NovelToon NovelToon
" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

" LEPAS DARI CENGKRAMAN LUCIFER "

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Misteri
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: Gans March

Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis untuk rasa yang tumbuh

Motor hitam besar itu melesat membelah angin malam yang menusuk tulang. Di belakang, Laura mencengkeram jaket kulit Marco erat-erat, sementara air mata sisa ketakutan di rumah tadi mengering tertiup angin. Di bawah sinar rembulan yang pucat, jalanan raya tampak seperti pita perak yang tak berujung.

Setelah menjauh beberapa kilometer dari batas kota, Marco memperlambat motornya di sebuah area persinggahan yang sepi, di bawah rimbun pohon-pohon tua yang menjulang. Ia mematikan mesin, namun tidak turun dari motor. Hening sesaat, hanya suara napas mereka yang memburu.

Marco membuka kaca helmnya. Matanya yang gelap berkilat penuh amarah saat ia menoleh ke belakang, menatap Laura yang tampak pucat pasi.

"Di mana botol itu, Laura? Kenapa tanganmu kosong?! Kau punya waktu tujuh hari, dan kau membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja di depan matamu!"

Suara Marco terdengar rendah namun penuh ancaman.

dengan suara bergetar, Laura mencoba mengatur napas"Aku... aku hampir mendapatkannya, Marco. Jarum itu sudah di tanganku. Tapi mereka datang... Mereka muncul secara tiba-tiba."

"Siapa? Keluarga Hardianto?!"

"Bukan. Tim Menara Kota. Sekelompok pendoa itu kembali ke rumah jam dua pagi! Mereka bilang ada 'pintu' yang terbuka. Mereka membawa urapan yang begitu kuat sampai-sampai roh yang merasukiku terpental keluar. Pagar rumah itu... tiba-tiba menjadi api bagi jenis kita."

Mendengar kata "pendoa", Marco memukul setang motornya dengan keras. Ia turun dari motor dan berjalan mondar-mandir, wajahnya memerah karena geram.

"Lagi-lagi mereka! Kelompok pendoa sialan itu! Mereka selalu merasa menjadi penjaga gerbang, mencampuri urusan yang bukan milik mereka. Mereka pikir dengan nyanyian dan syafaat itu mereka bisa terus-menerus menahan kekuatan Black Sabbath?!"

"Mereka seolah tahu aku ada di sana, Marco. Ibu Marta... matanya seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwaku. Aku harus melompat dari jendela sebelum mereka menangkapku di dalam kamar bayi."

Marco mendekati Laura, mencengkeram bahunya dengan kasar

"Kau tahu apa artinya ini? Pimpinan tidak akan peduli soal pendoa atau mukjizat apa pun! Black Sabbath tinggal hitungan jam, dan kita tidak punya persembahan murni. Kau telah mempermalukan aku di depan Elena!"

Laura hanya tertunduk, membiarkan kemarahan Marco meluap. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang aneh karena Gabriel selamat, namun rasa takut akan nasib Oma kini kembali menghantuinya .Marco menarik napas panjang, mencoba menekan amarahnya, namun urat-urat di lehernya masih menonjol.

"Naik ke motor. Kita harus segera kembali ke mansion sebelum matahari terbit. Jangan pikir kau sudah bebas, Laura. Kegagalan ini ada harganya. Jika darah bayi itu tidak bisa kita bawa, maka kau harus bersiap menjadi wadah bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan untuk menebus kesalahanmu pada Lucifer sang pembawa cahaya.

Marco menyalakan mesin motornya dengan kasar. Raungannya memecah keheningan malam, membawa Laura pergi menjauh dari cahaya keluarga Hardianto, kembali menuju kegelapan yang kini terasa lebih mencekam dari sebelumnya.

Sebelum melewati pos penjagaan, Marco mematikan mesin motor di bawah bayangan pohon beringin besar yang menutupi jalan. Ia turun, lalu menyalakan sebatang rokok dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia Menghisap rokok dalam-dalam, suaranya parau

"Dengar, Laura. Jangan katakan sepatah kata pun tentang nuranimu atau keraguanmu semalam. Katakan saja persis seperti tadi: Jaringan Doa Menara Kota melakukan intervensi fisik. Itu adalah faktor eksternal yang tidak bisa kita prediksi."

Suaranya Laura bergetar "Apakah itu akan cukup, Marco? Elena... dia akan tahu aku gagal."

