Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: DUA MINGGU
Seminggu telah berlalu sejak malam perburuan Mawanggeom.
Luka Namgung Jin mulai pulih. Demamnya turun, lukanya menutup, dan ia sudah bisa berjalan meskipun masih pincang. Tapi masa pemulihan ini bukan berarti ia beristirahat. Pikirannya terus bekerja, menyusun strategi untuk menghadapi badai yang akan datang.
Dua minggu. Atau sekarang, tersisa satu minggu.
Delapan Sekte akan menyerang markas Magyo dalam waktu dekat. Dan ia—sebagai penasihat Magyo—harus memastikan mereka siap. Tapi ia juga harus menjaga profil rendah di Klan Namgung, karena Tetua Seok masih mengawasi dari bayang-bayang.
"Permainan yang rumit."
Ia duduk di atap paviliunnya, menikmati sinar matahari pagi. Dari sini, ia bisa melihat aktivitas di paviliun tamu. Tim penyelidik masih di sana, meskipun rencana mereka untuk pergi tertunda karena insiden Mawanggeom.
Biksu Myeongjin terlihat sedang bermeditasi di halaman. Nyonya Hwa Ryun bercakap-cakap dengan beberapa pelayan—mungkin mencari informasi. Tetua Seok dan putranya duduk di beranda, wajah mereka cemberut.
"Mereka tidak akan pergi sebelum menemukan pedang itu."
Tapi pedang itu sudah aman di Geumseong. Cheon Wu-gun sendiri yang menjaganya, menunggu instruksi lebih lanjut.
Pintu paviliun terbuka. Nyonya Yoon keluar dengan nampan berisi makanan.
"Jin-ah! Turun! Makan!"
Namgung Jin tersenyum. Ibunya ini... setiap hari selalu khawatir ia kurang makan. Meskipun ia sudah berkali-kali bilang bahwa lukanya hampir sembuh, wanita itu tetap bersikeras memberinya makan tiga kali sehari dengan porsi besar.
*"Ibu, aku sudah cukup—"
"Cukup apa? Kau kurus! Makan!"
Ia turun, duduk di beranda kecil paviliun. Nyonya Yoon meletakkan nampan di depannya—nasi hangat, sup ayam, dan beberapa lauk sederhana.
"Ibu masak sendiri. Makan habis, ya."
"Terima kasih, Ibu."
Saat ia makan, Nyonya Yoon duduk di sampingnya. Wanita itu diam, tapi matanya berkaca-kaca.
"Ibu kenapa?"
"Jin-ah... Ibu tahu kau menyembunyikan sesuatu."
Namgung Jin berhenti mengunyah.
"Ibu tidak bodoh. Ibu lihat luka-lukamu. Ibu dengar apa yang dikatakan orang tentangmu. Ibu tahu kau bukan... bukan anak kecil biasa lagi."
*"Ibu—"
"Biarkan Ibu bicara." Nyonya Yoon meraih tangannya. "Ibu tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tapi Ibu tahu, apa pun yang kau lakukan, kau melakukannya untuk melindungi Ibu. Dan itu... itu sudah cukup."
Air matanya jatuh.
"Tapi Ibu mohon, berhati-hatilah. Ibu tidak sanggup kehilanganmu."
Simma di dada Namgung Jin berdenyut—hangat, sakit, rindu. Semua bercampur.
Ia meraih tangan ibunya, menggenggamnya lembut.
"Aku janji, Ibu. Aku tidak akan mati."
"Bocah bodoh. Janji sembarangan."
Tapi ia tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak ia bangun sebagai Namgung Jin.
---
Setelah sarapan, Tetua Pyo datang dengan wajah serius.
"Jin-ah, ada kabar dari luar."
"Apa?"
"Delapan Sekte sudah bergerak. Pasukan mereka berkumpul di perbatasan utara. Dua hari lagi mereka akan berangkat menuju markas Magyo."
"Dua hari? Lebih cepat dari dugaanku."
"Mereka khawatir Magyo akan menggunakan Mawanggeom untuk melawan mereka." Tetua Pyo menghela napas. "Kau tahu sesuatu tentang pedang itu?"
Namgung Jin tidak menjawab.
