Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Suamiku Anak Mami
Aroma harum minyak zaitun dan kesegaran air wudu masih terasa menyejukkan di dalam kamar tidur utama lantai dua. Seusai salam terakhir mengakhiri salat Subuh berjemaah yang dipimpin langsung oleh Dimas, Aisyah mencium punggung tangan suaminya dengan penuh takzim.
Dimas pum membalasnya dengan mendaratkan kecupan hangat yang cukup lama di dahi Aisyah, sebuah kebiasaan baru yang membuat hati Aisyah senantiasa berdesir hangat.
Aisyah kemudian bangkit dari sajadahnya. Ia melipat kain mukena putihnya dengan rapi, meletakkannya di atas meja kecil, lalu melangkah menuju tempat tidur berukuran King Size untuk merapikan sprei sutra dan bantal yang masih agak berantakan.
Namun, baru saja jemari Aisyah memegang pinggiran sprei, dua lengan kokoh tiba-tiba melingkar hangat memeluk pinggangnya dari belakang.
Aisyah tersentak pelan. Punggungnya menempel erat pada dada bidang Dimas yang hanya terbalut kaus santai yang tipis. Hawa hangat dari tubuh suaminya menyapa leher belakang Aisyah, diikuti oleh deru napas yang memburu halus.
Dimas membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Aisyah, seraya menghirup aroma alami tubuh istrinya yang begitu menenangkan.
"Aisyah..." bisik Dimas dengan suara serak, berat, dan dipenuhi rasa yang membara. "Aku mau lagi..."
Mata Aisyah seketika membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang bagaikan ditabuh. Bayangan petunjuk dan gertakan Bu Rosma kemarin sore mendadak melintas begitu jelas di ingatan Aisyah.
Mertuanya itu telah mewanti-wanti dengan tegas bahwa sebagai menantu, Aisyah harus bangun ekstra pagi untuk membantu Mbok Nah menyiapkan sarapan dan mengurus kebutuhan rumah tangga sebelum penghuni rumah terbangun.
Aisyah kemudian berusaha menguasai dirinya. Dengan lembut, ia memegang pergelangan tangan Dimas, lalu memutar tubuhnya perlahan agar bisa berbalik menghadap sang suami.
"Mas... Sepertinya tidak bisa," tutur Aisyah halus namun raut wajahnya menyiratkan kecemasan. Pandangan matanya menatap Dimas dengan penuh permohonan dan berkata lagi, "Mas dengar sendiri kan kata Bu Rosma kemarin? Kalau Aisyah harus sudah ada di dapur dari pagi untuk membantu Mbok Nah dan..."
Hmmfth...
Belum sempat Aisyah menyelesaikan kalimatnya, Dimas telah memangkas jarak. Pria muda itu memegang tengkuk Aisyah dan langsung menyosor bibir istrinya. Melumatnya dengan begitu penuh gelora, dalam, dan tanpa memberi kesempatan bagi Aisyah untuk memprotes.
"Mmh... Mas..." gumam Aisyah terputus-putus di sela sengatan ciuman suaminya. Tangannya yang semula menahan dada Dimas perlahan kehilangan tenaga akibat dekapan yang makin erat dan posesif dari Dimas.
"Sttt..." bisik Dimas, matanya menatap Aisyah dengan binar hasrat yang tak lagi bisa dibendung. "Jangan bahas Mami dulu... Pagi ini kamu milik aku, Syah."
Seakan tak mau menerima penolakan dalam bentuk apa pun, Dimas merangkul tubuh Aisyah dengan sigap, mengangkatnya sedikit lalu membaringkannya kembali di atas kasur empuk yang baru saja dirapikan sebagian. Selimut tebal pun ditarik kembali hingga mengurung mereka berdua dari dinginnya udara Subuh.
Gelora muda dan rasa cinta yang meluap usai malam pertama membuat Dimas seolah lupa akan waktu dan keberadaan orang lain di rumah megah tersebut.
Penolakan lembut Aisyah luluh sepenuhnya oleh kehangatan dan kelembutan suaminya. Pergulatan cinta di antara sepasang pengantin baru itu pun kembali terjadi, bukan hanya untuk satu ronde, melainkan berlanjut hingga beberapa ronde berikutnya.
Aisyah yang kewalahan menuruti stamina suaminya akhirnya terkulai lelah dalam dekapan erat Dimas. Rasa kantuk dan kelelahan fisik yang luar biasa membimbing Aisyah masuk ke dalam tidur yang sangat lelap.
Di sampingnya, Dimas menyunggingkan senyum puas, sambil melingkarkan lengannya di tubuh Aisyah, lalu ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.
**
Sementara itu, gema kehidupan di lantai bawah kediaman Wiraguna sudah berdenyut sejak pukul lima pagi. Mbok Nah bersama dua orang asisten rumah tangga tampak sibuk memotong bahan makanan, menyeduh kopi, dan merapikan area ruang makan yang luas.
Pukul enam lewat tiga puluh menit, Bu Rosma turun dari lantai dua dengan gaun rumahannya yang tampak elegan.
Namun, raut wajah wanita paruh baya itu jauh dari kata ramah. Sejak Subuh tadi, perhatiannya tersita oleh panggilan telepon penting dari kolega bisnisnya di luar negeri mengenai investasi saham.
