Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Hal Serius
Rumah sakit
Zivanna bersama dengan Sherina tampak berjalan di koridor rumah sakit dengan keduanya sama-sama menggunakan jubah putih yang selalu menjadi identitas mereka.
"Jadi kamu benar-benar tidak excited untuk mengikuti tugas menjadi dokter Relawan?" tanya Sherina.
"Bukan aku tidak bersyukur mendapat kesempatan itu, tetapi aku sudah mengambil spesialis dan bagaimana dengan tugas yang harus menjadi utama yang aku kerjakan," jawab Zivanna.
"Tetapi Zivanna tidak semua orang bisa mendapat kesempatan seperti kita saat ini dan mungkin saja ini jalannya agar kamu bisa belajar jauh lebih tenang, kita juga didampingi Dokter senior, jauh dari orang-orang yang tidak menyukai kita, bukankah seharusnya ini menjadi hal yang sangat membahagiakan untuk kita," ucap Sherina.
"Entahlah Sherina, aku tidak bisa berkomentar apapun, yang terpenting saat ini aku harus jujur jika aku kurang menyukai untuk menjadi Dokter relawan," ucap Zivanna.
"Meski tidak menyukai, aku tidak bisa melakukan apapun, karena saat ini hidupku benar-benar diatur olehnya," batin Zivanna dengan raut wajahnya tampak sedih.
"Itu bukannya wanita yang belakangan ini sering bersama Dokter Dikta," ucap Sherina membuat Zivanna menoleh ke arah pandangan temannya itu dan memang benar apa adanya Nayla kembali datang ke rumah sakit.
"Hmmmm, aku mau melakukan pemeriksaan kamar pasien dulu, aku duluan," Zivanna ternyata langsung pergi begitu saja dan seperti menghindari bertemu dengan Nayla yang memang tidak sempat melihatnya.
"Buru-buru sekali," gumam Sherina menghela nafas.
"Hey tunggu!" saat Sherina ingin meninggalkan tempat tersebut tiba-tiba saja tidak jadi saat Nayla memanggilnya.
"Apa dia sedang memanggilku?" tanya Sherina memastikan dengan jelas.
Benar, Nayla memang memanggilnya dan sekarang berjalan menghampirinya.
"Maaf mengganggu Dokter, apa Dokter Dikta ada di ruangannya?" tanya Nayla.
"Hmmm, kalau itu saya kurang tahu, satu jam yang lalu kami baru saja keluar dari ruang operasi dan saya tidak tahu apakah beliau langsung ke ruangannya atau masih ada operasi yang dilaksanakan," jawab Sherina.
"Begitu, lalu apa Dokter melihat Dokter Zivanna?" tanyanya.
"Dokter Zivanna, apa dia mengenal Zivanna?" batin Sherin.
"Hey!" Nayla melambaikan tangannya di depan Sherina, karena tidak mendapat jawaban apapun.
"Oh, ya, tadi dia ada bersamaku dan langsung pergi untuk memeriksa pasien," jawab Sherina.
"Begitu," sahut Nayla.
"Kalau kamu ingin bertemu dengan Dokter Dikta, maka, coba lihat saja ke ruangannya dan siapa tahu beliau ada," ucap Sherina.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih karena sudah mau menjawab pertanyaanku," sahut Nayla dengan menganggukkan kepala.
Sherina tidak mengatakan apapun dan langsung berlalu dari hadapan Nayla.
"Benar, aku sebaiknya langsung saja melihatnya dan siapa tahu saja Dikta memang sedang berada di ruangan," ucap Nayla.
******
Nayla akhirnya bertemu dengan Dikta dan saat ini mereka berada di bawah pohon yang terdapat bangku single di sana dengan keduanya duduk bersebelahan.
"Dikta kenapa tidak memakan makanan yang aku bawa? Apa kamu tidak selera makan?" tanya Nayla, seperti biasa membawa makanan yang banyak untuk Dikta.
"Nayla ada hal penting yang ingin aku tanyakan kepadamu," ucap Dikta tanpa menjawab pertanyaan Nayla.
"Ada apa? Apa ada hal serius yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya lagi.
"Benar!" jawab Dikta.
"Kalau begitu katakan ada apa?" tanya Nayla.
"Kenapa kamu mengatakan kepada Zivanna bahwa kita akan menikah?" tanya Dikta.
