Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA KAMU MENJAUH?
Pukul 07.55 pagi.
Alya tiba di kantor seperti biasa.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Dia tidak membawa dua gelas kopi.
Hanya satu.
Untuk dirinya sendiri.
Dia duduk, menyalakan laptop, lalu mulai bekerja tanpa menoleh ke arah ruang Raka.
Lima menit kemudian pintu ruang direktur terbuka.
Raka keluar.
Tatapannya langsung menuju meja Alya.
Tidak ada kopi.
Dia berhenti sebentar.
Alya menyadarinya, tetapi pura-pura sibuk membaca email.
“Pagi, Pak.”
Raka menjawab,
“Pagi.”
Biasanya setelah itu Alya akan masuk membawa jadwal.
Hari ini tidak.
Raka menunggu.
Alya tetap mengetik.
Akhirnya Raka bertanya,
“Jadwal saya?”
“Sudah ada di email Bapak.”
Raka terdiam.
“Tidak dibawa?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Alya menatapnya.
“Karena Bapak bisa membacanya sendiri.”
Raka mengerutkan kening.
“Kamu biasanya membawa.”
“Biasanya.”
Jawaban singkat itu membuat Raka semakin sadar.
Alya memang sedang menjauh.
Dia masuk ke ruangannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Pintu tertutup.
Raka berdiri beberapa detik.
Kemudian kembali ke meja.
Dia membuka email.
Jadwal memang sudah lengkap.
Tidak ada kesalahan.
Semuanya sempurna.
Seharusnya dia senang.
Tetapi justru merasa terganggu.
Karena selama ini Alya selalu berdiri di depannya sambil menjelaskan jadwal.
Sekarang tidak.
Dan dia baru sadar—
dia merindukan kebiasaan kecil itu.
PUKUL 09.00
Raka membuka laptop.
Mencoba bekerja.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak fokus.
Akhirnya dia menekan tombol interkom.
“Maya.”
“Ya, Pak?”
“Alya ke sini.”
Hening.
“Sekarang, Pak?”
“Iya.”
Beberapa detik kemudian terdengar ketukan.
Alya masuk membawa tablet.
“Bapak memanggil saya?”
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka sebuah dokumen.
“Jelaskan ini.”
Alya membaca.
“Ini laporan pemasaran.”
“Saya tahu.”
“Bagian mana yang perlu dijelaskan?”
Raka terdiam.
Dia sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan.
Dia hanya ingin Alya duduk di sana.
Namun dia tidak mungkin mengatakan itu.
“Bagian terakhir.”
Alya menjelaskan.
Lancar.
Profesional.
Tanpa bercanda.
Tanpa satu pun komentar pribadi.
Raka memperhatikannya.
Setelah selesai, Alya berdiri.
“Sudah, Pak?”
“Sudah.”
Alya mengangguk.
“Kalau begitu saya kembali bekerja.”
Dia berbalik.
Raka menatap punggungnya.
“Alya.”
Dia berhenti.
“Ya?”
“Kamu marah?”
Alya menoleh.
“Tidak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Lalu kenapa berbeda?”
Alya tersenyum kecil.
“Saya sedang bekerja, Pak.”
Raka terdiam.
Alya keluar.
Pintu tertutup.
Raka menatap pintu tersebut.
Dia mulai kesal.
Bukan kepada Alya.
Tetapi kepada dirinya sendiri.
Karena dia tahu persis penyebab perubahan itu.
Clara.
Dan kalimat bodoh yang dia ucapkan.
Dia hanya asisten saya.
PUKUL 11.30
Raka memiliki meeting dengan tim keuangan.
Alya ikut seperti biasa.
Namun selama meeting, dia duduk lebih jauh.
Tidak lagi di samping Raka.
Ketika Raka meminta dokumen, Alya memberikannya tanpa mendekat.
Ketika meeting selesai, dia langsung mengumpulkan berkas.
Raka memperhatikan.
“Alya.”
“Iya?”
“Tunggu.”
