Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Aku kerja, Bu. Kadang shift pagi, kadang siang. Capeeek...." Gita sekuat tenaga menekan suaranya selembut mungkin.
Harmi datang ke rumah begitu saja dan protes karena dirinya tidak pernah masak. Pasti Dewa mengadu pada ibunya itu.
"Hanya masak, loh. Masak yang mudah. Dewa itu nggak susah makan, nggak pilih-pilih makanan," sahut Harmi ketus. Perempuan yang memakai tunik hitam dan celana panjang cokelat tua itu membuka kulkas.
Di dalam kulkas, bahkan tidak ada telur satu pun. Hanya ada minuman kemasan. Harmi menahan amarahnya yang sempat meledak-ledak. Berusaha memberikan saran serta nasehat.
"Ibu tahu kamu kerja...." Ditutupnya pintu kulkas.
"Tapi, setidaknya luangkan waktumu untuk menyenangkan hati suami. Cuci dan bersih-bersih bisa memperkerjakan pembantu. Untuk masak kamu yang pegang sendiri," lanjut Harmi.
Bagi Gita, menyenangkan Dewa hanya di atas ranjang. Seminggu bisa empat kali Dewa minta jatah. Terkadang bisa dua ronde. Gita yakin, dengan payudara besar, pinggul ramping, kulit mulus, bisa meluluhkan Dewa Suaminya tidak akan berpaling.
"Masak katering aja, Bu. Aku nggak suka masak," kata Gita yang ingin rasanya mendorong tubuh Harmi keluar dari rumah.
"Perut suamimu juga harus dikenyangkan, bukan hanya perut bagian bawah," tukas Harmi.
"Banyak kok istri-istri yang nggak masak, suami diem saja. Nggak ribut." Gita berani sekali. Amarahnya kembali naik ke ubun-ubun. Tidak suka Harmi yang ikut campur.
"Dan suamimu pulang kerja selalu datang ke rumah, karena tidak ada makanan di rumahnya sendiri," ucap Harmi.
"Mas Dewa aja yang lebay. Sudah, Bu. Aku baru saja pulang. Ingin istirahat." Gita masuk ke kamar. Melempar tasnya ke kasur.
"Jangan salahkan suamimu jika tidak betah di rumah, Gita!" teriak Harmi.
Gita menutup kupingnya menggunakan bantal. Membiarkan Harmi teriak-teriak di luar.
Sepuluh menit kemudian, Gita keluar kamar. Ibu mertuanya sudah pergi. Perempuan itu memesan makanan lewat aplikasi pesan antar. Lebih mudah dan tidak buang-buang energi.
Tidak lama berselang, suaminya pulang lebih cepat. Gita yang tidak sabaran, langsung memarahi Dewa.
"Kamu ngadu ke ibumu kalau aku nggak pernah masak?"
Dewa yang sedang melepas sepatunya yang bertali, menarik napas dalam-dalam. Lalu menjawab.
"Memang kenyataannya begitu, kan? Aku lebih suka masakan rumahan, Git."
"Yaudah, cari pembantu sana. Emak-emak tua yang pintar masak, gaji satu juta setengah," suruh Gita.
"Gampang, kan?"
"Aku ingin kamu yang masak. Pekerjaan lain biar pembantu yang mengerjakan," tutur Dewa.
"Ribet banget sih. Mirip banget dengan ucapan ibumu tadi." Gita mendengus marah.
"Nggak tiap hari harus masak, kadang bisa beli, atau kita makan di luar. Aku nggak minta muluk-muluk, Git. Ingin sarapan masakanmu. Misal nasi goreng, orak arik telur, roti isi, mi goreng...."
"Aku istrimu, bukan koki. Aku akan segera cari pembantu. Biar bisa masak buat sarapan. Ribet, ribet.....!!
"Oke, kalau kamu nggak mau!" balas Dewa, melempar sepatunya yang berat ke dinding.
Gita terduduk di kursi. Ternyata menikah tidak seindah yang dibayangkan. Ibu mertua yang cerewet, suami yang ribut soal makanan. Seandainya punya ibu mertua seperti Sekar yang tampak perhatian dan tutur bahasa yang lembut.
"Mas Dewa, aku pesan makanan. Tolong kamu yang bayar," pinta Gita yang berjalan ke arah kamar mandi.
Dewa keluar rumah, melihat driver ojol yang mengantar makanan menunggu di depan pagar.
****************
"Oh, kalau nggak salah namanya Pak Dewa. Pegawai bank," jelas Celin temannya Ajeng.
Ajeng menyenggol lengan Nara. "Bener kan, dugaanku."
