Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
"Katanya mual, aku belikan wedang ronde. Sini." Rama menepuk pelan pantat istrinya.
"Nara...."
Nara membalikkan badannya memandangi Rama yang berdiri di dekat tempat tidur. Wajah Nara masih judes.
"Mau aku suapin?" Rama menatap lembut istrinya.
Nara hanya menggeleng seraya turun dari pembaringan. Mengambil jepit rambut besar di meja. Rambut panjangnya digelung kemudian dijepit. Yara duduk di kursi, ada dua mangkok wedang ronde.
"Makasih, Mas," ucap Nara datar. Menyendok bola-bola kecil warna hijau yang sedikit kenyal dan berisi gula merah campur kacang.
Rama duduk di kursi lain. Walaupun suasana masih dingin, bisa duduk berdua dan menikmati minuman herbal itu cukup menyenangkan. Rasa hangat dari jahe, membuat perut Nara terasa nyaman.
"Nggak makan?" tanya Rama.
"Nggak selera, Mas. Kayaknya nggak ada makanan yang enak," sahut Nara.
Rama tidak memaksa istrinya untuk makan. Karena lapar, ia makan sendiri. Udang bakar dan tumis buncis. Nara yang sudah menghabiskan wedang ronde, tidak diperbolehkan mencuci mangkok.
"Sana istirahat, aku yang akan membereskannya," ujar Rama.
Nara ke kamar mandi, gosok gigi dan cuci muka. Malas melakukan double cleansing. Setelah itu rebahan lagi di kasur. Terdengar suara air dari wastafel. Lalu suara piring dan mangkok yang sempat beradu.
"Masih nggak enak badan?" Rama duduk di sisi tempat tidur.
"Masuk angin mungkin, Mas." Nara bersendawa dua kali. Setelah efek hangat dari jahe hilang, Nara merasa agak eneg lagi.
"Tolong ambilkan minyak kayu putih, Mas."
"Di mana?"
"Di laci meja kalau nggak salah," sahut Nara.
Rama tidak perlu berdiri karena jarak meja dan tempat tidur yang dekat. Mengambil minyak kayu putih ukuran sedang.
"Mau diolesi?"
"Nggak, minta pijat kaki aja. Pegel banget, padahal nggak kerja. Cuman rebahan di rumah," ucap Nara mengambil botol minyak kayu putih dari tangan suaminya.
Rama memijat kedua kaki istrinya, sambil menanyakan apakah besok mau lihat rumah yang jadi pilihan Rama.
"Kalau kamu suka, aku putuskan beli. Rumahnya di ujung jalan, halaman samping kiri dan depan rumah cukup luas."
"Boleh, Mas."
"Jam sepuluh ya."
"Oke ...." Nara mulai agak enakan lagi. Karena ngantuk dia akhirnya tidur. Sedangkan Rama, memilih menghabiskan waktu di ruang depan karena belum mengantuk.
Keesokan harinya, Nara dan Rama pergi melihat rumah bercat putih itu. Halamannya berumput hijau dan ada dua pohon mangga di halaman samping.
Nara masuk ke dalam kamar utama yang paling besar diantara dua kamar lainnya. Ada ruang tamu, ruang tengah, dapur dan ruang makan. Dua kamar mandi.
"Gimana, suka nggak?" tanya Rama.
Nara terdiam sejenak. Perumahan itu terlihat sepi. Kalau pindah, tidak bisa nongkrong bersama Tika. Padahal baru kenal dan merasa cocok.
"Aku suka. Harganya berapa?" Nara melirik agen properti yang menunggu di luar. Pasti mahal.
"Empat ratus jutaan. Harus direnovasi dikit sebelum ditempati...." Rama merangkul pundak istrinya.
"Yakin?"
"Menurut Mas Rama?" Nara balik bertanya.
"Kamu suka, aku pun suka," sahut Rama.
Nara tersenyum. Melupakan pertengkaran kecil mereka. Karena manusia tidak ada yang sempurna.
*****************
"Dibelikan rumah?" Risna mengepit ponsel di antara pundak dan dagu. Sementara kedua tangannya sibuk membungkus pastel pesanan.
"Ibuk senang mendengarnya, Nara."
Nara menelepon, memberitahu ibunya bahwa Rama mulai proses akad jual beli.
"Kapan pindah? Kalau pindah syukuran dulu."
"Belum tahu, Buk. Kata Mas Rama harus perbaiki plafon, saluran listrik, cat ulang."
"Kapan-kapan ajak ibuk ke rumah barumu."
"Iya, buk."
