apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di begal
Malam masih menyisakan sisa-sisa aroma alkohol dan gelak tawa yang mulai mendingin di apartemen Ronald.
Di tengah remang cahaya lampu, Cavin terhuyung, dunianya berputar hebat. Namun, dering telepon yang menyayat keheningan seketika membasuh kesadaran nya
Wajahnya yang semula santai berubah pucat pasi, matanya membelalak menyimpan badai ketakutan yang tiba-tiba datang tanpa permintaan
"Ada apa, Vin?" tanya Ronald dengan suara parau, berusaha mengumpulkan kepingan kesadarannya yang masih tertinggal di dasar gelas.
"Mobil. Pinjam mobilmu! Mana kuncinya?!" raung Cavin, suaranya gemetar menahan kalut yang ketara
Eric yang lebih dulu terjaga segera berdiri, menghalangi langkah Cavin yang goyah.
"Kamu masih mabuk, Vin. Jangan gila, jangan bawa mobil sendiri!"
"Antar aku ke apartemen sekarang! Cepat!" bentak Cavin. Napasnya memburu, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh rasa paniknya.
"Memangnya ada apa?" tanya Ronald lagi, mencoba memahami urgensi di balik mata sahabatnya yang memerah.
Di sana, di apartemen Ronald, mereka seharusnya merayakan kebahagiaan yaitu merayakan hari lajang untuk Sardi karena beberapa Minggu lagi ia akan menikah,
namun takdir sepertinya sedang ingin bercanda dengan cara yang kejam.
"Mama... dan Thalia... Mereka dibegal! Cepat antar aku!"
Seketika, kantuk yang menggelayuti Ronald dan Eric luruh. "Bagaimana bisa? Bukannya istrimu bersama sahabat nya kata mu dan Tante di rumah orang tuamu?" seru Eric tak percaya.
"Aku tidak tahu! Cepat, sialan!" maki Cavin. Ia tidak peduli lagi pada etika.
Di kepalanya hanya ada satu bayangan: wajah Thalia yang ketakutan dan ibunya yang mungkin terluka.
"Ayo, biar aku yang menyetir," putus Eric tegas.
"Aku ikut!" timpal Ronald.
"Kamu menyusul nanti setelah benar-benar sadar," cegah Eric, tahu bahwa Ronald jauh lebih mabuk daripada mereka berdua. Sedangkan pemilik acara jangan di tanya ia sudah terkapar dari beberapa menit yang lalu.
Namun, Cavin sudah tidak bisa menunggu. Ia telah berlari menuju parkiran, suaranya menggema di lorong sunyi, "Eric! Cepat, brengsek!" Teriakannya adalah manifestasi dari rasa bersalah yang menghujam jantung, ia berbohong pada keluarganya demi sebuah pesta, dan kini kebohongannya berbuah petaka. Padahal tadi ia pamit akan menjemput istrinya.
Ia beberapa hari ini ia memang tidak kekantor karena harus merawat istrinya pasca penyembuhan, jika Cavin ke kantor itu pun tidak akan selama biasanya karena ada Mama nya yang bergantian menjaga Thalia.
Terkadang mereka juga sesekali menginap di rumah orang tua nya.
Di jalanan yang lengang, mobil melaju bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Namun bagi Cavin, kecepatan seratus kilometer per jam terasa seperti langkah siput yang menyeret beban.
"Ini mobil atau kura-kura?! Lambat sekali!" gerutu Cavin, tangannya mencengkeram dasbor hingga buku jarinya memutih.
"Minggir, biar aku yang bawa!"
"Ini sudah kecepatan maksimal di tikungan, Vin! Kamu mau kita sampai ke akhirat lebih dulu?!" balas Eric, konsentrasi penuh pada kemudi.
Ronald yang duduk di kursi belakang hanya mampu menghela napas panjang, menyaksikan dua sahabatnya beradu urat leher. Mereka meninggal kan Sardi sendirian di apartemen
"Sebenarnya siapa yang paling kamu cemaskan, Tante Hera atau Thalia? Kalau begini caranya, malah kita yang perlu dikhawatirkan keselamatannya."
