NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Berdarah

​Angin malam di perbatasan Desa Karang Jati bertiup lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa pembakaran ilalang yang menyesakkan dada. Di sebuah gubuk tua yang berdiri merana di tepian persawahan batas sakral antara peradaban manusia dan keangkeran Hutan Weling , seorang pria duduk gelisah.

​Karno, pria berperawakan gempal dengan kulit legam terbakar matahari, berkali-kali membenahi letak sarungnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada hantu hutan, melainkan karena bayangan sosok wanita yang ditemuinya siang tadi di toko material perbatasan.

​Ratri.

​Nama itu sempat menjadi kutukan sekaligus pemuas nafsu di desa mereka dua tahun lalu. Namun, Ratri yang dilihat Karno tadi siang bukanlah Ratri yang dulu mereka seret ke ladang jagung. Bukan lagi wanita kota yang tampak lemah, kusam karena kemiskinan, dan mudah menangis. Ratri yang tadi siang berdiri di hadapannya adalah jelmaan bidadari yang keluar dari kegelapan. Kulitnya putih bersih seolah bersinar di bawah terik matahari, matanya tajam namun memikat, dan bibirnya merah merekah tanpa perlu banyak polesan.

​Karno menelan ludah. Ia teringat bagaimana Ratri menyetujui ajakannya untuk bertemu malam ini. "Datanglah ke gubuk batas desa, Mas Karno. Kita bicara... atau mungkin lebih dari sekadar bicara," bisik Ratri tadi siang, suaranya halus seperti sutra namun dingin seperti es.

​"Dia pasti masih dendam soal video itu," gumam Karno pada diri sendiri. Ya, Karnolah yang dulu merekam aksi bejat sepuluh pria menggilir Ratri. Karno juga yang menyebarkan rekaman itu hingga Bayu, suami Ratri, kalap dan mengusir istrinya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Tapi melihat kecantikan Ratri sekarang, Karno merasa rasa bersalahnya bisa ditebus dengan satu malam lagi. Ia merasa yakin, Ratri adalah wanita lemah yang bisa ia taklukkan kembali dengan kata-kata manis atau sedikit ancaman jika perlu.

​Langkah kaki yang ringan di atas daun-daun kering memecah lamunan Karno. Dari balik kegelapan barisan pohon jagung yang menjulang tinggi, muncullah sosok wanita itu. Ratri mengenakan kebaya tipis berwarna hitam yang membalut tubuh moleknya dengan sempurna. Rambutnya yang panjang tergerai, menebarkan aroma melati yang menusuk hidung , aroma yang anehnya terasa sangat purba dan magis.

​"Kau datang, Mas," suara Ratri membelah kesunyian malam.

​Karno berdiri dengan kaku. "Ratri... kamu... kamu cantik sekali. Benar-benar beda."

​Ratri melangkah masuk ke dalam gubuk yang hanya diterangi sebuah lampu teplok kecil. Cahaya temaram itu menari-nari di wajahnya, menciptakan bayangan yang aneh di dinding gubuk. "Hidup di kota sebelah memberiku banyak pelajaran, Mas. Termasuk pelajaran tentang bagaimana menghargai kecantikan yang ku punya."

​Karno mendekat, keberaniannya mulai tumbuh. "Aku minta maaf, Ratri. Soal video itu... soal malam itu di ladang ini. Aku khilaf. Kami semua khilaf karena kamu terlalu cantik."

​Ratri tertawa kecil. Suara tawanya terdengar merdu namun ada nada sumbang yang membuat bulu kuduk sedikit meremang. "Khilaf? Sepuluh orang khilaf bersamaan? Itu luar biasa, Mas. Tapi sudahlah, aku sudah tidak ingin membahas masa lalu yang menyakitkan itu. Aku hanya ingin merasakan... apakah laki-laki desa ini masih sehebat dulu."