Tetua Pyo mengerti. Ia tidak mendesak.
"Ada lagi. Tim penyelidik akan pergi besok pagi. Mereka dipanggil kembali untuk bergabung dengan pasukan."
"Bagus. Semakin cepat mereka pergi, semakin baik."
"Tapi Tetua Seok tidak ikut."
Namgung Jin mengerutkan kening. "Apa?"
"Ia minta izin untuk tetap tinggal. Katanya, ia ingin memastikan penyelidikan di sini selesai."
"Kepala klan setuju?"
"Terpaksa. Tidak bisa menolak utusan Delapan Sekte."
Namgung Jin diam. Tetua Seok tinggal. Itu berarti pengawasan akan terus berlanjut.
"Di mana ia akan tinggal?"
"Di paviliun tamu, seperti biasa. Tapi ia minta akses ke seluruh area klan."
"Dan kepala klan setuju?"
"Setuju, tapi dengan syarat: ia harus didampingi pengawal klan setiap saat. Untuk 'keselamatan'."
Namgung Jin tersenyum tipis. Namgung Cheon pintar. Dengan dalih keselamatan, ia bisa mengawasi setiap gerakan Tetua Seok.
"Ini masih bisa dikendalikan."
"Tapi untuk berapa lama?" Tetua Pyo menatapnya tajam. "Jin-ah, aku tahu kau punya hubungan dengan Magyo. Aku tidak akan bertanya lebih jauh. Tapi perang ini... kau akan terlibat, kan?"
"Ya."
"Dan klan ini?"
"Aku akan pastikan klan ini aman."
Tetua Pyo menghela napas. "Aku harap kau benar."
---
Malam harinya, Namgung Jin mengirim kode pada Pemburu Kwon.
Mereka bertemu di hutan belakang—tempat yang sama di mana ia hampir mati beberapa minggu lalu. Sekarang, tempat itu terasa akrab.
Pemburu Kwon datang dengan laporan.
"Tuan Muda, Magyo sudah siap. Cheon Wu-gun mengerahkan semua pasukan ke markas. Mereka akan bertahan di sana."
"Bodoh."
Pemburu Kwon terkejut. "Maaf?"
"Bertahan di markas itu bunuh diri. Delapan Sekte punya seribu orang. Mereka akan mengepung dan membakar habis Geumseong."
*"Tapi Cheon Wu-gun bilang—"
"Cheon Wu-gun adalah pemimpin yang baik, tapi bukan ahli strategi." Namgung Jin berpikir cepat. "Kau harus pergi ke Geumseong. Sampaikan pesanku."
"Pesan apa?"
"Suruh mereka tinggalkan markas. Sebarkan pasukan ke hutan-hutan sekitar. Gunakan taktik gerilya—serang dari bayangan, jangan bertarung frontal. Buat Delapan Sekte kelelahan sebelum sampai ke markas."
Pemburu Kwon mencatat dalam hati.
"Ada lagi, Tuan Muda?"
"Katakan pada Cheon Wu-gun, jika ia ingin menang, ia harus mendengarku. Bukan perasaannya."
"Baik, Tuan Muda."
Pemburu Kwon pergi, meninggalkan Namgung Jin sendirian di hutan.
---
Dua hari kemudian, tim penyelidik pergi.
Biksu Myeongjin berpamitan pada Namgung Cheon dengan hormat. Nyonya Hwa Ryun melambai pada Namgung Jin—lambai kecil, penuh arti. Seok Cheon-myung pergi dengan tatapan penuh dendam.
Tapi Tetua Seok tetap tinggal.
Pria itu berdiri di ambang pintu paviliun tamu, menatap kepergian rekan-rekannya dengan ekspresi dingin. Begitu kereta mereka menghilang di balik gerbang, ia berbalik dan menatap ke arah paviliun reot.
"Sekarang, kau dan aku, bocah."
---
Namgung Jin merasakan tatapan itu dari kejauhan.
Ia tersenyum.
"Silakan. Cari sepuasmu. Kau tidak akan menemukan apa pun."
Tapi di dalam hatinya, ia waspada. Tetua Seok adalah musuh berbahaya—bukan karena kekuatannya, tapi karena kebenciannya. Orang yang membenci bisa bertindak di luar nalar.
