Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Lho, Ranti. Kenapa lo balik lagi?.“Tanya Aruna yang terlihat begitu terkejut mendapati Ranti kembali lagi bersama papanya. Entah apa yang di bawanya, yang jelas di tangannya terdapat kantung kresek yang agak besar.
Tatapan Ranti belum terputus dari sosok peia tampan, jangkung dan dengan tubuh yang cukup atletis dan sekarang berdiri bersisian dengan Aruna. Yang membuat Ranti heran adalah pria itu hanya memakai celana jas hujan dan untuk bagian tubuhnya di pakai Aruna__tentu saja Ranti cukup mengenal Aruna, Aruna itu tidak punya pacar dan tidak dekat dengan pria manapun. Kecuali Rio, itu pun karena Rio nya saja yang kekeuh dan tak mau menyerah, Aruna sendiri mah dingin se dingin es.
Intinya Ranti belum pernah bertemu dengan pria ini.
“Lo mau nyulik Aruna, ya?.“Tanyanya untuk kedua kalinya dan menatap tajam pada Arka. Respon Arka tentu saja mendengus keras. Setampan ini dan sekaya ini, Arka di kira penculik? Oh, yang benar saja?
Aruna menghela nafasnya dalam-dalam. Keadaan makin rumit tatkala Ranti kembali lagi ke dealer dan memergokinya bersama dengan Arka.ck
Tentu tuduhan Ranti tak berdasar, namun sekarang Aruna pun bingung menjelaskan Arka sebagai siapa kepada Ranti.
“Mana ada penculik ganteng.“Sahut Arka dengan menggulirkan kedua matanya jengah dan membuat Ranti mendengus.
“Ada kok.“
“Coba sebutin? Di mana? Kalau ganteng mah, mending jadi aktor ketimbang penculik juga.“
Iya juga sih, tapi Ranti tak mau kalah. Dia pun mencoba membela argumennya.
“Ada kok. Di film.“
Arka kontan melotot ke arah Ranti dan ekspresi wajahnya terlihat begitu seram. Ranti kini meminta bantuan pada sang sahabat Aruna.
“Ranti, kenalin. Ini sepupuku, namanya Arka..“Ucap Aruna seraya menarik sebelah tangan Arka dan mengulurkannya pada Ranti__Arka kontan menoleh dan melotot tak terima saat dirinya di perkenalkan sepupu oleh Aruna.
Aruna memaksa bibirnya tersenyum dan memberi kode lewat tatapan matanya pada Arka. Sambil menghela nafas panjang, Arka pun mengulurkan tangannya dengan terpaksa.
“Arka..“
“Ranti.“
“Gue baru tahu kalau lo punya sepupu lho, Run..“Tukas Ranti yang di jawab dengan anggukan kecil serta senyuman meringis oleh Aruna.
“Ada kok. Cuman gue belum cerita aja.“Ujarnya meyakinkan, padahal boro. Aruna tidak punya sepupu kok.
“Oh ya, tapi kenapa lo balik lagi ke sini, Ran?.“Tanya Aruna penasaran sambil melirik kantung kresek yang ada di tangan Ranti.
Ranti mengacungkan kantung kresek itu seraya tersenyum getir”Tadinya gue khawatir sama lo, eh taunya udah ada sepupu lo yang jemput.“
“Eh iya..hahaha.“Ujar Aruna dengan tawa tak enaknya seraya melirik Arka di sampingnya yang sibuk membersihkan daun yang ada di atas kepalanya akibat angin yang cukup kencang tadi.
“Maaf ya Ran, maaf ya Pa, saya ngerepotin banget, ya?.“
“Gak papa kok.“Sahut bapak Ranti sambil tersenyum hangat, sedang anaknya terlihat mendengus.
“Banget, nget nget, pokoknya lo ngerepotin. Sampai-sampai gak bisa buat gue yang baru sampai rumah tenang.“
“Ranti!.“Tegur bapak dan membuat Aruna terkekeuh pelan, sementara Ranti mengerucutkan bibirnya.
“Apa sih pa? Orang beneran dia ngerepotin banget jadi orang.“
“Iya maaf, nanti gue traktir seblak deh.“Tukas Aruna seraya menerima kantung kresek yang Ranti serahkan, ternyata isinya jas hujan dan tentu saja Aruna begitu terharu di buatnya. Memang sepele dan hanya jas hujan saja, tetapi menurut Aruna. Apa yang di lakukan Ranti sangatlah besar dan berjasa.
“Makasih ya, Ran. Pa. Maaf saya ngerepotin.“
“Enggak papa neng, deket juga tempat neng kerja sama rumah bapak.“Ujar bapak Ranti dan membuat kedua mata Aruna berjaca-kaca karena terharu__rasanya sampai nembus ke dalam hati kebaikan yang Ranti dan bapaknya lakukan untuk Aruna.
