Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Pertemuan dengan Masa Lalu
Sabtu pagi, seminggu setelah keputusan untuk mengundang orang tua Reyhan, rumah keluarga Mahardika dipenuhi dengan kesibukan persiapan. Suasananya agak tegang, tapi berusaha ditutupi dengan aktivitas.
Alya sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Menunya nasi goreng spesial, ayam goreng, sayur asem, dan sambal. Sederhana tapi cukup formal. Tidak terlalu mewah, tapi menunjukkan hormat. Ia ingin semuanya pas tidak berlebihan, tapi juga tidak terkesan seadanya.
Reyhan membantu membereskan rumah. Dia mengepel lantai yang sudah bersih, mengelap debu yang sudah tidak ada, melakukan apa pun agar tangannya sibuk dan pikirannya tidak kemana-mana. Sesekali ia berhenti, menatap keluar jendela, lalu kembali bekerja.
Arka duduk di sofa ruang keluarga. Buku coding terbuka di pangkuannya, tapi matanya kosong menatap halaman yang sama sejak tadi. Jemarinya tidak mengetuk-ngetuk meja seperti biasanya. Ia diam, gelisah.
Reyhan memperhatikan dari kejauhan. Ia mendekat, duduk di samping Arka dengan hati-hati.
"Arka." Suaranya lembut. "Kamu kenapa? Gugup?"
Arka mengangguk pelan. Matanya masih menatap buku, tapi tidak benar-benar melihat. "Iya, Yah. Aku... belum pernah ketemu kakek-nenek. Aku nggak tahu harus gimana."
Reyhan menarik napas panjang. Ia merangkul Arka, merasakan tubuh kecil itu sedikit tegang.
"Ayah ngerti. Ayah juga gugup."
Arka menoleh, bingung. "Ayah gugup? Kenapa? Itu kan orang tua Ayah sendiri."
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak. Reyhan diam sejenak, merangkai kata.
"Karena... hubungan Ayah sama mereka nggak mudah, Nak. Mereka dulu... nggak jadi orang tua yang baik buat Ayah." Ia memilih kata-kata dengan hati-hati. "Dan Ayah takut... mereka akan perlakukan kamu seperti mereka perlakukan Ayah dulu."
Arka menatap ayahnya. Tatapan itu terlalu dewasa untuk anak lima tahun. Ada pemahaman di sana yang membuat Reyhan terharu sekaligus sedih.
"Ayah..." suara Arka pelan, "kalau mereka jahat sama aku, Ayah akan lindungin aku, kan?"
Hati Reyhan remuk. Ia menarik Arka ke dalam pelukan, memeluknya erat.
"Ayah akan selalu lindungin kamu, Nak. Selalu." Suaranya bergetar, tapi tegas. "Kalau mereka bilang atau lakukan sesuatu yang bikin kamu nggak nyaman, langsung bilang ke Ayah. Oke?"
"Oke, Yah. Aku percaya sama Ayah."
Alya keluar dari dapur, melepas apron. Wajahnya sedikit pucat karena mual pagi, tapi ia berusaha tersenyum tegar.
"Rey, mereka bilang sampai jam berapa?"
Reyhan melirik jam dinding. "Jam sebelas."
Alya mengangguk, lalu mengecek penampilannya sekilas. "Oke. Aku ganti baju dulu." Ia naik ke kamar, meninggalkan ayah dan anak itu di ruang keluarga.
Reyhan kembali menatap Arka. Anaknya itu masih dalam pelukannya, diam dan hangat.
"Nak." Suaranya nyaris berbisik. "Apapun yang terjadi hari ini... inget ya, Ayah dan Mama sayang sama kamu. Nggak ada yang bisa ngubah itu."
Arka mengangkat wajah, tersenyum kecil. "Aku tahu, Yah. Aku juga sayang Ayah sama Mama."
Pukul Sebelas Tepat Kedatangan
Bel rumah berbunyi tepat pukul sebelas. Reyhan menarik napas dalam, menguatkan diri. Ia berjalan ke pintu, tangannya sedikit gemetar saat memegang gagang.
Dia membuka pintu.
Di depan berdiri dua orang yang sudah puluhan tahun ia kenal, tapi selalu terasa asing. Ayahnya, Reyhan Senior, pria berusia akhir enam puluhan dengan rambut beruban dan postur tegap. Kemeja formal, celana bahan, wajah datar seperti biasa. Ibunya, Ratna, wanita elegan dengan makeup sempurna dan pakaian branded. Tas tangan mewah tergantung di lengannya.
