"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Kala memijit kepalanya yang berdenyut, matanya nanar menatap sekeliling, butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia berada di kamar tamu rumahnya. Kala bangkit dari ranjangnya, melihat jam di pergelangan tangannya.
"Arghhh....., sudah terlambat", gerutunya sambil masih memijit kepalanya yang semakin berdenyut.
Kala menyingkap tirai jendela, cahaya matahari menerjang masuk kedalam kamar itu. Beberapa saat kala mengerjapkan matanya yang sakit karena silau oleh cahaya matahari, dengan menyeret langkahnya yang berat, kala melangkah keluar dari kamar.
Kepala kala masih berat, sepertinya pengaruh minuman keras itu masih mengendap ditubuhnya.
Kala melangkah perlahan menuju ke arah ruang makan, ia ingin mengambil air dingin dari dalam kulkas, kala ingin membasahi tenggorokkannya yang terasa sangat panas, seperti terbakar.
Kala menenggak langsung dari botol air dingin itu, hampir setengah isinya berpindah ke perut kala.
Samar- samar telinga kala mendengar suara senandung dari dapur, penasaran ia menuju dapur, dengan tangannya masih mengenggam botol air minum.
Ia melihat kanaya yang sedang memasak dan bersenandung, hal yang baru pertama kali kala lihat.
Kala melihat sepertinya kanaya sedang bahagia, kala tidak bersuara berdiri mematung mengamati kanaya, ia ingin menikmati pemandangan pagi itu, pemandangan yang indah menurut mata dan hatinya.
Mungkin kanaya menyadari ada yang memperhatikan dirinya, ia menoleh ke belakang dan melihat ke arah kala. Kanaya tersenyum dan menyapa dengan riang, seakan-akan ia tidak menyadari kalau kala sedang berantakan.
Kala menyambut salam dari kanaya dengan senyuman yang diusahakan manis, ia sadar bahwa dirinya kelihatan sangat berantakan, kala ijin ke kanaya ingin membersihkan dirinya dulu baru sarapan.
########
Kanaya menatap kala yang sudah rapi, dan lebih segar, pria itu mengenakan kaos oblong dan celana panjang rumahan.
Rambutnya yang basah tersisir rapi, wajah kala terlihat segar, tapi kanaya melihat mata elang kala masih nampak lelah.
Kanaya melayani kala seperti biasa, meletakkan makanan ke piring kala dengan tenang.
Menyiapkan air minumnya, kemudian duduk di kursi, di depan sebelah kiri kala. Kanaya hanya menikmati segelas kopi pahit kesukaannya, menatap kala yang mulai menikmati makanannya.
"Kamu..kenapa tidak sarapan", tanya kala melihat ke arah kanaya yang tidak mengambil piring untuknya.
Kanaya menjawab dengan hanya mengangkat gelas kopi kearah kala, kala melanjutkan sarapannya dengan ditemani kanaya yang masih asyik memandangi kala.
Kala salah tingkah, ia tak tahu mengapa kanaya tak henti-hentinya memandangi dirinya. Tak tahan dengan tatapan kanaya, kala menghentikan makannya dan menatap kanaya kembali.
Kanaya tersenyum ketika menyadari kalau kala sedikit terganggu oleh perbuatannya.
"Ada apa?" tanya kanaya tersenyum,
"kamu butuh sesuatu?"
"Saya ingin bicara dengan kamu.."
Kanaya sedikit terganggu mendengar kala Memanggil dirinya dengan 'saya', padahal tadi malam kala menyebut dirinya sendiri dengan 'aku'. Tapi dengan cepat kanaya menepis perasaannya yang sempat terganggu tadi, dengan cepat dia tersenyum.
"Bicaralah..." sahut kanaya lembut.
"Tidak disini, ikuti saya...", perintah kala, melangkah menuju ke arah tangga menuju ke lantai dua, kanaya dengan patuh mengikuti kala dari belakang.
disini, di depan ruangan khusus ini, kanaya berdiri termangu. Kanaya tak berani masuk walau kala terus melangkah, tapi kanaya hanya berdiri mematung di depan kamar itu.
Jantungnya berdetak lebih cepat, firasat kanaya sungguh tak enak, ia menatap punggung kala yang masih membelakanginya.
"Masuklah...." perintah kala dengan suara datarnya, nada suara yang sudah cukup lama tidak kanaya dengar.
Perlahan kanaya masuk ke kamar khusus itu, hatinya berdenyut lebih kencang, ia tak menyangka secepat ini kala mengijinkannya masuk keruangan ini.
Tapi entah mengapa kanaya merasakan sesuatu yang tak enak di hatinya, firasatnya mengatakan, hal yang akan kala bicarakan, bukanlah hal yang ingin ia dengar, tak lupa kanaya menutup pintu kamar itu dengan pelan, tapi kala mencegahnya. Kanaya semakin tak enak hati, kala berjalan menuju ke sebuah meja, membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah map berwarna coklat padi.
Kanaya berjalan perlahan mendatangi meja itu, dan melihat kala mengeluarkan kontrak mereka dari dalam map tersebut.
