Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Draf Perceraian di Meja Makan
Di bawah satu payung, Nathan dan Cheryl terus berjalan ke arah Renata.
Jarak mereka tinggal beberapa meter ketika Cheryl menarik lengan Nathan, menunjuk mobil lain yang baru berhenti di jalur depan. Nathan menoleh mengikuti arah jarinya. Pada saat yang sama, ponsel Renata bergetar.
Pengemudi Grab yang ketiga sudah tiba.
Renata tidak menunggu Nathan mengangkat kepala. Ia membuka pintu mobil dengan tangan kanan, memasukkan koper, lalu duduk di kursi belakang. Dari balik kaca yang basah, ia melihat Nathan memayungi Cheryl sampai perempuan itu masuk ke mobil.
Nathan tidak pernah melihatnya.
Menjelang subuh, lampu ruang makan Puri Teratai masih menyala.
Renata duduk di ujung meja panjang dengan seragam yang sudah diganti dan lengan kiri yang kembali berdenyut. Ia belum tidur. Cincin merah muda yang dilepasnya semalam tersimpan di saku kecil koper. Layar laptop menampilkan dokumen dua halaman yang dicetak.
Judulnya sederhana.
Perjanjian Perceraian.
Bukan gugatan resmi. Bukan pula keputusan pengadilan. Hanya pernyataan bahwa ia ingin mengakhiri pernikahan dan membicarakan pembagian urusan mereka tanpa keributan.
“Nyonya Rena belum istirahat?”
Bik Inah berdiri di ambang pintu dengan nampan sarapan. Tatapannya jatuh pada perban baru di lengan Renata, lalu pada koper besar di dekat tangga.
“Nanti, Bik.”
“Saya buatkan bubur saja. Nyonya kelihatan pucat.”
“Nggak usah. Tolong buat kopi Nathan seperti biasa.”
Bik Inah tidak bergerak. “Tuan Nathan belum pulang.”
Mobil Nathan baru masuk halaman menjelang pukul lima, beberapa menit setelah ia selesai mandi dan mengganti perban. Nathan mengantar Cheryl pulang lebih dulu, lalu entah pergi ke mana sebelum kembali ke Puri Teratai.
“Dia sudah pulang,” kata Renata. “Mungkin sedang mandi.”
Wajah Bik Inah menegang. Ia tampak ingin bertanya tentang penerbangan, luka, atau koper itu. Namun setelah bertahun-tahun bekerja di rumah keluarga Halim, perempuan itu tahu kapan pertanyaan hanya akan menambah sakit.
“Kopinya tanpa gula?”
“Seperti biasa.”
Selama tiga tahun, Renata menghafal seluruh kebiasaan Nathan. Kopi hitam tanpa gula. Sarapan yang tidak terlalu berminyak karena lambungnya mudah sakit. Pendingin kamar pada suhu dua puluh tiga derajat. Lampu koridor harus diredupkan setelah tengah malam karena Nathan sulit tidur sepulang penerbangan panjang.
Renata bahkan berhenti mewarnai rambut setelah Nathan sekali mengatakan warna cokelat terang terlihat mencolok. Ia belajar memasak makanan yang tidak disentuhnya sendiri, menolak penerbangan tertentu demi menghadiri makan malam keluarga Halim, dan menjaga rumah tetap sunyi ketika Nathan beristirahat.
Namun selama tiga tahun itu pula, ia tetap tidur di kamar tamu.
Nathan tidak pernah memintanya pindah ke kamar utama.
Bik Inah meletakkan secangkir kopi di meja. Renata menggeser draf perjanjian, lalu meletakkan cangkir itu tepat di atas sudut kertas agar tidak terlipat oleh angin pendingin ruangan.
Pemandangan tersebut membawanya kembali pada pagi tiga tahun lalu.
Opa William datang ke rumah kecil keluarga Suryani membawa selembar surat lama yang warnanya sudah menguning. Ada janji antara keluarga tua, nama yang ditulis puluhan tahun sebelumnya, dan sebuah sangjit dengan jumlah yang membuat para kerabat jauh tiba-tiba datang mengaku peduli.
