dilarang plagiat !
plagiat dosa ini karyaku asli.
jika kalian menemukan versi sama di aplikasi lain itu berarti bukan karyaku karena aku hanya membuat di aplikasi ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Sun044, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginjak Kucing
Sepulang sekolah, aku tidak langsung pulang ke rumah sendiri. Sebelumnya, aku mampir ke rumah Bu RT yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku. Sejak dulu, aku sudah terbiasa membantu beliau—entah itu menyapu halaman, membersihkan lantai, atau merapikan barang-barang yang berantakan. Bu RT adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak pernah memaksaku untuk berbicara banyak, dan kehadiranku di sana selalu diterima dengan senyum hangat tanpa banyak tanya.
Aku mengambil sapu dan mulai menyapu halaman yang penuh dengan daun kering yang jatuh karena angin sore. Gerakanku teratur dan tenang, jauh dari kekacauan perasaan yang aku rasakan tadi di sekolah. Di sini, di antara suara sapu yang menyentuh tanah dan aroma tanah basah yang baru disiram, aku merasa tenang. Tidak ada tatapan orang lain, tidak ada upaya untuk berinteraksi, hanya aku dan tugas yang harus aku selesaikan.
Setelah halaman bersih, aku masuk ke dalam rumah untuk membersihkan ruang tamu. Bu RT duduk di kursi goyangnya sambil memperhatikanku dengan tatapan penuh kasih. "Terima kasih ya, Laras. Kamu selalu rajin. Kalau bukan karena kamu, rumah ini pasti sudah berantakan sekali," katanya lembut.
Aku hanya tersenyum tipis, senyum yang paling tulus yang bisa aku berikan hari ini. "Sama-sama, Bu. Ini tidak berat kok," jawabku pelan, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku, menghindari percakapan yang lebih panjang.
Setelah semua pekerjaan selesai dan aku memastikan rumah Bu RT sudah rapi dan bersih, aku pamit pulang. Sesampainya di rumahku sendiri yang cukup sederhana namun nyaman, aku langsung menuju ke sudut kamarku yang sudah menjadi tempat favoritku—meja kecil yang penuh dengan bahan-bahan kerajinan tangan.
Ini adalah kegiatan rutin yang selalu aku nantikan setiap hari. Membuat kerajinan tangan adalah caraku berbicara tanpa suara, caraku menumpahkan segala isi hati yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Hari ini, aku berencana membuat hiasan dinding dari anyaman bambu yang sudah aku potong sebelumnya.
Aku duduk bersila di atas kasur, mengambil potongan-potongan bambu itu, dan mulai menganyam nya dengan cekatan. Jari-jariku bergerak lincah, melipat, menyilang kan, dan mengikat setiap bagian dengan hati-hati. Saat fokus pada anyaman itu, pikiranku tentang sekolah, tentang Kak Raka, tentang tatapan teman-teman yang penasaran—semuanya perlahan menghilang. Dunia di luar sana seolah tidak ada, hanya ada aku, bambu, dan pola anyaman yang sedang aku ciptakan.
Setiap anyaman yang selesai aku buat memberikan rasa puas yang tenang. Hasil karyaku adalah bukti bahwa ada sesuatu yang indah dan berharga yang bisa aku ciptakan, sesuatu yang tidak akan mengecewakanku atau menyakitiku. Di tengah kesunyian kamarku, aku merasa menjadi diriku sendiri sepenuhnya—bebas, tenang, dan terlindungi.
Hari Sabtu pagi, aku berencana mencari bahan anyaman baru—kali ini aku ingin mencoba membuat keranjang dari rotan kecil yang katanya banyak tumbuh di pinggir hutan kecil di belakang desa. Dengan membawa keranjang anyaman buatan sendiri dan sebilah gunting kecil, aku berjalan menuju ke sana.
Awalnya semuanya berjalan lancar. Aku menemukan beberapa batang rotan yang ukurannya pas, dan mulai memotongnya dengan hati-hati. Namun, saat aku sedang membungkuk untuk mengambil batang rotan yang terselip di antara semak belukar, tiba-tiba aku mendengar suara "krukk..." yang cukup keras dari arah bawahku.
Aku terkejut dan langsung berdiri tegak. Ternyata, aku tidak sengaja menginjak ekor seekor kucing liar yang sedang tidur nyenyak di balik semak! Kucing itu melompat tinggi seolah terkena listrik, lalu berputar-putar dengan ekor yang membusung, menatapku dengan mata membelalak seolah berkata, "Kamu sengaja ya?!"
Aku yang kaget juga ikut melompat mundur, dan tanpa sadar menabrak tumpukan daun kering yang ternyata menutupi lubang kecil di tanah. Byur! Kaki kananku langsung terperosok masuk sampai ke betis. Aku panik, berusaha menarik kakiku keluar, tapi malah membuat keranjang yang berisi rotan yang sudah aku potong tadi terbalik. Isinya berhamburan, dan beberapa batang rotan malah jatuh tepat di atas kepala kucing tadi.
Kucing itu seolah merasa diserang secara tiba-tiba. Ia melolong kecil, lalu lari sekencang-kencangnya membelah semak, meninggalkan aku yang masih setengah terjebak di lubang itu dengan wajah bingung dan sedikit panik.
"Aduh... maaf ya! Aku tidak sengaja!" teriakku pada kucing yang sudah hilang lenyap itu, meski tahu dia tidak akan mendengar.
Akhirnya, dengan susah payah dan sedikit tertawa sendiri atas kebodohanku, aku berhasil menarik kakiku keluar. Celanaku kotor terkena lumpur, rotan yang sudah dipotong berantakan di tanah, dan aku bahkan menemukan sehelai daun kering menempel di rambutku. Tapi anehnya, rasa kesal tidak ada. Justru ada rasa geli yang muncul di dada. Mungkin ini konsekuensinya kalau terlalu asyik dengan dunianya sendiri sampai lupa melihat sekeliling, pikirku sambil membereskan barang-barang dengan senyum tipis.