Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dari balik pohon besar, Mingyu memperhatikan dua pria yang sedang bertarung, salah satu dari mereka ada yang memakai topeng, jadi Mingyu tidak bisa melihat seperti apa rupanya, di tambah lagi hanya menggunakan cahaya bulan untuk penerang.
Tang
Wush
Jleb
Ugh,,
Mingyu terkejut saat pedang milik pria bertopeng melayang, dan menancap tepat di pohon tempat dia mengintip.
''Huh, untung saja tidak kena'' gumam Mingyu mengelus dadanya.
Akhirnya Mingyu memilih kembali mengintip pertarungan dua pria di depannya, dan membiarkan pedang di depannya tetap menancap di batang pohon tempat dia bersembunyi.
Sreett
Akhhh
Mingyu meringis saat pria bertopeng yang melawan dengan tangan kosong terkena sabetan pedang di lengannya, dan semakin lama Mingyu memperhatikan pria bertopeng itu sudah mulai kualahan melawan dengan tangan kosong.
''Apa aku bantu saja ya, dari penampilannya dia kelihatannya orang kaya, bisa aku mintain uang nantinya'' gumam Mingyu tersenyum sembari mengetuk ngetuk dagunya dengan jarinya.
Pria bertopeng itu kembali terkena sabetan pedang.
Srettt
''Sialan'' desis pria bertopeng itu, sembari memegang lengannya yang mengeluarkan darah semakin banyak, karna sebelumnya sudah terkena.
''Ha ha ha ha,, lebih baik menyerah lah saja, percuma terus mewalawan, kamu tidak akan pernah bisa mengalahkanku'' ucap pria satunya dengan congkak.
Saat Pria itu melihat si pria bertopeng sudah kehabisan tenaga, dia kembali menyerang dengan mengarahkan pedangnya ke lengan pria bertopeng, tapi belum sempat pedang itu menyentuh, tiba tiba sebuah pisau melayang dan menancap tepat di dada pria itu.
Jeleb
Akhh
Seketika pedang milik Pria itu terlepas dari genggamannya, dan selang beberapa detik pria itu ambruk dengan nafas naik turun.
Sedangkan pria bertopeng itu langsung menggunakan kesempatan itu untuk melawan kembali, dia berdiri dan menghampiri pria itu, lalu menginjak pisau yang menancap di dada pira itu hingga menembus jantungnya.
''Ka,, kamu'' gumam pria itu dan akhirnya mati.
Setelah itu Pria bertopeng itu berbalik dan hendak pergi, namun tiba tiba tubuhnya oleng, Mingyu yang melihatnya langsung berlari dengan cepat, dan menahannya.
''Tuan, anda tidak apa apa?'' tukas Mingyu sembari meletakkan tangan kekar pria bertopeng itu ke pundaknya agar tidak jatuh ke tanah.
''Nona, apa anda barusan yang melemparkan pisau pada pria itu?'' tanya pria bertopeng itu.
''Tentu, memangnya apa ada orang lagi di sini selain saya'' sahut Mingyu sembari mendudukkan pria bertopeng itu di bawah pohon besar tempat dia bersembunyi tadi.
''Tuan, luka di lengan anda lumayan dalam'' ucap Mingyu menatap luka di lengan pria bertopeng itu yang terus mengeluarkan darah.
Pria bertopeng itu hanya menganggukkan kepalanya.
Mingyu lalu beranja pergi meninggalkan pria itu sendirian di bawah pohon, tapi tak lama kemudian dia kembali dengan membawa beberapa lembar daun di tangannya, lalu dia meremat semua daunnya hingga hancur.
''Nona, apa yang sedang anda lakukan?'' tanya Pria bertopeng itu.
''Karna di sini tidak ada obat obatan, sebagai gantinya daun daun ini bisa untuk menghentikan darah di luka anda'' sahut Mingyu.
Mingyu mengambil sapu tangan dari balik bajunya, lalu dengan hati hati dia mengelap darah yang terus keluar dari luka pria itu.
Dan Pria bertopeng itu yang terus memperhatikan Mingyu di buat terkejut, saat cadar yang di pakai Mingyu tersibak oleh hembusan angin.
''Ming,, Mingyu''
Mingyu kaget mendengar pria bertopeng itu memanggil namanya.
''Tuan, anda mengenal saya?'' tanya Mingyu.
Pria bertopeng yang tak lain adalah Pangeran Rong Cheng dia menganggukkan kepalanya, tentu saja dia mengenal Mingyu, walaupun hanya bertemu di saat upacara pernikahan saja, tidak mungkin dia lupa dengan wajah wanita yang dia nikahi sebulan yang lalu.