Dan orang yang bertindak di luar nalar sulit diprediksi.
---
Malam itu, Namgung Jin duduk di kamarnya, merenung.
Ia harus segera ke Geumseong. Perang akan pecah dalam beberapa hari, dan ia harus berada di sana untuk mengendalikan situasi. Tapi bagaimana caranya tanpa menarik perhatian Tetua Seok?
Pintu diketuk. Bukan kode—ketukan biasa.
"Masuk."
Seorang pelayan masuk dengan wajah gugup. "T-Tuan Muda, ada tamu. Ia minta bertemu."
"Siapa?"
"Ia... ia tidak mau bilang nama. Tapi ia bilang, 'dari utara'."
Dari utara. Magyo.
Namgung Jin berdiri. "Bawa ke sini."
---
Beberapa menit kemudian, sesosok berjubah hitam masuk ke paviliun reot.
Bukan Heuksim. Bukan Roh Rahasia. Tapi seorang pria tinggi kurus dengan topeng besi menutupi setengah wajah. Dari posturnya, ia adalah seorang pendekar berpengalaman.
"Namgung Jin?" Suaranya serak.
"Aku."
"Aku utusan Cheon Wu-gun. Ada pesan darinya."
"Bicara."
Pria itu mengeluarkan gulungan kecil. "Ini surat. Tapi sebelum kau baca, Cheon Wu-gun minta aku sampaikan sesuatu secara lisan."
"Apa?"
"Pasukan Delapan Sekte sudah melewati perbatasan. Mereka akan sampai di Geumseong dalam tiga hari. Cheon Wu-gun mengikuti saranku—meninggalkan markas, menyebar pasukan. Tapi..." Ia ragu. "...ada yang salah."
"Salah bagaimana?"
"Delapan Sekte tahu tentang rencana itu. Mereka membagi pasukan mereka, mengejar pasukan kita satu per satu. Seolah... seolah mereka tahu setiap gerakan kita."
Namgung Jin mengerutkan kening. "Mata-mata?"
"Mungkin. Tapi tidak mungkin. Semua pasukan Magyo adalah prajurit setia."
"Atau..." Mata Namgung Jin menyipit. "...seseorang membocorkan rahasia."
Pria itu mengangguk. "Cheon Wu-gun curiga ada pengkhianat di dalam. Dan ia minta kau datang untuk membantu menyelidiki."
"Kapan?"
"Sekarang. Aku akan menemanimu."
Namgung Jin diam sejenak. Pergi sekarang berarti meninggalkan klan di saat Tetua Seok mengawasi. Tapi jika Magyo hancur, semua rencananya akan runtuh.
"Aku akan ikut."
---
Ia meninggalkan pesan singkat untuk Tetua Pyo: "Ada urusan mendesak. Jaga ibuku. Kembali secepatnya."
Lalu ia pergi bersama utusan itu, menyelinap di antara pepohonan, menghilang dalam kegelapan malam.
Di paviliun tamu, Tetua Seok duduk di beranda, menatap ke arah paviliun reot. Ia tersenyum tipis.
"Keluar malam? Mencurigakan."
Ia memberi isyarat pada bayangan di belakangnya.
"Ikuti dia. Jangan kehilangan jejak."
Bayangan itu mengangguk, lalu melesat pergi.
---
Perjalanan ke Geumseong kali ini hanya memakan waktu dua hari.
Mereka memacu kuda secepat mungkin, berhenti hanya untuk memberi istirahat sebentar. Saat akhirnya tiba di lembah tersembunyi itu, suasana berbeda.
Geumseong tidak lagi tenang. Para prajurit berlarian, menyiapkan pertahanan. Udara dipenuhi ketegangan. Dari kejauhan, terdengar suara genderang perang.
Cheon Wu-gun menyambutnya di ruang utama. Wajahnya tegang, matanya sembab.
"Akhirnya kau datang."
"Situasinya seburuk apa?"
"Buruk." Cheon Wu-gun menunjuk peta di meja. "Pasukan kita yang tersebar di hutan utara sudah diserang. Setengah dari mereka tewas. Sisanya mundur ke selatan."
"Dan markas?"
"Masih aman. Tapi untuk berapa lama?"
Namgung Jin mengamati peta. Delapan Sekte bergerak dalam tiga kelompok besar, mengepung Geumseong dari tiga arah.
"Ini bukan serangan biasa. Ini pengepungan terencana."
"Dan mereka tahu persis di mana pasukan kita berada." Cheon Wu-gun mengepalkan tangan. "Pasti ada pengkhianat."
"Siapa yang tahu tentang rencana penyebaran pasukan?"
"Hanya Tiga Roh dan beberapa komandan tingkat atas."
"Panggil mereka semua."
---
Satu jam kemudian, Tiga Roh dan lima komandan berkumpul di ruangan yang sama.
Mereka semua menatap Namgung Jin dengan ekspresi berbeda—ada yang curiga, ada yang hormat, ada yang tidak peduli.
Namgung Jin berjalan di antara mereka, mengamati satu per satu.
"Seseorang di ruangan ini adalah pengkhianat."
Keheningan. Beberapa komandan saling pandang.
"Jangan main tuduh, bocah!" salah satu komandan—pria besar dengan bekas luka di wajah—berteriak. "Kami semua prajurit setia Magyo!"
"Setia atau tidak, fakta tetap fakta." Namgung Jin berhenti di depannya. "Kau, siapa namamu?"
"Komandan Kang. Aku sudah dua puluh tahun di Magyo."
"Dua puluh tahun? Lalu di mana kau saat insiden penyerangan hutan utara?"
"Aku... aku di sini, di markas."
"Sendirian?"
"Tidak, dengan—" Ia berhenti. Matanya membelalak. *"Kau pikir aku—"
"Aku tidak pikir apa-apa. Aku hanya bertanya."
Namgung Jin melanjutkan langkahnya. Satu per satu, ia mengamati mereka.
Lalu ia berhenti di depan seseorang yang paling tidak mencolok—seorang komandan kurus dengan wajah biasa, duduk di pojok dengan diam.
"Kau, siapa namamu?"
Pria itu menatapnya. Matanya kosong. "Komandan Yi."
"Yi? Aku dengar kau baru bergabung setahun lalu."
"Benar."
"Dan kau langsung diangkat jadi komandan? Cepat sekali."
Pria itu tersenyum tipis. "Aku punya... kemampuan khusus."
"Kemampuan apa?"
"Membaca peta. Menyusun strategi."
"Menarik." Namgung Jin mendekat. "Kau tahu, saat aku masuk tadi, kau satu-satunya yang tidak terkejut. Yang lain gelisah, cemas, atau marah. Tapi kau... kau tenang. Terlalu tenang."
Komandan Yi tidak menjawab.
"Di mana kau saat pasukan hutan utara diserang?"
"Di sini, bersama Komandan Kang."
"Kang bilang ia sendirian."
"Ia lupa. Aku ada di sampingnya."
Komandan Kang menggeleng. "Tidak! Aku ingat! Aku sendirian di ruang—" Ia berhenti, menyadari sesuatu. "Kecuali... kecuali saat aku ke belakang sebentar. Mungkin lima menit."
"Lima menit cukup." Namgung Jin menatap Komandan Yi. "Cukup untuk mengirim sinyal."
Udara di ruangan itu membeku.
Komandan Yi tertawa—tawa kecil, dingin.
"Kau pintar, bocah. Sangat pintar."
Ia berdiri.
"Tapi kau terlambat."
Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sesuatu—sebuah bola asap. Ia melemparkannya ke lantai.
Ruangan itu dipenuhi kabut hitam.
"Tangkap dia!" teriak Cheon Wu-gun.
Tapi saat kabut hilang, Komandan Yi sudah tidak ada.
Di dinding, sebuah lubang menganga—ia melarikan diri.
"Kejar!"
Para prajurit berlari keluar. Tapi Namgung Jin tetap diam.
"Kenapa kau tidak bergerak?" tanya Cheon Wu-gun.
"Tidak perlu." Namgung Jin tersenyum. "Dia sudah kuberi tanda."
"Tanda?"