Dulu, penampilan seperti ini selalu membuat Reyhan merasa kecil. Tidak cukup baik. Tidak cukup sempurna.
"Halo, Pak, Bu." Suaranya sopan, tapi kaku.
"Reyhan." Ayahnya membalas dengan nada datar. Sama seperti dulu. Tanpa ekspresi, tanpa kehangatan.
Ratna menatap Reyhan lama. Lalu, sesuatu yang tidak pernah Reyhan duga terjadi. Ibunya melangkah maju dan memeluknya. Sekilas, tapi nyata. Pelukan pertama dalam puluhan tahun.
"Terima kasih sudah undang kami."
Reyhan membeku. Tubuhnya kaku. Ia tidak tahu harus membalas atau bagaimana. Pelukan itu terasa asing, tapi juga... ada sesuatu yang hangat di sana.
"Silakan masuk." Suaranya serak.
Mereka masuk ke ruang tamu. Alya sudah berdiri di sana dengan senyum ramah. Meski canggung, ia berusaha tampil tenang.
"Selamat pagi, Pak, Bu. Saya Alya, istri Reyhan." Ia mengulurkan tangan.
Ratna menjabatnya. Senyum tipis terukir di bibirnya senyum yang sulit dibaca. "Senang bertemu kamu, Alya. Kami dengar banyak tentang kamu."
Alya tersenyum gugup. "Semoga yang baik-baik, Bu."
Reyhan Senior duduk di sofa. Posturnya kaku, matanya menilai sekeliling ruangan. "Rumah yang... sederhana."
Rahang Reyhan mengeras. Sudah mulai. Kritik pertama, bahkan sebelum duduk nyaman.
"Cukup untuk keluarga kami, Pak." Suaranya datar, menahan emosi.
Ratna melihat sekeliling. "Dimana cucuku?"
"Arka di kamarnya. Saya panggilkan."
Reyhan naik ke lantai dua. Ia mengetuk pintu kamar Arka, lalu masuk. Arka duduk di tepi ranjang. Wajahnya pucat, tangannya gemetar.
"Nak, mereka udah datang. Kamu siap?"
Arka mengangguk, tapi gemetarnya tidak berhenti.
Reyhan berlutut di depannya. Ia memegang kedua bahu Arka, menatap matanya.
"Hey, lihat Ayah." Suaranya lembut, menenangkan. "Kamu nggak perlu takut. Ayah akan di samping kamu terus. Kalau kamu nggak mau turun juga nggak apa-apa. Ayah akan ngerti."
Arka menggeleng pelan. "Nggak, Yah. Aku... aku mau ketemu mereka. Cuma... nervous aja."
Reyhan tersenyum. "Oke. Ayo kita turun bareng."
Mereka turun bersama. Tangan Arka menggenggam erat tangan Reyhan. Terlalu erat, sampai Reyhan bisa merasakan telapak tangan kecil itu basah oleh keringat.
Saat mereka memasuki ruang tamu, Ratna dan Reyhan Senior langsung berdiri. Ekspresi mereka berubah. Dari kaku menjadi sesuatu yang lain... kagum? Terkejut? Reyhan tidak bisa memastikan.
"Astaga..." Ratna menutup mulut dengan tangan. Matanya berkaca-kaca. "Dia... persis seperti Reyhan waktu kecil."
Memang benar. Arka adalah replika miniatur Reyhan. Rambut hitam rapi, mata cokelat gelap yang tajam, dahi lebar, postur kecil yang tegap. Semua sama.
"Ini... ini Arka?" Suara Reyhan Senior bergetar. Sangat jarang terjadi.
Reyhan mengangguk. "Iya, Pak. Ini Arka. Cucu Bapak dan Ibu." Ia mendorong Arka dengan lembut. "Nak, salam sama Kakek dan Nenek."
Arka melangkah maju. Kakinya gemetar, tapi ia berusaha tegap. Lalu ia membungkuk sopan, seperti yang diajarkan Alya.
"Selamat pagi, Kakek. Selamat pagi, Nenek. Nama saya Arka."
Ratna tiba-tiba berlutut. Rok mahalnya menyentuh lantai, tapi ia tidak peduli. Ia menatap Arka dari dekat, dan air matanya tumpah.
"Arka... namanya Arka..." bisiknya, suara bergetar. "Nama yang bagus."
Arka bingung. Ia menatap neneknya yang menangis, lalu melirik Reyhan, mencari petunjuk.
