NovelToon NovelToon
The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

The Sovereign Architect: Runtuhnya Dinasti Wijaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Sistem
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
​Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
​Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
​Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
​"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

## **Bab 17: Api di Malam Pembukaan**

Lantai dasar Skyview Mall yang dulu sunyi kini berubah menjadi sarang lebah yang sibuk. Bau cat baru bercampur dengan aroma kopi dan kayu pinus dari kios-kios UMKM yang dibangun secara gotong royong. Tidak ada lampu kristal mewah; Arka menggantinya dengan lampu-lampu gantung industri dan tanaman hijau yang merambat di pilar-pilar beton.

Arka berdiri di tengah hiruk-pikuk itu, tangannya yang masih terbalut perban tipis memegang gulungan denah fisik. Sejak Sistem di kepalanya mati, tidurnya tak pernah nyenyak. Ia harus menghafal setiap sudut pipa air, sirkuit listrik, dan jalur evakuasi secara manual. Matanya kini tidak lagi memproses data digital, melainkan bayangan kelelahan yang nyata—lingkaran hitam di bawah mata yang menjadi bukti perjuangan seorang manusia.

"Semua stok kerajinan dari Kelompok Ibu Tani sudah masuk ke gudang sementara di lantai satu, Arka," Sarah menghampirinya, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. "Mereka sangat antusias. Bagi mereka, ini bukan sekadar mal, ini adalah harapan terakhir setelah Wijaya Group menggusur pasar mereka."

Arka menatap Sarah. Wajah wanita itu tampak lebih hidup di sini, di antara tumpukan barang dagangan, daripada saat ia berdiri di pesta-pesta mewah Rian Wijaya. "Pastikan sistem pembayaran manual kita siap. Jika server pusat belum stabil, kita gunakan pencatatan fisik. Jangan sampai ada satu rupiah pun milik pedagang yang hilang."

"Aku tahu. Aku akan menjaganya," jawab Sarah yakin.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang mengganjal di ulu hati Arka. Tanpa *Mode Analisis*, ia kehilangan kemampuannya untuk mendeteksi bahaya sebelum terjadi. Ia hanya memiliki insting—insting seorang kurir yang tahu bahwa jalanan yang terlalu tenang biasanya menyimpan lubang yang dalam.

---

Di luar gedung, di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di sudut gelap jalanan, Rian Wijaya menatap Skyview dengan mata yang merah karena amarah dan pengaruh alkohol. Ia baru saja bebas bersyarat berkat pengaruh ayahnya yang masih tersisa, namun kebebasan itu terasa seperti penjara. Namanya hancur, hartanya dibekukan, dan wanita yang ia anggap miliknya—Sarah—kini berada di sisi pria yang dulu ia injak-injak seperti debu.

"Kau lihat itu?" desis Rian kepada seorang pria berwajah sangar di sampingnya yang memegang jerigen bensin. "Si kurir sampah itu sedang mencoba membangun istana di atas kegagalanku."

"Apa perintah Anda, Tuan Muda?"

Rian meremas botol wiski di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Hancurkan. Jangan biarkan ada satu pun kain atau kayu yang tersisa besok pagi. Jika dia ingin membangun dari nol, beri dia abu sebagai modalnya."

Rian teringat tamparan ayahnya tempo hari. *"Kau mempermalukan nama Wijaya karena kalah dari seorang gelandangan!"* Suara itu terngiang-ngiang, membakar sisa-sisa kewarasannya. Rian merasa ia harus membuktikan diri. Jika ia tidak bisa memiliki Skyview, maka tidak boleh ada orang lain yang memilikinya.

---

Pukul dua pagi. Seluruh pekerja dan pedagang sudah pulang untuk beristirahat sebelum pembukaan besar di pagi hari. Hanya Arka yang masih tinggal, duduk di kursi lipat di tengah lobi, ditemani sebuah lampu senter dan botol air mineral.

Tiba-tiba, telinga Arka menangkap suara gesekan halus dari arah pintu pembuangan sampah di bagian belakang. Arka berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia meraba sakunya, mencari bros perak itu—pegangan mentalnya saat ia merasa tidak berdaya.

"Siapa di sana?" teriak Arka. Suaranya bergema di ruangan kosong yang luas itu.