​Kata-kata itu seperti bensin yang menyambar api di dalam dada Karno. Tanpa membuang waktu, Karno merengkuh tubuh Ratri. Kulit wanita itu terasa sangat dingin, hampir seperti menyentuh mayat yang baru saja dimandikan, namun aromanya begitu memabukkan hingga Karno mengabaikan akal sehatnya.

​Mereka bergumul di atas balai-balai bambu yang berderit. Karno merasa berada di puncak dunia. Belum pernah ia merasakan gairah sehebat ini. Kecantikan Ratri seolah mengisap seluruh kesadarannya. Ia merasa sangat puas, sangat berkuasa, seolah ia adalah raja yang sedang menaklukkan kembali wilayah jajahannya.

​Namun, di tengah puncak kenikmatan yang luar biasa itu, suasana tiba-tiba berubah mencekam.

​Lampu teplok di sudut ruangan tiba-tiba padam, namun ruangan itu tidak sepenuhnya gelap. Ada cahaya kemerahan yang samar keluar dari tubuh Ratri tepatnya dari arah pangkal pahanya.

​Jleb!

​"AAAGHHH!"

​Jeritan Karno tertahan di tenggorokan. Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam pusat kejantanannya. Itu bukan sekadar rasa sakit biasa. Rasanya seolah ada ribuan jarum panas yang menusuk, diikuti oleh sensasi robekan yang brutal. Sesuatu di dalam diri Ratri seolah memiliki nyawa sendiri , sesuatu yang tajam, bergerigi, dan sangat lapar.

​Karno mencoba menarik dirinya mundur, namun tubuhnya kaku, lumpuh total. Ia merasa seperti ada rahang yang kuat sedang mengunyah alat vitalnya dari dalam. Rasa sakit itu mencabik-cabik sarafnya, membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin, namun suaranya hanya keluar berupa rintihan parau yang menyedihkan. Air mata dan keringat dingin bercucuran di wajahnya yang kini pucat pasi.

​Dalam kondisi antara sadar dan tidak, penglihatan Karno mulai berhalusinasi atau mungkin itulah kenyataan yang sebenarnya. Di atas balai-balai itu, sosok Ratri terlihat menghilang. Sebagai gantinya, Karno melihat seekor makhluk mengerikan berjongkok di hadapannya. Makhluk itu menyerupai anjing hutan atau serigala berbulu hitam legam dengan mata merah menyala yang haus darah. Makhluk itu sedang asyik... mengunyah.

​Darah segar berceceran di lantai gubuk. Karno melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana makhluk itu mengoyak-ngoyak daging di antara selangkangannya, melahap habis "kejantanannya" dengan suara kunyahan yang menjijikkan.

​Krak... krak... slruppp...

​"Tidaaakkk... ampung... tolong..." Karno merintih, tubuhnya bergetar hebat.

​Tiba-tiba, ilusi itu buyar. Makhluk itu menghilang, dan Ratri kembali duduk di sana, di pinggir balai-balai. Ia tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ratri merogoh saku kebayanya, mengeluarkan sebatang rokok , dan menyulutnya. Asap rokok yang harum melati mengepul, menutupi bau anyir darah yang memenuhi ruangan.

​Ratri menoleh ke arah Karno yang terkapar tak berdaya dengan celana yang bersimbah darah. Wanita itu tertawa ,kali ini tawa yang penuh dengan kebencian dan kepuasan yang murni.

​"Enak, Mas Karno? Itulah rasanya puncak kenikmatan yang kuberikan," ucap Ratri dingin. Ia menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asapnya tepat ke wajah Karno yang sedang menangis pilu.

​"Kau... kau setan, Ratri! Apa yang kau lakukan padaku?!" tangis Karno pecah. Rasa sakit itu masih ada, membakar setiap jengkal kulitnya.

​Ratri bangkit berdiri. Ia mendekati Karno yang menggeliat kesakitan. Tanpa belas kasihan, Ratri meludah tepat ke luka berdarah di selangkangan Karno. Ia kemudian mengangkat kakinya yang mungil dan menginjak tepat di atas kemaluan Karno yang sudah hancur itu dengan tumitnya.