Alya berhenti.
Semua orang sudah keluar.
Kini hanya mereka berdua.
Raka berdiri.
“Kamu benar-benar tidak marah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Alya menarik napas.
“Pak, saya pikir sebaiknya kita kembali seperti biasa.”
Raka mengerutkan kening.
“Seperti biasa?”
“Profesional.”
Raka terdiam.
“Kita memang profesional.”
Alya tersenyum tipis.
“Belakangan ini tidak terlalu.”
Raka menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Alya menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya berani menatapnya.
“Saya mulai terlalu nyaman.”
Raka tidak bergerak.
“Saya nyaman bercanda dengan Bapak.”
Alya melanjutkan.
“Nyaman makan bersama.”
“Nyaman ketika Bapak mengantar saya.”
“Dan mungkin…”
Dia berhenti.
“Mulai terlalu memperhatikan hal-hal yang sebenarnya bukan urusan saya.”
Raka diam.
Alya menarik napas.
“Saya tidak mau pekerjaan ini jadi rumit.”
Raka akhirnya berkata,
“Karena Clara?”
Alya tersenyum pahit.
“Bukan hanya karena dia.”
“Lalu?”
“Karena saya mendengar sendiri apa yang Bapak katakan.”
Raka langsung tahu.
Alya mendengar percakapannya dengan Clara.
Dia menundukkan kepala sebentar.
“Alya…”
“Saya tahu saya hanya asisten Bapak.”
Raka mengangkat wajah.
“Jangan mengatakan itu.”
“Kenapa?”
“Karena…”
Dia berhenti.
Alya menunggu.
Raka tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Akhirnya Alya berkata,
“Tidak apa-apa, Pak.”
Dia mengambil berkas.
“Mulai sekarang saya akan menjaga batas.”
Alya berjalan keluar.
Raka berdiri sendiri.
Kali ini dia tidak memanggilnya kembali.
Karena dia tahu—
Alya benar.
Hubungan mereka memang sudah mulai melewati batas yang seharusnya.
Namun anehnya…
Raka tidak ingin kembali seperti dulu.
SIANG
Pukul 13.00.
Alya makan siang bersama Maya.
Tidak ada Raka.
Maya memperhatikan wajah Alya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Bohong.”
Alya tersenyum.
“Sudah.”
Maya menatapnya.
“Pak Raka?”
Alya diam.
Maya langsung tahu.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak.”
“Terus?”
“Kami cuma menjaga jarak.”
Maya menghela napas.
“Kenapa?”
Alya menceritakan percakapan tadi.
Maya mendengarkan.
Setelah selesai, dia bertanya,
“Kalau Raka bilang dia tidak ingin kamu menjauh?”
Alya terdiam.
“Dia tidak bilang.”
“Kalau dia bilang?”
“Saya tidak tahu.”
Maya menatapnya.
“Masalahnya bukan apakah dia suka kamu atau tidak.”
Alya mengangkat wajah.
“Lalu?”
“Masalahnya adalah kamu sendiri.”
“Apa?”
“Kamu sudah mulai punya perasaan.”
Alya tidak menjawab.
Karena dia tahu.
Maya benar.
PUKUL 14.30
Raka keluar dari ruangannya.
“Alya.”
Alya berdiri.
“Iya, Pak?”
“Dokumen.”
“Sudah di email.”
“Bawa ke sini.”
“Baik.”
Dia masuk ke ruangan Raka.
Meletakkan dokumen.
“Ini.”
Raka mengambilnya.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membaca.
Beberapa menit kemudian dia bertanya,
“Kenapa kamu tidak membawa kopi?”
Alya terdiam.
“Bapak tidak meminta.”
“Biasanya kamu bawa.”
“Saya pikir Bapak bisa membeli sendiri.”
Raka mengangguk pelan.
“Baik.”
Alya berdiri.
Namun Raka berkata,
“Alya.”
“Ya?”
“Kalau saya minta?”
Alya menatapnya.
