NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Selesai dari kantin, Quinn dan Vexa jalan berdampingan di koridor sambil masih ngetawain anak-anak yang tadi heboh sendiri.

Tiba-tiba Quinn berhenti.

“Xa, toilet di mana?”

Vexa melirik dari ujung rambut sampai sepatu Quinn.

“Lo mau ke toilet?”

Quinn menghela napas dramatis.

“Iya. Mau touch up bentar, biar gue tetap cetar.”

Vexa mengangkat alis.

“Cetar? Lo tadi aja udah bikin satu kantin silau.”

Quinn menyeringai.

“Itu namanya konsistensi. Cantik itu bukan momen, tapi komitmen.”

“Najis banget kalimat lo,” Vexa berdecak. “Emang apanya yang mau di-touch up?”

Quinn buka tas kecilnya sedikit.

“Lip tint gue mulai pudar. Terus eyeliner gue kayaknya kurang tajam. Masa gue lewat depan kelas IPA terus aura gue redup?”

Vexa tertawa.

“Aura redup katanya. Siapa juga yang merhatiin lo segitunya?”

Quinn berhenti lagi dan menatap Vexa penuh drama.

“Lo bercanda? Tiap gue lewat, minimal ada tiga kepala nengok. Itu belum termasuk yang pura-pura sibuk tapi matanya ngikutin.”

“Delulu.” celetuk Vexa santai.

“Bukan delulu. Itu data lapangan,” balas Quinn cepat. “Gue observasi sendiri.”

Vexa menggeleng sambil senyum-senyum.

“Yaudah, Ratu Observasi. Toiletnya lurus aja, belok kanan, deket tangga darurat.”

Quinn mengangguk.

“Oke. Aman kan? Nggak angker kan?”

“Ngapain juga angker siang bolong?”

“Ya kali aja ada mantan yang belum move on nongkrong di pojokan.” sahut Quinn santai.

Vexa menatapnya curiga.

“Mantan? Siapa dulu nih yang dimaksud?”

Quinn pura-pura nggak dengar.

“Udah, jawab aja. Aman?”

“Aman. Paling cuma anak kelas sebelah yang lagi gosip,” kata Vexa. Lalu ia menyenggol bahu Quinn. “Mau gue temenin?”

Quinn langsung mendengus.

“Nggak perlu. Lo pikir gue anak TK? Ke toilet aja harus ditemenin.”

“Ya kali aja lo kesasar terus nangis nyari gue.”

“Gue tuh punya sense of direction bagus, ya. Otak sama cantik jalan bareng.” kata Quinn sambil nunjuk kepalanya sendiri.

Vexa ngakak.

“Sumpah ya, gue nggak tau harus kagum atau muntah tiap lo ngomong.”

“Dua-duanya boleh,” jawab Quinn tanpa dosa. “Itu efek visual.”

Vexa masih ketawa.

“Yaudah, sana. Jangan lama-lama. Nanti guru masuk.”

Quinn mundur beberapa langkah sambil tetap menghadap Vexa.

“Tenang. Lima menit gue balik dengan level kecantikan upgrade.”

“Upgrade apaan lagi? Lo mau jadi final boss?”

Quinn mengedip.

“Already am.”

Vexa pura-pura hormat.

“Baik, Yang Mulia Cetar.”

Quinn memutar badan dengan gaya berlebihan.

“Jangan kangen.”

“Cepet sana sebelum gue lempar sendal,” balas Vexa.

Quinn tertawa kecil lalu berjalan menyusuri koridor menuju arah yang ditunjuk Vexa. Langkahnya santai, pinggangnya sedikit bergoyang penuh percaya diri.

Sambil berjalan, ia bergumam sendiri,

“Touch up dikit aja. Biar kalau ketemu orang yang nggak siap… makin shock.”

Ia sama sekali tidak sadar, lorong menuju belakang sekolah terasa lebih sepi dari biasanya.

Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut Quinn dari belakang. Ia meronta, jantungnya hampir copot, sampai tubuhnya diseret masuk ke gudang.

BRAK!

Pintu ditutup keras.

Tangan itu terlepas.

Quinn langsung berbalik dan reflek melotot saat melihat siapa yang ada di depannya.

“Ryuga?!”

“Lo apa-apaan sih?! Sakit otak lo ya?!”

Ryuga berdiri di depannya. Wajahnya datar. Matanya tajam tapi… ada sesuatu yang retak di sana.