Cavin tidak menjawab. Matanya lurus menatap aspal yang mengkilap tertimpa lampu jalan, sementara hatinya terus merapal doa yang paling tulus yang mungkin tidak pernah ia ucapkan sepanjang hidupnya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai tujuan, Cavin melesat keluar. Ia menemukan pemandangan yang menghancurkan hatinya
Mama Hera tengah mendekap Thalia yang bahunya berguncang hebat oleh tangis.
"Ma..." panggil Cavin lirih.
Mama Hera menoleh, matanya berkilat marah sekaligus lega. "Dari mana saja kamu? Katamu tadi sudah di apartemen?"
Kebohongan itu runtuh seketika. Cavin hanya bisa tertunduk, mendekat dengan langkah berat. "Tadi aku keluar sebentar, Ma. Mama tidak apa-apa?"
"Kamu tahu, istrimu hampir saja celaka karena begal itu hampir " tutur Pak Ru ayahnya, yang duduk di sofa dengan raut wajah yang masih menegang.
"Cavin," panggil Mama Hera pelan. "Sini, tenangkan istrimu." Ia mengurai pelukannya, memberi ruang bagi putranya untuk mengambil alih tugas untuk menenangkan Thalia
Di tengah suasana yang menyesakkan itu, Ronald yang baru tiba dan masih sedikit di bawah pengaruh alkohol, bergumam tanpa sadar saat melihat Thalia yang kacau, "Wah... lebih kecil dari telur puyuh, Bro. Kamu harus usaha lebih keras."
"Ada apa?" tanya Mama Hera, merasa mendengar sesuatu yang janggal.
Eric segera menyikut Ronald keras. "Hush! Tidak ada apa-apa, Tante. Dia cuma kebanyakan minum tadi , yang begal sudah ketangkep"
" belum, karena tidak ada cctv dan saksi mata saat kejadian, nanti biar di lacak dari hp nya Thalia"
Thalia mendongak, matanya yang sembab menatap sang suami. "Kak Cavin..." ia mengadu dengan suara serak yang memilukan.
Cavin juga melarang Thalia memanggil nya dengan panggilan om ,jika masih di ulang maka hp nya akan di sita dan ia akan di kurung di kamar seharian,
maka itu lah Thalia selalu mengingatkan diri nya untuk tidak lupa memanggil suaminya dengan panggilan kakak seperti yang di ajarkan Nana ,
"Ponselku diambil... di depan gerbang oleh orang lain . Di sana banyak foto kita, banyak permainan yang sudah susah payah aku mainkan... Level nya udah jauh"
"Iya, nanti kita beli lagi. Semua bisa diganti," bisik Cavin, mencoba menenangkan.
"Tapi uang di balik casing-nya juga diambil... padahal aku sudah sampai level tinggi, Diamond-ku sudah banyak," lanjut Thalia sesenggukan,
bicaranya melantur antara trauma dan rasa sayang pada barang-barangnya.
Saat itulah, mata Cavin mengikuti arah pandang Ronald tadi. Thalia mengenakan pakaian tidur tipis yang membalut tubuhnya dengan begitu jelas karena keringat dingin dan kekacauan tadi.bukan nya istri nya tadi bukan mengenakan pakaian seperti itu.
Amarah seketika membakar dada Cavin bukan lagi pada begal, tapi pada tatapan sahabatnya.
"Mau aku congkel matamu?" desis Cavin tajam pada Ronald yang masih berdiri di dekat sana. Protektifatas nya bangkit secara primitif.
"Congkel apa, Kak?" tanya Thalia polos, menatap suaminya dengan mata bulat yang masih basah.
"Tidak ada," ucap Cavin lembut namun tegas. Ia menarik kepala Thalia ke dadanya,
melingkarkan lengannya yang kokoh seolah ingin menyembunyikan istrinya dari seluruh dunia. Di balik pelukan itu, tanpa sadar ia bersumpah, tak akan ada lagi mata yang boleh melihat ke tubuh istrinya selain dirinya sendiri.