NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMBANG KEBERANGKATAN

Riezky dan Valerius berdiri di tepi tebing, membiarkan angin laut yang kencang mengacak-acak rambut mereka. Valerius terdiam sejenak, matanya menatap jauh ke cakrawala seolah sedang memutar kembali memori perjalanannya yang panjang.

"Aku kemarin mengunjungi suatu tempat," mulai Valerius dengan nada bicara yang santai, namun ada sedikit getaran aneh dalam suaranya. "Tempatnya hancur. Aku mengira itu kastil dulunya. Banyak tulang belulang... hancur banget pokoknya."

Riezky mendengarkan dengan seksama, alisnya sedikit bertaut. Ia membayangkan sebuah kastil yang runtuh, tempat yang mungkin pernah menjadi pusat peradaban namun kini hanya menjadi kuburan massal.

"Dan pas aku masuk ke ruang yang ada di bawah tanah," lanjut Valerius sambil menyipitkan mata. "Ada patung besi. Keras banget. Tapi rasanya bentuknya terlalu realistis untuk sebuah patung... Itu doang sih, cuma pengen cerita asal aja," ucap Valerius kemudian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, seolah ingin segera mengalihkan topik.

Riezky mendengus, merasa sedikit kecewa dengan anti-klimaks cerita pamannya. "Ah apaan sih, kirain mau ngasih tahu apaan yang penting!" ucap Riezky sambil melipat tangan di dada.

Namun, rasa penasaran Riezky sebagai seorang pemuda yang terbiasa dengan benda-benda logam di tambang mulai muncul. "Aku baru tahu besi bisa diukir. Bukannya ditempa ya?" tanyanya penasaran.

"Itu dia... kayaknya pandai besinya jago banget," jawab Valerius singkat.

"Kapan-kapan aku mau lihat deh!" ucap Riezky dengan semangat yang kembali berkobar.

Valerius hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Nanti saja. Tempatnya jauh. Aku saja harus makan waktu satu bulan buat ke sana," ujar Valerius mengingatkan.

Riezky bahunya sedikit merosot. "Jauh juga ya," jawab Riezky pelan. Ia menoleh kembali ke arah laut, membayangkan perjalanan satu bulan yang disebut Valerius. Ia tidak tahu bahwa deskripsi patung besi "realistis" itu sebenarnya adalah petunjuk besar tentang tragedi yang menimpa Kerajaan Ixevon di masa lalu.

"Ohiya, katanya kamu bisa munculin senjata, aku denger dari anak-anak di Aethelgard," tanya Valerius, suaranya terdengar antara penasaran dan tidak percaya.

Riezky menyeringai tipis. "Oh, iya, nih," ucap Riezky santai. Tanpa aba-aba, ia memusatkan energinya. Seketika, cahaya biru memercik dan Fist Blade kristalnya muncul dengan suara berdenging yang tajam. Dengan gerakan polos, Riezky langsung menyodorkan bilah senjata itu tepat ke arah wajah Valerius.

"Hehh!" Valerius terjungkal sedikit ke belakang, tangannya refleks menahan tubuh agar tidak jatuh sepenuhnya ke tanah. "Yang bener aja, jangan disodorin dong! Mau bikin pamanmu ini pensiun dini?!"

Valerius bangkit sambil menepuk-nepuk debu di celananya. Ia mengatur napas sejenak lalu mendekat, melihat senjata itu sedikit lebih dekat tanpa menyentuhnya. Ia memperhatikan bagaimana cahaya matahari memantul di permukaan bilah yang transparan namun terlihat sangat padat.

"Detailnya bagus, jago juga kamu," ucap Valerius tulus, meski matanya masih menunjukkan sedikit rasa kaget.

Riezky menarik kembali senjatanya, memutar-mutarnya dengan lincah. "Ah nggak, awalnya jelek tau Paman. Pas aku hilangin terus munculin lagi, eh malah jadi bagus. Kayaknya dia menyesuaikan sama imajinasiku," ujar Riezky sambil nyengir.

"Menarik..." kata Valerius pelan. Ia tampak berpikir keras, mungkin mencoba menghubungkan teknik Riezky dengan pengetahuan lamanya tentang klan-klan kuno.