Tanpa menjawab, ia melangkah maju dan menyudutkan Quinn ke dinding. Satu tangannya menahan di samping kepala Quinn, bukan menyentuh kasar, tapi cukup membuatnya terkurung.

“Kemana lo selama tiga tahun ini, Ra?”

“Bukan urusan lo.”

“Semua tentang lo itu urusan gue,” jawabnya cepat, tegas. “Lo tahu gue nyari lo ke mana-mana? Gue datengin rumah lama lo. Gue tanya ke orang-orang yang bahkan nggak gue kenal. Gue tungguin tiap hari kayak orang bego.”

“Lebay.”

“Gue hampir gila.” Suaranya serak. “Lo pergi tanpa pamit. Tanpa satu kalimat pun. Lo cabut dari hidup gue seenaknya.”

“Gue nggak punya kewajiban jelasin apa pun ke lo.”

“Lo punya,” desis Ryuga. “Karena lo bukan orang asing buat gue.”

Quinn terdiam sepersekian detik.

Ryuga menatapnya lebih dalam.

“Kenapa lo pergi dari hidup gue? Dan sekarang lo balik… lo pikir gue bakal diem aja?”

Quinn memalingkan wajah.

“Lo baik-baik aja tanpa gue.”

“Siapa bilang?”

“Gue." jawab Quinn cepat. "Lagian kan ada Naomi.”

Nama itu membuat rahang Ryuga mengeras.

“Jangan bawa dia.”

“Kenapa? Nggak terima?” sindir Quinn. “Gue liat dia suka tuh sama lo.”

“Dia cuma temen gue, Ra!” bentak Ryuga frustasi.

Quinn terkekeh sinis.

“Temen lo? Terus, apa posisi gue di hidup lo?”

“Posisi lo?” Ryuga menatapnya lekat. “Lo satu-satunya yang gue cari, Ra.”

“Bohong.”

“Gue nggak pernah ngejar cewek lain. Gue nggak pernah nahan orang lain. Tapi lo—” ia mendekat sedikit, tatapannya mengunci, “lo selalu jadi titik lemah gue, Ra.”

Quinn merasakan debar jantungnya sendiri. Tapi ia memaksa wajahnya tetap dingin.

“Gue nggak peduli.”

“Lo peduli.” Suaranya rendah, posesif. “Lo cuma takut.”

“Takut sama apa?”

“Takut ngaku kalau lo juga ngerasa hal yang sama.”

Quinn mendorong dadanya.

“Percaya diri lo kegedean.”

“Bukan percaya diri. Gue cuma tau lo.” Tatapannya turun sebentar ke bibir Quinn lalu kembali ke mata. “Tiga tahun lo hilang nggak bikin gue berhenti.”

Hening menekan.

Akhirnya Quinn berkata tegas,

“Mulai detik ini, jauhin gue!”

Rahang Ryuga langsung mengeras.

“Jauhin lo?” Ia menunduk sedikit, memaksa Quinn menatapnya. “Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?”

Quinn kesal bukan main. Ia mendongak menatap lurus ke mata gelap itu. Mengabaikan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

“Jauhin gue. Gue nggak suka sama lo.”

Sunyi.

Kalimat itu seperti menghantam dada Ryuga.

Ia terdiam beberapa detik.

Lalu… senyum miring muncul di wajahnya.

“Tapi sayangnya,” suaranya rendah dan berat, “gue suka sama lo.”

Quinn terkejut.

“Itu bukan masalah gue.”

“Semua tentang lo masalah gue,” balasnya tanpa ragu. “Lo deket sama cowok lain, gue kesel. Lo ilang tiga tahun, gue hancur. Lo berdiri di depan gue sekarang, gue nggak bisa pura-pura biasa aja.”

“Lo nggak punya hak buat ngatur perasaan gue.”

“Gue nggak ngatur.” Tatapannya tajam. “Gue cuma nggak bakal mundur.”

Quinn mencoba melangkah pergi, tapi Ryuga menghalanginya.

“Lo mau gue jauhin lo?” tanyanya rendah.

“Iya.”

“Bilang satu hal jujur ke gue.” Ia menatapnya dalam. “Tatap gue dan bilang lo nggak pernah ngerasa apa-apa.”

Quinn terdiam.

Beberapa detik yang terasa lama.

Lalu ia mendorong tangannya keras.

“Nggak penting.”

