Mengisahkan seorang Perwira Angkatan Darat bernama Lucas Abner yang sangat mencintai pekerjaannya. Pengabdiannya sebagai seorang tentara tidak bisa di ragukan. Dia bisa berada di korps pasukan khusus karena kelincahannya. Jatuh cinta kepada seorang perempuan yang dia temui dirumah sakit waktu menjengguk sahabatnya. Apakah Lucas bisa memikat hati perempuan itu ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Agenda Liburan di Bali itu selain acara ulang tahun buat mamanya Lucas, Rahel Mony , Lucas juga mau hendak melamar Joy di pantai biar terkesan romantis di depan papa dan mamanya, bahkan cincin lamaran itu sudah dia siapkan. Namun terkendala karena tugas dadakan yang harus dia lakukan sebagai pasukan tim elite khusus.
Sesuai janji mama, beliau mau membuat nasi kuning yang enak dengan lauknya. Pagi - pagi di dapur mama dengan di bantu asisten rumah tangga sudah mulai bekerja dari jam lima subuh tadi. Kebetulan Joy menginap dirumah mereka dan ada Lucas juga anak satu - satunya. Pukul enam pagi Joy bangun, di dapur apa yang disiapkan calon mertuanya sudah mau selesai buat sarapan pagi.
"Selamat pagi ma."
"Selamat pagi anakku." Joy memang sudah diijinkan untuk memanggil orangtua Lucas mama dan papa, sama seperti Lucas. Kedekatan mama dan anak sudah terjalin waktu Joy perna menjadi dokter kontrak di rumah sakit tentara.
"Aku bantu apa ma?"
"Kamu harus bantu menyukai masakan mama seperti dua jagoan mama." Joy tersenyum.
"Kalau itu sudah pasti." Joy langsung memeluk calon mama mertuanya.
Semua sudah bangun. Dan sekarang mereka sedang menimati sarapan yang jarang - jarang dibuat oleh mamanya Lucas. Joy sangat menikmati begitu juga papa dan Lucas sendiri.
"Kamu masih ada satu janji sayang??"
"Janji???"
"Ya , mau masaki aku daging rica - rica."
"Oooh itu. Pasti nanti aku masak ya."
Selesai makan, kami semua bersiap ke gereja. Tentu di jemaat dimana papa dan mama Lucas bertumbuh secara rohani bersama anak laki - laki satu - satunya. Di jemaat ini, tentu Lucas adalah idola remaja - remaja putri, apalagi pekerjaannya sebagai seorang tentara. Lucas jarang sekali beribadah disini.
Ketika kita masuk gereja semua mata memandang kepada Lucas. Namun dengan sikapnya yang cuek dia menggenggam tangan Joy dan masuk bersama - sama mengikuti orang tua mereka.
"Aku tahu, aku idola disini, tetapi kamu adalah kekasihku." Joy tersenyum, dia tahu apa maksud dari perkataan Lucas.
Pulang dari gereja, mereka asik menikmati film yang bertema action, drama dan ada romantisnya di saluran televisi berlangganan. Tiba - tiba, di tengah ketegangan mereka, Lucas berjongkok di hadapan Joy.
"Sayang, aku tahu ini bukan tempat romantis, namun didepan keluargaku setidaknya ada tantangan sedikit buat kamu dan aku. Hari ini aku mau melamarmu. Mau kah kamu menikah denganku Joy Debora??? tentunya Joy kaget dan sedikit malu karena apa yang Lucas lakukan dihadapan keluarganya, Bersamaan dengan kehadiran dokter Beca antienya Lucas. Mereka semua sedikit cemas menunggu jawaban dari Joy.
"Sayang, mau kah kamu menikah denganku??"
"Iya aku mau." Langsung terdengar sorak gembira dari papa dan mama juga dokter Beca. Lucas langsung memakaikan cincin berlian yang dibeli bersama antienya ke jari manis Joy. Langsung memeluknya sangat kuat. Muka Joy sudah merah dan di penuhi air mata.
"Sebenarnya mau di Bali kemarin, namun gagal."
"Tetapi kenapa harus di depan papa dan mama?? Aku malu tahu."
