Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Seluruh Warisan Katanya
Suasana di ruang tamu masih dipenuhi ketegangan. Marni belum benar-benar berhenti menangis, sementara Tarno berdiri dengan wajah keras, masih memegang map hasil tes DNA itu.
Ge menarik napas panjang, lalu duduk di kursi depan mereka. Dia menatap kedua orang yang sudah membesarkannya sejak kecil.
“Mak… Pak… dengerin dulu,” katanya pelan.
Marni masih menggenggam tangan Ge erat, seolah takut kalau dia lepas sedikit saja, anak itu akan benar-benar hilang.
“Aku nggak ke mana-mana,” ulang Ge.
Tarno akhirnya bicara, nadanya lebih berat. “Terus ini semua maksudnya apa?”
Ge melirik Arif sebentar, lalu kembali ke mereka. “Katanya… aku dapet warisan.”
Marni langsung berhenti menangis sesaat. “Warisan?”
Tarno mengerutkan kening. “Warisan apaan?”
Arif maju selangkah. “Pak Romy Armansyah meninggalkan seluruh asetnya kepada Ge,” jelasnya tenang.
Beberapa detik hening.
“SELURUH?” Tarno membelalak.
Marni ikut menatap Arif. “Maksudnya… banyak gitu?”
Ge mengangkat bahu santai. “Katanya sih… banyak banget.”
Arif menambahkan dengan datar, “Jumlahnya sangat besar.”
Marni langsung mengusap air matanya, tapi kali ini ekspresinya berubah. Tangisnya belum benar-benar hilang, tapi ada rasa lain muncul.
“Seberapa besar?” tanyanya pelan.
Ge menyeringai. “Bisa beli rumah lebih bagus dari ini mungkin,” katanya santai.
Tarno langsung duduk pelan. “Astaga…”
Marni menoleh cepat ke Ge. “Lu serius?”
Ge mengangguk kecil. “Makanya aku mau lihat dulu.”
Arif mengangguk. “Itu yang ingin saya lakukan. Mengajak Ge melihat langsung aset dan rumah utama keluarga Armansyah.”
Marni langsung berdiri lagi. “Yaudah! Kita ikut!”
Ge langsung melirik. “Hah?”
Tarno ikut berdiri. “Iya! Kita ikut juga!”
Arif langsung menggeleng tegas. “Maaf. Itu tidak bisa.”
Suasana langsung berubah lagi.
“Kenapa nggak bisa?” tanya Tarno tajam.
Arif tetap tenang. “Ini urusan pribadi antara Ge dan keluarga Armansyah.”
Marni langsung kesal. “Pribadi apaan?! Dia anak gue!”
Ge menghela napas. “Mak…”
Marni menoleh. “Apa?!”
Ge bangkit dari duduknya. Dia memegang bahu Marni pelan.
“Udah… tenang dulu.”
Marni mengerutkan kening. “Lu juga kenapa santai banget sih?!”
Ge menyeringai tipis. “Karena aku emang santai orangnya.”
“Ini bukan waktunya bercanda!” bentak Marni.
Ge mengangkat tangan menyerah. “Oke, oke.” Dia lalu menatap Tarno dan Marni bergantian.
“Gini aja,” katanya. “Aku cuma mau pergi sebentar.”
“Sebentar?” ulang Tarno.
“Iya. Cuma buat lihat,” jawab Ge. “Nggak pindah. Nggak kabur. Nggak jadi anak orang lain.”
Marni masih terlihat ragu. “Bener?”
Ge mengangguk. “Bener.” Dia menyenggol bahu Marni pelan. “Mak, aku ini siapa sih?”
Marni langsung menjawab tanpa ragu. “Anak gue!”
Ge tersenyum. “Nah itu.”
Dia menunjuk dirinya sendiri. “Mau dikasih istana juga… aku tetap anak Mak sama Bapak.”
Kalimat itu membuat Marni terdiam. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini lebih tenang.
Tarno menghela napas panjang. “Tapi…” katanya pelan, “itu warisan beneran banyak?”
Ge langsung menyeringai lebar. “Wah, ini yang ditunggu-tunggu.”
Marni langsung melotot. “Eh! Lu malah senyum-senyum!”
Ge tertawa kecil. “Ya gimana, Mak. Tadi nangis, sekarang bahas duit. Cepet banget pindah topik.”
“Bacot!” bentak Marni.
Tarno mendekat sedikit. “Ge, serius. Kita ikut aja, ya?”
Ge menggeleng. “Nggak bisa.”
Marni langsung manyun. “Kenapa sih?”
Ge menunjuk Arif. “Itu Om Arif udah bilang, nggak boleh.”
Marni langsung kesal. “Siapa dia ngatur-ngatur?!”
Ge menghela napas. “Mak… ini bukan warung sebelah yang bisa kita datengin rame-rame.”
Tarno masih mencoba. “Kita cuma lihat doang kok.”
Ge mendecak. “Lihat doang katanya… ntar nanya harga, nawar, terus pindahan sekalian.”
“Eh enak aja!” protes Marni.
Ge tertawa kecil. Lalu dia mendekat ke mereka berdua, menurunkan suaranya seperti orang mau rahasia. “Udah deh… percaya sama aku.”
Marni menyilangkan tangan. “Nggak percaya.”
Ge langsung nyengir. “Yaudah, gini aja,” katanya.
“Apa?” tanya Tarno.
Ge mengangkat dagu dengan gaya sok keren. “Nanti kalau aku udah resmi jadi anak konglomerat…” katanya dramatis, “…aku beliin kalian rumah baru.”
Marni langsung menjitak kepalanya. “NGACO LU!”
Tarno ikut menoyor pelan. “Belum apa-apa udah sombong!”
Ge ketawa. “Aduh! Sakit, Pak!”
Marni mendengus. “Dasar anak nggak tau diri!”
Ge masih nyengir lebar. “Ya kan latihan dulu, Mak. Biar pas jadi orang kaya nggak kaget.”
Tarno menggeleng-geleng kepala.
Arif yang dari tadi diam akhirnya bicara, “Saya jamin, Ge hanya akan pergi sebentar.”
Marni menatapnya dengan mata masih basah. “Jangan lama-lama.”
Ge langsung menjawab, “Siap, Bos.”
Marni langsung melotot lagi. “Gue bukan bos lu!”
Ge terkekeh. Dia lalu mengambil jaketnya lagi. “Udah ya,” katanya santai. “Aku cek dulu tuh warisan. Kali aja beneran bisa beli motor baru.”
Tarno langsung nyeletuk, “Kalau dapet, bapak mau mobil, terus buat modal utangin orang lagi."
Ge langsung menunjuknya. “Nah tuh! Belum apa-apa udah pesen!”
Marni ikut menimpali, “Gue mau dapur baru!”
Ge pura-pura pusing. “Anjir… ini gue belum kaya, udah banyak cicilan.”
Semua sempat tertawa kecil, meski suasana masih terasa campur aduk.
Ge melangkah ke pintu. Sebelum keluar, dia menoleh lagi. Matanya sedikit lebih serius.
“Mak… Pak…”
Mereka menatapnya.
Ge tersenyum kecil. “Nanti aku akan balik lagi.”
Marni mengangguk pelan dan Tarno juga. Mereka benar-benar mencoba percaya.
Arif menghela nafas panjang. Dia tentu jengah melihat drama keluarga absurd itu.