NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sesampainya di kediaman utama, atmosfer rumah yang megah itu mendadak berubah menjadi neraka.

Begitu pintu ruang tamu dibanting hingga tertutup rapat, Yanuar melepaskan jasnya dengan kasar dan melemparnya ke sembarang arah hingga tersangkut di lampu gantung kristal.

"ARRGHHHH! SIAL!" teriak Yanuar, suaranya memecah kesunyian malam yang mencekam.

Mama Baskara jatuh terduduk di atas sofa beludru, napasnya memburu dan dadanya naik turun dengan cepat.

Wajahnya yang biasanya selalu dirias dengan sempurna kini tampak berantakan, menahan amarah yang meledak-ledak.

Ia baru saja dipermalukan di depan umum, diseret keluar dari resepsi oleh petugas keamanan seolah-olah ia adalah pengemis, bukan pemilik perusahaan.

Arum menangis tersedu-sedu sambil memegangi rambutnya yang kusut, sementara Billy hanya berdiri di sudut ruangan dengan rahang yang mengeras, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Dia... dia benar-benar melakukannya!" desis Mama Baskara dengan suara bergetar karena murka.

"Dia mengusir kita! Dia berani-beraninya mengusir kita dari rumah kita sendiri, dari perusahaan kita sendiri!"

"Audit itu..." gumam Yanuar dengan tatapan kosong, tubuhnya mulai gemetar saat menyadari konsekuensi dari bukti-bukti penggelapan dana yang disebutkan Baskara.

"Kalau audit itu sampai ke tangan polisi, kita tidak hanya akan diusir, Ma. Kita akan membusuk di penjara!"

"Jangan bicara soal penjara!" bentak Mama Baskara kepada anaknya.

"Cari jalan keluarnya! Panggil pengacara terbaik sekarang juga!"

Namun, Billy yang sejak tadi diam saja tiba-tiba mengeluarkan suara tawa yang sinis dan mengerikan.

Ia menatap bibi dan sepupunya dengan pandangan penuh kebencian.

"Tidak ada jalan keluar, Tante," ujar Billy dingin.

"Kalian mendengar sendiri perkataan Baskara tadi. Dia sudah memegang semuanya. Dia bukan lagi anak kecil yang bisa dikendalikan oleh ancaman warisan atau nama keluarga."

Ruangan itu kembali sunyi. Mereka semua sadar, Baskara telah melangkah terlalu jauh—jauh melampaui jangkauan mereka.

Kehidupan mewah yang mereka banggakan kini berada di ambang keruntuhan total, dan di balik kemarahan itu, rasa takut mulai merayap pelan, karena mereka tahu bahwa bagi Baskara, pembalasan ini baru saja dimulai

Di tengah kobaran amarah dan keputusasaan yang melanda kediaman keluarga besar, sebuah niat busuk kembali bersemi di benak mereka. Mama Baskara, Yanuar, Arum, dan Billy saling bertukar pandang dengan tatapan penuh kelicikan.

Jika jalur hukum dan intrik bisnis gagal menjatuhkan pria itu, maka mereka akan menyerang satu-satunya kelemahan yang paling berharga bagi Baskara saat ini: Alena.

Mereka bertekad mencari cara lain—bagaimanapun caranya—agar Baskara bertekuk lutut dan mengembalikan seluruh posisi serta kekuasaan mereka.

Sementara itu, jauh dari bayang-bayang kebencian tersebut, suasana di dalam penthouse pribadi Baskara terasa begitu hangat dan damai.

Mobil mewah yang membawa pengantin baru itu baru saja terparkir di basement privat.

Langkah kaki Baskara dan Alena berdampingan memasuki ruang tengah yang sunyi, membawa serta sisa-sisa kebahagiaan dari resepsi megah yang baru saja mereka menangkan.

Baskara melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alena, memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan penuh rasa memiliki.

Ia meletakkan dagunya di pundak Alena, menghirup aroma lembut dari rambut wanita itu.

"Capek, Sayang?" bisik Baskara mesra.

Alena menyandarkan punggungnya pada dada bidang sang suami, memejamkan mata menikmati kehangatan pelukan itu.

"Iya, Bas... seharian berdiri menyapa tamu benar-benar menguras tenaga," jawabnya dengan suara manja.

Baskara tersenyum tipis di balik punggung Alena. Ia mengecup sekilas pipi istrinya sebelum menawarkan ide yang langsung membuat pipi Alena merona merah.

"Bagaimana kalau kita mandi bersama, lalu aku beri pijatan yang enak untuk merilekskan otot-ototmu?" bujuk Baskara dengan nada rendah yang menggoda.

Alena merona hebat, namun kelelahan di tubuhnya serta rasa cinta yang meluap-luap membuat ia tidak memiliki alasan untuk menolak.