Setelah menutup panggilan teleponnya di ruang tengah pukul tujuh tepat, Rosma mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang lengang. Matanya berjelajahi dari area ruang tamu hingga ke arah dapur utama yang terlihat bersih mengkilap.
Tapi, ada satu hal yang menyita perhatiannya, yaitu sosok menantu barunya yang sama sekali tidak kelihatan.
"Huh!." Rosma mendengus keras, dengan kedua tangannya yang terlipat rapat di dada, seraya mendelik tajam ke arah koridor dapur.
"Apa-apaan ini?" gumam Rosma dengan nada suara yang bergetar menahan amarah. "Kenapa dia belum terlihat jam segini? Mbok Nah!"
Mbok Nah yang sedang menata cangkir porselen di meja makan terperanjat kaget, lalu bergegas menghampiri majikannya dengan kepala yang menunduk. "I-iya, Bu Rosma?"
"Mana Aisyah?!" tembak Rosma tanpa basa-basi. "Kenapa dia tidak ada di dapur menyapu atau membantu kamu? Jangan bilang dia masih tidur!"
Mbok Nah menelan ludahnya dan merasa serbasalah. "Anu, Bu... Neng Aisyah tadi Subuh Mbok lihat lampu kamarnya sudah menyala... Tapi Mbok ndak berani ketuk kamar Den Dimas, Bu..."
"Dasar tidak tau diri!" potong Rosma tajam, sementara napasnya naik turun. "Baru satu hari tinggal di rumah ini saja sudah berani melanggar aturan! Dikira rumah ini hotel tempat dia bisa santai-santai seenaknya?!"
Jika bukan karena urusan telepon bisnis yang menyitanya sejak Subuh tadi, Rosma pasti sudah mendobrak kamar anak dan menantunya sejak pukul lima pagi. Kegeraman yang tertahan selama dua jam itu kini memuncak di dadanya.
Dengan langkah kaki yang dihentakkan keras meniti anak tangga marmer, Rosma bergerak menuju lantai dua.
Ia menyusuri koridor megah dengan wajah yang merah padam, niatnya sudah bulat untuk memberi pelajaran keras dan melontarkan omelan pedas kepada Aisyah di depan putranya.
"Keterlaluan! Baru satu hari tinggal saja sudah tidak tau aturan! Aisyah!" Rosma mendumel tanpa henti sepanjang koridor.
Hingga...
Langkah kaki Rosma berhenti tepat di depan pintu kayu mahoni berukir emas milik kamar utama Dimas. Amarah yang sudah sampai di ubun-ubun membuat akal sehat dan tata kramanya menguap begitu saja.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, tanpa mengucap salam, dan tanpa memberikan tanda keberadaan, tangan Rosma langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya lebar-lebar.
Cklek!
Pintu kamar terbuka sempurna, dan langsung menampilkan pemandangan dalam ruangan yang bermandikan cahaya matahari pagi dari celah gorden yang sedikit terbuka.
Namun, omelan pedas yang sudah tersusun rapi di ujung lidah Rosma mendadak tersangkut di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna, mulutnya ternganga kaku bagaikan dihantam petir di siang bolong.
"Argh! Oh... Emmhh..."
Di atas kasur King Size yang berantakan, Dimas dan Aisyah yang ternyata baru saja terbangun beberapa menit lalu dan sedang kembali bergulat di bawah gulungan selimut, sontak terperanjat hebat.
"Akh..." Aisyah menjerit kecil dalam kepanikan yang luar biasa. Wajahnya seketika pucat pasi lalu berubah merah padam hingga ke leher.
Dengan refleks dan secepat kilat, Aisyah menarik selimut tebal lalu menutupi seluruh tubuh hingga batas dadanya, dan bersembunyi di balik punggung Dimas.
Dimas yang terkejut setengah mati langsung menyambar bantal dan memegang pinggiran selimut untuk menutupi dada bidangnya yang polos. Napasnya memburu kencang, antara kaget, malu, dan amarah yang meledak karena privasi kamarnya diterobos begitu saja.
"Mami! Kenapa langsung masuk aja?!" teriak Dimas dengan suara yang meninggi, matanya menatap ibunya dengan tatapan penuh kejengkelan dan rasa malu yang tak tertahankan.
Sementara itu, Rosma berdiri membeku di ambang pintu. Wajahnya yang semula memancarkan keangkuhan kini berubah merah padam bagaikan kepiting rebus.
Matanya bergerak liar dan bingung harus menatap ke mana, saat menyadari betul bahwa ia baru saja menyaksikan adegan yang sangat tidak pantas dilihat oleh seorang ibu mertua.
"Mami... Mami hanya... Emm..." Rosma gagap luar biasa. Lidahnya yang biasanya tajam dan pandai bersilat kata mendadak kaku tak bertulang.
Tanpa berani meneruskan perkataannya atau menatap wajah anak dan menantunya lagi, Rosma langsung berbalik dengan cepat. Tangan tua bersalut perhiasan mahal itu menyambar gagang pintu, lalu membantingnya dan menutup kembali dari luar.
BAM!
"Apa yang mereka lakukan di pagi begini!."
Bersambung...