"Ada alasannya sayang. Kalau aku di tolak mereka ini yang harus berperan menyakinkan kamu sampai kamu menerima ku." Mereka tertawa.
"Berarti ngak sia - sia dong nasi kuning yang mama buat hari ini. Buat lamaran tak bermodal anak mama."
"Modalnya besar mama?? Lihat cincin tunangannya mewah banget, Joy seperti aktris."
"Aktris buatku." Semua orang memeluk mereka berdua, termasuk dokter Beca.
"Antie, Lucas lewati nih."
"Ini pilihan hidup antie, nyong. Kamu harus bahagia."
"Sekarang kita keluarga harus melamar Joy pada orangtuanya."
"Mama dan papa harus melamar kamu secara baik - baik sayang. Biar bagaimana pun, beliau itu papamu sayang. Mama mohon maaf."
Mamanya Lucas tahu, sakit hati yang Joy rasakan. Dia memeluk Joy sangat erat. Dulu Joy perna berjanji, untuk tidak mau berhubungan dengan keluarga baru papanya. Namun hatinya tergerak ketika mendengar nasib adiknya, anak dari papa dengan selingkuhannya. Hanna tidak tega, karena dia harus menderita kanker usus. Biar bagaimanapun Erick dan dia adik kakak dari seorang papa yang sama. Dan sekarang kembali Joy harus membiarkan keluarga kekasihnya datang melamar dia kepada papa kandungnya.
Joy Debora, masih terharu dengan kejadian tadi. Dia masih mengamati cincin berlian pemberian Lucas.
"Itu sangat cocok di buat kamu yang cantik dan manis." Joy mengangguk - angguk kepalanya.
"Gimana ya nasibku jika selesai menikah, sementara bulan madu kamu harus pergi mendadak karena tugas. Kasihan deh aku."
"Kenapa pikirannya seperti itu. Pikir itu yang nikmat - nikmat saja. Bagimana bisa bersetubuh denganku merasakan jarum ku yang besar dan panjang ini."
"Dasar otak mesum." Lucas tertawa.
Joy mendapat telepon, bahwa ada pasien yang harus di beri tindakan operasi sekarang, dokter Stev membutuhkan tenaganya. Joy pun meninggalkan Lucas yang sedang manja - manja.
"Aku yang antar sayang."
Dalam perjalanan Lucas mengantar Joy tidak ada yang di bicarakan. Mereka berdua hanya berdiam. Joy tahu, Lucas sedikit kesal, karena dia lagi manja - manja, aku di telepon ada pasien darurat.
"Maaf ya sayang. Kan mau nolong orang??"
"Aku kangen sekali loh sama kamu."
"Selesai operasi, kita bisa bermesraan."
"Benar??? Bisa lebih." Aldy memainkan matanya berkedip - kedip genit.
"Mimpi aja terus sayang. Jangan aneh."
"Hiiih ngak ngerti banget !!!! Aku tunggu sampe operasi selesai."
"Boleh, asal jangan genit."
"Siap bos." Lucas memberi hormat kepada Joy kekasihnya. Sebelum turun dari mobil, Joy yang memberikan ciuman di bibir Lucas. Ini hal pertama Joy melakukan itu. Biasanya Lucas lah yang suka menciumnya duluan. Tentu saja Dia tersenyum. Dia menahan tangan Joy
"Terima kasih sayang. I love you."
"I love you too."
Hanna sudah berada di ruang operasi. Joy sedang menunggu di ruang tunggu rumah sakit sambil menerima telepon dari mamanya. Tentu membahas rencana mereka pergi ke rumah papanya Joy untuk melamarnya. Hampir tiga puluh menit pembicaraan itu berlangsung.
"Pulang ke rumah mama masih mau bahas yang lain soal lamaran ini."
"Ma, adek ngak bisa tidur kalau ngak polo Joy."
"Dasar laki - laki laipose." Papanya sudah tertawa.
"Ingat mama ini turunan."
"Awas jaga batasan, ngak boleh aneh - aneh sampai sah."
Semenjak Joy di sandera, Lucas sangat takut meninggalkanya sendiri di apartemen. Sebisa mungkin dia harus menjaga. Setelah satu jam lebih menunggu, dari kejauhan Lucas melihat bidadarinya, ada senyuman di bibirnya. Joy langsung menghampiri dan memberi pelukan. Dokter Stev yang disambut Bella melihat kemesraan sahabat mereka.