Ratna menarik napas, berusaha tenang. "Boleh Nenek peluk kamu?"
Arka melirik Reyhan lagi. Reyhan mengangguk.
Arka melangkah maju. Ratna memeluknya. Erat. Lama. Ia menangis dalam diam, bahunya sedikit bergetar.
Reyhan menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak pernah melihat ibunya menangis. Tidak pernah melihatnya memeluk seseorang seperti ini. Ada rasa haru, tapi juga ada luka lama yang masih perih.
Setelah beberapa saat, Ratna melepaskan pelukan. Ia mengusap air mata dengan elegan, tersenyum malu.
"Maaf. Nenek... terlalu terharu."
Arka tersenyum polos. "Nggak apa-apa, Nek."
Reyhan Senior melangkah maju. Dengan susah payah, ia berjongkok di depan Arka gerakan yang sulit untuk pria setua dia.
"Arka, Kakek dengar kamu baru juara kompetisi coding tingkat nasional?"
Arka mengangguk, sedikit lebih percaya diri. "Iya, Kek. Juara dua."
"Juara dua di usia lima tahun..." Reyhan Senior menggeleng pelan, matanya berbinar. "Itu luar biasa." Untuk pertama kalinya dalam hidup Reyhan, ia melihat senyum tulus di wajah ayahnya. "Kakek bangga sama kamu."
Arka tersenyum. Senyum kecil, tapi tulus. "Terima kasih, Kek."
Pukul Dua Belas Siang Makan Siang
Mereka makan siang bersama di meja makan. Alya menyajikan makanan dengan hati-hati. Ia masih merasa mual, tapi berusaha tidak menunjukkan.
Ratna duduk di samping Arka. Ia sibuk mengambilkan lauk untuk Arka, meletakkan potongan ayam terbaik di piringnya.
"Arka, coba makan ayamnya. Nenek ambilkan yang paling enak."
"Terima kasih, Nek."
Reyhan Senior duduk berhadapan dengan Reyhan. Sesekali ia menatap anaknya, tatapan yang sulit dibaca.
"Reyhan." Panggilnya tiba-tiba. "Perusahaan kamu gimana? Sudah stabil?"
Reyhan mengangguk. "Alhamdulillah stabil, Pak. Revenue naik 25% tahun ini."
"Bagus. Tapi jangan sampai lengah. Kompetitor selalu ada."
Reyhan mengangguk, meski dadanya sedikit sesak. Pola lama mulai terasa pujian selalu diikuti kritik, tidak pernah cukup.
Alya merasakan ketegangan. Di bawah meja, ia meraih tangan Reyhan, menggenggamnya lembut.
"Pak," Alya berkata hati-hati, "Reyhan sudah bekerja sangat keras. Dia berhasil membangun perusahaan yang solid sambil tetap punya waktu untuk keluarga. Itu... nggak mudah."
Reyhan Senior menatap Alya. Ada kejutan di matanya, lalu perlahan mengangguk. "Kamu benar. Itu memang nggak mudah."
Ratna mencairkan suasana. "Arka, Nenek dengar kamu sangat pintar. Kamu suka belajar apa?"
Wajah Arka langsung bersinar. Topik favoritnya. "Aku suka coding, robotika, matematika, sama fisika, Nek!"
"Wah! Pintar sekali!" Ratna benar-benar terkesan. "Sama kayak Ayah kamu waktu kecil. Dia juga suka hal-hal kayak gitu."
"Iya! Ayah ngajarin aku banyak hal! Ayah guru yang paling baik!" Arka menatap Reyhan dengan mata berbinar penuh kebanggaan.
Ratna terdiam. Ia menatap Reyhan, dan di matanya ada sesuatu yang tidak pernah Reyhan lihat sebelumnya. Penyesalan.
"Syukurlah," katanya akhirnya, suara pelan. "Syukurlah Ayah kamu jadi orang tua yang baik."
Hening sejenak.
Lalu Ratna melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. "Lebih baik dari... dari kami dulu."
Semua terdiam. Reyhan menatap ibunya dengan mata lebar. Pengakuan itu datang begitu saja, tanpa diduga.
Pukul Dua Siang Ruang Keluarga
Setelah makan siang, Arka membawa kakek dan neneknya ke ruang keluarga. Ia bersemangat menunjukkan koleksinya.
"Ini piala aku, Kek, Nek! Dan ini sertifikatnya!" Ia menunjuk piala perak yang terpajang dengan bangga.