"Emang ada apa?" Celin yang memangku bayi bertanya keheranan.
Ajeng menjelaskan siapa Dewa dan Gita, menyuruh Serin berhati-hati karena bertetangga dengan perempuan murahan.
"Aku nggak kenal istrinya, hanya Pak Dewa ramah menyapa. Istrinya jutek dan sok paling kaya. Itu menurutku." Celin berkata pelan.
Nara memandangi bayi yang teramat mungil itu. Membayangkan punya anak sendiri. Tetapi tanda-tanda kehamilan belum terlihat.
"Kami pulang dulu." Ajeng berpamitan seraya menyelipkan amplop di telapak tangan Celin.
"Makasih loh, Ajeng," ucap Celin.
"Kembali kasih." Ajeng menukas.
"Sampai jumpa, adek bayi." Nara menyempatkan memegang tangan kecil berbalut sarung tangan.
Nara melewati pintu utama, lantas memakai sepatunya. Ajeng masih di dalam karena Celin hendak memberikan kue.
"Jeng, aku pesan taksi ya?!" teriak Nara.
"Ya!"
Nara menundukkan kepalanya, fokus masuk aplikasi taksi. Setelah memesan, dia berteriak lagi.
"Udah, estimasi lima menit lagi!"
"Ya..Ini sedang bungkus kue!"
Nara mendongak, mengedarkan pandangan. Saat melihat ke arah kanan, memperhatikan dua mobil yang terparkir di garasi. Mobil itu memang familiar.
Tukang ojek berhenti di depan pagar rumah Dewa. Nara mengalihkan fokus ke ponsel, mobil taksi yang di pesan terlihat bergerak.
"Ajeng!" panggil Nara.
"Apa kabarnya?"
Nara menghela napas mendengar suara lelaki. "Baik."
"Kenapa? Nggak berani liat aku? Khawatir masih cinta, kah?"
"Ha ha ha, lucu sekali." Nara membalikkan badannya.
"Cinta kau bilang? Ngimpi."
"Oh, aku kira masih cinta." Dewa tersenyum miring.
Nara hampir melangkah mundur saat Dewa berjalan mendekat. Untung saja ada pagar.
"Wahhh... Dewa... ngapain jadi orang pede banget," kata Ajeng yang keluar membawa dua kantong plastik.
"Nara, itu taksinya bukan??"
"Iya." Nara bergegas menuju mobil yang berhenti. Setelah memastikan itu taksi pesanannya, Nara masuk ke dalam mobil disusul Ajeng. Kedua perempuan itu duduk bersebelahan. Ajeng memberikan kantong plastik satunya ke Nara.
"Kok kita malah dikasih kue bagelen dan kerupuk mentah ini," ujar Nara yang membuka kantong plastik.
"Iya, ibunya Celin yang ngasih. Aku kok sebal lihat wajah Dewa. Pingin tak tabok pake sandal," seloroh Ajeng.
"Aku juga pingin nabok. Bisa-bisanya di depan rumah, ada istrinya masih ngerayu. Jijik banget," tukas Nara.
"Kira-kira Gita lihat nggak ya? Khawatir jadi masalah. Nanti kamu kena sasaran salah tuduhan." Ajeng mengesah.
"Eh, tapi Dewa yang salah. Jelas-jelas dia yang agak-agak....." lanjutnya.
"Semoga nggak ada masalah, karena aku nggak mau berurusan dengan mereka." Nara berharap.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di depan kontrakan Nara. Keduanya tertawa, seharusnya masing-masing pesan taksi sendiri. Karena mereka ketemuan di mal. Ajeng pun pulang menggunakan ojek online.
Nara masuk rumah. Meletakkan tas di kasur. Terus melangkah ke dapur, menaruh kantong plastik di meja makan. Nara mengambil jemuran yang sudah kering, dilipat rapi dan dimasukkan ke keranjang sebelum disetrika.
Sempat rebahan sebentar sebelum memasak untuk makan malam. Hanya memasak sedikit, cukup untuk berdua. Nara yang mencuci peralatan memasak tidak menyadari kalau suaminya sudah pulang.
Seperti biasa, suaminya mencantolkan jaket ojol di dinding luar teras belakang. Nara yang melihat sekelebat bayangan Rama cukup terkejut. Kepalanya menoleh ke kanan.
"Jadi ketemu Ajeng?" tanya Rama.
"Jadi, tadi ke mall dan diajak ke rumah temannya yang melahirkan," jelas Nara menaruh wajan teflon di rak kecil sebelum wastafel.