"Racun pelacak. Saat aku berdiri di depannya, aku menyentuh tangannya. Sentuhan kecil. Racun itu tidak berbahaya, tapi baunya khas. Anjing pelacak kita bisa mengikutinya."
Cheon Wu-gun terkejut. Lalu ia tertawa.
"Kau benar-benar iblis, Namgung Jin."
"Aku tahu."
---
Dua jam kemudian, Komandan Yi tertangkap.
Ia bersembunyi di gua kecil di selatan Geumseong, mencoba menghilangkan bau dengan mandi di sungai. Tapi racun itu sudah meresap di kulitnya.
Di ruang interogasi, ia dipaksa bicara.
"Siapa yang mengirimmu?"
Ia diam.
"Bicara, atau kau akan mati perlahan."
Ia tetap diam.
Namgung Jin melangkah maju. "Biarkan aku."
Ia berlutut di depan Komandan Yi, menatap matanya.
"Kau tahu, aku bisa membaca orang. Dan matamu... matamu berkata bahwa kau punya keluarga. Istri, mungkin? Anak?"
Wajah Komandan Yi berubah.
"Jika kau mati di sini, siapa yang akan menjaga mereka? Siapa yang akan melindungi mereka dari 'teman-temanmu' yang mengirimmu ke sini?"
"Kau... kau monster!"
"Mungkin. Tapi monster yang jujur." Namgung Jin tersenyum. "Bicara. Dan aku janji, keluargamu akan aman. Aku akan pastikan mereka tidak tersentuh."
Komandan Yi gemetar. Lalu ia menunduk.
"Aku... aku diutus oleh seseorang dari Delapan Sekte. Seseorang yang dekat dengan Tetua Seok."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya. Tapi ia... ia tahu tentang Magyo. Tahu tentang rencanamu. Ia bilang, jika aku membantu, aku akan diberi hadiah besar."
"Apa yang kau beri mereka?"
"Peta pasukan. Rencana penyebaran. Semua."
Cheon Wu-gun menggeram. "Dasar pengkhianat!"
"Bunuh saja!" teriak komandan lain.
Tapi Namgung Jin mengangkat tangan.
"Tidak. Kita tidak akan membunuhnya."
Semua terkejut.
"Apa?"
"Kita akan menggunakannya." Ia menatap Komandan Yi. "Kau akan mengirim pesan ke atasanmu. Pesan palsu. Katakan bahwa rencana penyebaran gagal karena kita sudah tahu. Katakan bahwa pasukan Magyo akan berkumpul di utara, bukan selatan."
Komandan Yi mengangguk lemah.
"Lakukan dengan benar, dan kau akan selamat. Keluargamu akan selamat. Tapi jika kau mencoba curang..."
"Aku... aku akan lakukan."
---
Malam itu, Namgung Jin duduk di atap Geumseong, menatap bintang.
Di tangannya, sebuah surat dari Cheon Wu-gun. Isinya singkat:
"Pasukan Delapan Sekte mulai bergerak ke utara. Rencanamu berhasil."
Tapi ia tidak tersenyum.
Karena di balik semua ini, ada satu nama yang terus menghantuinya.
Tetua Seok.
Pria itu tidak hanya membenci. Ia juga punya koneksi. Mungkin ia adalah dalang di balik pengkhianatan ini. Mungkin ia sedang menunggu di Klan Namgung, menyiapkan jebakan.
"Aku harus kembali. Cepat."
Tapi perang ini belum selesai. Dan ia tidak bisa meninggalkan Magyo di tengah pertempuran.
"Jin-ah."
Suara Cheon Wu-gun dari belakang.
"Kau tidak tidur?"
"Tidak bisa." Pemimpin Magyo itu duduk di sampingnya. "Kau tahu, sejak kau datang, banyak yang berubah. Aku tidak tahu apakah kau utusan Iblis atau bukan. Tapi yang aku tahu, kau satu-satunya yang bisa menyelamatkan kami."
"Aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Aku hanya membantu mereka yang mau membantu diri sendiri."
Cheon Wu-gun tersenyum. "Tetap saja. Terima kasih."
Mereka diam, menatap bintang.
Di kejauhan, terdengar suara genderang perang—samar, tapi nyata.
Perang akan segera dimulai.
---