NovelToon NovelToon
Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Status: tamat
Genre:Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Novel Korean ala Author ❤️❤️

Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim

Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.


Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!


Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin

Lapisan es tebal yang mendadak membeku di bawah lantai kayu kedai teh kecil itu memancarkan pendar kebiruan yang menyilaukan mata. Para pengikut Aliran Sesat Darah Hitam yang tadinya memasang wajah garang dan penuh ancaman kini langsung pucat pasi. Kaki mereka tertanam kuat di dalam balok es, membuat mereka meronta-ronta panik tanpa bisa bergerak seckian inci pun.

Pemimpin kelompok kecil itu—pria berbadan kekar dengan tato tetesan darah di pergelangan tangannya—berusaha menebas es di kakinya dengan pedang berkarat miliknya. Ketaq! Suara hantaman bilah pedang hanya menghasilkan serpihan es kecil tanpa mampu meretakkan fondasi beku ciptaan Kang Hyu-Jin.

"Sialan! Ilmu es tingkat tinggi apa ini?!" teriak pemimpin aliran sesat itu histeris, manik matanya membelalak lebar menatap ketakutan ke arah Hyu-Jin yang masih duduk tenang dengan postur elegan di seberang meja kami.

Aku menghela napas pendek, lalu meraih mangkuk teh herbal hangat yang baru saja disajikan kembali oleh pelayan yang kebetulan mengintip dari balik tirai dapur. Aku meniup permukaan air teh yang mengepulkan uap tipis, lalu menyeruputnya pelan-pelan.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ah... Lumayan banget buat meredakan tenggorokan kering. Padahal niatnya mau liburan santai ala backpacer estetik, tapi kok ya tiap mampir warung selalu ada adegan baku hantam kelas berat. Emangnya hidupku ini papan skor game fighting, hobi banget di-spawn-in musuh random?”

Di sampingku, Lee Do-Yun mendengus geli melihat kepanikan para penyusup tersebut. Pria berambut perak itu kembali memasukkan setengah bilah pedangnya ke dalam sarung, lalu melipat tangannya di dada dengan gaya santai.

"Sudah kubilang, kalian salah alamat kalau berniat mencari masalah di rombongan ini," kata Do-Yun dengan nada mengejek. "Bukannya dapat kepala buronan Lima Elemen, kalian malah jadi patung es hiasan kedai."

Choi Min-Hyuk, yang sejak tadi duduk di meja seberang sambil menikmati mangkuk mi kuahnya, mengangkat sebelah alisnya. Senior kaku itu melirik sekilas ke arah para pengikut aliran sesat dengan tatapan meremehkan, persis seperti guru besar yang sedang melihat murid bodoh salah mengerjakan soal ujian dasar.

"Hyu-Jin, selesaikan cepat," tegur Min-Hyuk datar, suaranya tetap berwibawa meskipun ia sedang asyik makan. "Aroma darah mereka mengganggu selera makanku."

Kang Hyu-Jin perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Jubah putih bersulam benang perak miliknya berkibar lembut saat ia melangkah maju menghampiri para penyusup yang terjebak. Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar—setiap pijakannya di atas lantai kayu seolah diredam oleh gelombang energi es murni yang menguar dari tubuhnya.

Pria berambut kelam itu berhenti tepat di hadapan pemimpin aliran sesat yang kini gemetar ketakutan. Suhu udara di dalam kedai teh mendadak drop drastis hingga napas mereka mengepulkan asap putih tebal.

"Kalian bilang ketua kalian menginginkan kepala gadis ini?" tanya Hyu-Jin dengan suara berat, dingin, dan menusuk langsung ke dalam tulang sumsum.

Pemimpin aliran sesat itu menelan ludah dengan susah payah. Ia mencoba mengangkat pedangnya untuk melawan, namun tekanan Naegong tingkat tinggi yang ditekan oleh Hyu-Jin membuat dadanya terasa sesak seolah dihantam palu raksasa.

"K-katakan pada ketua kalian..." bisik Hyu-Jin pelan, namun terdengar jelas di seluruh ruangan kedai. "...bahwa jika ada satu saja bayangan dari aliran sesat kalian yang berani mendekati radius sepuluh li dari tempat Han So-Bin berada, aku sendiri yang akan mendatangi markas utama kalian dan membekukan seluruh darah di tubuh kalian sampai menjadi debu."

Binar!

Seketika itu juga, balok es tempat kaki mereka berpijak merambat naik dalam sekejap mata, membungkus tubuh para pengikut aliran sesat itu hingga ke leher. Mereka bahkan tidak sempat mengeluarkan teriakan terakhir sebelum seluruh tubuh mereka membeku sempurna menjadi patung es transparan.