Ryuga berdiri sangat dekat. Terlalu dekat.

Napas mereka hampir beradu.

“Lo masih kabur kalau gue deket,” suara Ryuga rendah, berat.

“Gue nggak kabur. Gue cuma nggak mau deket sama lo,” balas Quinn, berusaha terdengar tenang walau jantungnya berdebar keras.

Ryuga menatapnya lama.

Tatapan yang sama seperti tiga tahun lalu. Tajam. Memaksa.

“Liat gue.” katanya pelan.

“Buat apa?”

“Biar gue tau lo bohong atau nggak.”

Quinn akhirnya menatapnya.

Dan tanpa aba-aba Ryuga menarik tengkuknya, lalu mencium bibirnya.

Sementara tangannya menekan pinggang ramping Quinn, agar lebih dekat dengannya.

Quinn membelalakkan matanya terkejut. Bahkan otaknya sempat nge-blank.

Ia buru-buru mengerjap untuk mengembalikan kesadarannya, kemudian mendorong dada Ryuga agar melepaskan ciumannya.

Tapi tenaganya jelas kalah dari Ryuga.

Bibir Ryuga terus menciumi bibir Quinn.

Ciuman itu bukan kasar.

Tapi penuh emosi yang tertahan tiga tahun.

Rindu. Marah. Ego.

Quinn yang kesal pun menggigit bibir Ryuga.

"Akh..." rintih Ryuga.

Ciuman pun terlepas.

Lalu—

PLAK!

Quinn menampar Ryuga hingga wajah tampan itu tertoleh ke samping.

"Gue benci sama lo!"

Quinn menatapnya dengan wajah merah padam, antara marah dan malu.

Setelah itu ia pun pergi dari sana.

Ryuga menyentuh bibirnya yang sedikit terluka, tatapannya terkunci pada Quinn yang kini hilang di balik pintu.

Pria tampan itu tersenyum tipis.

“Manis.”

...----------------...

Pintu kelas terbuka agak keras.

Quinn masuk dengan langkah sedikit lebih cepat dari biasanya. Wajahnya merah padam—antara marah, kesal, malu… dan masih terbayang kejadian barusan.

Ryuga, sialan!

Ia langsung duduk di bangkunya dan pura-pura sibuk buka buku.

Vexa yang dari tadi main HP langsung menoleh.

Matanya menyipit pelan.

“Kenapa bibir lo?”

Quinn refleks menyentuh bibirnya.

“Hah?” jantungnya langsung loncat. “Kenapa emang?”

Vexa makin mendekat.

“Itu… merah banget. Sama kayak agak bengkak.”

“Oh!” Quinn tertawa kaku. “Ini mungkin karena tadi kebanyakan masukin sambel ke bakso gue.”

Vexa diam. Tatapannya tidak berubah.

“Pedes?” tanyanya datar.

“Iya! Pedes banget. Gue tuh nggak sadar sambelnya kepenuhan. Tau kan gue kalau makan suka barbar?”

“Hmm.”

“Terus mungkin alergi dikit kali ya. Sensitif soalnya bibir gue.” Quinn makin ngawur.

Vexa masih menatapnya seperti detektif yang lagi interogasi saksi utama.

“Masak sih? Perasaan tadi di kantin nggak kayak gini.”

Quinn menelan ludah.

“Oh… mungkin belum kelihatan. Kan efek pedes tuh suka telat. Kayak… delayed reaction.”

“Delayed reaction?” Vexa mengulang pelan.

“Iya, kayak loading gitu.”

“Itu bibir apa WiFi?”

Quinn nyengir kaku.

“Ya pokoknya gitu deh.”

Vexa makin mendekat sampai jarak wajah mereka cuma beberapa senti.

“Quinn…”

“Apa?”

“Kenapa lo gugup?”

“Siapa yang gugup? Gue santai banget.” Quinn langsung duduk tegak terlalu cepat.

Vexa menatapnya dari atas sampai bawah.

“Lo nggak biasanya duduk se-rapi ini.”

“Ya pengen berubah aja. Nggak boleh?”

“Dan lo dari tadi nggak berhenti megang bibir lo.”

Quinn buru-buru nurunin tangannya.

“Reflek!”

Vexa menyipit lagi.

“Lo habis nangis?”

“Enggak!”

“Lo habis marah?”

“…Enggak juga.”

“Lo habis ketemu siapa?”