Tidak ada jawaban. Namun, bau tajam bensin mulai merayap masuk ke dalam lobi.

Arka berlari menuju gudang logistik. Di sana, ia melihat bayangan seseorang sedang menyiramkan cairan ke tumpukan kain tenun dan rak-rak kayu yang baru saja ditata. Orang itu menyalakan korek api.

"HENTIKAN!" Arka menerjang.

Tanpa Sistem yang memprediksi arah gerakan lawan, Arka terkena pukulan telak di rahangnya. Ia tersungkur, rasa asin darah memenuhi mulutnya. Api mulai menjilat ujung kain tenun, membesar dengan cepat karena bahan kayu yang kering.

"Arka... Arka..." sebuah suara tawa yang sangat ia kenali terdengar dari kegelapan. Rian Wijaya melangkah masuk, memegang pemantik api perak yang berkilat. "Kau pikir kau bisa menang melawanku? Kau hanya kurir, Arka. Tempatmu adalah di bawah kakiku, mencium aspal."

Arka terbatuk, mencoba berdiri meski kepalanya berdenyut hebat. Ia menatap api yang mulai merayap naik ke langit-langit. "Rian... orang-orang di sini... mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk barang-barang itu. Kau tidak hanya menghancurkan bisnisku, kau membunuh harapan mereka."

"Harapan orang miskin tidak ada harganya!" teriak Rian gila.

---

Arka tidak lagi menunggu. Ia menerjang Rian dengan kemarahan yang murni manusiawi. Tanpa *Analisis Saraf*, gerakannya berantakan, namun penuh dengan tenaga yang lahir dari keputusasaan. Mereka bergulingan di lantai yang panas, di tengah asap hitam yang mulai menyesakkan dada.

Arka merasakan panas api membakar lengannya, namun rasa perih itu justru membuatnya terjaga. Ia teringat masa-masa ia harus mengantar paket di tengah badai hanya untuk uang sepuluh ribu rupiah. Ia teringat tatapan rendah diri para pedagang kecil saat mereka diusir dari ruko-ruko milik Wijaya.

"Ini... untuk mereka!" Arka menghantamkan tinjunya ke wajah Rian.

Rian terlempar ke arah tumpukan kayu yang terbakar. Ia berteriak ketakutan saat melihat api menyambar ujung pakaian mahalnya. Arka, alih-alih melarikan diri, justru menyambar alat pemadam api ringan (APAR) yang ada di dinding—yang lokasinya sudah ia hafal luar kepala tanpa bantuan Sistem.

*Sssshhhhh!*

Kabut putih menyembur, memadamkan api yang nyaris melahap gudang utama. Arka bekerja seperti orang kesetanan, terus menyemprot hingga api mengecil. Napasnya tersengal, paru-parunya terasa terbakar karena asap.

Rian merangkak keluar dari gudang, wajahnya penuh jelaga dan ketakutan. Ia melihat Arka yang berdiri di tengah asap, tampak seperti hantu yang menolak untuk mati.

"Pergi, Rian," ucap Arka dingin, suaranya parau. "Jika kau tidak pergi sekarang, aku akan memastikan kau membusuk di penjara bukan karena penipuan, tapi karena percobaan pembunuhan. Dan kali ini, ayahmu tidak akan bisa menyelamatkanmu."

Rian melarikan diri ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kehormatannya yang sudah hangus di lantai mal yang kotor.

---

Beberapa jam kemudian, matahari mulai terbit di ufuk timur Tanjungbalai. Sarah dan beberapa kurir senior tiba di mal dan terperanjat melihat Arka yang terduduk lemas di depan gudang yang menghitam sebagian. Bajunya robek, wajahnya penuh luka, dan tangannya bergetar hebat.

"Arka! Ya Tuhan, apa yang terjadi?" Sarah memeluknya erat, air mata mengalir melihat kondisi Arka.

Arka hanya menunjuk ke arah tumpukan barang dagangan yang berhasil diselamatkan. "Hanya... hanya sebagian kecil yang terbakar. Kita masih bisa buka hari ini."

"Kita harus ke rumah sakit," Sarah mendesak.