Ratna memegang piala itu dengan hati-hati, seperti memegang benda paling berharga di dunia. "Nenek bangga banget sama kamu, Arka."
"Dan ini robot yang aku bikin sama Ayah!" Arka berlari ke rak buku, mengambil robot humanoid buatannya. "Ini bisa jalan, bisa deteksi halangan, sama bisa angkat barang kecil!"
Reyhan Senior mengamati robot itu dengan seksama. Matanya yang biasanya tajam sekarang lembut. "Kamu bikin ini sendiri?"
"Nggak, Kek. Aku bikin bareng Ayah. Ayah yang ajarin aku."
Reyhan Senior menatap Reyhan. Tatapan panjang, penuh makna.
"Kamu... kamu ngajarin dia dengan sabar?" tanyanya.
"Iya, Pak. Saya ajarin dia step by step. Setiap kali dia nggak ngerti, saya jelasin lagi dengan cara yang berbeda sampai dia ngerti."
"Nggak marah kalau dia lambat?"
Reyhan menggeleng. "Nggak. Setiap anak belajar dengan kecepatannya sendiri. Saya nggak akan marah kalau dia butuh waktu lebih lama."
Reyhan Senior menunduk. Bahunya turun, seolah beban yang selama ini dipikulnya tiba-tiba terasa lebih berat.
"Aku... aku dulu nggak kayak gitu sama kamu."
Reyhan membeku. Udara di ruangan itu terasa berubah.
"Aku dulu terlalu keras." Suara Reyhan Senior serak, tidak biasa. "Aku pikir dengan tegas dan ngasih target tinggi, kamu akan jadi orang yang sukses. Tapi... aku lupa ngasih kamu hal yang paling penting."
Reyhan tidak bisa bergerak. Hanya menatap ayahnya.
"Apa itu, Pak?" Suaranya nyaris berbisik.
Reyhan Senior mengangkat wajah. Matanya basah.
"Pelukan. Kata-kata 'Ayah bangga sama kamu'. Kata-kata 'kamu udah cukup baik'." Ia berhenti, menelan ludah. "Aku lupa ngasih kamu cinta tanpa syarat."
Reyhan merasakan dadanya sesak. Sepanjang hidupnya, ia menunggu kata-kata ini. Menunggu pengakuan bahwa ia layak dicintai bukan karena prestasi, tapi karena dirinya sendiri.
"Pak..."
"Maafin Ayah, Rey." Suara Reyhan Senior putus. "Maafin Ayah yang nggak jadi ayah yang baik buat kamu."
Air mata Reyhan jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi. Puluhan tahun luka, puluhan tahun kesepian, puluhan tahun merasa tidak cukup semua mengalir keluar dalam tangis diam.
Ratna yang duduk di sofa juga menangis. Tangisan yang sudah lama tertahan.
Arka menatap mereka semua dengan bingung. "Kenapa semua orang nangis?"
Alya memeluk Arka dari belakang. Ia berbisik lembut, "Karena kadang orang dewasa nangis kalau mereka senang, sayang."
Arka mengangguk, menerima penjelasan itu. "Oh. Kalau gitu aku seneng mereka senang."
Pukul Empat Sore Taman Belakang
Sementara Arka bermain di taman belakang dengan Alya yang duduk di kursi taman menemani, Reyhan duduk di teras bersama kedua orang tuanya. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, mereka ngobrol dengan jujur.
"Rey." Ratna memulai, suaranya pelan. "Ibu tahu Ibu dan Ayah kamu nggak bisa balikin waktu. Nggak bisa nggantiin masa kecil kamu yang... yang keras itu."
"Tapi," Reyhan Senior melanjutkan, "kami mau coba jadi kakek-nenek yang baik buat Arka. Dan... mau coba perbaiki hubungan sama kamu."
Reyhan menatap mereka. Dua orang yang selama ini ia takuti, ia hindari, tapi juga ia sadari sekarang ia rindukan.
"Pak, Bu..." Ia mencari kata-kata yang tepat. "Saya nggak butuh orang tua yang sempurna. Saya cuma butuh orang tua yang... yang ada. Yang peduli. Yang bisa bilang 'saya bangga sama kamu' tanpa embel-embel 'tapi kamu bisa lebih baik lagi'."
Ratna meraih tangan Reyhan. Genggamannya hangat, tulus. Untuk pertama kalinya sejak Reyhan dewasa.
"Ibu bangga sama kamu, Rey. Sangat bangga." Suaranya bergetar. "Kamu jadi pria yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Kamu... kamu lebih baik dari kami."
