Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Ruang tamu rumah Tama siang itu sebenarnya sangat tenang.
Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, memantul di lantai marmer yang bersih. Di sudut ruangan, kolam ikan kecil berkilau terkena sinar matahari. Beberapa bunga yang ditanam Dita bersama Bu Diana di taman depan terlihat dari balik kaca.
Namun suasana tenang itu rusak oleh satu orang yang sejak lima belas menit terakhir tidak bisa diam.
Tama.
Pria itu berjalan dari ruang tamu ke dapur… lalu kembali lagi ke ruang tamu… lalu berhenti di depan sofa… lalu berjalan lagi.
Langkahnya cepat. Wajahnya tegang.
Di kursi roda dekat meja, Bu Diana memperhatikannya dengan kening berkerut.
“Tama.”
Tidak ada jawaban.
“Tama!”
Tama berhenti dan menoleh.
“Iya, Ma?”
Bu Diana menatapnya tidak percaya.
“Kamu kenapa sih?”
“Aku?”
“Iya kamu.”
Bu Diana menunjuk lantai.
“Dari tadi mondar-mandir kayak satpam yang kehilangan maling.”
Tama menghela napas.
“Ma tadi bilang pusing.”
“Iya.”
“Terus Mama hampir jatuh.”
“Itu karena aku berdiri terlalu cepat.”
“Tapi itu tetap berbahaya.”
Bu Diana menyipitkan mata.
“Yang berbahaya itu kamu.”
Tama mengernyit.
“Apa maksudnya?”
“Kamu bikin aku tambah pusing.”
Ia menunjuk kepala sendiri.
“Dari tadi keliling rumah terus.”
Tama menghela napas lagi, lalu mengambil gelas air di meja.
“Minum dulu, Ma.”
Bu Diana menerima gelas itu, tapi masih memandangnya curiga.
“Ini cuma pusing biasa.”
“Tidak ada pusing biasa.”
“Ada.”
“Tidak ada.”
Bu Diana tertawa pendek.
“Astaga… anakku ini.”
Ia meneguk air lalu meletakkan gelas.
“Sudah, Mama mau ke kamar saja. Istirahat sebentar.”
Tama langsung sigap.
“Iya. Kita ke kamar.”
“Kita?”
“Mama saja.”
Tama mendorong kursi roda menuju kamar.
Bu Diana menghela napas pasrah.
Begitu sampai di kamar, Tama membantu ibunya pindah ke ranjang.
“Ma, baring saja dulu.”
Bu Diana memandang langit-langit kamar dengan ekspresi pasrah.
“Padahal Mama cuma bilang pusing sebentar.”
Tama tidak menjawab.
Ia malah mengambil termometer dari meja kecil.
“Cek suhu dulu.”
Bu Diana memutar mata.
“Tama…”
“Buka mulut.”
“Serius?”
“Serius.”
Bu Diana akhirnya menuruti.
Beberapa detik kemudian termometer berbunyi.
Tama melihat angkanya.
“Normal.”
“Ya tentu saja.”
Tama masih belum terlihat tenang.
Bu Diana menggeleng.
“Kamu ini terlalu heboh.”
Ia hendak menurunkan kaki dari ranjang.
“Mama mau duduk di kursi roda saja. Bosan baring.”
Tama langsung menahan.
“Jangan dulu.”
“Tama.”
“Istirahat dulu.”
“Aku sehat!”
Baru saja Bu Diana hendak turun dari ranjang, terdengar suara langkah tergesa di luar.
Pintu kamar terbuka.
Dita muncul dengan napas sedikit terengah.
“Bu Diana!”
Di belakangnya, Dokter Eros ikut masuk.
Bu Diana langsung terbelalak.
“Lho?!”
Ia melihat Dita… lalu Eros… lalu Tama.
“Kalian ini… kenapa datang semua?”
Dita mendekat cepat.
“Ibu nggak apa-apa?”
“Saya baik-baik saja.”
“Tuan Tama bilang Ibu hampir jatuh.”
Bu Diana langsung menoleh ke arah anaknya.
“Tama!”
Tama sedikit kaku.
“Ma tadi pusing.”
“Sebentar!”
Dita masih terlihat cemas.
“Saya periksa sebentar ya Bu.”
Eros ikut mendekat.
“Kalau boleh saya cek juga.”
Bu Diana memijat pelipisnya.
“Silakan saja kalau itu bisa menenangkan anak saya.”
Eros mulai memeriksa tekanan darahnya.
Sementara Dita berdiri di samping ranjang.
“Ibu masih pusing?”
