NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Tamparan di Arisan

Undangan itu menyebut acara amal.

Meja paling depan justru dipenuhi orang yang sibuk membicarakan harga tas.

Kayla berdiri di ballroom kecil sebuah hotel Jakarta Selatan dengan gaun krem sederhana. Tante Cindy menyambutnya di depan kamera ponsel yang sedang menyiarkan langsung acara arisan.

"Akhirnya menantu baru datang," katanya. "Kami kira dokter IGD terlalu sibuk untuk belajar bergaul."

Beberapa perempuan tertawa.

"Pasien tidak bisa menyesuaikan sakit dengan jadwal arisan," jawab Kayla.

"Tentu. Tapi sekarang kamu bagian keluarga Gunawan. Penampilan dan pergaulan juga harus dijaga."

Tante Cindy menyentuh kain gaun Kayla tanpa izin. "Ini buatan lokal?"

"Ya."

"Berani sekali dipakai ke acara seperti ini."

"Saya datang untuk menyumbang, bukan mendaftarkan gaun ke rumah sakit."

Senyum Tante Cindy menegang.

Di meja belakang, Vanessa duduk bersama Sherly. Vanessa sengaja menaikkan suara ketika Kayla lewat.

"Setelah menikahi orang kaya, selera tidak selalu ikut naik."

Kayla berhenti. "Setelah dibesarkan orang kaya, sopan santun juga tidak selalu ikut tumbuh."

Beberapa tamu menahan tawa. Sherly menurunkan cangkir dan berkata kepada Vanessa, "Kamu memulainya lagi."

"Aku hanya bercanda."

"Candaan harus lucu."

Vanessa memalingkan wajah.

Acara dimulai dengan pengumpulan dana untuk pemeriksaan kesehatan perempuan di wilayah pesisir. Kayla menyerahkan proposal RS Sentosa dan menjelaskan kebutuhan ambulans bergerak. Namun seorang perempuan di depan mengangkat tangan bukan untuk bertanya tentang program.

"Dokter, benar keluarga Anda hanya punya toko sembako di Bekasi?"

Kamera siaran langsung beralih kepada Kayla.

"Benar."

"Lalu bagaimana bisa bertemu Pak Adrian?"

"Di Jakarta ada jalan, rumah sakit, dan pesawat. Orang dari Bekasi tidak harus tinggal di dalam toko seumur hidup."

Tawa pecah lebih terbuka.

Tante Cindy buru-buru mengambil mikrofon. "Maksud pertanyaannya, kami penasaran bagaimana cinta bisa melewati perbedaan kelas sebesar itu."

"Mungkin karena Adrian menikahi manusia, bukan laporan kekayaan."

Jumlah penonton siaran langsung naik. Komentar bergerak begitu cepat di layar ponsel panitia.

Sebagian akun menertawakan latar toko sembako. Namun beberapa penonton mulai bertanya mengapa acara amal kesehatan justru dipakai menguji harga pakaian seorang dokter.

Panitia tidak mematikan kamera. Kontroversi membuat jumlah penonton bertambah, dan mereka tampaknya lebih peduli pada angka daripada rasa malu tamu.

Kayla melihat logo yayasan di belakang panggung. Nama programnya berbicara tentang martabat perempuan, sementara perempuan-perempuan di bawahnya mengukur martabat dengan tas dan nama suami.

Ia mengambil mikrofon sekali lagi. "Proposal ambulans bergerak mencantumkan anggaran dan rumah sakit mitra. Kalau ada pertanyaan tentang program, saya jawab. Kalau yang ingin dinilai hanya keluarga saya, saya tidak akan memakai dana pasien untuk hiburan itu."

Seorang donor di baris kedua bertepuk tangan. Beberapa orang menyusul. Tante Cindy cepat melanjutkan acara sebelum kendali benar-benar lepas.

Seorang tamu berbisik bahwa Kayla pasti hanya dokter umum. Yang lain bertanya apakah rumah sakit menerima orang dengan latar keluarga kecil karena koneksi.

Kayla hendak menjawab ketika terdengar suara piring jatuh.

Seorang perempuan tua di meja tengah berdiri sambil memegang leher. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara keluar.

Kayla langsung berlari.

"Ibu tersedak? Bisa batuk?"

Perempuan itu tidak mampu menjawab. Wajahnya mulai membiru.

"Hubungi ambulans. Minta AED hotel. Kosongkan ruang."

Kayla berdiri di belakang pasien dan memberikan lima pukulan di antara tulang belikat. Tidak ada benda keluar. Ia melingkarkan tangan di atas pusar dan melakukan dorongan perut.

Sekali. Dua kali.

Perempuan itu kehilangan tenaga dan jatuh. Kayla menahan tubuhnya agar kepala tidak membentur lantai.

"Dia tidak responsif."