"Tidak," Arka berdiri dengan bantuan Bang Jago. "Hari ini adalah hari pembukaan. Aku tidak akan membiarkan Rian menang dengan melihat mal ini tutup."

Pukul sembilan pagi, pintu Skyview Mall resmi dibuka. Tidak ada pita merah yang dipotong oleh pejabat. Arka berdiri di pintu masuk, menyalami satu per satu pedagang dan pengunjung yang datang. Tangannya yang terbakar ia sembunyikan di balik saku.

Elina Clarissa tiba satu jam kemudian. Ia berjalan masuk, menatap bekas jelaga yang coba ditutupi dengan kain dekoratif oleh para kurir. Ia menatap Arka yang berdiri tegak meskipun tubuhnya tampak rapuh.

"Hendra memberitahuku bahwa Rian melakukan sesuatu yang bodoh semalam," Elina berbisik saat berdiri di samping Arka. "Kau hampir kehilangan semuanya, Arka."

Arka menoleh ke arah Elina. "Aku tidak kehilangan apa-apa, Elina. Aku justru baru saja memenangkan sesuatu yang lebih berharga daripada gedung ini."

"Apa itu?"

"Keberanian untuk bertarung sebagai manusia," Arka tersenyum tipis. "Sistem mungkin memberiku otak untuk menang, tapi api semalam memberiku nyali untuk bertahan."

Elina terdiam, menatap kerumunan orang yang mulai memenuhi pasar kreatif di lantai dasar. Untuk pertama kalinya, ia melihat Skyview bukan sebagai aset yang harus diperas, melainkan sebagai organisme yang hidup. Dan di jantungnya, ada seorang pria yang tidak lagi butuh 'otak AI' untuk menjadi seorang pemimpin.

Arka Pramudya telah membuktikan: harga diri tidak dibangun di atas angka-angka yang berkilau, melainkan di atas abu yang berhasil ia padamkan dengan tangannya sendiri.

---

1
marsellhayon
ceritanya menarik,melawan sistem.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.
variable of ancient
banyak cingcong di kepalanya
variable of ancient
lama banget anjg
Manusia Biasa
Konsep Sistemnya menarik thor🫣
adib
banyak pengulangan... tolong dikoreksi lagi
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Cut Founna: siap💪
total 1 replies
Cut Founna
iya kaka, maaf ya🙏 belum lulus review
Wega Luna
ini cerita nya diganti kah Thor , perasaan kemarin GK gini deh
Cut Founna: iya kak, maaf ya🙏 Belum lulus review kemaren
total 1 replies
Naga Hitam
"ayo sayang....."
Loorney
Pasar langsung kacau nih kalau ada yang begini, 100% terlalu gede.
Dewiendahsetiowati
Sarah sama Adrian tadi kan naik mobil pergi dari sana to
Cut Founna: Halo Kak Dewi! Makasih banyak ya masukannya, sangat membantu Fonna memperbaiki cerita ini. 🙏 Fonna baru saja merevisi Bab 1 dan Bab 2 supaya alurnya lebih nyambung. Ternyata Sarah dan Adrian nggak langsung pergi, tapi mereka sombong mau pamer kamar suite dulu. Yuk, dibaca ulang revisinya, dijamin lebih greget! 🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Wega Luna
setuju, biar tahu rasanya di rendah kan ,untung 2 tobat , setidaknya sadar diri GK mengharapkan mantanya🤣🤣🤣🤣
Wega Luna
ehm dibuang sih,,,dia sejak awal bohong ,dia dapat transfer an terus ,
BaekTae Byun
Mending nanti aja thor cinta cinta an mah kan baru mulai move on kalau bisa nikmatin dulu waktu sendiri thor
Wega Luna
🙀 semangat
Jack Strom
Itu tergantung Sarah-nya Thor, kalau dia masih originil ya boleh sih baikan kembali sama Arka, tapi kalau sudah dol... ya jangan lah... 🤭😁😂🤣😛
Jack Strom
Seandainya Arka-nya jadi kaya pelan², tahap demi tahap, mungkin cerita ini lebih seru... 🙂😁😛
Jack Strom: Baik, tak tunggu ya Om... 🤭😁😁😛😛
total 2 replies
iky__
3 bab perhari thor
iky__
tes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!