NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Menumpang Mobil Pakde Karyo

Satu-satunya kendaraan yang berangkat teratur dari Girimulyo ke kecamatan adalah mobil tua berwarna biru milik Pakde Karyo.

Mobil itu mengangkut apa saja: penumpang, karung beras, ayam dalam keranjang, bahkan sepeda jika atapnya masih muat. Laras mengenalnya dari suara mesin yang batuk-batuk sebelum kendaraan muncul di tikungan.

“Pasar! Kecamatan!” teriak pengemudinya.

Arya mengangkat tangan. Mobil berhenti di depan rumah kontrakan.

Pakde Karyo turun dengan sedikit menyeret kaki kiri. Rambutnya memutih di pelipis, tetapi bahunya masih tegap. Matanya langsung jatuh pada cara Arya berdiri.

“Pernah dinas?” tanyanya.

“Masih,” jawab Arya. “Sedang cuti karena urusan keluarga.”

Pakde Karyo tidak menanyakan perkara Guntur. Ia hanya mengulurkan tangan. “Saya dulu di infanteri. Kaki kena serpihan saat tugas. Sekarang medan perang saya jalan rusak dan penumpang yang menawar ongkos.”

Arya tertawa pendek, suara yang jarang didengar Laras.

Mereka hendak ke kecamatan untuk melengkapi berkas kehamilan di Puskesmas dan membeli kebutuhan rumah. Rukmini serta Sekar tinggal membantu Guntur memperbaiki halaman.

Pakde Karyo memindahkan dua karung agar Laras mendapat tempat dekat pintu. “Ibu hamil jangan duduk paling belakang. Guncangannya seperti naik kuda.”

Arya membersihkan bangku dengan saputangan, lalu membantu Laras naik.

Sepanjang jalan, Pakde Karyo bercerita tanpa menjadi tukang gunjing. Ia menunjukkan warung termurah, bengkel yang jujur, dan hari pasar paling ramai.

“Kalau butuh obat, jangan tunggu terlalu sore,” katanya. “Puskesmas tutup layanan umum lebih cepat daripada pasar. Kalau darurat malam, bidan desa yang dicari dulu.”

Laras mencatat rute serta nomor telepon yang disebutnya.

Pakde Karyo melihat dari kaca spion. “Rapi sekali, Bu.”

“Kalau jalannya sejauh ini, lupa satu barang berarti kehilangan satu hari.”

“Betul. Banyak orang kota baru sadar setelah sampai rumah.”

Mobil berhenti dua kali menaikkan penumpang. Seorang ibu membawa keranjang cabai, seorang pemuda membawa gulungan kain. Laras bertanya harga serta asal barang, menyimpan informasi tanpa langsung menawarkan apa pun.

Ibu penjual cabai bernama Bu Tatik. Ia menyarankan Laras membeli minyak goreng dan gula di pasar kecamatan karena warung desa menambahkan ongkos angkut cukup tinggi.

“Tapi jangan beli sayur di kota,” katanya. “Di Girimulyo lebih segar. Kalau mau murah, datang menjelang pasar bubar.”

Pemuda pembawa kain ikut menyebut toko yang menerima jahitan rumahan. “Mereka sering mencari orang untuk obras atau pasang kancing. Bayarannya per potong.”

Laras menuliskan dua informasi itu. Ia belum tahu siapa yang bisa menjahit, tetapi pekerjaan ringan seperti itu mungkin berguna bagi keluarga.

Ketika seorang penumpang lain mencoba bertanya apakah benar Guntur terlibat korupsi, Pakde Karyo memotong dengan tenang.

“Di mobil saya, kita bicara tujuan dan ongkos. Perkara orang yang belum diputus bukan hiburan perjalanan.”

Penumpang itu terdiam.

Arya menatap mantan prajurit tersebut dari samping. Tidak ada ucapan terima kasih, hanya anggukan kecil yang langsung dipahami Pakde Karyo.

Di tikungan berikutnya, ayam dalam keranjang mendadak mengepak. Laras terkejut dan tubuhnya miring. Arya menahan bahunya sebelum ia mengenai pintu, lalu mengikat keranjang lebih kuat dengan tali cadangan.

“Kendaraan ini memang mengangkut semuanya,” kata Laras.

Pakde Karyo tertawa. “Kalau besok ada kambing naik, jangan kaget.”

Suasana yang semula tegang kembali ringan.

Saat jalan menanjak, mesin mendadak tersendat.

Pakde Karyo turun dan membuka kap. Arya ikut memeriksa. Keduanya bekerja tanpa banyak kata, satu memegang kabel, satu membersihkan sambungan aki.

“Tanganmu masih tangan prajurit,” kata Pakde Karyo.

“Tangan Bapak juga.”

“Panggil Pakde saja. Kita sama-sama pernah tidur dengan sepatu masih terpasang.”

Sepuluh menit kemudian mesin hidup. Wajah Arya lebih ringan ketika kembali duduk.

“Mas kelihatan senang,” bisik Laras.

“Mesinnya mudah diperbaiki.”

“Bukan karena bertemu sesama tentara?”

Arya tidak menjawab, tetapi sudut bibirnya belum sepenuhnya turun.

Mendekati kecamatan, Pakde Karyo menurunkan suara. “Kalau tinggal lama, ada kabar sekolah dasar dekat desa akan mencari guru honorer. Belum diumumkan. Gurunya pindah ikut suami.”

Laras menoleh. “Kapan?”

“Mungkin bulan depan. Pak Waluyo biasanya ingin orang pilihannya masuk.”

“Melati?”

Pakde Karyo mengangkat bahu. “Anak kesayangan selalu dianggap paling cocok, meski belum tentu mau mengajar.”

Informasi itu sama dengan alur yang Laras ingat, hanya waktunya bisa berubah. Ia menuliskan `guru honorer` di bagian belakang daftar belanja.

Pakde Karyo juga menjelaskan Bu Marni memiliki kebiasaan meminjam barang tanpa cepat mengembalikan, sedangkan Ningsih dan Jarwo termasuk orang yang bisa dipercaya.

“Jangan telan semua kata saya,” tambahnya. “Lihat sendiri orangnya.”

“Nasihat itu justru membuat saya percaya pada Pakde,” ujar Laras.

Mobil akhirnya masuk halaman Puskesmas Kecamatan. Pakde Karyo memberi mereka waktu sampai selepas zuhur dan berjanji menunggu di pasar.

Arya membayar ongkos penuh meski Pakde Karyo menolak tambahan untuk barang.

“Lain kali kalau ke kota, kabari malam sebelumnya,” kata Pakde. “Saya sisakan tempat depan untuk Bu Laras.”

Laras memandang mobil biru itu pergi menuju pasar.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Girimulyo, jalan menuju dunia luar tidak lagi terasa tertutup.

Di tangannya ada daftar belanja, jadwal Puskesmas, nomor seorang sekutu baru, dan satu kabar tentang pekerjaan yang kelak bisa mengubah posisinya di desa.

Perjalanan pertama itu bukan sekadar tumpangan. Itu adalah jalur hidup yang mulai mereka bangun sendiri sedikit demi sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!