Pertanyaan itu bikin Quinn kaku sepersekian detik.

“Nggak ketemu siapa-siapa.”

Vexa tersenyum tipis.

“Oke. Kalau gitu gue jujur aja ya.”

“Apa lagi?”

“Bibir lo,” Vexa menunjuk pelan, “kayak bibir orang yang abis ciuman.”

Quinn langsung tersedak udara sendiri.

“YA KAN?!” tuding Vexa.

Satu kelas yang belum terlalu ramai langsung nengok.

“Lo kecilin suara lo!” bisik Quinn panik.

Vexa menyilangkan tangan.

“Gue cuma observasi.”

“Itu observasi ngawur!”

“Serius, Quinn. Bentuknya beda.”

“Bentuknya beda gimana?!”

“Kayak… abis diteken.”

Quinn menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Mukanya makin merah.

“Lo makin mencurigakan tau nggak.”

“Gue nggak habis ciuman sama dia!” Quinn hampir berbisik teriak.

Vexa mengangkat alis.

“Gue belum nyebut lo habis ciuman sama siapa.”

Quinn membeku.

“Eh—”

“Berarti ada dong orangnya?” Vexa menyeringai puas.

“NGGAK ADA!”

“Terus kenapa lo panik?”

“Karena lo fitnah gue!”

“Gue cuma bilang ‘kayak’.”

“Ya jangan bilang gitu!”

“Kenapa? Sensitif banget sih.”

Quinn berdiri setengah dari kursinya.

“Lo kenapa sih lihatin gue gitu?”

“Karena gue ngerasa ada yang lo sembunyiin.”

“Nggak ada!”

Vexa mendekat lagi, menatapnya serius.

“Quinn… lo tadi ke toilet kan?”

“Iya.”

“Toilet atau… gudang belakang?”

Quinn langsung melotot.

“GUDANG BELAKANG?! Ngaco lo!”

“Ya siapa tau lo salah belok.”

“Gue nggak se-ceroboh itu!”

“Terus kenapa muka lo merah kayak kepiting rebus?”

“Karena panas!”

“AC nyala.”

“Karena… karena gue kesel sama lo!”

“Loh kok jadi gue?”

Sebelum Quinn bisa jawab, suara sepatu pantofel terdengar mendekat.

“Selamat siang, anak-anak.”

Pak Bagas—guru matematika masuk ke kelas.

Vexa langsung duduk tegak.

Quinn hampir jatuh terduduk karena lega.

“Buku halaman 47, kita lanjutkan soal kemarin.” kata Pak Bagas.

Quinn cepat-cepat buka buku, pura-pura fokus.

Vexa meliriknya sekali lagi.

Pelan-pelan, ia berbisik,

“Nggak pa-pa. Kalau belum mau cerita sekarang… nanti juga gue bongkar sendiri.”

Quinn menelan ludah.

“Belajar aja, detektif gagal.” bisiknya balik.

Tapi sepanjang pelajaran, tangannya beberapa kali tanpa sadar menyentuh bibirnya.

Dan bayangan wajah Ryuga—terlalu dekat, terlalu nyata—terus muncul di kepalanya.

Vexa yang duduk di sebelahnya cuma tersenyum kecil.

“Fix,” gumamnya pelan.

“Ada yang terjadi.”

...----------------...

Rooftop sekolah.

Angin sore berembus pelan.

Ryuga duduk santai di atas pembatas, satu kaki menekuk, satu kaki menggantung. Senyum tipis terukir di wajahnya. Tangannya tanpa sadar mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka.

Zayden memperhatikan dari tadi.

“Gue boleh nanya sesuatu nggak?” katanya santai.

Ryuga nggak menoleh.

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Penting nggak.”

Keano yang lagi rebahan langsung angkat badan.

“Kalau nggak penting tetep seru sih.”

Elric bersandar di dinding, tangan di saku. Tatapannya datar tapi tajam.

Zayden menunjuk bibir Ryuga.

“Itu kenapa?”

Ryuga menjawab pendek,

“Luka.”

Keano menyipit.

“Ya kita juga bisa lihat. Maksudnya dapet dari mana?”

“Jatuh.” jawab Ryuga enteng.

Zayden langsung ketawa kecil.

“Lo? Jatuh? Dari mana? Dari perasaan?”

Keano langsung ngakak.

“Anjir itu punchline mahal.”

Ryuga melirik tajam.

“Garing.”