Uang susu itu cukup untuk menutup sebagian besar utang Suryanto dan memindahkan Mama Yolanda ke rumah perawatan jiwa swasta. Sebagai gantinya, Renata menikah diam-diam dengan Nathan Halim di catatan sipil.
Tidak ada pemberkatan. Tidak ada resepsi. Tidak ada foto keluarga yang dipajang.
Hanya tanda tangan, cincin merah muda, lalu sebuah kamar tamu di Puri Teratai.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari bagian administrasi rumah perawatan muncul di atas layar.
Tagihan bulan ini belum lunas. Mohon pembayaran dilakukan sebelum tenggat agar perawatan Ibu Yolanda tidak terganggu.
Renata membuka aplikasi perbankan. Gaji penerbangannya sudah masuk, lalu nyaris habis untuk cicilan yang ditinggalkan Suryanto, biaya obat, dan kebutuhan rumah perawatan. Beberapa pekerjaan teknis kecil yang ia ambil diam-diam hanya cukup menahan tunggakan agar tidak bertambah.
Di depannya, vas berisi tulip impor berdiri di antara piring porselen. Sendok perak di sisi cangkir Nathan mungkin lebih mahal daripada biaya hidupnya selama satu bulan. Meja makan itu dibuat dari satu lembar batu marmer tanpa sambungan, barang yang dahulu dibeli Nathan hanya karena warna meja sebelumnya dianggap terlalu gelap.
Di dunia Halim, kemewahan hadir tanpa perlu dihitung.
Di layar Renata, angka-angka harus dipindahkan satu per satu agar obat ibunya tidak terhenti.
Ia baru selesai mencatat sisa tagihan ketika langkah kaki terdengar dari tangga.
Nathan muncul dengan kemeja putih dan rambut yang masih lembap. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi tidak ada tanda bahwa ia baru saja menghabiskan malam mencari tahu keadaan istrinya.
Tatapannya sempat jatuh pada perban di lengan Renata.
Kemudian ia menarik kursi dan melihat kertas di bawah cangkir kopinya.
“Apa ini?”
“Baca judulnya.”
Nathan mengambil dua lembar itu. Matanya bergerak cepat dari halaman pertama ke halaman kedua, seolah sedang menilai kontrak bisnis yang tidak terlalu penting.
“Kamu mau bercerai?”
“Ya.”
“Karena semalam?”
Renata menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak Nathan turun, laki-laki itu mengakui bahwa ia tahu mereka berada di bandara yang sama.
“Bukan. Karena tiga tahun.”
Rahang Nathan mengeras sedikit. Ia meletakkan kertas di meja, lalu meraih kopinya.
“Kamu sedang lelah.”
“Aku cukup sadar untuk tahu apa yang kutandatangani.”
“Ini bukan gugatan pengadilan.”
“Aku tahu. Ini pemberitahuan supaya kita bisa membicarakannya baik-baik sebelum aku mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri.”
Nathan meminum kopinya. Tidak ada keterkejutan, apalagi takut kehilangan. Sikap tenangnya seolah mengatakan Renata hanya sedang membuat keributan kecil yang akan selesai setelah tidur cukup.
“Apa maumu?” tanyanya.
“Aku tidak meminta harta bersama. Kembalikan Vila Kenari, lalu kita urus sisanya lewat pengacara.”
Untuk pertama kalinya, Nathan benar-benar menatapnya.
Vila Kenari adalah rumah lama Mama Yolanda. Teras kecilnya pernah dipenuhi pot melati. Di sanalah Renata belajar membaca, merayakan ulang tahun tanpa pesta mahal, dan memiliki kenangan tentang ibunya sebelum penyakit menghancurkan semuanya.
Tiga tahun lalu, dalam kekacauan utang keluarga Suryani, dokumen vila itu dialihkan atas nama Nathan. Katanya hanya untuk melindungi aset tersebut dari penagih utang.
Renata cukup bodoh untuk percaya.
