Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengelabuhi
"Kita mutar-mutar jalan dulu, Paman. Ke mall atau warung terdekat. Biar mereka bingung dengan apa yang akan kita lakukan. Khawatirnya mereka ingin mengetahui tempat tinggal kita. Aku nggak mau nanti keluarga yang jadi sasaran kejahatan," ucap Susan memberikan arahan pada sopir.
"Ke rumah Paman saja, Nona. Jika memang mereka ingin mengetahui tentang alamat rumah dan identitas kalian, tentunya takkan bisa. Rumah Paman terlalu sederhana untuk dijadikan patokan kalian kaya atau tidak. Apalagi kalian di sana juga tidak ada yang mengenal. Jadi mau cari informasi apapun tentang kalian, tidak ada yang bisa memberitahu." ucap sopir bernama Ory itu.
Ide yang bagus,
Sopir itu sudah bekerja dengan Papa Fabio lebih dari 15 tahun. Lebih tepatnya menjadi bodyguard di rumah Papa Fabio. Namun sekarang semua sistem keamanan rumah sudah dihandle menggunakan robot dan alat dari Ronand. Sehingga Paman Ory dipekerjakan sebagai sopir sekaligus penjaga cucu dan cicitnya.
Mobil berbelok arah ke area perumahan sederhana. Mereka yang mengikuti mobil tak bisa masuk area perumahan itu karena bukan penghuninya. Walaupun perumahan sederhana, namun keamanannya sangat baik dan ketat. Mika dan Rachel memantau orang-orang yang mengikuti mereka. Ternyata mereka berhenti di depan pintu masuk area perumahan.
"Ndak bisa masuk meleka. Om oli emang lual biasa," ucap Mika dengan tatapan antusiasnya.
"Orang jahat tidak akan bisa mengikuti kita. Banyak penjaga tak kasat mata di sekitar kita," ucap Rachel dengan santainya.
"Tak kasat mata? Setan?" tanya Mika dengan tatapan polosnya.
"Iya, setan tuyul. Ini yang duduk di samping Onty, salah satu tuyulnya." ucap Rachel membuat Mika melihat ke arah sekitarnya.
Mata Mika langsung memelotot saat mengetahui siapa yang dimaksud tuyul oleh Rachel. Sedangkan Susan dan Paman Ory tertawa melihat bagaimana interaksi keduanya. Ini lah yang disukai oleh Paman Ory saat bekerja di rumah Papa Fabio, ada Rachel dan Mika. Keduanya adalah penghibur dan pencair suasana. Walaupun di rumahnya juga ada anak-anaknya, namun mereka cukup pendiam.
Sembalangan Onty ini,
Ndak jadi teman lah kita,
Emang selama ini kita teman? Enggak ya,
Huaaaa...
Onty boncel ndak mau mengakui Mika sebagai temannya,
Achel, jail banget sih.
Kan benar toh? Dia bukan temanku. Kurcaci cadel itu kan keponakanku,
Tau ah, pusing sama kalian itu.
***
"Itu kah rumahnya?" tanya salah satu orang yang tadi mengikuti Rachel dan Susan. Dia adalah Vito.
Keduanya menatap tak percaya pada area perumahan yang diyakini adalah rumah Susan dan Rachel. Dengan penampilan dua mahasiswi itu dan mobil yang digunakan, sangat aneh jika tinggal di perumahan sederhana. Bahkan mungkin harga mobil yang digunakan Rachel, lebih mahal dibandingkan dengan rumah ini.
"Kaya jomplang banget nggak sih? Apa ini rumah saudaranya kali? Mereka mampir dulu ke sini," tanya temannya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Kio.
"Iya. Mending beli rumah mewah, dibandingkan mobil begitu." ucap Vito sambil menatap Kio dengan tatapan ragu-ragu.
"Udah, ambil foto aja. Kita kan cuma disuruh untuk cari informasi, bukan mengomentari." ucap Kio meminta Vito agar segera mengambil foto rumah dari Rachel dan Susan. Pasalnya Bos mereka tampaknya sudah tidak sabar untuk mendapatkan informasi.
"Tapi aku tetap saja penasaran. Ada yang janggal. Tadi di jalan juga mobil sempat naik kecepatannya, habis itu pelan lagi. Terus sekarang, mobil yang harganya milyaran rupiah punya rumahnya kok begini." ucap Vito sambil menghela nafasnya pelan.
