NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Ruang Tanpa Suara

Lampu neon di langit-langit kantor berkedip gelisah, mengeluarkan bunyi humming rendah yang monoton—satu-satunya suara yang menemani Colette Winter malam itu. Jam dinding analog yang melingkar di atas meja resepsionis menunjukkan pukul sepuluh malam.

Harum kertas fotokopi dan sisa kopi dingin menggantung di udara yang mulai pengap karena AC pusat telah dimatikan sejak satu jam lalu.

Colette berdiri mematung di depan pintu kaca besar yang menghubungkan lobi dengan lorong lift. Ia sudah mencoba memutar gagang pintu itu puluhan kali. Hasilnya tetap sama: terkunci dari luar.

Ia tahu ini bukan kecelakaan. Ia ingat tawa tertahan rekan-rekan divisinya saat ia masih berkutat dengan tumpukan laporan di kubikelnya tadi sore. Mereka sengaja melakukannya.

Mereka tahu Colette tidak akan memaki, tidak akan melaporkan mereka ke atasan, dan tidak akan menangis. Baginya, kejahilan mereka hanyalah gangguan kecil seperti lalat yang hinggap di kulit—ia tidak merasa perlu mengusirnya.

"Pak Satpam?" suaranya keluar sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

Ia mencoba mengetuk kaca itu tiga kali. Di kejauhan, di balik kegelapan lobi utama di lantai bawah, ia bisa melihat keremangan cahaya dari meja keamanan. Namun, jarak itu terlalu jauh. Suaranya tenggelam oleh kesunyian gedung tua ini.

Colette tidak mencoba berteriak lagi. Tenggorokannya terasa kering, tapi hatinya jauh lebih kering. Ia perlahan merosot, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu kaca yang dingin.

Ia duduk di atas lantai karpet yang berdebu, melipat kedua kakinya, dan memeluk tas bahunya yang usang.

Ia tidak merasa marah.

Ia hanya merasa... kosong.

Dalam keremangan itu, Colette menatap jemarinya yang pucat. Ingatannya yang lama dan berkarat mendadak terlempar ke masa kecilnya—saat ia juga sering kali "terkunci" di tempat-tempat gelap oleh tangan-tangan yang tidak pernah ia inginkan. Baginya, terkunci di kantor ini tidak ada bedanya dengan terkunci di dalam dirinya sendiri selama belasan tahun terakhir.

Ia menutup matanya. Membiarkan kegelapan malam itu membungkusnya.

Lampu neon yang berkedip di langit-langit seolah menjadi saksi bisu betapa Colette tidak lagi memiliki energi untuk merasa takut. Namun, keheningan itu pecah oleh suara kunci yang diputar dengan kasar dari arah luar.

Klik.

Pintu besar itu terbuka, menyibak kegelapan lorong dengan cahaya lampu lobi yang lebih terang. Di sana berdiri Jude Rhodes, dengan napas yang sedikit terengah-engah dan kunci cadangan di tangannya.

Jude adalah satu-satunya orang di kantor itu yang tidak pernah ikut tertawa saat Colette ditindas. Dia adalah pria yang selalu berusaha meletakkan segelas air di meja Colette atau mengusir rekan-rekan lain yang mulai bicara kasar.

"Colette! Ya Tuhan, aku baru sadar mereka benar-benar melakukan ini padamu," suara Jude terdengar penuh kecemasan.

Ia melangkah maju, tangannya refleks terulur ingin membantu Colette berdiri dari lantai yang dingin. "Kau tidak apa-apa? Aku mencari kunci ini ke seluruh bagian gedung."

Colette menatap tangan Jude yang terulur sejenak. Baginya, tangan itu bukanlah bantuan, melainkan ancaman.

Bayangan masa kecilnya berkelebat—tangan-tangan yang dulu ia kira akan melindungi, namun justru melukainya.

Dengan gerakan kaku, Colette berdiri sendiri sebelum tangan Jude sempat menyentuhnya. Ia menepuk-nepuk rok kerjanya yang berdebu tanpa ekspresi, wajahnya sedatar permukaan air di sumur tua.

"Terima kasih," ucap Colette singkat.

Suaranya sangat dingin, tidak ada nada lega atau syukur di sana. Ia bahkan tidak menatap mata Jude.

Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Colette segera menyampirkan tasnya dan berjalan melewati Jude begitu saja, seolah pria itu hanyalah bagian dari dekorasi gedung yang tidak bernyawa.

Jude terpaku di ambang pintu, menatap punggung Colette yang menjauh.

Ada rasa sakit yang muncul di dadanya melihat gadis itu bersikap seperti robot yang kehilangan baterai. Ia ingin mengejar, ingin bertanya apakah ia perlu mengantarnya pulang, tapi ia tahu Colette akan semakin menjauh jika ia mendekat.

Colette terus berjalan menuju lift, meninggalkan satu-satunya orang yang peduli padanya tanpa sedikit pun menoleh. Baginya, kepedulian adalah bahasa asing yang sudah tidak sanggup lagi ia terjemahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!