Marco menatap tajam ke arah rumah besar. "Elena adalah urusanku. Aku akan menghadap Pimpinan terlebih dahulu. Aku akan berargumen bahwa kau adalah aset jangka panjang yang terlalu berharga untuk dihancurkan sekarang. Kau masih baru, auramu masih menyesuaikan diri. Kegagalan ini adalah kesalahan instruksiku, bukan ketidakmampuanmu."

Marco mulai mondar-mandir di tanah yang lembap. Pikirannya berputar mencari celah hukum dalam hierarki mereka.

"Aku akan mengusulkan masa percobaan tambahan. Aku akan katakan pada Pimpinan bahwa intervensi pendoa itu adalah bukti bahwa kau memiliki potensi besar, sehingga 'pihak sana' merasa perlu turun tangan secara kolektif. Itu akan membuatmu terlihat seperti ancaman nyata bagi mereka, bukan sekadar kegagalan."

"Tapi ada harganya, Laura. Untuk meluputkanmu dari hukuman mati, aku mungkin harus menyerahkan seluruh upah ritualku bulan ini sebagai jaminan. Dan kau... kau mungkin akan ditandai dengan ritual 'Penyucian Gelap' yang menyakitkan untuk menutup celah cahayamu."

Marco mendekat dan memegang kedua bahu Laura. Untuk pertama kalinya, ada kilatan kemanusiaan yang langka di matanya, sebuah proteksi yang lebih dari sekadar urusan organisasi.

"Jangan menangis di depan mereka. Tunjukkan kemarahan karena tugasmu diganggu oleh para pendoa itu. Biar aku yang bicara. Aku sudah membawamu sejauh ini, aku tidak akan membiarkanmu berakhir di ruang bawah tanah malam ini."

"Kenapa kau melakukan ini, Marco? Kenapa kau mempertaruhkan dirimu untukku?"

Marco membuang puntung rokoknya, suaranya kembali mengeras "Karena aku benci para pendoa itu lebih dari apa pun. Dan karena aku tahu, di bawah semua ketakutanmu ini, kau adalah senjata paling tajam yang pernah kita miliki. Sekarang, tegakkan kepalamu. Kita masuk."

Suasana di aula besar itu mendadak hening setelah cambuk terakhir Elena mendarat di punggung Marco. Suara retakan kulit dan logam itu masih terngiang di telinga Laura, menyayat jantungnya lebih dalam daripada luka fisik mana pun. Begitu Pimpinan dan Elena berlalu meninggalkan ruangan, rantai yang menahan tangan Marco dilepaskan

Marco jatuh bertumpu pada lututnya, napasnya berat dan tersengal. Darah segar merembes melalui kemeja hitamnya yang kini telah koyak. Tanpa memedulikan larangan atau pengawas yang masih berjaga di sudut, Laura berlari kencang.

Ia menjatuhkan dirinya di lantai, berlutut tepat di depan Marco, dan memeluk pria itu dengan sangat erat. Isak tangisnya pecah, memecah kesunyian aula yang dingin.

Laura terisak hebat, wajahnya terbenam di bahu Marco "Maafkan aku... Maafkan aku, Marco. Seharusnya aku yang ada di posisimu. Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau sebodoh itu?!"

Marco Meringis menahan perih, namun tangannya yang gemetar perlahan terangkat untuk mengusap rambut Laura.

"Sudahlah... Ini hanya luka kecil. Setidaknya kau masih bernapas. Jangan menangis... itu membuatmu terlihat lemah di depan mereka."

Laura tidak peduli. Rasa bersalah yang membuncah membuatnya seolah ingin menanggung setengah dari rasa sakit yang dirasakan Marco. Di tengah bau darah dan kemenyan, pelukan itu menjadi satu-satunya hal yang terasa nyata dan manusiawi di coven terkutuk tersebut.

Beberapa hari berlalu. Sesuai perintah Pimpinan, Laura diizinkan keluar dari kamar kecil tempat ia di kurung dan di hukum untuk merawat Marco sebagai bagian dari "penebusan dosanya".

Di sebuah kamar kecil di sudut coven(rumah besar tempat Laura tinggal) cahaya lilin menerangi momen-momen sunyi di antara mereka.

Laura dengan telaten membersihkan luka-luka di punggung Marco menggunakan ramuan herbal yang ia dapatkan dari dapur. Jarinya bergerak sangat lembut, seolah takut menyakiti pria yang biasanya tampak tak terkalahkan itu.

"Kenapa kau selalu melindungiku? Kau tahu ini bisa membunuhmu."

Marco menoleh sedikit, menatap mata Laura yang kini tanpa kacamata.

