Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Hak Veto Sang Penguasa Tua
Langkah kaki Elena dan Duke Xavier membelah kerumunan para taipan yang terpaku diam bagaikan laut yang terbelah. Kehadiran mereka di dalam aula Imperial Financial Hall bukan lagi sekadar sebagai tamu kehormatan, melainkan sebagai sepasang predator tertinggi yang siap merenggut paksa kendali atas distrik keuangan ibu kota. Lampu kilat dari kamera jurnalis internal berkejaran, menangkap kilau berlian hitam pada mahkota di kepala Elena yang tampak begitu agung dan menantang.
Begitu mereka tiba di area lingkaran altar kehormatan, Lord Malakai melangkah maju dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian aristokratnya. Di sampingnya, Nyonya Besar Victoria dan Lady Cynthia menatap Elena dengan mata yang berkilat penuh kebencian mendalam, siap menyaksikan kejatuhan sang wanita perak melalui kartu as yang sudah mereka persiapkan.
"Duke Xavier," ucap Lord Malakai dengan suara baritonnya yang sengaja dikeraskan agar menggema di antara meja para pejabat kementerian keuangan. "Kedatangan Anda bersama wanita ini tentu kami sambut dengan formalitas yang layak. Namun, sesuai dengan aturan hukum konsorsium perbankan pusat ibu kota, kami dari faksi perbankan kuno memiliki hak veto mutlak atas pendaftaran modal asing baru. Dan malam ini... kami secara resmi menyatakan bahwa lembaga investasi Aethelgard Holdings milik istri Anda ditolak masuk ke pasar sekunder ibu kota!"
Kata 'ditolak' yang diucapkan Malakai dengan penekanan yang kental langsung memicu keheningan yang mencekam di seisi ruangan. Para menteri dan investor asing saling berbisik, menyadari bahwa faksi bangsawan kuno sedang mencoba melakukan eksekusi mati secara sosial dan finansial terhadap Elena di depan publik internasional.
Cynthia mengulas senyuman kemenangan yang sangat licik dari balik kipas emasnya, menatap Elena dengan binar mata yang meremehkan. "Nona Elena, ibu kota memiliki benteng yang tidak bisa ditembus hanya dengan uang murah dari kota kecil seperti Secilia City. Hak veto adat kami adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."
Xavier yang mendengar hal itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Pria jangkung itu justru terkekeh rendah, sebuah suara tawa bariton yang terdengar begitu dingin dan kejam di keheningan aula besar. Dia tidak melirik Malakai; matanya tetap mengunci Elena dengan tatapan penuh rasa kagum, membiarkan istrinya yang mengambil kendali penuh atas panggung malam ini.
Elena perlahan mengalihkan sepasang mata safir birunya yang jernih, menatap lurus ke dalam manik mata Lord Malakai dengan kekosongan yang sedingin es kutub. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis namun mematikan terukir sempurna di bibir merahnya.
"Hak veto adat, Lord Malakai?" Elena bersuara, dan nadanya yang merdu namun berwibawa seketika memotong seluruh keangkuhan faksi bangsawan kuno dalam sekejap mata. "Saya rasa Anda dan para tetua kolot di ruangan ini terlalu lama hidup di masa lalu hingga lupa memeriksa papan pengumuman otoritas moneter pusat tepat pukul tujuh malam tadi."
Elena memberikan isyarat kecil dengan jemari lentiknya kepada salah satu pengacara senior Obsidian Group yang berdiri di belakangnya. Sang pengacara segera melangkah maju, membuka sebuah koper kulit eksklusif, lalu menyodorkan selembar dokumen resmi berstempel emas murni dari Bank Sentral Negara ke hadapan wajah Lord Malakai.
"Silakan baca dengan teliti dokumen di tangan Anda, Lord Malakai," ucap Elena dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan penekanan yang mencekik seluruh pasokan udara di dada pria tambun itu. "Dalam waktu tiga hari terakhir, Aethelgard Holdings milik saya telah resmi membeli secara massal seluruh surat utang subordinasi jangka pendek milik Imperial Central Bank—institusi induk yang menopang seluruh likuiditas dan brankas kekayaan dari tiga bank utama faksi Anda."