Hyu-Jin mengibaskan lengan jubahnya pelan.

Prang!

Patung-patung es itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu kristal yang berserakan di atas lantai kayu kedai teh, lenyap tanpa menyisakan apa pun selain uap dingin yang perlahan-lahan memudar.

Aku bertepuk tangan kecil dua kali, sengaja memberikan apresiasi ala penonton bioskop.

"Wah, wah... Aksi panggung yang sangat memukau, Tuan Muda Kang," puji ku dengan nada setengah menyindir sambil tersenyum miring. "Bagus banget buat efisiensi kebersihan kedai. Nggak perlu repot-repot ngepel lantai yang kotor."

Hyu-Jin menoleh ke arahku. Ekspresi dingin dan mematikannya tadi langsung melunak seketika begitu manik matanya menatapku. Ia berjalan kembali ke mejanya dengan langkah anggun, lalu duduk kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah baru saja ia tidak melakukan pembantaian kilat terhadap sekelompok pendekar sesat.

Min-Hyuk mendengus pelan melihat sikap Hyu-Jin, lalu kembali melanjutkan suapan mi kuahnya yang sempat tertunda.

"Makananmu keburu dingin, So-Bin," ucap Min-Hyuk mengingatkan dari meja seberang, nadanya terdengar kaku namun menyiratkan perhatian kecil. "Makanlah dulu sebelum kita melanjutkan perjalanan melintasi lembah utara."

Aku mengangguk, lalu beralih menghadap mangkuk mi dan pangsit yang tersaji di hadapanku. Do-Yun membantuku membuka sumpit kayu, lalu tersenyum manis.

"Meskipun perjalanan kita agak sedikit terganggu oleh hama jalanan tadi, setidaknya kota Fengxi ini punya makanan lokal yang lumayan enak," kata Do-Yun ramah.

Kami berempat menghabiskan sisa waktu makan siang di kedai tersebut dalam ketenangan yang kembali pulih. Pemilik kedai yang tadinya lari ketakutan kini perlahan-lahan mengintip dari balik pintu dapur. Begitu melihat tidak ada lagi orang-orang menyeramkan bersimbah darah—hanya ada serpihan kristal es yang sudah mencair menjadi genangan air bersih—ia menghela napas lega dan memberanikan diri keluar untuk membereskan meja sebelah.

Setelah perut kenyang dan tenaga kami pulih sepenuhnya, kami membayar mangkuk teh dan makanan dengan koin perak yang diberikan oleh Choi Min-Hyuk kemarin lusa. Pemilik kedai menerima koin itu dengan tangan gemetar gembira, mengucapkan terima kasih berulang kali tanpa berani bertanya macam-macam kepada rombongan pendekar sakti mandraguna di hadapannya.

Kami kembali melangkah keluar meninggalkan gerbang Kota Fengxi, menyusuri jalan setapak yang mulai menanjak memasuki kawasan perbukitan terjal wilayah utara. Langit siang hari tampak cerah, namun angin pegunungan mulai bertiup lebih kencang, membawa aroma pinus tua dan cuaca dingin yang menandakan bahwa kami semakin mendekati tujuan utama kami: Sekte Dewa Langit.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Fuh... Kalau terus-terusan dikuntit sama musuh random begini, lama-lama aku bisa buka cabang usaha jasa pembersihan es keliling dataran tengah. Tapi di sisi lain, punya tiga pengawal pribadi se-OP mereka bertiga ini ada untungnya juga—nggak perlu capek-capek ngeluarin elemen api, musuhnya sudah keburu jadi es seret.”

Aku melirik ke belakang sekilas. Kang Hyu-Jin berjalan dengan jarak sepuluh langkah di belakangku, tetap mematuhi aturan ketat yang kubuat, sementara Choi Min-Hyuk mengawasi area sekitar dari atas dahan pohon di pinggir jalan setapak dengan ilmu meringankan tubuhnya. Do-Yun berjalan di sampingku, menggenggam tanganku erat-erat untuk melindungiku dari terpaan angin lereng yang semakin kencang.

Perjalanan panjang melintasi dataran Gangho ini masih menyimpan ribuan rahasia dan ancaman tak kasat mata di depan sana. Namun, dengan kekuatan Lima Elemen di dalam tubuhku dan barisan pengawal bucin yang siap pasang badan di sekelilingku, aku tahu persis bahwa babak baru kehidupanku di dunia novel ini tidak akan pernah membosankan.

1
Victoria
bagus
Xi Yue Qing: terimakasih dukungannya 🤩🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!