"Mungkin karena aku melihat diriku yang dulu di matamu, Laura. Sebelum aku menjadi alat bagi organisasi ini. Kau... kau punya sesuatu yang sudah lama hilang dariku."

Tangan Laura terhenti sejenak. Ada keheningan yang berbeda kali ini—bukan keheningan yang mencekam, melainkan getaran halus yang tak terucapkan. Saat mata mereka bertemu, kebencian Laura terhadap dunia gelap ini perlahan bergesekan dengan rasa kagum dan ketergantungan pada pria di depannya.

Keadaan di coven mulai tenang, meskipun ketegangan Black Sabbath masih membayangi. Namun, di dalam kamar itu, atmosfernya telah berubah. Marco yang biasanya dingin dan ketus, mulai menunjukkan sisi rapuhnya hanya di depan Laura. Sebaliknya, Laura mulai merasa bahwa Marco bukan sekadar mentor, melainkan pelindung setianya.

Ada rasa yang tumbuh di antara luka dan darah—sebuah rasa yang berbahaya di dunia mereka, karena cinta adalah kelemahan terbesar bagi seorang pengikut kegelapan

Ketegangan di rumah besar yang menjadi coven bagi para satanis itu,omeningkat seiring dengan semakin dekatnya malam puncak. Di koridor yang gelap, bayangan Elena tampak memanjang, seolah telinganya menempel di setiap dinding kayu. Di dunia ini, cinta adalah pengkhianatan tertinggi. Bagi kaum Satanis, emosi adalah kelemahan, dan pengabdian hanya boleh ditujukan pada Sang Kegelapan.

Terlebih lagi bagi Laura. Ia bukan sekadar anggota biasa; ia adalah Calon Pengantin Iblis yang sedang disucikan. Tubuhnya bukan miliknya, jiwanya telah dijanjikan, dan hatinya seharusnya sudah mati.

Di dalam kamar perawatan yang remang-remang, Marco duduk membelakangi Laura. Luka di punggungnya mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Saat jemari Laura yang gemetar mengoleskan minyak zaitun hitam ke kulitnya, suasana mendadak menjadi sangat berat.

Suaranya rendah, hampir seperti bisikan peringatan.

"Hentikan, Laura. Jangan menatapku seperti itu. Kau tahu apa hukumnya jika Pimpinan melihat kilatan itu di matamu?"

Laura menarik tangannya, suaranya tercekat. "Aku hanya... aku merasa berhutang nyawa padamu, Marco. Apa salah jika aku peduli?"

Marco berbalik dengan cepat, mencengkeram pergelangan tangan Laura, matanya berkilat cemas.

"Sangat salah! Di sini, 'peduli' adalah vonis mati. Kau disiapkan untuk menjadi wadah bagi kekuatan yang lebih tua dari dunia ini. Kau adalah Pengantin-Nya. Jika kau memberikan ruang sedikit saja untuk manusia seperti aku, kau akan dihancurkan tanpa sisa."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Elena berdiri di sana, separuh wajahnya tertutup bayangan. Ia memegang sebuah cawan perak berisi cairan merah pekat.

"Indah sekali... Sebuah drama kasih sayang di tengah sarang serigala. Apakah kalian lupa bahwa dinding ini memiliki mata dan telinga?"

Elena melangkah masuk, menatap Laura dengan tatapan merendahkan.

"Ingat posisimu, Gadis Kecil. Kau sedang dipersiapkan untuk ritual penyatuan. Darahmu harus murni dari keterikatan manusia. Jika kau mencemari dirimu dengan perasaan 'sampah' seperti cinta, kau tidak akan menjadi pengantin... kau hanya akan menjadi bangkai yang dibuang ke dalam tempat penghukuman."

Elena mendekat ke arah Marco, meletakkan ujung jarinya yang dingin di luka Marco yang baru saja dibersihkan Laura.

"Dan kau, Marco... jangan sampai perlindunganmu berubah menjadi kepemilikan. Jangan biarkan Pimpinan tahu bahwa kau mulai 'menyayangi' aset berharga miliknya. Kau tahu apa yang terjadi pada pelayan yang mencoba mencuri milik tuannya?"

Setelah Elena pergi, suasana menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Laura menunduk, air mata yang hampir jatuh ia tahan sekuat tenaga. Ia menyadari bahwa rasa yang mulai tumbuh ini adalah bom waktu.

Setiap kali ia merasa hangat saat berada di dekat Marco, ia justru membahayakan nyawa pria itu. Di sisi lain, Marco harus bersikap lebih dingin dan kasar mulai sekarang untuk menutupi jejak perasaannya dari mata-mata di coven Satanik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!