​"Ughhh!" Karno hampir pingsan karena rasa sakit yang meledak sekali lagi.

​"Ini baru permulaan, Karno," desis Ratri, wajahnya mendekat ke telinga pria itu. "Dulu kalian menggilirku seolah aku bukan manusia. Kalian menginjak harga diriku, suamiku membuangku seperti sampah karena video busukmu itu. Sekarang, giliran aku yang memanen apa yang kalian tanam."

​Ratri menekan kakinya lebih keras, memutar tumitnya di atas luka itu. ​Ratri melangkah mundur, membuang puntung rokoknya ke wajah Karno. "Sampaikan salamku pada teman-temanmu yang lain. Katakan pada mereka... Ratri sudah kembali."

​Kesadaran Karno mulai menipis. Pandangannya menggelap seiring dengan rasa sakit yang terus menghujam. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara tawa Ratri yang menjauh, menyatu dengan suara burung hantu yang bersahutan di Hutan Weling.

_________

​Cahaya matahari pagi yang menusuk lewat celah-celah pepohonan jagung membangunkan Karno. Ia tersentak, nafasnya memburu seolah baru saja lari maraton. Ia merasakan dingin yang luar biasa. Saat ia melihat sekeliling, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di gubuk.

​Ia tergeletak di tengah ladang jagung. Tempat yang sama di mana dua tahun lalu ia dan kawan-kawannya melakukan perbuatan terkutuk itu pada Ratri.

​"Mimpi... itu pasti mimpi buruk," bisik Karno dengan bibir gemetar.

​Ia teringat rasa sakit yang luar biasa semalam. Dengan tangan gemetar, ia meraba celananya. Kering. Tidak ada darah. Ia buru-buru membuka ikatan sarungnya dan memeriksa bagian dalamnya. Kejantanannya masih di sana. Masih utuh secara fisik. Tidak ada luka robek, tidak ada bekas gigi, dan tidak ada pendarahan seperti yang ia lihat dalam "halusinasinya" semalam.

​Karno mengembuskan napas lega yang panjang. "Hanya mimpi... hanya halusinasi karena aku terlalu tegang."

​Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia teringat betapa cantiknya Ratri semalam dan betapa nikmatnya hubungan itu sebelum "mimpi buruk" itu dimulai. Secara naluriah, Karno mencoba membangkitkan gairahnya kembali, membayangkan lekuk tubuh Ratri.

​Namun, sesuatu yang aneh terjadi.

​Tidak ada reaksi. Biasanya, hanya dengan sedikit bayangan saja, "senjatanya" akan bereaksi. Namun sekarang, bagian tubuhnya itu terasa dingin, seperti sepotong daging mati yang hanya menempel di tubuhnya. Ia mencoba meraba, memijat, dan merangsang dirinya sendiri dengan penuh kepanikan.

​Nol. Mati total.

​Karno mulai berkeringat dingin lagi. Ia teringat ucapan Ratri dalam mimpinya: "...mati rasa seumur hidup... memohon kematian tapi tidak akan datang."

​Ia mencoba memejamkan mata dan berkonsentrasi, namun yang muncul di pikirannya justru bayangan makhluk serigala yang sedang mengunyah sesuatu yang kenyal dengan bunyi krak yang nyata. Di saat itulah, Karno menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian.

​Karno jatuh terduduk di antara batang-batang jagung, meratapi nasibnya yang kini lebih hina dari sekadar mati. Di kejauhan, ia seolah mendengar sayup-sayup suara tawa seorang wanita yang terbawa angin pagi, mengingatkannya bahwa pembalasan dendam baru saja dimulai.

​Ini Karya horor terbaruku.. Jangan lupa follow ya biar dapat Update karya- karya ku lainnya , support nya ya ,like komen dan follow nya.

Terimakasih

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!