Elena melangkah satu tahap lebih dekat, membiarkan aroma parfum lavendernya yang pekat mengintimidasi Malakai yang kini mulai gemetar hebat.
"Nilai surat utang yang saya pegang saat ini mencapai enam puluh persen dari seluruh cadangan modal operasional Anda," bisik Elena dengan nada suara sedingin es kutub namun dipenuhi oleh kemenangan mutlak. "Dan sesuai dengan klausul hukum darurat perbankan... jika faksi Anda berani melayangkan satu veto tidak berdasar malam ini terhadap perusahaan saya, maka Aethelgard Holdings memiliki hak hukum penuh untuk menuntut pencairan tunai atas seluruh surat utang tersebut detik ini juga."
Mendengar penjelasan hukum finansial yang begitu rapi dan mematikan itu, wajah Lord Malakai seketika berubah menjadi seputih kain kafan. Dokumen di tangannya terlepas, jatuh ke atas karpet beludru ungu dengan bunyi yang nyaris tak terdengar. Tubuh tambunnya gemetar hebat, keringat dingin bercucuran deras di pelipisnya. Dia tahu persis arti dari tuntutan pencairan utang seketika: dalam waktu lima menit dari sekarang, seluruh sistem perbankan kuno ibu kota yang mereka banggakan akan dinyatakan gagal bayar, kolaps total, dan bangkrut secara massal.
"T-Tidak... ini tidak mungkin... Bagaimana bisa kamu mengumpulkan dana sebesar itu dalam waktu sesingkat ini?!" gumam Malakai dengan suara yang mendadak parau karena syok yang luar biasa dahsyat.
Nyonya Besar Victoria yang berada di sampingnya langsung memegangi sandaran kursi dengan wajah kaku menahan ngeri yang teramat sangat, sementara kipas emas di tangan Cynthia jatuh terlepas ke lantai, hancur berkeping-keping seiring dengan runtuhnya seluruh keangkuhan mereka di bawah kaki Elena.
"Di dunia bisnis modern, Lord Malakai, siapa yang memegang kendali atas utang... dialah yang menjadi pemilik sah dari takhta kekuasaan," Elena menatap para tetua ibu kota dari posisi berdiri yang sangat anggun dengan pandangan penuh penghinaan yang teramat dalam. "Jadi, silakan layangkan hak veto Anda sekarang juga. Mari kita saksikan bersama seluruh menteri di ruangan ini, seberapa kuat benteng adat kuno Anda bertahan saat aku meruntuhkan seluruh kerajaan finansial Anda menjadi abu sebelum pesta dansa malam ini dimulai."
Keheningan yang luar biasa menakutkan menyelimuti seluruh aula besar Imperial Financial Hall. Tidak ada satu pun manusia dari faksi bangsawan kuno yang berani mengangkat suara atau bergerak; mereka semua berdiri membeku dalam kekalahan mutlak yang sangat mematikan.
Xavier melangkah maju, merangkul pinggang ramping Elena secara sangat posesif di hadapan seluruh menteri dan duta besar internasional yang kini mulai bertepuk tangan memberikan penghormatan tertinggi kepada sang permaisuri perak baru.
"Permainan yang sangat indah, Elena," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang berat dan penuh dengan rasa cinta yang mendalam di dekat telinga Elena. "Para ular dari ibu kota akhirnya tahu siapa pemilik mahkota yang sesungguhnya di atas takhta tertinggi negara ini."
Elena tersenyum manis dalam pelukan hangat suaminya. Dari seorang wanita yang dulu ditindas dan dibiarkan mati dalam kepasrahan, jiwa Clarissa kini telah lahir kembali sepenuhnya dan naik ke puncak kejayaan absolut yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun lagi seumur hidupnya sebagai Elena von Obsidian—sang penguasa tunggal yang sesungguhnya di atas menara finansial imperial.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