," balas Ardio tertawa pelan.
Adel menggeleng-gelengkan kepalanya yang gemas, lalu mengulurkan tangan kecilnya, menyambut jari Ardio dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Baiklah, Papa Pahlawanku," jawab Adel penuh kehangatan.
Ardio menggandeng tangan putri tunggalnya dengan erat, melangkah bersama menyusuri koridor SMA Garuda Bangsa.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, ratusan murid, guru, dan staf sekolah menundukkan kepala penuh rasa hormat dan gentar.
Semua orang di SMA Garuda Bangsa tahu bahwa Adelia adalah seorang putri raja sang King Mafia.
Ratusan pasang mata menahan napas, menatap sosok Ardio di samping Adelia.
Tiba-tiba Ardio melepaskan genggaman tangannya dari Adel.
"Tunggu sebentar ya, Sayang. Ada satu urusan kecil yang harus Papa selesaikan dulu," bisik Ardio, mengusap pelan kepala Adel.
Adel menatap ayahnya dengan pandangan bertanya. "Papa mau ke mana?"
"Cuma mau menyapa seseorang," jawab Ardio dengan senyum tipis.
Melihat Ardio melangkah mendekat, para murid yang berdiri di sekitar Sisca langsung mundur beberapa meter karena ketakutan.
Sheila dan Vanya bahkan bersembunyi di balik dinding, tak berani bernapas keras.
Ardio menghentikan langkahnya tepat di depan Sisca.
Sisca perlahan memberanikan diri mengangkat wajahnya. Tapi saat ia menatap Mata Ardio, ia seperti masuk ke dalam jurang iblis.
"S-Siswa... aku... aku mohon... A-ampun... Pak..." suara Sisca terbata-bata.
Ardio tersenyum sinis.
"Bagaimana rasanya... kehilangan segalanya dalam semalam, Sisca?" bisik Ardio.
Tubuh Sisca seketika membeku kaku.
"Rumah megahmu, mobil bahagiamu, harta ayahmu... semuanya sirna, bukan? Akulah yang menarik seluruh investasi ayahmu. Akulah yang memerintahkan bank membekukan semua rekening keluargamu. Dan akulah yang membuat keluargamu menjadi gelandangan tak berharta detik ini," lanjut Ardio tersenyum sinis.
"K-kenapa...? K-kenapa Anda... lakukan ini pada kami...?" kata Sisca histeris dengan suara bergetar pelan.
"Sebab jemari kotormu... pernah menyiram air kotor dan menyakiti putri tunggalku di toilet sekolah ini. Ingat baik-baik, Gadis Kecil. Di dunia ini, kamu boleh mengusik siapa saja. Tapi begitu kamu menyentuh Adelia... kamu sedang menandatangani surat kematian untuk seluruh keluargamu!" bisik Ardio penuh penekanan.
Setiap kata yang diucapkan Ardio menghantam kesadaran Sisca bagaikan pukulan godam yang meremukkan jiwanya. Penyesalan, rasa takut yang luar biasa, dan kenyataan bahwa kesombongannya telah menghancurkan hidup seluruh keluarganya kini menumpuk menjadi satu penderitaan yang tak sanggup ditanggung otaknya.
"T-tidak... t-tidak mungkin... A-aku... aku yang menghancurkan Papa... aku yang..." gagap Sisca, pandangannya mulai kabur dan berkunang-kunang.
"Ini pelajaran terakhir dariku. Nikmatilah sisa hidupmu di dasar neraka," ujar Ardio sambil berdiri tegap kembali.
Rasa shock yang sangat dalam membuat dadanya sesak luar biasa. Tiba-tiba matanya terpejam dan tubuhnya jatuh pingsan tak sadarkan diri di atas lantai.
Kerumunan murid yang menyaksikan pemandangan itu menelan ludah dengan wajah pucat pasi.
Tidak ada satu pun yang berani bersuara atau mendekat.
Ardio membalikkan badannya dengan santai, kembali melangkah menuju Adel yang menunggu di depan pintu kelas X-A.
"Sudah selesai, Pa?" tanya Adel pelan, melirik sebentar ke arah Sisca yang sedang dibantu oleh beberapa petugas medis sekolah.
"Sudah, Sayang. Ayo masuk ke kelas. Papa tidak sabar mau lihat bagaimana cara putri Papa belajar," jawab Ardio lembut sambil merangkul bahu Adel dengan penuh kasih sayang.
Adel tersenyum dan mengangguk, melangkah bersama ayahnya memasuki ruangan kelas