“Minta apa?”
“Kopi.”
Alya tersenyum kecil.
“Bisa.”
“Besok.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia keluar.
Raka menatap pintu.
Setidaknya ada satu hal kecil yang kembali.
PUKUL 16.00
Masalah baru muncul.
Klien dari Surabaya mengirim email bahwa mereka ingin bertemu langsung keesokan harinya.
Raka membaca email.
Kemudian memanggil Alya.
“Besok saya ke Surabaya.”
Alya membuka kalender.
“Jam berapa?”
“Pagi.”
“Pulang?”
“Malam.”
Alya mencatat.
“Baik.”
“Kamu ikut.”
Alya berhenti menulis.
“Saya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kamu yang menyiapkan kontraknya.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka melihat ekspresinya.
“Kamu tidak mau?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Saya hanya pikir Bapak ingin menjaga jarak.”
Raka terdiam.
“Ini pekerjaan.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka kembali melihat layar.
Namun beberapa detik kemudian berkata,
“Dan…”
Alya menunggu.
“Jangan terlalu formal dengan saya ketika hanya kita berdua.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Raka tidak menjawab.
Alya tersenyum tipis.
“Baik, Pak.”
Dia sengaja menekankan kata terakhir.
Raka menatapnya.
“Kamu mengejek saya?”
“Tidak.”
“Kamu sedang marah.”
“Tidak.”
Raka hampir tersenyum.
Setidaknya Alya mulai kembali menjadi dirinya sendiri.
PERJALANAN KE BANDARA
Keesokan paginya, mereka berangkat bersama.
Alya duduk di kursi belakang.
Raka di sebelahnya.
Namun jarak di antara mereka terasa berbeda.
Tidak seperti sebelumnya.
Alya sibuk membaca dokumen.
Raka sibuk melihat ponsel.
Tidak ada percakapan.
Sampai akhirnya Raka berkata,
“Kamu masih marah?”
Alya tidak mengangkat wajah.
“Tidak.”
“Masih menjaga jarak?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Supaya tidak salah paham.”
Raka menatapnya.
“Siapa yang salah paham?”
Alya menutup dokumen.
“Saya.”
Raka terdiam.
“Karena saya mulai berpikir…”
Alya berhenti.
“Berpikir apa?”
Alya menggeleng.
“Tidak penting.”
Raka ingin bertanya lagi.
Namun dia tahu tidak seharusnya.
DI BANDARA
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang tunggu.
Alya membawa dokumen.
Raka membawa tas kecil.
Tiba-tiba seorang pria berlari dari arah belakang.
“Alya!”
Alya menoleh.
Wajahnya langsung berubah cerah.
“Rian?”
Seorang pria seusia mereka berhenti di depan Alya.
“Benar kamu!”
Alya tertawa.
“Kamu di sini?”
“Iya. Aku kerja di sini sekarang.”
Raka berdiri beberapa langkah di belakang.
Dia memperhatikan.
Pria itu terlihat akrab dengan Alya.
Mereka berbicara beberapa menit.
Kemudian Rian berkata,
“Masih sama.”
Alya tertawa.
“Apanya?”
“Kalau ketemu selalu buru-buru.”
Alya tertawa lagi.
Raka tidak menyukai suara tawa itu.
Bukan karena tawa Alya.
Tetapi karena pria lain yang membuatnya tertawa.
Akhirnya Rian menyadari keberadaan Raka.
“Maaf, Pak.”
Alya memperkenalkan.
“Ini Pak Raka, atasan saya.”
Rian mengangguk.
“Rian.”
Mereka berjabat tangan.
Raka singkat.
“Raka.”
Rian menatap Alya lagi.
“Kapan-kapan kita makan.”
Alya mengangguk.
“Boleh.”
Raka langsung berkata,
“Kita harus pergi.”
Alya menoleh.
“Boarding masih dua puluh menit.”
“Kita pergi sekarang.”
Raka berjalan.
Alya meminta maaf kepada Rian.