Kayla memeriksa napas dan denyut dengan cepat, lalu memulai kompresi dada karena denyut tidak teraba.

"Tiga puluh kompresi. Siapkan napas bantuan dengan pelindung."

Tidak ada yang bergerak.

"Sekarang!"

Sherly menjadi orang pertama yang sadar. Ia mengambil masker kecil dari kotak P3K hotel. Seorang staf datang membawa AED.

Kayla membuka mulut pasien setelah siklus kompresi. Sepotong daging terlihat dan bisa diambil dengan jari tanpa mendorongnya lebih dalam.

Ia memberikan napas bantuan. AED menganalisis irama dan menyatakan kejut tidak dianjurkan.

"Lanjut kompresi."

Keringat mengalir di pelipis Kayla. Gaun kremnya kusut di lutut, tetapi tangannya menjaga ritme.

Setelah satu siklus lagi, perempuan itu tersedak keras dan menarik napas.

"Ada denyut," kata Kayla. "Posisi miring. Jangan beri makan atau minum."

Suara sirene mendekat dari luar. Para tamu yang tadi berbisik kini berdiri diam dengan wajah pucat.

Kamera siaran langsung masih menyala.

Kayla menyerahkan pasien kepada tim ambulans dengan laporan waktu kejadian, tindakan, dan respons. Setelah tandu dibawa keluar, barulah ia sadar kedua tangannya gemetar.

Petugas ambulans meminta nomor Kayla untuk konfirmasi klinis. Ia menulis nama, nomor registrasi dokter, serta perkiraan durasi henti napas pada lembar serah terima.

"Kami bawa ke IGD terdekat untuk evaluasi aspirasi dan penyebab henti jantung," kata paramedis.

"Keluarganya ikut. Pastikan tidak diberi makan sebelum jalan napas dinilai."

Anak perempuan pasien memegang bahu Kayla. "Terima kasih. Saya tadi hanya berdiri."

"Reaksi panik itu normal. Setelah Ibu stabil, minta keluarga belajar pertolongan tersedak dan CPR. Hari ini waktunya cukup karena banyak orang membantu memanggil ambulans dan membawa AED."

Kayla sengaja tidak menyebut bahwa beberapa orang sempat membeku. Menyelamatkan pasien lebih penting daripada mencari siapa yang paling cepat.

Tiana menelepon setelah melihat potongan siaran yang sudah beredar.

"Kamu baik-baik saja?"

"Baik. Pasien sudah bernapas."

"Duduk. Minum air. Jangan pura-pura tanganmu tidak gemetar."

Kayla duduk di kursi terdekat.

Seseorang menyampirkan jas gelap ke bahunya.

Adrian berdiri di belakangnya.

"Kamu datang dari mana?"

"Nico mengirim tautan siaran."

Ia berlutut di depan Kayla dan menggenggam kedua tangannya sampai getaran itu perlahan berkurang.

Tante Cindy mendekat dengan wajah kaku. "Adrian, tadi hanya ada sedikit salah paham."

"Saya menonton dari awal. Tidak ada yang saya salah pahami."

"Kami hanya ingin mengenal Kayla."

"Kalian menyiarkan penghinaan kepada istri saya, lalu dia menyelamatkan tamu kalian di depan kamera yang sama. Saya harap hasilnya cukup membantu kalian mengenalnya."

Seorang panitia menyerahkan mikrofon, meminta Kayla memberi komentar untuk penonton.

Kayla menolaknya. "Jangan jadikan kondisi pasien tontonan. Hapus bagian yang menampilkan wajahnya dan beri ruang keluarga untuk memberi kabar."

Permintaan itu masuk siaran sebelum kamera dimatikan. Komentar yang semula mengejek berubah mendukung dokter yang menjaga privasi pasien.

Potongan lain sudah tersebar. Bukan bagian ketika gaun Kayla dihina, melainkan ketika ia berlutut di lantai dan memerintah satu ruangan bergerak.

Nama RS Sentosa muncul di antara komentar. Beberapa dokter mengingatkan penonton agar tidak meniru tindakan tanpa pelatihan, sedangkan akun yayasan akhirnya mengunggah permintaan maaf dan menutup siaran.

Tante Cindy membaca layar ponselnya. Wajahnya semakin pucat ketika para donor menanyakan mengapa dokter undangan diperlakukan seperti sasaran lelucon.

Vanessa berdiri di dekat pintu dengan wajah gelap. Sherly berjalan melewatinya tanpa pamit.

Adrian membantu Kayla berdiri. "Kita pulang."

Saat mereka menuju lobi, seorang perempuan lanjut usia dari lingkaran arisan memegang lengan Tante Cindy.

Ia tidak melihat Adrian. Tatapannya melekat pada wajah Kayla.

"Alis dan matanya," bisiknya. "Aku pernah melihat wajah itu dulu. Tapi di mana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!