"Di kontrak ini, kita sudah saling sepakat kalau kita tidak akan saling terlibat kedalam perasaan romantis bukan..?" tanya kala to the point, menyodorkan kontraknya ke arah kanaya. Kanaya memandang kala dan kontrak ditangan pria itu bergantian. Tangannya terjulur, menyambut kontrak itu, hati kanaya mencelos, ia merasa firasatnya pasti benar.
Kala akan membicarakan sesuatu yang tidak kanaya harapkan, kanaya melihat kala melangkah ke arah jendela, memandang keluar jendela dan melanjutkan ucapannya.
"Saya minta maaf, jika belakangan ini saya bertingkah aneh kepadamu,....!"
"Sepertinya saya terbawa suasana belakangan ini, maaf naya, jika saya membuatmu tak nyaman."jelasnya dengan suara yang kembali datar dan dingin.
Kanaya terkejut mendengar ucapan kala, walau ia sudah menduga kala akan mengatakan hal seperti ini, tapi ia tidak menduga, secepat ini kala mengatakannya, bukankah tadi malam, secara eksplisit kala mengakui perasaannya.
Bodohnya aku mempercayai ucapan pria yang sedang mabuk, hati kanaya berdenyut, tapi denyutan yang ia rasakan cukup sakit.
Kanaya tak mampu menjawab, ia hanya diam. dengan masih menatap punggung kala yang membelakanginya,
"Saya harap kamu masih mau menyelesaikan kontrak kita, naya....", lanjut kala lagi, karena tidak mendengar kanaya menjawabnya.
"Di dalam kontrak tertera, pernikahan ini hanya berusia 6 bulan..., ada sisa waktu 2 bulan lagi bagi kita menyelesaikannya",
Kanaya meraba dadanya yang terasa sakit luar biasa, ia berusaha mengatur nada suaranya terdengar biasa saja, kanaya tidak mau menangis di depan kala.
"Jangan khawatir..", sahut kanaya dengan membuat suaranya seriang mungkin.
"Saya akan tetap menyelesaikan kontrak ini sampai selesai,...heheheh, kamukan sudah membayar saya",
"Kamu..masih ada lagi yang ingin disampaikan?", tanya kanaya lirih, ia masih melihat kala belum juga membalikkan badan ke arahnya.
"Kalau sudah tidak ada, saya ijin ke kamar saya yah" ujar kanaya meminta ijin, meletakkan kontrak itu di atas meja, meninggalkan kala. Tanpa menunggu jawaban pria itu, kanaya melangkah ke arah kamarnya.
ia rasanya ingin berlari sekencang mungkin ke kamarnya, tapi kanaya tetap berusaha tenang, walau hatinya saat ini luar biasa sakitnya.
Air mata kanaya akhirnya jatuh juga. Sesampainya ia di kamar, kanaya menutup pintunya rapat, ia memeluk dirinya sendiri.
Terduduk nelangsa di pintu kamarnya, sakit yang kanaya rasakan membuat tangisannya mulai terdengar.
Kanaya tahu, ia memang tak pantas untuk mendampingi kala. Siapa dirinya dan siapa kala, ia juga menyadarinya.
Kanaya juga tahu ia tak boleh berharap lebih, dari awal pernikahan ini kanaya sadar memang, kalau kala hanya membutuhkan status dari kanaya.
Untuk siapa status itu kala ingin tunjukkan, kanaya memang tidak tahu, tapi yang ia tahu, dirinya dan kala sudah menanda tangani kontrak itu, beserta semua syarat-syarat yang tercantum di dalamnya.
Tapi entah mengapa hati kanaya tetap sakit, ingin rasanya ia berteriak untuk menghilangkan sesak di dadanya. Hatinya bagai diimpit dengan beban ribuan kilogram, isakan kanaya semakin kencang, dia berusaha menenangkan dirinya dengan melakukan afirmasi yang biasa dilakukannya.
Tapi, sama sekali tidak berhasil, kanaya masih menangis. Ia masih terisak, sakit dan sesak yang kanaya rasakan di dada, membuatnya memukuli dada.
'Sesak sekali tuhan...., sakit sekali ..' kanaya terisak memeluk tubuhnya erat.
'Tolong aku ya tuhanku....', tolong untuk tetap kuat dan tegar'
Kala memandangi kanaya yang melangkah pergi meninggalkannya di ruangan itu. Ingin rasanya,mulutnya mencegah kanaya pergi, tapi kala tahu apa akibatnya bagi kanaya jika ia melakukannya.
Mata kala berkaca-kaca, ia tahu ucapannya tadi, tidak sesuai dengan yang ada di dalam hatinya, tapi kala tetap harus melakukannya.
Kala berdiri di depan pintu kamar wanita itu, tangannya sudah terulur ingin mengetuk, tetapi lamat-lamat kala mendengar suara tangisan dari dalam kamar kanaya.
'naya menangis..." batin kala pilu, ingin rasanya ia menerjang pintu kamar itu.
Dan memeluk kanaya, menghapus air mata wanita itu. Hati kala sakit mendengar tangisan kanayaa yang terdengar sangat pilu, tanpa ia sadari air matanya yang menggenang disudut mata, menetes jatuh di pipinya.
'Ya tuhan..aku menyakiti hati seorang wanita lagi'.
Bersambung..