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Alya mengejar Raka.
Begitu mereka agak jauh, Alya berkata,
“Bapak kenapa?”
“Apa?”
“Tadi.”
“Tidak ada.”
“Bapak buru-buru.”
“Supaya tidak terlambat.”
Alya melihat jam.
“Kita masih punya waktu.”
Raka tidak menjawab.
Alya tersenyum.
“Cemburu?”
Raka berhenti berjalan.
“Alya.”
“Iya?”
“Jangan.”
Alya tertawa.
“Baik.”
Namun kali ini Raka tidak membantah.
DI DALAM PESAWAT
Mereka duduk berdampingan.
Alya melihat ke luar jendela.
Raka membuka laptop.
Beberapa menit kemudian Alya berkata,
“Pak.”
“Ya?”
“Rian itu teman SMA saya.”
Raka mengangguk.
“Saya tidak bertanya.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa menjelaskan?”
Alya tersenyum.
“Supaya Bapak tidak salah paham.”
Raka menatapnya.
“Saya tidak salah paham.”
“Baik.”
Alya kembali melihat jendela.
Raka terdiam.
Kemudian berkata,
“Dia bukan pacarmu?”
Alya langsung menoleh.
Raka sendiri terlihat sedikit salah tingkah.
Alya tersenyum.
“Bapak benar-benar penasaran.”
“Saya hanya bertanya.”
“Bukan.”
“Bagus.”
Alya mengerutkan kening.
“Bagus?”
Raka menyadari jawabannya.
“Karena kalau dia pacarmu, perjalanan kerja ini akan…”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Tidak penting.”
Alya tersenyum.
“Bapak aneh.”
Raka kembali ke laptop.
Namun kali ini Alya tidak merasa terganggu.
Justru ada rasa hangat yang muncul.
Karena untuk pertama kalinya—
Raka menunjukkan sedikit rasa cemburu tanpa menyadarinya.
SURABAYA
Meeting berlangsung sukses.
Alya memainkan peran penting dalam menjelaskan beberapa bagian kontrak.
Raka mempercayakan beberapa pembahasan kepadanya.
Setelah meeting selesai, klien mengajak makan malam.
Raka menolak.
“Kami harus kembali.”
Alya menatapnya.
“Bapak?”
“Kita punya penerbangan malam.”
Alya mengangguk.
Saat mereka berjalan keluar hotel, Alya berkata,
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak sengaja menolak makan malam?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Raka berhenti.
“Karena kamu pasti capek.”
Alya terdiam.
“Bapak tahu?”
“Saya melihat.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Raka mengangguk.
Mereka berjalan lagi.
Namun kali ini Alya tidak lagi menjaga jarak.
Dia berjalan sedikit lebih dekat.
MALAM
Di perjalanan pulang, Alya tertidur.
Raka melihatnya.
Kepalanya kembali hampir menyentuh jendela.
Raka menarik tirai kecil di antara jendela dan kursi.
Kemudian membiarkan Alya tidur.
Beberapa menit kemudian Alya terbangun.
“Sudah sampai?”
“Belum.”
Alya melihat ke samping.
“Bapak belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Menunggu.”
Alya tersenyum.
“Menunggu apa?”
Raka menatapnya.
“Kamu bangun.”
Alya terdiam.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berkata apa-apa.
Kemudian Alya perlahan tersenyum.
“Pak…”
“Hm?”
“Jangan bikin saya salah paham.”
Raka tidak menjawab.
Alya kembali bersandar.
“Karena saya sedang berusaha menjaga jarak.”
Raka menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dia sadar—
dia tidak ingin Alya menjaga jarak.
Namun jika dia ingin mendekat…
dia harus berani menghadapi konsekuensinya.
Karena mulai sekarang, masalah mereka bukan lagi tentang Clara.
Bukan tentang Dimas.
Bukan tentang orang lain.
Masalah sebenarnya adalah—
Raka sendiri.
Dan perasaan yang semakin sulit dia sembunyikan.