Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput ummi
Tiga hari kemudian.
Mama dan adik Riri sudah pulang ke Lombok. Selama beberapa hari ini Riri fokus dengan pekerjaan dan keluarganya itu. Dan selama itu pula ia tidak bertemu dengan Sultan. Sultan yang juga kebetulan saat ini sedang berada di luar negeri karena kepentingan perusahaan, harus mengesampingkan dulu perasaannya.
Riri baru saja pulang kerja. Fira pamit pulang duluan karena hari ini Riri lembur mengerjakan pekerjaan yang ia tinggalkan beberapa hari yang lalu. Trauma ikut ojek lain, akhirnya Riri memutuskan untuk menghubungi Sultan meski aplikasi ojeknya mati. Ia langsung menghubungi kontak wa-nya langsung. Namun ternyata nomer tersebut tidak aktif.
"Kok nggak aktif ya. Apa nggak ada kuota?" Gumamnya.
Riri pun menghubungi nomernya langsung, namun juga tidak aktif. Handphone tersebut memang tidak Sultan bawa.
"Duh... kok nggak aktif juga ya. Kemana sih bang Ahmed?"
Riri pun berdiri di depan kantornya. Kantor tersebut sudah sepi, hanya tinggal security. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya.
Tin tin....
Kaca mobil belakang terbuka.
"Riyanti... "
"Bu Windi."
Riri sedikit terkejut karena ternyata yang ada di mobil tersebut adalah istri bos pusat.
"Selamat sore, bu."
"Selamat sore juga. Tapi ini sudah mau malam, kok kamu baru pulang?"
"Iya, saya harus lembur bu."
"Sekarang mau pulang?"
"Iya, bu."
"Kalau begitu ikut saya saja."
"Tapi jalannya tidak searah bu."
"Gampang, kita bikin searah."
"Tidak perlu, bu. Saya naik ojek saja."
Ummi tidak segan membukakan pintu untuk Riri.
"Ayo cepat masuk, ini mau hujan!"
Memang langit terlihat sangat gelap aa lagi ini sudah jam 6 lewat. Akhirnya Riri pun masuk ke dalam mobil. Ia tidak mungkin menolak lagi. Riri duduk di samping ummi. Ummi tersenyum senang saat Riri mau menerima ajakannya.
"Alamatmu di mana?"
Riri pun memberi tahukan alamatnya kepada pak sopir.
"Ibu dari mana tadi, kok bisa lewat kantor?"
"Biasa, ada arisan keluarga." Bohong ummi.
Padahal ummi memang sengaja lewat di depan kantor tersebut karena sudah mendapat informasi dari Leo. Awalnya ummi tidak menyangkan jika Sultan kenal dengan Riyanti. Bahkan ternyata menurut informasi dari Leo belakangan ini Sultan mencari informasi tentang Riyanti. Jadi kali ini ummi tidak mau menyiakan kesempatan untuk mendekati calon menantunya.Ummi juga tahu kalau beberapa hari yang lalu Riyanti mengalami kecelakaan, jadi ummi berinisiatif untuk menjemputnya.
"Riyanti, kamu sudah makan?"
"B-belum, bu."
"Kebetulan sekali, saya juga belum. Kita mampir makan dulu ya."
"Tidak perlu repot, bu."
"Nggak pa-pa. Kita mampir di restoran depan ya. "
"Iya bu."
Lebih baik Riri menurut saja.
Selama dalam perjalanan, keduanya asik ngobrol. Ummi merasa cocok dan nyambung ngobrol dengan Riri. Amerika ngobrol tentang makanan kesukaan dan dan hobi mereka layaknya sepantaran.
Ia mengabari Fira bahwa akan pulang agak malam karena masih menemani istri bos besar makan malam. Fira sendiri terkejut saat mengetahui Riri benar-benar pergi dengan istri bos besar.
"Beruntung sekali kamu, Ri. Siapa tahu setelah ini kamu direkrut di perusahaan pusat." Balas Fira.
Saat ini ummi dan Riri sudah masuk ke dalam restoran.
"Selamat malam nyonya." Sapa seorang manager.
"Selamat malam... "
"Wah kedatangan nyonya adalah suatu kehormatan bagi kami."