Rama duduk di kursi meja makan, memandangi istrinya yang memakai daster hitam tanpa lengan. Rama mengatakan sempat bertemu dan mengantar ibunya ke bandara.
"Mama nyuruh kita pindah rumah. Beliau mentransfer uang yang cukup banyak," ungkap Rama.
Sekar minta maaf, karena butuh waktu lama bisa tegas. Sempat terombang-ambing dan kecewa karena kelakuan Rama. Setelah ditelisik, ternyata banyak kecurigaan.
"Gimana dengan Mas Rama? Aku sebagai istri ngikut aja," sahut Nara mengelap kedua tangannya.
"Mama juga nyuruh aku berhenti nyanyi di kafe dan ngojek." Rama menghela napas pendek, lalu melanjutkan, "kalau aku mau akan dimodali atau mendapatkan pekerjaan."
Nara duduk di kursi lain, mendengarkan suaminya bicara tentang rencana beli rumah atau membangun dari awal.
"Walaupun rumah kontrakan ini kecil, aku merasa sudah nyaman. Tetapi aku harus memikirkan istriku, juga anakku kelak," kata Rama.
Sekar tadi mengatakan, bagaimana kalau Nara hamil. Terus melahirkan, otomatis akan bertambah satu anggota keluarga.
"Mama memikirkan cucu yang belum hadir." Rama tertawa singkat. "Mungkin kita harus setiap hari bikin...."
"Boleh, siapa takut," tentang Nara, yang kemudian tergelak.
"Hampir setiap hari Mas Rama minta," sindirnya.
Rama mengusap tengkuknya. "Hampir, Nara. Beda dengan setiap hari. Masalah anak, jangan jadi beban ya?" Diraihnya telapak tangan istrinya.
Nara mengangguk. Baru tiga mingguan aktif berhubungan badan, Nara tidak merisaukannya. Beda cerita, kalau sudah berjalan tiga tahun.
"Mama hanya memikirkan ke depannya. Bukan buru-buru minta cucu," ucap Rama.
****************
Radit duduk di kursi roda, memangku bayi mungil dalam balutan selimut. Tangan kanannya mengusap kening Nindy.
Bianca duduk di kursi kayu tepat di sebelah Radit. Memakai celana pendek putih dan kaus yang cukup ketat dengan belahan dada rendah. Sengaja ingin memperlihatkan area yang disukai pria normal.
"Aku ingin mengadakan acara akikahan. Gimana menurut Papa?" Bianca mengubah panggilan menjadi papa.
"Terserah kamu, Bia. Lakukan apa yang kamu inginkan," sahut Radit.
"Nindy sama mama lagi ya...."
Bianca berdiri, sengaja membungkukkan badannya lebih lama di depan Radit. Sengaja membenarkan selimut dulu. Bianca memamerkan belahan dadanya. Ingin tahu, apakah suaminya itu masih bisa on.
"Sini, Sayang. Papa mau istirahat dulu." Bianca menggendong bayinya.
Radit menarik napas dalam-dalam, meminta perawat mengantar ke kamar. Kursi roda itu mulai bergerak saat Radit melihat Nina memasuki halaman belakang. Perempuan itu memang disuruh lebih awal datang.
"Nanti aku yang akan membantumu mandi," ucap Bianca.
"Nggak perlu, Bia. Aku bisa sendiri," sahut Radit yang mulai tidak mengandalkan perawat.
Bianca tidak peduli, ia menyerahkan Nindy ke pengasuhnya. Mengikuti Radit ke kamar. Radit membiarkan Bianca masuk ke kamar mandi. Orie dan Nina disuruh menunggu di luar.
Tubuh Radit tidak seperti dulu, kurusan dan hanya sedikit menyisakan otot-otot kekar. Radit duduk di kursi, di dekat shower.
Bianca menggerakkan shower, menyiram tubuh Radit. Matanya melihat ke bawah. Junior milik suaminya terlihat 'tidur'. Bianca teringat jika itu terbangun, cukup besar dan berurat. Bernostalgia kala masih hangat di atas ranjang.
Ternyata melelahkan mengurus orang sakit, Bianca menghanduki tubuh telanjang Radit. Lalu menyuruh Orie masuk ke kamar mandi.
"Nina, masih betah kerja?" sinis Bianca.
"Masih, Bu
"Panggil aku nyonya, Nina." Bianca menyentuh dagu Nina.
"Baik, Nyonya."
"Ibu mertuaku sepertinya sangat menyukaimu," ucap Bianca.
"Apa kau disuruh memata-matai aku selama Jia ikut si Nyonya besar?"
