Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENIH KERAGUAN
Aroma harum bunga anggrek bulan kering dari dalam kotak perak itu seolah membeku di udara Aula Utama. Kain sutra tua di genggaman Shen Xianle terasa seberat bongkahan batu gunung. Kalimat terakhir dari mendiang ibunya terus berputar di dalam kepalanya, mengikis ketenangan yang baru saja ia bangun selama tiga bulan terakhir.
“Jangan pernah mempercayai siapa pun, bahkan mereka yang menggendongmu keluar dari kegelapan...”
Xianle perlahan menurunkan surat itu, meletakkannya kembali ke atas meja giok dengan gerakan yang sangat pelan, mencoba menyembunyikan getaran halus di jemarinya. Ia mengatur napasnya, mengembalikan topeng dingin seorang maharani ke wajah porselennya sebelum mendongak menatap Long Junwei.
Pangeran Bayangan itu masih berdiri di posisinya, bersedekap dengan sepasang mata elang yang menatap tajam ke arah kotak perak. Raut wajahnya yang tegas tidak menunjukkan emosi sedikit pun, namun ada ketegangan samar pada garis rahangnya.
"Apa isi surat itu, Xianle?" tanya Junwei, suara baritonnya yang berat terasa lebih rendah dari biasanya, menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Xianle terdiam sesaat. Di dalam dunia politik istana yang kejam, membiarkan sekutu terkuatmu mengetahui bahwa kau mulai mencurigainya adalah langkah yang setara dengan bunuh diri. Terlebih lagi, Long Junwei adalah pria yang memiliki kendali penuh atas Pasukan Bayangan pasukan yang saat ini menjaga setiap sudut istananya.
"Hanya pesan terakhir dari Ibu," ucap Xianle dengan nada datar, suaranya terdengar jernih tanpa riak emosi. Ia menggeser gelang giok yang retak itu ke dalam genggamannya. "Beliau mengingatkanku agar tetap waspada. Kematian ibuku... ternyata melibatkan sebuah organisasi rahasia dari luar perbatasan benua ini. Permaisuri dan Perdana Menteri Shen hanyalah pion yang mereka gunakan."
Junwei melangkah mendekati meja, sepasang matanya menyipit menatap lipatan surat sutra yang sengaja ditutupi oleh tangan Xianle. "Organisasi dari luar perbatasan? Jaringan informasiku di barat dan utara tidak pernah mendeteksi adanya kekuatan asing yang bergerak di dalam istana belakang belasan tahun lalu. Jika surat itu benar, berarti musuh kita kali ini menyembunyikan diri mereka jauh lebih dalam daripada yang kita duga."
Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata jernih Xianle. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Xianle bisa merasakan aura dominasi yang pekat memancar dari tubuh Junwei. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku, teratai kecilku?"
Pertanyaan itu membuat atmosfer di dalam aula seketika turun drastis hingga ke titik beku. Xiaoyu yang masih berlutut di lantai bawah tanah menundukkan kepalanya lebih dalam, menahan napasnya karena merasakan hawa membunuh yang samar mulai bergesekan di antara kedua penguasa tertinggi itu.
Xianle menatap balik mata elang Junwei tanpa berkedip. "Di tempat tertinggi ini, Junwei, menyembunyikan beberapa hal adalah cara terbaik untuk tetap hidup. Bukankah kau yang mengajariku hal itu di Kediaman Bayangan?"
Long Junwei menatap wanita di hadapannya cukup lama, mencari riak ketakutan atau pengkhianatan di wajah porselen tersebut. Namun, yang ia temukan hanyalah keteguhan seorang maharani. Perlahan, seulas senyuman tipis yang misterius terukir di bibir Junwei. Ia mundur selangkah, melepaskan tekanan auranya.
"Benar," ucap Junwei sembari berbalik arah menuju pintu keluar. "Tetapi ingatlah satu hal, Xianle. Aku menyelamatkanmu dari dasar tebing malam itu bukan untuk melihatmu mati karena kecurigaanmu sendiri. Aku akan memerintahkan Mo Reng untuk menyelidiki asal-usul kotak perak ini. Istirahatlah, beban mahkota di kepalamu tampaknya mulai membuatmu lelah."
Jubah hitam bersulam naga perak milik Junwei berkibar anggun saat ia melangkah pergi meninggalkan Aula Utama, menyisakan bau dupa cendana hitam yang perlahan memudar ditiup angin pagi.
Begitu sosok Junwei benar-benar menghilang di balik tikungan koridor, Xianle menghela napas panjang, tubuhnya mendadak terasa lemas. Ia membuka kembali genggaman tangannya, menatap surat sutra berdarah itu sekali lagi.
"Xiaoyu," panggil Xianle dengan suara rendah yang serak.
"Hamba berada di sini, Yang Mulia," Xiaoyu segera menegakkan tubuhnya, bergerak mendekati meja dengan wajah penuh kewaspadaan.
"Perintahkan beberapa prajurit Barak Barat yang paling setia dari faksi Jenderal Zhao untuk mengawasi setiap pergerakan pintu masuk Kediaman Bayangan secara rahasia. Jangan biarkan Pasukan Bayangan menyadarinya," perintah Xianle, matanya berkilat oleh keraguan.
"Dan satu hal lagi... cari tahu siapa pelayan tua yang dulu merawat ibuku sebelum Paviliun Anggrek dikosongkan. Jika ada yang masih hidup, bawa mereka ke hadapanku secara rahasia malam ini."
"Hamba menerima perintah, Yang Mulia," Xiaoyu membungkuk rendah sebelum akhirnya mundur keluar dari aula tanpa suara.
Xianle berdiri dari kursi naga emasnya, berjalan menuju balkon yang menghadap langsung ke arah pegunungan barat tempat Kediaman Bayangan milik Long Junwei berada. Benih keraguan telah tertanam di dalam hatinya yang paling dalam. Aliansi terkuat yang pernah meruntuhkan seluruh faksi istana kuno, kini mulai retak dari dalam oleh selembar kain sutra masa lalu yang membawa pesan misterius dari balik liang kubur.