''Saya hanya pernah bertemu dengan anda sekali'' ucap Pangeran Rong Cheng tanpa mengalihkan tatapannya dari mata bulat milik Lu Mingyu yang sedang serius mengobati lukanya.
''Benarkah?, kapan?, dan dimana?'' tanya Mingyu menatap balik Rong Cheng.
''Saat di pernikahan anda dengan Jendral Rong''
Lu Mingyu langsung berdecak. ''Ck''
''Kenapa Nona?'' tanya Rong Cheng.
''Tidak apa apa, hanya kesal saja kalau teringat dengan suami sialan itu'' jawab Mingyu.
Jendral Rong hampir tersedak ludahnya, saat di katai sialan tepat di depan wajahnya langsung oleh istrinya sendiri.
Ehem
''Nona, apa anda tidak takut dengan Jendral Rong, kalau dia tahu anda mengatainya sialan, pasti beliau akan murka?'' tanya Rong Cheng.
''Cih, aku tidak takut, meskipun dia Jendral sekalipun'' sahut Mingyu santai, membuat Rong Cheng bungkam seketika.
''Tuan lukanya sudah selesai saya balut'' ucap Mingyu, dia membalut luka di lengan Rong Cheng menggunakan ikat rambutnya.
''Terimakasih Nona''
''Sama sama, tapi ini tidak gratis, anda harus membayar saya''
Di balik topengnya Rong Cheng tersenyum geli, lalu dia mengambil beberapa lembar uang kertas dari balik bajunya, dan ia berikan pada Mingyu.
''Ini bayaran untuk anda''
Mingyu tanpa malu malu langsung mengambilnya, dan matanya berbinar saat melihat lembaran uang kertas di tangannya.
''Terimakasih Tuan''
Tapi beberapa saat kemuduan Mingyu di buat kaget, saat pria di depannya tiba tiba memuntahkan darah sangat banyak.
''Tuan, anda kenapa?''
''Orang tadi sudah memberiku racun'' ucap Rong Cheng lirih.
Mingyu buru buru memasukkan lembaran uang kertas itu ke dalam bajunya, lalu dia membantu Rong Cheng untuk bersandar di bawah pohon.
''Tuan, anda tunggu di sini sebentar''
''Nona, anda mau kemana?'' tanya Rong Cheng sembari menahan lengan Mingyu.
''Mencari Kelapa muda''
Mingyu pernah mendengar kalau air kelapa muda bisa menetralisir racun di dalam tubuh, jadi dia ingin mencobanya siapa tahu bisa.
Melihat Rong Cheng diam, Mingyu langsung berlalu pergi mencari pohon kelapa, dan lima belas menit kemudian Mingyu kembali dengan membawa tiga kelapa muda di tangan kanan dan kirinya.
Mingyu langsung membuka kelapa muda itu, lalu dia berikan pada Rong Cheng.
''Tuan, ini cepat di minum''
Rong Cheng dengan patuh meminum air kelapa muda itu langsung dari tempatnya, dan benar saja rasa panas yang tadi membakar paru parunya perlahan memudar.
''Nona, bagaimana cara anda mengambil kelapa ini?'' tanya Rong Cheng penasaran.
''Tentu memanjat pohonnya'' jawab Mingyu membuat Rong Cheng yang kembali meneguk air kelapa muda tersedak.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
''Nona, anda bisa memanjat pohon kelapa?'' tanya Rong Cheng yang masih tidak percaya.
''Hem, benar''
Jangankan pohon kelapa, bahkan di kehidupan pertamanya dia bisa memanjat bangunan lantai lima yang jauh lebih tinggi dari pohon kelapa dengan mudah batin Mingyu.
Rong Cheng seketika kehabisan kata kata, tapi Rong Cheng masih penasaran kenapa rumor yang tersebar di Negara Yan, kalau Lu Mingyu hanyalah gadis bodoh yang tidak memiliki bakat apapun.
Sebenarnya saat pernikahannya itulah pertama kalinya Rong Cheng bertemu dengan Mingyu, selama ini dia hanya mendengar nama Lu Mingyu dari bawahannya, dan Rong Cheng juga tidak pernah perduli, begitupun saat dia tahu kalau sudah di jodohkan dengan Lu Mingyu, dia juga sama sekali tidak menolak, bagi Rong Cheng pernikahannya dengan Mingyu hanya sekedar formalitas saja, jadi dia tidak begitu mempermasalahkannya, walaupun wanita yang menjadi istrinya tidak memiliki kelebihan apapun.
Tapi sepertinya sekarang pandangannya tentang pernikahannya dengan Mingyu sedikit berbeda, Rong Cheng ingin mengenal lebih dekat sosok istrinya, memurutnya rumor tentang istrinya tidaklah benar, atau mungkin memang ada yang sengaja menjelekkan nama istrinya.