"Tidak, Nyonya. Saya hanya disuruh datang lebih awal," sahut Nina.
"Aku akan menyingkirkan mu, Nina. Maksudku, aku ingin Orie saja yang bekerja." Bianca tersenyum miring.
"Jangan, Nyonya. Saya butuh pekerjaan," kata Nina, setengah mengiba.
Bianca tidak peduli, menyibakkan rambut seraya melangkah keluar kamar.
Nina hendak menyusul tetapi Orie memanggilnya. Disuruh membereskan handuk dan pakaian kotor.
"Jangan terlalu dirisaukan omongan istriku. Hanya mamaku yang bisa memecat mu," kata Radit.
"Iya, Pak." Nina agak lega mendengarnya.
Sekar tidak langsung pulang, ia bertemu Abra di restoran. Mereka di ruang VIP, menikmati makan malam dan membicarakan langkah selanjutnya.
Abra mengatakan foto itu, foto keluarga. Orang tua yang sudah meninggal, putrinya di adopsi. Tetapi tidak ditemukan jejak siapa yang mengadopsi.
"Saya juga menyelidiki Pak Firdaus dan Bu Karina. Keduanya menikah, mempunyai putri tunggal yakni Bianca. Foto-foto masa kecil Bianca tidak ada, Bu Sekar. Saya hanya bisa menemukan foto di masa remaja."
"Foto di rapot? TK, SD?" Sekar mengiris stik daging.
"Foto di rapot dan ijazah TK SD mirip Bianca. Maksud saya, tidak ada foto waktu ada kegiatan lain. Biasanya kita mengabadikan momen yang penting, misal ulang tahun, ikut lomba," papar Abra.
Sekar makan dengan lahapnya, Bianca memang tidak pernah menunjukkan foto waktu usia SD.
"Saya berencana akan....." Abra mengetik rencananya dan diperlihatkan ke Sekar. Diam-diam mengambil sampel untuk tes DNA Karina, Firdaus, dan Bianca.
"Aku mendadak seperti detektif." Sekar tertawa sendiri.
...****************...
Rama masih bekerja sebagai ojek dan penyanyi kafe sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Dia sedang mengecek rumah di perumahan yang dilihatnya di iklan, ketika mendapatkan pesan masuk.
Foto Nara yang terlihat berdiri tidak jauh dari Dewa, hanya terbatas tembok pagar. Mereka terlihat saling menatap. Foto itu dikirim dari nomor tidak kenal. [Istrimu diam-diam bertemu mantan pacar. Orang lama selalu menang, bukan?]
"Pak Rama, di perumahan ini tidak boleh ada pagar," kata agen property.
"Lingkungan aman dan dikelilingi pagar tinggi, hanya ada satu gerbang untuk masuk dan keluar perumahan."
Rama mengantongi ponsel. Mengatakan akan bicara dulu dengan istrinya.
"Saya akan segera menghubungi Anda, Pak."
"Saya tunggu, Pak Rama."
Rama keluar rumah itu, segera memakai helmnya dan memacu kendaraan roda dua. Pikirannya dipenuhi kenapa Nara tidak cerita bertemu Dewa?
Sesampainya di rumah, tanpa melepas helm, Rama masuk ke dalam rumah. Memanggil nama istrinya.
"Iya, Mas?" Nara keluar dari kamar mandi, punggung tangannya mengusap ujung bibirnya. Wajah Nara sedikit pucat.
Rama memperlihatkan foto yang diterimanya.
"Kapan ketemu Dewa?"
"Dua hari yang lalu, Mas. Rumahnya bersebelahan dengan rumah Celin, temannya Ajeng. Aku nggak cerita karena nggak penting," jelas Nara.
"Dia yang menegurku lebih dulu."
"Kamu balas menyapa?"
"Enggak, Mas. Aku hanya menjawab karena menuduhku masih gagal move on. Udah itu saja. Aku dan Ajeng masuk taksi." Nara menarik napas dalam-dalam.
"Maaf, aku seharusnya cerita."
Rama melepas helm. Menatap istrinya yang terlihat pucat. "Kamu sakit?"
"Enggak. Itu tadi makan batagor kok isi tahunya agak amis," jawab Nara.
"Muntah cukup banyak, Mas. Sekarang udah lega."
Mereka berdua terdiam. Rama masih dikuasai amarah dan cemburu. Terlihat dari ekspresi wajah yang dingin.
"Kalau Mas nggak percaya, bisa tanya Ajeng atau Celin...."
*
*
*
*
*
Udah panjang yaaa. Sepanjang harapan keluarga 🤣🤣
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