Elric akhirnya buka suara.

“Bukan luka tonjokan.”

Semua menoleh ke Elric.

Ia mendekat sedikit, memperhatikan detailnya.

“Itu bukan bekas pukulan.”

Zayden mendekat juga.

“Kayak… digigit.”

Keano langsung berdiri dramatis.

“DIGIGIT?!”

Ryuga berhenti mengusap bibirnya.

Senyum tipis itu muncul lagi.

Zayden langsung menunjuk.

“NAH. Itu senyum apaan?”

“Kenapa?” Ryuga santai.

“Lo jarang senyum kayak gitu.”

Keano menepuk bahu Ryuga.

“Lo habis ketemu siapa?”

Sebelum Ryuga jawab—

Suara lembut masuk.

“Ryuga, bibir kamu kenapa?”

Naomi yang dari tadi duduk agak terpisah, kini berdiri dan mendekat. Wajahnya tenang. Lembut. Tapi matanya fokus pada luka kecil di bibir Ryuga.

Ryuga menoleh sekilas.

“Nggak kenapa-napa.”

Naomi tersenyum tipis.

“Kelihatan kok, luka. Kamu berantem lagi?”

“Nggak.”

“Terus?” Naomi memiringkan kepala sedikit, nada suaranya masih manis.

Keano langsung nyengir.

“Digigit.”

Naomi terdiam sepersekian detik.

“Hah?” suaranya masih lembut, tapi jari-jarinya yang menggenggam rok seragam mengepal tanpa sadar.

Zayden menyenggol Keano.

“Udah, jangan asal.”

“Tapi emang kayak gitu bentuknya.” bela Keano polos.

Elric bicara singkat,

“Dia senyum tadi.”

Semua mata kembali ke Ryuga.

Naomi memperhatikan lebih detail.

“Kenapa kamu senyum, Ryuga?”

Ryuga berdiri perlahan.

“Gue nggak sadar.”

Zayden tertawa kecil.

“Lo sadar banget.”

Keano mendekat lagi.

“Ini pasti cewek.”

Naomi tersenyum, tapi sorot matanya berubah sedikit lebih tajam.

“Cewek?”

Ryuga melirik Keano.

“Berisik.”

“Jawab dong,” Zayden makin penasaran. “Cewek cantik itu ya?”

Kalimat itu bikin suasana berubah tipis.

Naomi langsung menoleh ke Ryuga.

“Cewek cantik?” ulangnya lembut.

Ryuga tidak menjawab.

Keano sadar terlalu jauh.

“Eh… maksudnya—”

Naomi tetap tersenyum.

“Oh… jadi kamu ketemu dia?”

Hening sepersekian detik.

Ryuga menatap lurus ke depan.

“Hm.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi cukup.

Tangan Naomi mengepal lebih kuat, meski wajahnya tetap tenang.

“Senang ya?” tanyanya pelan.

Ryuga tidak ragu.

“Hm.”

Zayden dan Keano saling lirik.

Elric memperhatikan Naomi.

Naomi tertawa kecil, lembut.

“Baguslah. Aku kira kamu udah nggak suka cewek.”

Ryuga menoleh singkat.

“Gue normal.”

Zayden menyilangkan tangan.

“Jadi luka itu?”

Ryuga mengusap sudut bibirnya lagi.

“Konsekuensi.”

“Konsekuensi apa?” tanya Zayden.

“Dia marah.” jawab Ryuga tenang.

Naomi memiringkan kepala.

“Dia… marah sama kamu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Gue cium dia.”

Naomi terdiam dan sorot matanya mengeras.

Kalimat itu seperti hantaman keras di dadanya, membuatnya sesak.

Naomi menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya dengan senyum lembut yang sama.

“Aku harap kamu bisa dapetin dia.”

Zayden bisa merasakan kalimat itu bukan doa—lebih seperti peringatan.

Ryuga hanya berkata pelan,

“Kali ini gue pasti dapetin dia.”

Naomi mengangguk kecil.

“Semoga berhasil.”

Ia berbalik pergi perlahan.

Saat membelakangi mereka, senyumnya menghilang. Tangannya masih mengepal kuat.

"Siapa perempuan itu? Apa mungkin Quinn?"

"Kalau bener... awas kamu Quinn."

Angin kembali berembus.

Dan untuk pertama kalinya, permainannya bukan cuma soal cinta—

tapi juga perang yang belum dimulai.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!