"Apakah dia sudah melupakan dokter Liam??"
"Ngapain di ingat, diakan yang meninggalkan Joy."
"Tenang sayang - tenang."
Bella tidak ikut bersama Stev, Joy dan Liam ke Korea sekolah spesialis. Namun setiap mereka liburan ke Indonesia dan ketempat liburan yang ada mereka selalu jalan berempat. Waktu Bella tahu apa yang diperbuat Liam. Tentu dia marah.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Lucas mencium kepala pacarnya yang bau alkohol.
"Ayo sayang, pulang."
Dua hari kemudian Orangtua Lucas bersama dokter Beca dan Lucas sudah berada di rumah masa kecil Jiy . Mereka datang melamar anak perempuan dari bapak Alfons dan ibu Debora almarhumah. Joy tidak ikut.
Terus terang papanya Joy menangis waktu kami datang melamar anaknya. Penyesalan yang Dia rasakan, sebagai papa dia merasa tidak pantas karena hampir dua puluh tahun lebih dia tidak menjaga dan merawat anak perempuannya itu, bahkan masa depan anaknya tidak dia pikirkan, yang ada di pikirannya adalah kesenangan.
Di rumah itu Erick dan papanya di bantu asisten rumah tangga yang membantu menyiapkan kedatangan keluarga dari pacar Joy.
"Terus terang saya merasa tidak pantas menerima kehormatan ini. Tetapi sebagai papa kandung dari Joy saya menerima lamaran dari keluarganya nak Lucas."
"Kami datang karena kami menghormati pak Alfons, karena bapak adalah orangtua dari menantu kami."
"Maafkan mungkin terasa berbeda lamaran ini. Namun inilah kekurangan saya sebagai papanya Joy. Sampai sekarang Joy mungkin membenci saya, dan itu wajar. Namun anak itu hatinya mulia. Permohonan saya, kepada nak Lucas dan keluarga kiranya bisa mencintai Joy. Karena itu yang tidak bisa saya beri kepadanya sedari dia kecil, sekarang hanya penyesalan yang saya rasakan." Papanya Joy berbicara, sampai menangis. Erick langsung memeluk papanya. Lucas pun berdiri dan memeluk calon papa mertuanya.
Joy sedang mengikuti seminar dokter - dokter spesialis bedah. Dia tidak mengetahui kalau calon mertuanya bersama anaknya dan dokter Beca sedang berada di rumahnya bertemu dengan papa. Erick memberitahu kedatangan mereka. Namun karena kegiatan Joy baru melihat dan membaca pesan pada handphonenya.
Karena baru sepuluh menit yang lalu, Joy langsung pergi ke rumah masa kecilnya. Dia sempat mampir di toko kue membeli beberapa kue. Dalam perjalanan dia menghubungi Erick adiknya.
"Kak Lucas dan keluarga masih ada di rumah."
"Masih kakak."
"Oke sedikit lagi kakak sampai."
Joy tiba di rumahnya, waktu turun dari mobil dia mendengar suara papanya berbicara sambil menangis. dia melewati pintu samping. Dia disambut asisten rumah tangga papanya. Ternyata papa dan adiknya sudah menyiapkan kue.
"Ini kakak Lucas yang bawa kak."
"Terima kasih ya sayang sudah bantu kakak siapkan rumah." Erick langsung memeluk kakaknya. Meskipun mereka tidak seibu.
Lucas ke belakang hendak membantu adiknya. Tetapi dia juga punya perasaan akan kedatangan kekasihnya. Waktu melihat Joy, Lucas langsung menciumnya.
"Sori sayang, tidak beri tahu, takut kamu ngak setuju. Tetapi saya rasa penting memberitahukan niat baik aku kepada papamu."
"Terima kasih. Karena sudah menerima keadaan orang tuaku." Joy memeluk Lucas . Meski pun dia tidak suka, namun ini niat baik, awal sebelum dia dan Lucas berumah tangga. Erick dan asisten rumah tangga papanya melihat dan mendengar semua.