“Vila Kenari terdaftar atas namaku,” kata Nathan.
“Makanya aku minta dikembalikan.”
“Kamu boleh pergi kalau mau.” Nathan meletakkan cangkirnya dengan pelan. “Tapi rumah itu tetap milikku.”
Ujung jari Renata membeku di atas layar ponsel.
Nathan tahu nilai vila itu mencapai miliaran rupiah. Namun bukan harga pasarnya yang membuat kalimat tersebut terasa seperti pisau. Ia tahu itu satu-satunya rumah yang masih dikenali Mama Yolanda ketika ingatannya sedang jernih.
Ia memilih benda itu karena tahu tepat di mana harus menekan.
“Jadi kamu menahannya supaya aku tidak bisa bercerai?”
“Aku hanya mengingatkanmu agar tidak mengambil keputusan saat emosi.”
Renata tertawa kecil. Dingin, tanpa rasa geli.
“Kamu bahkan nggak tahu pesawatku mendarat darurat. Tapi sekarang kamu paling tahu apakah aku sedang emosi.”
Nathan tidak menjawab.
Hening turun di antara mereka. Bik Inah yang berdiri dekat dapur menundukkan wajah, jemarinya meremas ujung celemek.
Renata mengambil draf perjanjian itu, memasukkannya ke map, lalu berdiri.
“Aku akan menghubungimu lagi lewat pengacara.”
Nathan menyandarkan tubuh ke kursi. “Kamu akan kembali sebelum akhir minggu.”
Bukan pertanyaan. Sebuah keyakinan.
Renata tidak repot-repot membantah.
Ia berjalan ke dekat tangga dan menarik koper dengan tangan kanan. Ketika roda koper tersangkut di tepi karpet, luka di lengan kirinya ikut tertarik. Napasnya tercekat.
Bik Inah buru-buru mendekat. “Biar saya bantu, Nyonya Rena.”
“Terima kasih, Bik.”
Mata Bik Inah memerah. “Nyonya mau pergi lama?”
Renata memandang rumah yang selama tiga tahun tak pernah terasa seperti rumah.
“Aku juga belum tahu.”
Grab sudah menunggu di depan pagar. Bik Inah membantu memasukkan koper, lalu berdiri di teras sampai mobil berbelok keluar dari Puri Teratai. Nathan tidak menyusul. Dari kaca belakang, Renata hanya melihat pintu utama yang tetap tertutup.
Perjalanan menuju Tangerang Selatan memakan waktu lebih dari satu jam. Hujan semalam meninggalkan genangan di beberapa ruas jalan. Renata menyandarkan kepala ke jendela, tetapi tidak tidur.
Ketika pintu apartemen sewa Tania terbuka, sahabatnya masih mengenakan kaus longgar dan sandal rumah.
Tania memandang koper, perban, lalu wajah Renata.
“Sebutkan satu alasan kenapa aku nggak boleh datang ke Pondok Indah dan menampar kapten sombong itu.”
“Karena satpamnya lebih besar daripada kamu.”
“Aku bisa bawa dua orang.”
Untuk pertama kalinya sejak pesawat mendarat, Renata hampir tertawa sungguhan.
Tania mengambil gagang koper dari tangan kanannya. “Masuk. Kamu tidur dulu. Habis itu kita cari pengacara paling galak se-Jakarta.”
Di kamar tamu yang sempit, Renata meletakkan map perceraian di meja lipat. Ponselnya kembali berbunyi. Bukan pesan dari Nathan, melainkan tagihan kedua dari rumah perawatan Mama Yolanda.
Tania membaca layar itu dari balik bahunya. “Ren, Vila Kenari gimana?”
Renata menatap angka tunggakan, lalu map di meja.
Nathan yakin ia akan pulang sebelum akhir minggu karena tidak punya cukup uang dan tidak sanggup kehilangan rumah ibunya.
Kali ini, Nathan hanya benar tentang satu hal.
Renata memang membutuhkan Vila Kenari.
Namun ia tidak akan kembali sebagai istri yang memohon.