"Kamu bisa lihat rumah di sekitarnya. Kendaraan mereka biasa aja, masih rata-rata lah. Jomplang banget sama punyanya dia. Ini kaya nggak masuk akal," lanjutnya mengatakan kecurigaannya.
Apa jangan-jangan...
Buru-buru Vito mengambil gambar dengan berbagai sudut menggunakan ponselnya. Sepertinya Vito dan Kio menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Setelah selesai dengan urusannya, mereka segera pergi dari sana. Keduanya seakan tahu bahwa mungkin saja Rachel dan Susan merasa tengah diikuti orang tak dikenal. Pasti mereka akan tambah waspada dengan orang di sekitarnya.
Kalau mereka orang kaya, mati lah kita.
Udah jangan dipikirkan. Lagian kita nggak menyakiti mereka kok. Kita hanya cari informasi,
Kayanya nggak cuma kita aja yang penasaran dengan si Rachel itu. Yang bisa membuat ketua BEM dan panitia OSPEK mati kutu,
Cittt...
Eh...
"Turun," ucap seorang pemuda seumuran Rachel dan Susan setelah keluar dari mobilnya. Dia adalah Ronand langsung menghalau motor yang dikendarai oleh Vito dan Kio karena berusaha kabur.
Motor yang dikendarai oleh Vito dan Kio berhenti mendadak karena ada mobil di depan mereka. Terlalu berani, mobil milik Ronand itu sangat mahal. Jika tadi Kio tak bisa mengerem dengan tepat, pasti sudah menabrak mobil di depannya. Keduanya sudah memikirkan sesuatu yaitu ganti rugi puluhan juta. Sedangkan Ronand, tampak tidak merasa bersalah sama sekali.
"Ngapain kamu menghadang motor kita? Kalau sampai terjadi tabrakan kan bahaya," sentak Vito yang kemudian turun dari motor, begitu juga dengan Kio.
"Bodo amat," ucap Ronand dengan tatapan datarnya membuat Vito dan Kio meneguk ludahnya kasar. Apalagi tatapan itu tajam dan dingin.
"Kita tidak mengenalmu. Kita tidak ada urusan denganmu, jadi pergi dari hadapan kami." sentak Kio mencoba berani melawan Ronand.
"Tapi mengenal kembaranku kan?" tanya Ronand dengan nada suara rendahnya. Sudah seperti sebuah ancaman agar keduanya waspada.
"Kembaran? Siapa?" tanya Vito yang sudah gemetaran.
Rachel...
Vito dan Kio memang tidak mengetahui jika Rachel merupakan kembaran Ronand. Orang yang menyuruh mereka juga tidak memberitahukan hal ini. Keduanya melihat mobil yang digunakan oleh Ronand. Harga yang mahal dan hampir sama dengan mobil milik Rachel. Keduanya meneguk ludahnya kasar karena langsung tahu bahwa yang berhadapan dengan mereka sekarang berasal dari keluarga kaya.
"Kita nggak ngapa-ngapain Rachel kok. Kita cuma ingin tahu dimana rumahnya. Dia kan terkenal waktu OSPEK kemarin, makanya kita ingin cari tahu. Siapa tahu bisa main," ucap Vito memberikan alasan.
"Main? Kembaranku tidak semudah itu menerima orang asing di rumahnya. Apalagi niatnya nggak jelas," ucap Ronand dengan ucapan pedasnya.
"Hapus foto yang kalian ambil diam-diam itu," lanjutnya membuat Vito dan Kio terkejut karena Ronand mengetahui apa yang dilakukan mereka.
"Enak aja. Ini kan arsip kita. Lagian kita nggak ada niat apa-apa," ucap Vito tak mau menghapus foto yang tadi diambilnya.
Hapus atau ponselmu meledak,
Jangan bercanda. Mana bisa ponsel meledak karena foto yang tidak dihapus,
Oke,
1... 2... 3...
Blammm...
Aaaa...
Panas, tanganku.
Brakk...
Ponselmu terbakar, Vito.
Brumm... Brumm...
Gawat. Kita melawan orang yang salah. Kita harus memberitahu si bos,