Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Ada apa mencariku, katakan saja,” kata Adrian sambil menepis halus tangan wanita itu.
“Kita sudah lama tidak bertemu,” balas Holdie dengan senyum tenang. “Tentu banyak hal yang ingin aku bicarakan. Bagaimana kalau kita makan bersama? Aku juga ingin mendengar isi hatimu.”
Tangannya terangkat, merapikan dasi Adrian dengan santai.
Adrian menahan gerakan itu sejenak, lalu mundur satu langkah.
“Jessica adalah teman dekatmu,” ucapnya dingin. “Kenapa kau tidak pergi mengunjunginya, malah datang menemuiku?”
Holdie tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis.
“Adrian,” katanya lembut, “bukankah dia sudah selamat? Setelah semuanya selesai, aku akan menjemputnya. Aku menyesal atas apa yang terjadi padanya… tapi setidaknya sekarang dia sudah aman.”
Tatapan Adrian tetap datar.
“Aku masih banyak urusan,” ujarnya singkat. “Selamat tinggal.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi dan mengabaikan Holdie di sana.
Holdie tetap berdiri di tempatnya. Menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.
Perlahan senyumnya terangkat.
“Tampan sekali…” gumamnya pelan. “Dia sama sekali tidak terlihat berubah.” Matanya berbinar.
“Aura itu… pesonanya…” ia menarik napas pelan, seolah menikmati perasaan yang muncul. “Semakin membuatku tidak bisa melepaskannya.”
Ia menyilangkan tangan di depan dada. “Adrian Li…” bisiknya lirih. “Kepulanganku kali ini—”
Senyumnya berubah lebih dalam. “—adalah untuk mendapatkan hatimu.”
***
Keesokan harinya
Pintu kantor Adrian terbuka pelan.
Jaksa Wu masuk dengan wajah serius, diikuti Max di belakangnya. Tidak ada emosi berlebihan—hanya ketegangan yang tertahan.
“Aku sudah menyelesaikan interogasinya,” ucap Jaksa Wu tenang, meletakkan map di atas meja Adrian.
Adrian mengangkat pandangan sekilas. “Hasilnya?”
“JJ Zhou menolak mengaku,” jawabnya singkat. “Dia menyangkal semua pernyataan di sidang. Mengatakan itu hanya ucapan tanpa dasar.”
Max menyilangkan tangan. “Dia juga sangat berhati-hati. Tidak ada celah dari ucapannya.”
Adrian tetap duduk tenang, jemarinya bertaut.
“Wajar,” ucapnya datar.
Jaksa Wu menatapnya. “Wajar?”
“Dia sudah punya waktu untuk mempersiapkan diri,” lanjut Adrian. “Orang seperti itu tidak akan runtuh hanya dengan tekanan biasa.”
Max menghela napas pelan. “Jadi kita tunggu dia mengaku?”
Adrian menggeleng tipis. “Tidak. Kita tidak mengejar pengakuan,” ucapnya tenang. “Kita kumpulkan bukti.”
Jaksa Wu mengangguk pelan.
“Laporan medis sedang dikumpulkan,” katanya. “Kami juga akan periksa kembali timeline di rumah sakit.”
“Bagaimana dengan dokter yang menangani JJ selama ini? Apa katanya?” tanya Adrian pada Max.
Max menarik napas pelan sebelum menjawab. “Dokternya mengatakan JJ memang dalam kondisi koma selama perawatan,” ucapnya serius. “Semua catatan medis mendukung itu.”
Jaksa Wu mengerutkan kening. “Terlalu rapi.”
Max mengangguk. “Iya. Tidak ada satu pun kejanggalan di laporan. Seolah semuanya sudah disusun dengan sangat hati-hati.”
“Tidak mungkin,” ucap Adrian.
Keduanya langsung terdiam.
“Jika dia benar-benar koma,” lanjut Adrian dingin, “maka tidak mungkin ada luka baru di tubuhnya. Tidak mungkin sandalnya kotor. Itu bertentangan dengan kondisi pasien.”
Jaksa Wu menutup map di tangannya. “Berarti ada yang memalsukan laporan.”
Max menatap Adrian. “Atau ada yang sengaja menutupinya.”
Adrian berbalik perlahan.
“Periksa ulang semua yang terlibat,” perintahnya singkat. “Dokter, perawat, hingga staf yang berjaga.”
"Baik," jawab Max.
***
Pintu besi penjara terbuka dengan bunyi berderit pelan.
Jessica melangkah keluar.
Tidak ada borgol lagi di tangannya. Tidak ada penjaga yang menahan langkahnya. Secara hukum—dia sudah bebas.
Namun langkahnya terasa berat. Udara luar menyentuh wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… dia bisa menghirupnya tanpa batas.
Tapi ... dadanya justru terasa sesak.
“Papa…mama." Bibirnya bergetar.
Air mata mulai menggenang, namun ia menahannya mati-matian.
“Ma… maaf…” Suaranya hampir tidak terdengar.
Kakinya melemah.
Jessica berhenti tepat di depan gerbang penjara. Dunia di sekitarnya terasa jauh… sepi… kosong.
“Seandainya aku bisa ingat siapa pelakunya… maka dia pasti sudah dijatuhi hukuman,” gumam Jessica pelan. “Walau sekarang JJ Zhou telah ditahan… hakim masih belum bisa menjatuhkan vonis. Bukti belum cukup… dan aku… tidak mampu mengingat apa yang terjadi malam itu…”
Suaranya melemah di akhir kalimat.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang.
Pintu terbuka.
Holdie turun dengan anggun, sepatu hak tingginya menyentuh tanah dengan suara tegas. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia melangkah mendekat.
“Sudah lama tidak bertemu… teman lama,” ucapnya, nada suaranya terdengar manis—namun kosong.
Jessica mengangkat pandangan. Tatapannya dingin. “Nona Fu… untuk apa kau datang ke sini?” tanyanya datar.
Holdie tersenyum semakin lebar.
“Aku datang untuk menyambutmu,” jawabnya ringan. “Kau sudah bebas… dan dinyatakan tidak bersalah. Sebagai teman lama, bukankah wajar aku datang?”
Jessica menatapnya tanpa ekspresi.
“Atau… kau hanya ingin menertawakanku?” suaranya pelan, tapi tajam.
Holdie tertawa kecil. “Jessica… kenapa kau harus bersikap dingin seperti itu padaku?” ujarnya santai. “Lihat aku sekarang… aku sudah berhasil.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Sementara kau…” lanjutnya, matanya menelusuri Jessica dari atas ke bawah, “dulu adalah nona besar keluarga Zhou… sekarang kembali ke titik terendah.”
Jessica tidak bergerak. Namun jemarinya perlahan mengepal.
“Kedua orang tuamu dibunuh oleh sepupumu sendiri,” lanjut Holdie tanpa belas kasihan. “Kau kehilangan segalanya. Aset keluarga Zhou jatuh ke tangan kakak-kakakmu.”
Ia tersenyum miring. “Apa yang kau miliki sekarang?
“Dan satu lagi…” bisiknya tajam. “Hakim Li yang menangani kasusmu… adalah pria yang menolakmu sepuluh tahun lalu.”
Detik itu juga tatapan Jessica berubah.
“Bagaimana rasanya?” lanjut Holdie pelan, penuh ejekan. “Melihat pria yang kau cintai… menyaksikan dirimu jatuh sehancur ini?”