"Zivanna menanyakan hal itu kepada kamu?" tanya Nayla memastikan membuat Dikta menganggukkan kepala.
"Isss, apa-apa sih Zivanna, padahal aku hanya bercanda saja dan lagi pula ketika seorang wanita sudah mulai membicarakan pernikahan dengan awal-awal bercandaan dan bukankah itu adalah kode-kode," ucap Nayla.
"Maksud kamu bagaimana?" tanya Dikta.
"Semuanya memang hanya awal adalah sebuah candaan, tetapi bukankah pernikahan itu akan menjadi keseriusan mengingat hubungan kita sudah cukup lama. Aku membicarakan hal itu kepada Zivanna dan mungkin saja bisa membicarakannya dengan kamu, karena kamu pasti akan peka, jika aku mengatakannya kepada Zivanna yang artinya kamu menginginkan aku untuk melanjutkan hubungan kita ke jenjang serius," ucap Sherina.
"Hubungan serius?" tanyanya lagi memastikan membuat Nayla menganggukkan kepala.
"Dikta, untuk apa wanita dipacari terus-menerus tanpa adanya ikatan dalam status hubungan mereka dengan menuju jenjang pernikahan, aku tahu kamu sangat sibuk dengan karir kamu dalam dunia kedokteran, tapi selama ini aku mendampingi kamu dan bukankah aku sudah mulai memahami dunia kamu yang berbeda dengan duniaku," ucap Nayla secara tidak langsung ingin menuntut Dikta.
"Nayla bukan waktu yang tepat untuk kita membicarakan ini dan ini juga bukan hal bercandaan yang harus kamu bahas dengan Zivanna," sahut Dikta.
"Kenapa?"
"Bukankah Zivanna adalah sahabat kita dan apapun yang kita bicarakan dan rencana kedepannya juga adalah menjadi bagian dari hal itu. Lalu apa yang salah dari semua itu," sahut Nayla.
"Ya tapi....."
"Kamu sedang tidak menyukai Zivanna bukan...." tiba-tiba saja Nayla memotong kalimat Dikta yang juga membuat Dikta kaget dengan keduanya saling melihat dan bagaimana Nayla menatapnya penuh dengan selidik.
"Apa maksud kamu?" tanya Dikta.
"Entah perasaanku saja atau seperti apa, semenjak aku pulang dari Luar Negeri, entah mengapa aku melihat kalian berdua seperti sama-sama canggung, tidak seperti dulu di saat kita bertiga bertemu, banyak cerita yang keluar dari mulut kita, baik kamu dan juga Zivanna, tidak ada jaim sama sekali," jawab Nayla penuh dengan kecurigaan.
"Tetapi di saat kita bertemu saat ini, aku justru memperhatikan kalian dan seperti kamu sangat menjaga perasaannya, kamu juga tiba-tiba mempertanyakan tentang masalah aku membicarakan pernikahan dengan Zivanna seolah-olah itu adalah sebuah kesalahan," lanjut Nayla.
"Apa yang kamu pikirkan Nayla, kamu berpikir terlalu jauh karena....."
"Kamu benar!" Nayla kembali memotong kalimat Dikta.
"Itu semuanya pikiran buruk yang tidak seharusnya ada di dalam pikiranku, pikiranku dan perasaanku memang tidak stabil saat ini, karena bagaimana mungkin kamu bisa menyukai Zivanna yang sudah kamu anggap seperti adik kamu sendiri, dia juga saudara sepupu kamu, Zivanna juga tidak mungkin memiliki perasaan kepada kamu karena dia tahu bahwa aku sangat mencintai kamu, tidak mungkin ada ikatan diantara kalian berdua," Nayla ternyata kembali membersihkan pikirannya dengan berpikir positif.
"Aku benar bukan?" tanya Nayla lagi yang membuat Dikta sempat terdiam.
"Dikta, di dunia ini aku tidak memiliki siapa-siapa selain kamu dan Zivanna, kalian adalah orang terdekat dan paling mengetahui apa yang terjadi denganku. Aku sangat berharap sampai kapanpun kalian berdua terus ada untukku dan bukan menghianatiku," perkataan Nayla seolah-olah pernyataan yang diberikan untuk Dikta.
Entahlah mengapa Nayla harus mengatakan seperti itu dan mungkinkah perasaannya memang sudah mulai tidak enak tanpa sepengetahuannya kekasihnya telah menikah dengan sahabatnya
Bersambung....