“Yaudah deh, karena jas hujan udah di tangan lo. Gue pamit, ya? Soalnya laper, mau makan nih.“
Aruna buru-buru mengelap air mata lalu menganggukan kepalanya. Sebelum Ranti benar-benar pergi, Aruna kembali mengucapkan terimakasih serta tak lupa memeluk tubuh sahabatnya begitu erat.
****
Hujan masih mengguyur kota tempat Aruna tinggal. Hingga membuat wanita itu tak memiliki pilihan lain, selain ikut di bonceng oleh Arka. Oh ya, mereka berdua telah mengenakan jas hujan yang benar sekarang.
“Ckk. Udah belum!.“Tukas Arka dengan sedikit memiringkan wajahnya ke belakang, sudut matanya menatap tepat ke arah Aruna yang masih belum menaiki motor gede miliknya.
Aruna mendengus, tangannya menunjuk motor gede yang di bawa sang suami.
“Coba miringin, gak bisa naik.“Tukasnya dengan nada biasa saja, namun malah terdengar merengek di telinga Arka.
Pantas saja, jadi itu alasannya kenapa wanita di belakangnya tak juga naik. Ckkk! Arka mendengus, meski begitu pria itu memilih untuk turun dari motornya, setelah sebelumnya Arka tak lupa untuk menurunkan standar motornya__Aruna jelas kebingungan melihat Arka turun, namun kebingungan itu malah bertambah tatkala Arka dengan begitu saja dan seolah tanpa beban mengangjat tubuhnya, melihat itu kesadaran segera menerpa Aruna dan wanita itu dengan cepat memukul pundak Arka, membuat pria itu mengaduh kesakitan. Meski begitu posisi Arka masjh dalam mengangkat tubuh Aruna.
“Lepasin mas, apaan sihhh.“Rengek Aruna sambil melihat ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya. Pastinya kalau tertangkap oleh penglihatan orang lain, Aruna benar-benar malu sekali.
Arka mendengus, namun pukulan-pukulan yang Aruna layangkan tentu saja bukan apa-apa untuknya. Sampai tubuh Aruna pun sudah di taruh Arka di jok motor__Aruna sendiri memilih bungkam seraya menundukan kepalanya, ia teramat malu pada Arka. Terutama setelah beberapa menit yang lalu berpikiran yang tidak-tidak, ternyata Arka mengangkat tubuhnya dengan maksud dan tujuan untuk membantunya duduk di motor gedenya.
Malu ih, rasanya ingin kabur aja. Batin Aruna berisik.
“Gak ada yang ketinggalan, kan?.“Tanya Arka sambil melirik ke belakang, Aruna masih bungkam. Jelas wanita itu masjh merasa malu sekali.
Tak ada sahutan dan Arka khawatir kalau sampai Aruna ketiduran, pria itu pun menoleh satu tangannya yang dingin menyentuh paha Aruna dan sukses membuat wanita itu terkejut lalu membuat wanita itu mengangkat wajahnya dan kini sepasang mata itu saling bertatapan agak lama.
“Sorry, saya pikir__.“
“Maaf mas, saya suudzon sama kamu.“Potong Aruna yang ikut minta maaf dan di balas dengusan oleh Arka, Arka kembali memfokuskan kedua matanya ke depan dan memandang lurus, serta Aruna yang mulai sedikit rileks.
“Gak ada yang ketinggalan?.“Arka kembali bertanya.
“Ada, motor saya.“Jawab Aruna yang membuat lagi untuk kesekian kalinya Arka mendengus agak kencang.
“Yaudah, sana. Bawa motor kamu.“
“Enggak, saya mau ikut sama kamu mas.“Jawab Aruna seraya mengambil posisi yang enak duduk di motor gede itu__meski sebetulnya sama sekali tidak enak menurut Aruna. Aruna lebih menyukai motor matic ketimbang motor gede jugs, tapi ya. Ia tak punya pilihan lain sih.
“Yaudah, makanya diem. Duduk yang anteng, serta pegangan yang erat. Karena saya akan ngebut.“Tukas Arka terdengar dengan nada datar seperti biasa__Aruna mengangguk lalu saat motor itu mulai di nyalakan dan benar saja, Arka langsung ngebut dong. Otomatis karena Aruna tak mau membuat tubuhnya jatuh, kedua tangannya berpegang erat sekali pada jas hujan di tubuh Arka.
“Pegangan yang bene, makanya..“Tukas pria itu, sebelah tangannya lalu membenarkan kedua tangan Aruna untuk melingkar erat di pinggangnya__Aruna tak nyaman, dan Aruna ingin melepaskan ikatan itu. Namun sebelum itu terjadi sebelah tangan Arka sudah menahannya.
“Diem Aruna, atau saya turunkan kamu!.“