"Bisa saja. Tolong berikan menu yang ringan untuk saya. Dan untuk tamu spesial saya ini tolong kasih tahu menu terbaik di sini."
Riri sedikit terkejut mendengar ucapan ummi. Namun ia mencoba biasa saja.
"Tamu spesial katanya." Batinnya.
Riri pun memesaan makanan yang direkomendasikan oleh manager.
"Riyanti, di sini adalah salah satu restoran milik kakak iparku. Jadi jangan heran kalau managernya kenal."
"Saya rasa ibu memang terkenal, hehe... "
"Kamu ini bisa saja."
Sambil menunggu makanan berat datang, mereka menikmati makanan ringan sambil ngobrol.
"Riyanti, kalau boleh ibu tahu seperti apa kriteria laki-laki yang kamu idamkan?"
Riri mengulum senyum. Tiba-tiba sosok Ahmed melintas di kepalanya.
"Tanggung jawab, pekerja keras, humble, kalau tampan itu bonus kayaknya bu."
Ummi mengulum senyum. Dalam ucapan Riri tidak ada menyebutkan mapan atau pun kaya. Itu artinya Riri tidak memandang harta.
"Hem.... ibu punya anak laki-laki satu-satunya. Anak pertama pula, dia belum menikah. Entah wanita seperti apa yang dicarinya." Celetuk ummi.
"Oh ya? Maaf apa beliau yang saat ini memimpin di perusahaan pusat, bu?"
"Iya, betul sekali."
Riri menganggukkan kepala.
"Wah, saya belum pernah bertemu dengan beliau. Beliau punya kemampuan dan kekuasaan. Pasti banyak wanita yang ingin mendekatinya, bu."
Ummi terkekeh mengingat anak sulungnya itu tidak tertarik kepada beberapa wanita yang mendekati bahkan dijodohkan dengannya.
"Hem... sepertinya dia punya kriteria sendiri." Gumam ummi. Namun masih didengar oleh Riri.
Riri tentu tidak tertarik dengan anak bosnya itu. Karena saat ini dalam hatinya sudah terikat kepada satu nama, yaitu Ahmed.
Makanan yang mereka pesan pun sudah datang. Mereka menikmati makanan dengan santai. Ummi juga tidak lupa memerankan makan untuk pak sopir yang sedang duduk di kursi pojokan sana. Riri semakin kagum kepada istri hos besarnya itu.
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan.Riri dan ummi masih melanjutkan obrolannya seputar keluarga.
"Riyanti, kamu punya berapa saudara?"
"Saya dua bersaudara, bu. Perempuan semua."
"Oh ya, jamu nomer berapa?"
"Nomer satu."
"Pantas saja."
"Kenapa bu?"
"Sikapmu mirip dengan anak sulung ku. "
"Ibu bisa saja."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan gerbang kost-an. Ummi dapat melihat keadaan kost-an yang cukup bersih dan tertib.
"Bu, terima kasih sudah mentraktir saya dan mengantarkan saya."
"Saya senang bisa makan malam sama kamu. Kapan-kapan main ke rumahku ya."
"Masyaallah ini suatu kehormatan bagi saya bu. InsyaAllah."
"Ya sudah, kamu istirahat saja, pasti kamu sudah capek."
"Iya bu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Ummi menaikkan kaca mobil. Pak sopir pun melakukan mobil kembali. Riri naik ke atas setelah mobil tersebut pergi.
"Gadis itu memang cocok untuk Sultan. Tapi aku tidak boleh gegabah. Nanti yang ada Sultan marah." Batin ummi.
Di Kanada
Sultan baru saja selesai meeting. Ia langsung kembali ke hotel dan menyiapkan barang-barangnya untuk pulang hari ini juga. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Riri. Beberapa hari di Kanada, ia merenungkan tentang perasaannya. Ia bertekad untuk menyampaikan perasaannya.
"Ayo cepat Leo!"
"Bos, tiketnya kan besok?"
"Sudah aku tukar dengan hari ini."
"Alamak... masih capek ini bos."
"Ya sudah, kamu tinggal saja di sini!"
"Ya nggak gitu juga, bos."
"Repot!"
"Duh gini amat kalau orang sedang jatuh cinta ya. Semoga bos nggak tahu kalau aku cerita ke bis ummi. Bisa-bisa dipotongnya bonusku." Batin Leo.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar