Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Pertama Kali
Rakash keluar dari mobil yang berhenti di salah satu club yang menjadi langganan Letisha dan Winona.
Rakash menghela nafas dengan memasuki club tersebut. Walau pertama kali datang ke tempat seperti itu tetapi tetap saja Rakash sangat tenang dengan kepala berkeliling mencoba untuk mencari istrinya.
Musik yang keras dan bau alkohol yang sangat menyengat sudah pasti membuat Rakash tidak biasa dengan situasi seperti itu, tetapi tetap saja Rakash berkarismatik dan bahkan banyak wanita penggoda terlihat mencoba untuk mencari perhatiannya dan sayang sekali Rakash tidak tertarik dan bahkan tidak melihat wanita tersebut.
Matanya hanya fokus mencari istrinya dan akhirnya dia temukan ketika sang istri terlihat duduk di meja bar menempelkan wajahnya pada meja tersebut, walau wajahnya tidak terlihat yang tertutupi oleh rambut, tetapi Rakash bisa mengenali wanita tersebut.
Rakash menarik nafas dan membuang perlahan ke depan, Rakash melangkah menghampiri wanita tersebut. Rakash memegang tangan Letisha.
"Lepas jangan menyentuhku!" Letisha terbangun dari tidurnya dengan menepiskan tangan tersebut.
Pandangannya tidak jelas melihat pria di hadapannya sampai akhirnya bisa memastikan bahwa itu adalah Rakash dengan ekspresi mencium sesuatu, mencium bau alkohol yang lebih dekat darinya.
"Kamu minum?" tanya Rakash.
"Sama saja seperti Papa yang selalu memberi tuduhan kepadaku. Manusia di dunia ini hanya bisa saling menjudge," jawab Letisha.
Nada suara dan pergerakan tubuhnya memang sangat berbeda saat dia berbicara dengan Winona, Letisha seolah-olah setengah kesadaran dirinya hilang.
"Ayo pulang!" ajak Rakash.
"Pulang saja sana? Aku tidak sudi pulang bersamamu!" tegas Letisha.
Rakash tetap tenang menghadapi istrinya dan memegang tangan Letisha mencoba untuk menurunkannya dari kursi tersebut.
"Lepaskan aku!"
"Jangan menggangguku!"
"Lepas!"
Letisha memberontak tetapi Rakash tetap saja merangkul bahu istrinya itu dengan menuntun tubuhnya. Sampai akhirnya mereka berhasil keluar dari club tersebut dengan Rakash memasukkan sang istri ke dalam mobil.
"Isss lepaskan aku!"
"Kenapa kau terus memaksaku?"
"Aku tidak ingin diatur dan tidak punya hak untuk melakukan semua itu kepadaku!" Letisha terus marah-marah dan bahkan memukul dada Rakash ketika pria itu sedang memakaikan sabuk pengaman kepadanya.
"Aku bilang jangan menggangguku dan berhenti menggangguku!" mulutnya tidak berhenti mengoceh sampai sabuk pengaman tersebut sudah terpasang dan untunglah Letisha tidak keras kepala dan ingin keluar kembali dari mobil.
Rakash saat ini juga sudah memasuki mobil dan menyetir mobil tersebut dengan kecepatan santai.
"Kau itu sama saja, jahat!" Letisha dalam kesadarannya masih tetap mengumpat dengan penuh kemarahan pada Rakash.
"Aku tidak melakukan plagiat, aku juga tidak mengenal wanita itu dan aku tidak tahu karya dia seperti apa? karya yang aku berikan kepada kamu untuk di seleksi bener-bener adalah hasil karyaku sendiri dan mengapa hasilnya berbeda dengan desain yang aku berikan kepada kamu karena aku berubah pikiran pada saat itu!"
Letisha berusaha untuk menjelaskan semua kepada suaminya. Rakash tidak menggubris sama sekali dan hanya tetap menyetir. Letisha memalingkan wajahnya dengan melihat keluar jendela dan posisi tubuhnya bersandar pada jok mobil.
"Aku sangat membenci pernikahan ini, aku kalah sehingga membuatku harus menikah dengan kamu, aku benar-benar ingin mengakhiri dia melakukan berbicara agar pernikahan ini berakhir. Tetapi semakin lama semua tujuanku berubah. Aku merasa terlindungi dalam pernikahan ini, merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik,"
"Dalam hidupku tidak pernah ada satupun yang membelaku, tidak pernah ada yang memberiku semangat, tidak pernah ada yang mengakui ku hanya kamu menjadi orang pertama yang melakukan hal itu, bisa menghargai ku dan mengakui ku, tapi semua terus dipatahkan kembali, kamu juga sama dengan mereka, menuduhku dengan bukti palsu," Letisha mengeluarkan semua isi hatinya dengan penuh kekecewaan.
Rakash melihat ke arah Letisha yang sejak tadi hanya melihat keluar jendela dengan wajahnya yang sendu. Rakash kesulitan menelan ludah seakan-akan bingung harus mengambil tindakan seperti apa.
Rakash juga melihat bagaimana air mata Letisha jatuh.
"Kapan aku bisa menjadi wanita beruntung? Kapan aku bisa dihargai kembali dan benar-benar dilindungi?" ucapnya.
Tidak ada tanggapan dari Rakash.
Sampai tidak terasa akhirnya mereka sudah sampai di Apartemen. Rakash menonton istrinya itu memasuki Apartemen. Letisha saat ini sudah tidak banyak memberontak lagi dan menurut saja ketika tubuhnya dibantu memasuki kamar.
Walau suara rengekannya masih terdengar begitu manja. Rakash membaringkan Letisha di atas ranjang.
"Kamu istirahatlah!" ucap Rakash.
Letisha tidak mengatakan apapun, Letisha seperti cacing kepanasan. Rakash menarik selimut mencoba untuk menyelimuti Letisha agar bisa tidur dengan tenang dan tidak meraung-raung lagi.
Saat Rakash ingin berdiri tiba-tiba saja tangannya tertarik dan membuat tubuhnya tertarik lebih dekat lagi pada wajah Letisha. Rakash semakin jelas bisa merasakan awal alkohol dari mulut sang istri yang masih tetap tidak mengakui bahwa dia sudah minum.
Wajah cantik Letisha yang tertutupi oleh rambutnya di rapikan oleh Rakash sehingga wajah cantik itu kembali terlihat.
Mata Letisha perlahan terbuka dengan jarak mereka yang sangat dekat dan tatapan mata bertemu.
"Apa tidak pernah terbesit sedikit saja dipikiranmu untuk menyentuhku?" di tengah kesadaran dirinya hilang separuh membuat Letisha masih sempat-sempatnya menggoda suaminya.
Rakash tidak memberi jawaban apapun dan hanya tetap menatap wajah cantik yang ingin dikasihani itu.
"Payah!" ucapnya benar-benar pasrah dengan suaminya yang tidak mungkin melakukan apapun kepadanya.
Letisha baru saja ingin memejamkan mata tetapi terbuka kembali ketika sebuah kecupan hampir di bibir cantiknya.
Letisha kembali memejamkan mata saat Rakash sudah melumat lembut bibirnya. Letisha terhangat dalam ciuman romantis yang diberikan suaminya untuk pertama kali.
Entahlah Letisha menyadari bahwa yang menciumnya saat ini adalah Rakash, atau hanya sekedar setengah sadar dan berpikir bahwa semua itu tidak terjadi. Tetapi gerakan itu bunyi yang begitu lembut sekarang sudah mengalungkan tangannya di leher Rakash karena ingin mendapatkan ciuman yang lebih dalam dan sementara Rakash tidak terlalu buru-buru.
Walau ciuman itu hanya sebentar saja dan kemudian dilepas kembali oleh Rakash dan Letisha ternyata tertidur. Rakash kesulitan menelan ludah, menatap istrinya begitu dalam dan kemudian mencium lembut rekeningnya. Rakash kembali memperbaiki selimut Letisha dan kemudian langsung berdiri dari atas tempat tidur dan membiarkan Letisha istirahat.
*****
Malam sudah terlewatkan dengan cerita singkat. Sinar matahari memancar dari celah-celah jendela kamar Letisha yang ternyata mampu mengganggu tidurnya membuat Letisha mengerutkan dahi.
"Hmmmmm!" Letisha meraung dengan menggerakkan tangannya dan menguap sedikit sembari menutup mulutnya.
"Jam berapa ini?"
Ucapnya mencoba untuk duduk melihat di sekitarnya ternyata sudah berada di kamarnya. Letisha memijat kepalanya yang cukup merasa sakit.
"Siapa yang membawaku pulang?"
"Apa Winona?" Letisha sepertinya tidak mengingat kejadian terakhir sebelum dia tidur.
Letisha mencoba untuk mengingat dan ternyata setelah sahabatnya bertemukan kepadanya, salah seorang pria mengajaknya berbicara dan bahkan menawarkan dirinya untuk minum. Letisha menolak minuman tersebut sampai akhirnya meminum segelas alkohol.
Hanya dengan segelas alkohol mampu membuat dirinya kehilangan setengah kesadaran.
"Astaga! Jadi aku benar-benar minum?" ucapnya ketika ingatannya sudah kembali.
"Lalu siapa yang membawaku pulang?" Letisha ternyata tidak mampu mengingat orang yang membawanya pulang ke rumah dan wajah itu masih samar-samar dan benar-benar mungkin saja Letisha tidak mengingat apapun.
Bersambung.....