Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan
"Menurut Mas terlalu terbuka." Aku mau tak mau harus jujur mengutarakan pendapatku. Kan, demi kebaikan dia juga.
"Dih! Mas Juna nggak tahu ya, bos bos sekarang tuh lebih suka karyawan yang penampilannya kaya gini."
"Oh ya?" Aku sedikit tercengang.
"Iya."
"Mas malah baru tahu."
"Mas Juna ketinggalan jaman," ejeknya sambil tertawa. Dan aku pun tersenyum untuk mengimbanginya.
Tekkk....
Alana meletakkan sendok dan garpunya ke atas piringnya yang sudah kosong. Ia beranjak berdiri. Ia mencangklong tas-nya yang semula tergeletak di samping tempat duduknya.
"Aku berangkat sekarang ya, Mas," pamit Alana.
"Mau Mas antar?" Aku menawarkan.
"Nggak usah. Mas Juna kan habis ini mau buka klinik." Liliana menolak.
"Terus kamu mau naik apa?"
"Taksi."
"Udah punya ongkosnya. Tunggu Mas akan ambilin uang buat kamu." Aku hampir beranjak.
"Nggak usah, Mas. Aku udah punya uang sendiri, kok."
"Yang bener?"
"Iya."
"Yaudah kalau gitu."
"Aku berangkat ya, Mas."
Alana kembali pamit. Tapi kali ini sambil meraih tanganku. Ia mencium punggung tanganku. Aku sedikit terkejut. Karena bahkan Liliana yang adalah istriku sendiri, tak pernah melakukan itu terhadapku.
"I-iya. Hati-hati ya." Suaraku terbata.
Alana segera pergi. Kini aku pun sendirian di ruang makan ini. Setelah kuhabiskan makananku, aku membereskannya. Aku membawanya ke dapur. Kucuci dan kutata di tempat semula.
Setelah selesai, aku kembali ke kamar. Aku berniat ingin segera mandi. Ingin segera bersiap-siap sebelum jam klinik buka. Aku harus disiplin. Aku tak mau membuat kecewa pasien-pasienku.
Aku masuk ke kamar mandi. Kulepas pakaian yang melekat di tubuhku. Setelah itu, kuguyur tubuhku dengan air hangat. Aku membersihkan diri sambil bersenandung kecil.
Kurang lebih lima belas menitan, kegiatanku pun selesai. Hanya berbalut handuk, aku melenggang keluar dari kamar mandi.
Drrrrrt....
Aku mendengar getaran handphone. Ternyata milikku yang tergeletak di atas meja nakas. Aku berjalan mendekat.
Kulihat sekilas layar handphoneku tanpa menyentuhnya.
Ada pesan dari Ronal, salah satu sahabatku. Aku mengabaikannya. Kupikir, paling dia hanya mengirimiku pesan hal-hal yang tak penting. Atau bahkan, paling dia hanya mengirimiku video de_wasa. Dia selalu melakukan hal-hal random seperti itu. Aku sampai hafal.
Aku berjalan menjauh dari meja nakas. Aku menghampiri lemari pakaianku. Aku mengambil stelan kemeja dan celana katun. Jenis pakaian yang cocok kugunakan untuk bekerja. Aku segera mengenakannya.
Drrrrrt ....
Getaran handphone kembali terdengar.
"Ngapain sih tuh anakkk!"
rutukku menanggapi kelakuan sahabatku. Aku kembali menghampiri meja nakas. Kali ini kuambil handphoneku. Akhirnya aku membuka pesan dari Ronal.
[Jun, aku punya sesuatu buat kamu.] Pesan pertama seperti itu.
[Jun, balas woy!]
Itu pesan yang baru saja.
[Apaan?] Balasanku hanya seperti itu.
[Aku mau nunjukin sesuatu.] Dia garcep membalas pesanku.
[Mau nunjukin apa? Awas kalau video bokep kayak kemarin.] Belum apa-apa aku sudah mengancamnya.
[Bukan.]
[Yaudah, buruan, apaan.]
[Wait.]
Lumayan lama.
Tapi akhirnya...
Drrrrrt....
Pesan Ronal kembali muncul. Ternyata dia mengirimiku sebuah gambar.
Aku pun langsung membukanya. Seketika mataku membulat.
Gambar tersebut adalah gambar Liliana. Ia tengah berada di sebuah restoran. Dan yang membuat da_daku sesak, dia sedang duduk berhadap-hadapan dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang berposisi memunggungi bidikan kamera.
[Semalam aku liat istri kamu di restoran Cempaka. Aku otomatis fotoin dia. Karena dia lagi sama laki-laki. Menurutku, kamu perlu tahu hal ini,] pesan Ronal.