“Sekarang malah pusing lihat kalian semua.”
Eros tersenyum kecil setelah melihat alat tensi.
“Tekanan darah normal.”
Ia memeriksa nadi.
“Nadi juga bagus.”
Dita terlihat lega.
“Syukurlah.”
Bu Diana langsung menunjuk Tama.
“Dengar itu!”
Tama menghela napas.
“Tapi tadi Mama bilang pusing.”
Bu Diana mendengus.
“Pusing lihat kamu di rumah.”
Dita tidak bisa menahan tawa kecil.
Eros juga tersenyum.
“Kondisi Bu Diana baik.”
Bu Diana menatap Dita.
“Kamu lagi keluar, kan?”
Dita mengangguk.
“Iya Bu…”
“Terus kamu pulang?”
“Tuan Tama menelepon…”
Bu Diana langsung menatap anaknya lagi.
“Tama!”
Tama terlihat sedikit bersalah.
“Ma tadi bilang hampir jatuh.”
“Bukan hampir jatuh! Hampir kesal!”
Dita menunduk menahan senyum.
Suasana kamar jadi sedikit ribut.
Bu Diana mengomeli Tama.
Tama mencoba membela diri.
“Kalau Mama kenapa-kenapa gimana?”
“Tidak akan!”
“Aku cuma khawatir!”
“Berlebihan!”
Eros dan Dita akhirnya saling pandang.
Film mereka jelas sudah lewat.
—
Beberapa saat kemudian…
Teras rumah terasa lebih tenang.
Angin sore bertiup pelan.
Dita duduk di kursi rotan sambil memegang gelas air.
Eros duduk di sebelahnya.
“Maaf ya, Mas,” kata Dita pelan.
Eros tersenyum.
“Karena film?”
Dita mengangguk.
“Sudah setengah jam pasti.”
“Tidak apa-apa.”
“Tapi tadi Mas sudah beli tiket.”
Eros mengangkat bahu santai.
“Bu Diana lebih penting.”
Dita tersenyum kecil.
“Terima kasih, Mas.”
Mereka terdiam sebentar.
Di atas mereka, balkon rumah menghadap tepat ke teras.
Tanpa mereka sadari…
Tama berdiri di sana.
Ia bersandar di pagar balkon sambil melihat halaman.
Awalnya ia hanya ingin mencari udara.
Namun suara dari teras terdengar jelas.
“Mas…”
Tama mengerutkan kening.
Ia melirik ke bawah.
Dita sedang berbicara dengan Eros.
“Mas Eros…”
Tama menghela napas pelan.
Wajahnya sedikit berubah.
“Astaga.”
Ia bergumam pelan.
“Mas?”
Tama menggosok tengkuknya sendiri.
Ada rasa aneh yang tiba-tiba muncul.
Agak jengkel.
Namun ia menahan diri.
Ia tetap berdiri di balkon.
Seolah tidak peduli.
Padahal telinganya jelas menangkap setiap kata.
—
Malam hari.
Rumah sudah kembali sunyi.
Dokter Eros sudah pulang sejak sore.
Bu Diana juga sudah tidur.
Dita baru saja selesai mengecek obat ketika seorang pelayan mendekat.
“Mbak Dita, Tuan Tama memanggil ke ruang kerja.”
Dita sedikit heran.
“Sekarang?”
“Iya.”
Dita berjalan menuju ruang kerja.
Lampu ruangan itu menyala hangat.
Tama duduk di belakang meja besar dengan laptop di depannya.
“Masuk.”
Dita duduk di kursi di depannya.
“Ada apa, Tuan?”
Tama menutup laptopnya.
“Bagaimana Mama?”
“Baik. Tadi sudah tidur.”
Tama mengangguk.
“Bagus.”
Beberapa detik hening.
Lalu ia berkata pelan.
“Aku mau minta maaf.”
Dita terlihat bingung.
“Maaf?”
“Tadi.”
“Karena memanggil kamu pulang.”
Dita tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga khawatir.”
“Tapi kamu jadi tidak nonton film.”
Dita menggeleng.
“Itu tidak masalah.”
Tama pura-pura santai.
“Film apa tadi?”
“Film romantis.”
“Judulnya?”
“Cinta di Dubai.”
Tama mengangguk pelan.
Lalu setelah beberapa detik ia berkata santai.“Kalau begitu… kita tonton saja.”
Dita berkedip.
“Apa… Tuan?”
“Nonton denganku.”
Dita menatapnya tidak percaya.
“Apa? Nonton sama Tuan Tama?”