Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanah Warisan dan Awal Kebangkitan
Pagi itu, setelah sarapan sederhana, Azura duduk di teras bambu belakang gubuk bersama kedua orang tuanya. Angin pagi berembus lembut, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Pandangan Azura menyapu hamparan lahan luas di depannya yang selama ini hanya ia anggap kebun tua yang rimbun.
“pak … sebenarnya tanah ini milik siapa?” tanya Azura pelan.
Ibu Sulastri menjawab, “Ini tanah warisan kakekmu, Nak. Ibu anak tunggal, jadi kakek menghibahkannya pada Ibu sejak lama. Luasnya sekitar lima ratus kali empat ratus meter, memanjang sampai ke batas hutan di belakang sana.”
Azura tertegun. Luas itu setara dengan dua hektar! Di matanya, pohon-pohon mangga, durian, dan nangka yang tumbuh liar itu bukan sekadar pepohonan, melainkan modal raksasa.
“Awalnya kami ingin menjual tanah ini untuk biaya rumah sakit Farhan, tapi tidak ada yang mau membeli. Katanya… tanah ini tanah kutukan karena lokasinya di perbatasan hutan,” tambah Pak Hadi pasrah.
Azura tersenyum tipis. Kutukan? Baginya, kutukan yang sebenarnya adalah kemiskinan dan ketidakberdayaan. “Ini bukan tanah kutukan, Yah. Ini adalah harta karun kita. Kita akan mulai mengelolanya dengan serius.”
Siang harinya, Azura mengajak ayahnya ke pasar kabupaten menggunakan motor tua yang berisik.
Di sana, Azura menarik uang tunai sepuluh juta rupiah di ATM—sebuah angka yang membuat Pak Hadi gemetar saat melihat deretan angka nol di struknya.
Azura bergerak cepat. Ia membeli tiga ponsel pintar untuk dirinya dan adik-adiknya, panel surya portabel agar gubuk mereka tidak gelap gulita lagi, dan bisa mences hp mereka nanti, hingga memborong sembako dalam jumlah besar, serta membeli kasur serta selimut untuk mereka tidur lebih nyaman. barang akan di antarkan Azura menyewa jasa antar barang ke desanya.
Saat berjalan menuju tempat parkir, langkah Azura terhenti. Matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengomando beberapa pekerja di depan sebuah toko bangunan besar. Wanita itu tampak sangat berwibawa dengan helm proyek di tangannya.
“Sari?” gumam Azura.
Azura mendekat dan menyapa ragu, “Sari? Ini kamu?”
Wanita itu menoleh, mengerutkan kening karena tidak mengenali Azura yang bermasker. “Maaf, kita kenal?”
Azura menurunkan maskernya sedikit. Begitu melihat wajah sahabat lamanya, Sari membeku. Detik berikutnya, ia langsung memeluk Azura erat-erat. “AZURA?! Ke mana saja kamu?! Kami kehilangan kontak sama sekali setelah kamu menikah!”
Lalu sari mengajak Azura ke dalam
Di ruang kantor toko bangunan yang sejuk, Azura menceritakan garis besar kehidupannya—tentu saja dengan menyembunyikan detail penyiksaan yang terlalu pahit. Sari, yang kini sukses mengelola toko bangunan bersama suaminya yang seorang kontraktor, merasa sangat geram.
“Kenapa kamu tidak cari aku dari dulu?! Kamu tahu aku selalu ada untukmu!” Sari menghapus air mata di sudut matanya.
"bagaimana mau mencari aku saja tidak bisa keluar rumah dan juga, Aku terlalu sibuk menjadi bodoh, Sari,” canda Azura getir, yang disambut tawa kecil oleh sahabatnya.
Azura lalu menyampaikan niatnya untuk
merenovasi gubuk tuanya menjadi rumah yang layak. Sari langsung bersemangat. “Kebetulan sekali! Suamiku sedang ada proyeknya sudah 3 bulan ini.
“Besok suamiku akan ke rumahmu untuk survei lokasi. Tenang saja, soal material, aku beri harga sahabat!” ucap Sari penuh semangat saat melepas kepulangan Azura.
Sore harinya, motor tua Pak Hadi sampai di depan gubuk bersamaan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut barang-barang belanjaan Azura. Kasur empuk, karung beras, hingga bungkusan bakso besar diturunkan.
Keramaian itu memancing perhatian tetangga.
Bu Tejo, si biang gosip yang tadi pagi mencibir di warung datang mendekat dengan melipat tangan di dada. Matanya menyipit sinis melihat kasur-kasur baru diturunkan.
"Wah, Pak Hadi... banyak benar belanjaannya? Uang dari mana? Jangan-jangan Azura bawa uang pesangon karena diceraikan ya?" celetuk Bu Tejo dengan nada merendahkan.
Ibu-ibu lain yang ikut menonton mulai berbisik, "Paling juga uang tutup mulut supaya nggak nuntut suaminya yang kaya itu. Kasihan ya, pulang-pulang cuma bawa kasur, nggak bawa suami apalagi anak."
Pak Hadi menunduk, wajahnya memerah karena malu. Tapi, Azura melangkah maju dengan tenang. Ia menurunkan maskernya, memperlihatkan luka lebam yang mulai menguning namun tatapannya sangat tajam dan berwibawa.
"Selamat sore, Bu Tejo," sapa Azura dengan suara lembut namun tegas.
"Iya, Ra. Itu kasurnya bagus benar. Tapi apa gunanya kasur empuk kalau tidurnya sendirian karena nggak punya laki lagi?" Bu Tejo tertawa, diikuti tawa kecil ibu-ibu di belakangnya.
Azura tersenyum manis, sama sekali tidak terpancing emosi. "Betul, Bu Tejo. Tidur sendirian di kasur baru yang bersih jauh lebih nyenyak daripada tidur bersama suami tapi hati penuh tekanan. Lagipula, uang yang saya pakai ini bukan uang pesangon, melainkan uang hasil kerja keras saya sendiri."
Azura menatap barang-barangnya, lalu kembali menatap Bu Tejo. "Saya pulang bukan untuk jadi beban, tapi untuk menjemput martabat keluarga saya yang sempat terinjak. Kasur ini hanya awal. Minggu depan, gubuk ini akan mulai dibangun jadi rumah permanen. Nanti kalau sudah jadi, silakan mampir untuk melihat, supaya Ibu tidak perlu lagi mengintip dari jauh."
Bu Tejo terbungkam. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan mendadak kaku. "Sok sekali kamu, Ra. Baru punya uang sedikit saja sudah sombong!"
"Bukan sombong, Bu Tejo. Saya hanya sedang mengabarkan fakta agar Ibu tidak perlu repot-repot mengarang cerita bohong di warung. Kan kasihan kalau Ibu menambah dosa hanya karena mengurusi hidup saya yang 'malang' ini," tutup Azura dengan senyum yang sangat elegan.
Azura berbalik, mengabaikan Bu Tejo yang masih berdiri melongo karena kesal.
"Yah, ayo masuk. Kita makan baksonya selagi hangat," ajak Azura pada ayahnya yang kini menatap putrinya dengan rasa bangga yang luar biasa.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, gubuk tua itu terang benderang berkat lampu panel surya. Aroma bakso memenuhi ruangan, dan tawa Rafa pecah saat mencicipi kasur empuk barunya. Di sudut ruangan, Azura menatap layar ponselnya, mulai menyusun strategi untuk tanah warisan itu.