Panggilan telepon harus diakhiri Risna. Ponsel itu melorot turun di pangkuannya.
"Yud, anter ibuk nganter pesanan!" teriak Risna.
"Bapakmu masuk angin."
Yuda keluar dari kamarnya.
"Aku belum punya SIM, Buk. Nanti dimarahi bapak."
"Kamu yang di belakang pegang dua kardus. Tali khusus yang ibuk gunakan kok nggak ketemu. Entah ke mana," jelas Risna seraya berdiri.
"Sekarang?"
"Iya, Yuda." Risna mengambil jaket yang tergantung di kamar juga tas sling bag.
"Kami pergi dulu, Pak."
"Hati-hati," ucap Rahmat yang tiduran miring berselimut sarung.
Risna menutup pintu kamar. Lalu mengangkat dua kardus bekas tepung terigu yang bersih. Dialasi kertas minyak.
"Yuda..."
"Iya!" Yuda keluar kamar, ia hanya berganti celana panjang. Yuda yang membawa dua kardus keluar rumah.
Risna mengunci pintu. Lalu mendorong motor turun dari teras rumah.
"Weleh, punya besan horang kaya kok masih terima pesanan," sindir Yuni dari teras rumahnya.
"Loh, apa hubungannya? Yang kaya mereka. Aku nggak seperti kamu, Yun. Yang ngarep bantuan. Mulutmu itu dijaga, busuk nanti," sahut Risna menyalakan mesin motor.
"Yuda, helm ...."
"Eh, iya." Yuda menaruh kardus di meja teras. Memakai helm terlebih dahulu.
"Kalau besan yang baik, seharusnya bantu!" Yuni masih saja nyinyir.
Risna tidak menanggapi. Anggap saja seperti anjing yang menggonggong. Risna dan keluarganya sudah terbiasa menghadapi kelakuan Yuni.
"Ibuk tumben sabar ...."
"Ngalah, Yud. Yang waras ngalah."
Di tempat lain. Gita baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai asisten dokter di klinik. Memakai kardigan untuk menutupi seragam bagian atas. Dia keluar dari bangunan berlantai dua itu. Pulang ke rumah mengendarai motor. Ia sedang malas menyetir mobil.
Sesampainya depan rumah Gita mendengus saat melihat kendaraan roda dua yang sering digunakan Harmi terparkir di depan garasi.
"Mau apa lagi nenek-nenek itu?" Gita bergumam pelan. Kalau datang terus setiap kali pulang, lebih baik pulang ke rumah orang tuanya saja.
Gita memasuki rumah, melihat Harmi sedang memasak di dapur. Dewa sedang membersihkan kandang burung di teras belakang.
"Masak apa, Buk?" tanya Gita basa-basi.
"Ikan goreng...." Harmi membalikkan badan.
"Itu, di dalam kulkas... sudah ibu belikan sayur mayur, ikan, daging ayam dan sapi, bawang merah bawang putih udah ibu kupas."
Pulang kerja, capek. Ingin istirahat bukan masak. Ingin rebahan bukan goreng ikan.
"Ibu juga udah dapat pembantu. Lusa pagi dia datang," lanjut Harmi.
"Tapi kamu yang harus masak untuk Dewa."
Rahang Gita mengeras, berusaha tersenyum manis. Kalau Harmi ikut campur terus, lebih baik minta cerai.
"Usia berapa pembantunya, Bu?"
"Seusia ibu. Nggak nginep. Datang pagi jam enam, pulang siang. Atau kamu ingin pembantu yang nginep?" Harmi membalik ikan goreng.
Cipratan minyak goreng membuat Gita bergidik, makanya tidak suka memasak. Minyak panas salah satu alasannya.
"Nggak, Bu."
"Namanya Bu Septi."
Selesai menggoreng ikan, Harmi membuat sambal tomat. Juga membuatkan es teh. Gita yang merasa tidak enak hati, mencuci perkakas memasak. Gita sebal melihat Dewa yang tidak peduli malah asyik dengan burung peliharaan yang dibeli kemarin.
Lagi-lagi ia teringat Rama. Tidak perlu kerja, cukup ongkang-ongkang seperti Nara. Gita makin merasa tertekan.
"Kamu nggak kabe, kan?"
"Enggak, Bu. Aku nggak nunda momongan kok," sahut Gita tersenyum getir.
"Oh, baguslah. Ibu harap kamu hamil lagi. Dewa, ibu pulang dulu. Di freezer ada makanan beku. Bisa buat sarapan besok!" Harmi sengaja berteriak.