Dengan malu-malu, Alena menganggukkan kepalanya pelan.

Tanpa menunggu detik berikutnya, Baskara langsung menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Alena, membopong tubuh istrinya dengan mudah, lalu membawa wanita itu melangkah menuju kamar mandi mewah mereka untuk menikmati malam pertama yang sesungguhnya sebagai sepasang suami istri.

Air hangat yang mengepul di dalam bathtub besar berukuran king-size itu memberikan kenyamanan instan bagi tubuh mereka yang penat.

Baskara dan Alena berbaring berhadapan, menikmati ketenangan yang begitu kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di dunia luar.

Jari-jari Baskara dengan lembut mengitari bahu Alena, memberikan pijatan perlahan yang melelehkan setiap ketegangan di otot-otot istrinya.

Namun, di balik permukaan air yang tenang, bayang-bayang ancaman masih menyelimuti pikiran Alena.

Ia mengangkat pandangannya, menatap lekat-lekat mata suaminya dengan kilatan kekhawatiran yang mendalam.

"Bas..." panggil Alena pelan, suaranya nyaris berbisik di antara suara gemercik air.

"Aku takut... aku takut kalau mereka akan nekat menyakitimu."

Alena menggigit bibir bawahnya, kenangan tentang wajah penuh lebam Billy dan tatapan penuh kebencian dari ibu mertuanya kembali berkelebat di kepalanya.

"Apalagi Billy... kamu tahu sendiri anak itu tidak punya batas. Dia nekat melakukan apa saja kalau sudah dikuasai amarah."

Mendengar ketakutan di suara istrinya, Baskara tidak lantas meremehkannya.

Ia menghentikan gerakan tangannya, lalu menggeser posisinya sedikit lebih dekat. Dengan penuh kelembutan, Baskara mengangkat tangan dan mengusap pipi Alena yang basah terkena uap air.

"Tidak usah takut, Sayang," ucap Baskara dengan nada yang begitu tenang, memberikan sauh keamanan di tengah badai.

Ia mengecup kening Alena sekilas, lalu menatap manik mata istrinya dengan penuh keyakinan.

"Biarkan mereka merencanakan apa pun di belakang kita. Aku sudah mengantisipasi setiap langkah mereka, Alena. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuhku, apa lagi menyentuhmu. Rumah ini, hidupku, dan keseluruhanku adalah benteng yang tidak bisa mereka tembus."

Alena menghela napas pelan, merasakan kehangatan dan ketulusan yang mengalir dari tatapan mata suaminya.

Sedikit demi sedikit, beban berat yang sempat menghimpit dadanya mulai melunak.

Ia tahu Baskara bukan tipe pria yang bicara kosong; suaminya selalu memegang kendali penuh atas setiap situasi.

Alena mengangkat tangannya, balas mengusap rahang tegas Baskara yang basah.

"Janji padaku, Bas... jangan pernah sembunyikan apa pun dariku lagi. Apapun bahayanya, kita akan hadapi bersama," pinta Alena dengan suara tulus namun tegas.

Baskara tersenyum lembut, meraih jemari Alena yang berada di pipinya dan mengecup telapak tangan itu satu per satu.

"Janji, Sayangku," balas Baskara penuh cinta.

Suasana di dalam kamar mandi mendadak berubah menjadi semakin intim dan hangat.

Uap air yang mengepul perlahan mengaburkan pandangan, menyisakan dunia kecil milik mereka berdua, jauh dari jangkauan tangan-tangan kotor keluarga besar Baskara yang masih menyusun rencana busuk di luar sana.

Baskara menarik tubuh Alena semakin mendekat, hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka di dalam air hangat bathtub tersebut.

Telapak tangannya yang besar dan hangat menangkup tengkuk Alena, menarik wanita itu ke dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan penuh rasa syukur.

Ciuman itu tidak terburu-buru; ia menyampaikan ribuan kata cinta, perlindungan, dan janji suci yang tidak sempat terucap lewat lisan.

Alena menutup matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan suaminya, membalas setiap sentuhan dengan kelembutan yang sama.

Air yang memercik pelan seakan menyapu bersih segala sisa air mata dan ketakutan yang sempat merajam hari-hari mereka.

Malam itu, di dalam penthouse yang berdiri megah di atas kota yang sibuk, mereka menemukan ketenangan sejati.

Di luar sana, musuh-musuh mereka mungkin sedang menyusun strategi kegelapan yang baru.

Namun di dalam ruangan ini, tidak ada lagi keraguan—hanya ada dua jiwa yang telah menyatu, siap menghadapi apa pun badai yang datang esok hari, bergandengan tangan sebagai satu kekuatan yang tak terkalahkan.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!