Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Dita memegang ponselnya erat.
Jantungnya berdetak lagi.
Suara Tama terdengar jelas dari seberang, tenang… tapi tegas.
“Besok masih harus mengurus berkas ke KUA,” katanya lagi. “Masih banyak yang harus diselesaikan.”
Terdengar dengusan kecil dari Bu Diana.
“Astaga, kamu ini… hidup isinya kerja dan urusan saja,” protesnya.
“Ini bukan urusan biasa, Ma.”
“Ya memang! Justru karena itu Mama mau kenal lebih dekat dengan calon menantu Mama.”
Dita yang mendengar percakapan itu hanya bisa diam.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Di satu sisi, ia merasa tersanjung. Tapi di sisi lain… ia juga merasa canggung.
Bu Diana tiba-tiba kembali berbicara ke arah telepon.
“Dita?”
“I-iya, Bu.”
“Jangan dengarkan anak Mama itu. Dia dari kecil memang kaku begitu.”
Dari kejauhan terdengar suara Tama lagi.
“Ma.”
“Kenapa?”
“Teleponnya masih tersambung.”
Bu Diana langsung tertawa kecil.
“Memang sengaja.”
Dita tanpa sadar ikut tersenyum.
Suasana yang tadinya membuatnya tegang perlahan menjadi lebih ringan.
Namun Bu Diana belum selesai.
“Jadi begini saja,” katanya ceria. “Besok Mama tetap datang ke rumahmu.”
Dita berkedip.
“Tapi katanya… harus ke KUA…”
“Iya. Kamu ke KUA sama Tama.”
“Lalu Mama?”
“Mama menyusul.”
Dita terdiam beberapa detik.
Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Tama sekarang—mungkin sedang mengurut pelipisnya.
Benar saja.
Terdengar suara Tama lagi di dekat telepon.
“Ma, itu tidak perlu.”
“Perlu.”
“Kenapa?”
“Karena Mama ingin melihat rumah tempat calon menantu Mama tinggal.”
Tama menghela napas panjang.
Suara napas itu bahkan terdengar sampai ke ponsel.
Dita menahan tawa.
Ada sesuatu yang lucu melihat pria setenang Tama… ternyata juga bisa kewalahan menghadapi ibunya sendiri.
Beberapa detik kemudian, suara Tama terdengar lagi.
Lebih dekat ke telepon.
“Dita?”
“Iya?”
“Maaf kalau Mama merepotkan.”
Dita cepat-cepat menggeleng, walaupun ia sadar Tama tidak bisa melihatnya.
“Tidak, tidak sama sekali.”
“Kalau kamu keberatan—”
“Tidak,” potong Dita cepat.
Ia lalu menurunkan nada suaranya sedikit.
“Saya malah senang.”
Di seberang telepon terdengar suara Bu Diana bersorak kecil.
“Dengar itu?”
Tama tampaknya menyerah.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Suara itu tenang, tapi ada nada pasrah yang samar.
Bu Diana tertawa puas.
“Nah begitu dong.”
Dita menggigit bibir menahan senyum.
Beberapa saat kemudian percakapan mulai mereda.
“Sudah malam,” kata Bu Diana lembut. “Kamu istirahat ya, Dita.”
“Iya, Bu.”
“Besok kita ketemu.”
“Iya…”
Sebelum telepon ditutup, Bu Diana sempat berkata pelan,
“Mama benar-benar senang kamu masuk ke keluarga kami.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa…
Dita merasa dadanya hangat.
Telepon pun akhirnya terputus.
Kamar kembali sunyi.
Hanya suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit.
Dita masih duduk di tepi ranjang.
Ponselnya masih ia pegang.
Beberapa detik… lalu ia menutup wajahnya lagi dengan kedua tangan.
“Ya Tuhan…”
Ia mengerang pelan.
“Hari ini kenapa panjang sekali…”
Pikirannya langsung kembali ke kejadian di halaman rumah tadi.
Wajah Sari yang merah.
Tatapan para tetangga.
Dan…
Kalimatnya sendiri.
“Aku sudah punya calon suami dengan spek tinggi begitu.”
Dita menjatuhkan diri ke kasur.
“Kenapa aku ngomong begitu sih…”
Ia memutar tubuhnya, menatap langit-langit kamar.
Wajahnya masih terasa panas.
Tapi yang membuatnya semakin tidak tenang…
Adalah reaksi Tama.
Pria itu tidak marah.
Tidak juga terlihat tersinggung.
Ia malah… tersenyum.
Senyum kecil yang tenang itu tiba-tiba muncul lagi di ingatan Dita.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Dita segera menepuk pipinya sendiri.
“Stop.”
Ia bergumam pelan.
“Jangan aneh-aneh.”
Namun pikirannya tetap tidak bisa benar-benar diam.