Melihat valerius sedang dalam suasana hati yang baik untuk diajak bicara, Riezky pun mencoba menanyakan hal yang mengganjal hatinya sejak pertarungan di hutan.

"Ohiya Paman, kau tau sesuatu tentang kata Malako?" tanya Riezky sembari masih memperlihatkan Fist Blade-nya yang berpendar.

Valerius mengernyitkan dahi. "Malika?" ucap Valerius spontan.

Riezky langsung mendengus kesal, bahunya merosot seketika. "Malakooo! Ah, kau sama saja dengan Andre!" ujar Riezky dengan nada jengkel karena merasa semua orang menganggapnya salah dengar.

Valerius terdiam, ia mencoba menggali ingatannya lebih dalam. "Hmm... Malako... entahlah, aku baru dengar kata itu," ujar Valerius sambil menggeleng pelan. "Mungkin itu dialek kuno atau nama tempat yang sudah lama hilang. Kenapa? Kamu dengar itu dari siapa?"

Riezky menghilangkan senjatanya, kepulan asap tipis keluar dari telapak tangannya. Ia kembali menatap air terjun. "Aku bertemu banyak hal semenjak kau berkelana, dan hanya ada satu yang selalu ada di pikiranku... makhluk hitam itu," ucap Riezky dengan nada tenang, namun ada ketegasan yang tak biasa dalam suaranya.

"Mereka seolah-olah dibuat untukku, menghabisiku, entah apa alasannya," lanjut Riezky sembari melempar batu ke arah air terjun. Batu itu memantul tiga kali di atas air sebelum tenggelam. "Dan ketika aku tanya siapa mereka, mereka meninggalkan kata Malako itu. Tapi mungkin Malako hanya separuh kata yang mereka ucapkan sebelum aku bakar."

Mendengar penjelasan itu, ekspresi Valerius yang tadinya santai perlahan menegang. Ia mengusap janggut pendeknya, matanya menatap tajam ke arah riak air tempat batu Riezky tenggelam.

"Hanya separuh kata, ya?" gumam Valerius pelan. "Kalau mereka benar-benar mengincarmu secara spesifik, berarti ini bukan sekadar gangguan hantu atau monster liar. Ada sesuatu dalam darahmu yang memanggil mereka."

Riezky berbalik, menatap pamannya dengan serius. "Maksud paman?"

"Dunia ini luas, Riez. Banyak nama yang sengaja dihapus dari buku sejarah agar orang-orang bisa tidur nyenyak," ujar Valerius. Ia berjalan mendekati Riezky dan menepuk bahunya dengan berat. "Kalau kata itu terputus, mungkin pencarianmu belum selesai di Aethelgard. Kau butuh seseorang yang bisa membaca simbol dan sejarah kuno lebih baik dariku."

Riezky teringat akan kain bayinya yang tersimpan di kamar. "Nenek Daisy bilang, Paman tahu siapa yang bisa memberitahuku asal-usul kain yang menemukanku saat bayi. Apakah orang itu juga tahu soal Malako ini?"

Valerius terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang apakah Riezky sudah siap menyeberangi lautan yang jauh lebih berbahaya daripada arena Redhenvous.

Valerius menatap riak air terjun sejenak, lalu menoleh ke arah Riezky dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya. "Ada sebuah benua... maksudku pulau. Kita bisa ke sana, hanya jika kau siap," kata Valerius.

Riezky yang sedang asyik dengan pikirannya sendiri sedikit tersentak. "Memangnya jauh?" tanya Riezky, mencoba membayangkan seberapa luas dunia di luar Aethelgard yang pernah ia jelajahi.

"Ya kalau dibilang jauh sih emang jauh. Sekitar semingguan lah kalau lewat jalur laut yang benar," jawab Valerius sambil menyilangkan tangan di dada.

Riezky terdiam sejenak. Seminggu perjalanan berarti ia harus meninggalkan ibunya, meninggalkan rutinitasnya, dan menyerahkan tugas menjaga Aethelgard kepada orang lain. Namun, rasa penasaran akan kata 'Malako' dan asal-usul kain bayinya sudah mencapai puncaknya.

"Hmm, ya sudah deh. Sabrina bisa gantiin," ujar Riezky mantap. Ia tahu Sabrina adalah petarung yang tangguh dan sangat disiplin; Aethelgard akan tetap aman di bawah pengawasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!