Gita menaruh wajan teflon cukup kasar, terdengar nyaring, meluapkan kekesalannya.
"Kenapa kesal? Ibuku hanya masak. Daripada kamu repot-repot beli," ujar Dewa menggantungkan kandang burung.
"Siapa yang kesal?" sanggah Gita.
"Baguslah. Kalau tetap nggak mau masak jangan protes kalau ibuku atau yang lain masak untukku," kata Dewa.
"Yang lain siapa maksudmu?"
"Pembantu misalnya," sahut Dewa.
Gita membuang napas kasar.
"Sesuai keinginanmu. Mulai hari ini aku nggak akan minta dimasakkan lagi. Kamu nggak perlu khawatir." Dewa menegaskan.
*****************
Untuk mendapatkan sampel dari Firdaus, Abra berkerjasama dengan pembantu yang bekerja di rumah orang tuanya Bianca. Mengambil sisir yang biasanya ada sisa rambut. Juga sikat gigi Firdaus. Pembantu tersebut diimingi bayaran sepuluh juta.
Sekar akan mendapatkan hasilnya dalam waktu seminggu. Bisa lebih cepat atau lebih lama. Sekar juga menyuruh menyelidiki masa lalu Karina dan Firdaus.
"Apa yang kau rencanakan? Sepertinya sibuk sekali," sindir Restu.
"Banyak sekali. Aku sedang mewujudkan cita-cita masa kecil jadi polwan," gurau Sekar.
"Apa masih percaya kalau Rama melecehkan Bianca??"
Restu mengedikkan kedua bahu dan tersenyum tipis. "Bagaimana menurutmu?"
"Sepertinya masih membela Bianca."
Pembicaraan mereka terganggu karena ketukan di pintu kamar.
"Ma, aku ingin bicara." Suara Bianca.
Sekar menyuruh menantunya masuk. Berpindah duduk di kursi. Sedangkan Restu tetap berdiri.
"Mama harus pecat Nina," kata Bianca.
"Apa alasannya aku harus memecat Nina?" Sekar menaikkan kedua alisnya.
"Dia bukan lulusan perawat, dia memalsukan ijazahnya, Ma. Aku punya buktinya. Setelah aku telisik tidak ada nama Nina di mana dia bersekolah perawat," jelas Bianca berapi-api.
"Kenapa Mama nggak ambil perawat di yayasan seperti halnya Orie?"
Sekar berdiri, mengambil bukti yang diberikan Bianca.
"Kau lupa, aku menghubungi yayasan juga. Nina atas rekomendasi yayasan."
"Kanina Ardan alias Nina telah menipu Mama. Sepertinya Jia nggak jeli mencari yayasan yang paten, Ma. Pecat juga asisten mu," cibir Bianca.
Restu memilih tidak peduli, keluar kamar terlebih dahulu. Sekar juga keluar, langkah kakinya cepat menuju halaman belakang. Di mana Radit sedang menikmati udara malam.
"Nina...."
"Iya, Nyonya." Nina yang duduk di bangku kayu segera berdiri.
Sekar menghela napas berat.
"Kamu bukan lulusan perawat. Kamu menipuku?"
Nina gelagapan. Kepalanya menunduk melihat ubin. Radit memutar kursi rodanya.menatap Sekar dan Nina secara bergantian. Bianca datang menyusul.
"Sa... ya... mengaku bersalah, Nyonya. Karena membutuhkan pekerjaan. Saya terima konsekuensinya." Usaha papanya bangkrut, kakaknya meninggal dunia, sehingga tidak bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Dan sejak papanya sakit, makin bertambah bebannya. Harus mencukupi kebutuhan hidup tiga orang. Kedua orang tuanya dan ponakan. Gelap mata membuat Nina setuju waktu temannya yang bekerja di yayasan membuatkan ijazah palsu.
Nina berencana segera keluar dari pekerjaan ketika mendapatkan pekerjaan baru. Tetapi sampai detik ini, belum ada tanda-tanda diterima bekerja.
"Biarkan Nina tetap bekerja, Ma. Pekerjaannya tidak ada suntik menyuntik. Selama menjagaku hanya membantu dorong kursi roda, mengambil baju, kadang menyuapi...." kata Radit.
Bianca yang mendengarnya memprotes hal itu,
"Mas, jangan belain penipu!"
"Malam ini kamu masih bekerja. Untuk terakhir kalinya," putus Sekar.
"Baik, Nyonya. Maafkan saya," ucap Nina.
"Ma...."
"Itu keputusan mama," potong Sekar.
Bianca tersenyum senang. Memandang Nina dengan tatapan mengejek.
"Syukurin ...."
***************
Nara mendadak ingin makan sate padang dan es pisang ijo. Tidak mau pesan lewat pesan antar, dia mengirim pesan pada suaminya. Kalau pulang minta dibelikan kedua makanan itu. Tidak apa-apa menunggu lama.
Ponsel diletakkan di sebelahnya. Ia lanjut menyetrika baju. Pekerjaan rumah tangga yang jadi favoritnya. Sangat senang melihat tumpukan baju yang licin, wangi, dan rapi. Baju-baju itu kemudian dimasukkan ke dalam lemari. Ia lanjut mengganti seprai.
"Mbak Nara!" Tika mengetuk pintu.
Nara buru-buru membukakan pintu. Melihat Tika membawa piring.
"Syukuran kecil-kecilan, Mbak. Suamiku jadi pegawai tetap."
"Makasih, Mbak." Nara menerima piring yang tertutup tisu putih.
"Hanya seadanya. Aku pulang dulu. Aku mau ke rumah mertua," ucap Tika, yang bergegas menuju rumah kontrakannya.
Nara menutup pintu. Duduk di sofa, membuka tisu yang menutupi piring. Ada Nasi, urap sayur, ikan asin, tempe goreng, dan satu telur rebus utuh.
Makanan itu dilahapnya sampai habis tanpa tersisa. Kalau kemarin malas makan, hari ini doyan makan.
Tidak lama kemudian, sang suami pulang membawakan pesanannya. Nara memakan es pisang ijo terlebih dahulu.
"Makasih ya Mas Rama." Nara sangat senang.
"Sama-sama," sahut Rama.
Rama membiarkan istrinya yang duduk di depan televisi. Sementara dia mengganti oli motornya sendiri. Rama memakai celana panjang dan kaus singlet hitam.
"Mas, Mas Rama !! Bisa bantu dorong mobilnya Pak Nur!?" teriak seorang tetangga.
Rama mengangguk. Tanpa memakai alas kaki, ia membantu mendorong mobil pick up tua ke sudut halaman. Setelah itu ia kembali ke rumah kontrakannya. Membereskan botol oli bekas. Lanjut cuci motor.
Motor yang telah bersih dilap sampai kering. Rama yang berkeringat banyak melepas kausnya seraya masuk ke dalam rumah.
"Ibu pingin lihat rumah kita, Mas...." ujar Nara yang masih duduk di sofa.
"Ajak saja," jawab Rama yang menggenggam kaus hitam.
Nara mendadak mesum. Mendadak ada lahar gairah karena melihat kancing celana yang terlepas. Juga tubuh yang basah oleh keringat.
"Mas...." Nara meletakkan mangkok di meja.
"Sini duduk. Pintunya ditutup."
"Ada hal penting?" Rama menutup pintu.
"Dikunci, Mas."
"Iya."
"Motornya udah dikunci juga?"
"Udah. Ada apa, sih?" Rama duduk di sebelah istrinya.
"Pingin .." Suara Nara terdengar manja.
"Aku bau oli, Sayang. Mandi dulu ya." Rama tergelak pelan.
Nara menahan suaminya yang hendak berdiri. Duduk dipangkuan sang suami. Kedua telapak tangannya mengusap-usap dada bidang itu.
"Kamu nggak minum sesuatu, kan?" Rama agak heran dengan tingkah genit istrinya.
"Katanya kalau pingin ehem ehem disuruh bilang. Kok malah nuduh aneh-aneh?" Nara mendekatkan wajahnya, mengecup dagu Rama.
"Aku nggak mau kamu bau ol..."
Nara menutup bibir Rama dengan bibirnya. Rama tergelak lagi. Membuat Nara memonyongkan bibir.
"Baiklah kalau itu maumu...." Rama menarik tengkuk istrinya. Mempertemukan bibir mereka. Menjelajahi lidah penuh gebu.
Nara merangkul erat leher Rama. Ia mampu mengimbangi lumatan liar. Makin menggila saat tangan besar itu meremas buah dada yang tertutup pakaian.
"Buka ...." suruh Rama kala bibirnya terlepas.
"Semua?" gurau Nara berdiri dari pangkuan. Melepas seluruh pakaiannya tanpa kecuali.
Rama mengangkat sedikit pinggulnya, menurunkan celana. Sehingga terpampang sesuatu yang perkasa. Lalu menarik Nara ke atas pangkuan. Gantian dia yang tidak sabaran.
*
*
*
*
*
*
Up nya dah panjang. Sepanjang harapan aku dan kamu 🤣🤣
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