Reyhan menangis lagi. Tapi kali ini, tangisannya berbeda. Lega. Puluhan tahun luka akhirnya mulai sembuh.
"Dan soal Arka," kata Reyhan Senior, "kami janji nggak akan perlakukan dia kayak kami perlakukan kamu dulu. Kami cuma mau jadi kakek-nenek yang sayang sama dia. Yang support dia. Yang... yang peluk dia."
"Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu."
Mereka duduk dalam keheningan. Tapi kali ini, keheningan itu tidak canggung. Tidak tegang. Hanya... damai.
Pukul Lima Sore Perpisahan
Saat Ratna dan Reyhan Senior bersiap pulang, Arka berlari menghampiri mereka.
"Kakek, Nenek, kapan datang lagi?" tanyanya polos.
Ratna berlutut, memeluk Arka dengan lembut. "Nenek akan datang lagi minggu depan. Boleh?"
Arka mengangguk semangat. "Boleh! Aku mau main sama Kakek sama Nenek lagi!"
Reyhan Senior mengusap kepala Arka dengan sayang. Gerakan yang bahkan pada Reyhan dulu, sangat jarang ia lakukan.
"Kakek juga mau ketemu kamu lagi, Arka. Kakek sayang sama kamu."
Arka memeluk kakeknya. "Aku juga sayang Kakek sama Nenek!"
Mobil mereka melaju pergi. Reyhan berdiri di teras, menatap hingga kendaraan itu menghilang di tikungan.
Alya keluar, berdiri di sampingnya. Arka berlari masuk ke rumah, mungkin sudah membayangkan mainan baru yang akan ia dapat minggu depan.
"Ayah," kata Arka dari dalam, "Kakek sama Nenek baik ya. Ayah kenapa bilang mereka dulu nggak baik?"
Reyhan tersenyum miris. Ia kembali ke ruang keluarga, duduk di sofa, memangku Arka.
"Karena orang bisa berubah, Nak. Dulu mereka nggak tau cara jadi orang tua yang baik. Tapi sekarang mereka belajar jadi kakek-nenek yang baik."
Arka mengangguk mengerti. "Oh. Aku seneng mereka berubah."
"Ayah juga seneng."
Alya duduk di samping mereka. Ia memeluk Reyhan dari samping, kepalanya bersandar di bahu suaminya.
"Aku bangga sama kamu, Rey. Kamu kasih mereka kesempatan kedua. Itu... nggak gampang."
Reyhan mencium keningnya. "Kamu yang ngajarin aku soal memberi kesempatan kedua. Kamu kasih aku kesempatan kedua. Sekarang giliran aku kasih mereka."
Malam Hari Kamar
Setelah Arka tidur, Reyhan dan Alya berbaring di ranjang. Tangan mereka bertaut, sesekali Reyhan mengusap perut Alya yang masih datar.
"Rey," bisik Alya, "aku lihat tadi... kamu nangis waktu ayah kamu minta maaf."
"Iya." Reyhan menghela napas. "Aku... aku nggak nyangka akan denger kata-kata itu dari dia. Sepanjang hidup aku, aku cuma pengen denger 'Ayah bangga sama kamu'. Dan hari ini... aku akhirnya denger."
Alya menggenggam tangannya lebih erat. "Aku seneng buat kamu. Kamu layak dapet itu."
"Dan kamu tahu apa yang paling membahagiakan?"
"Apa?"
"Arka nggak harus nunggu sampai dewasa buat denger kata-kata itu. Dia udah denger sejak kecil. Karena aku selalu bilang ke dia aku bangga sama dia."
Air mata Alya jatuh. "Rey... kamu ayah yang luar biasa."
"Aku belajar dari kesalahan orang tua aku. Dan aku belajar dari kamu."
Mereka diam sejenak, menikmati kedamaian.
"Rey."
"Ya?"
"Baby kita... yang ada di perut aku sekarang... dia akan tumbuh dengan kedua orang tuanya. Dia akan denger 'aku sayang kamu' setiap hari. Dia akan dipeluk setiap saat. Dia... beruntung."
Reyhan meletakkan tangannya di perut Alya. "Dia beruntung karena punya ibu seperti kamu. Dan aku akan pastiin... dia tahu dia dicintai. Setiap hari. Selamanya."
"Janji?"
"Janji."
Minggu Berikutnya Kunjungan Kedua
Seperti janji, Ratna dan Reyhan Senior datang lagi minggu berikutnya. Kali ini suasana lebih santai, lebih hangat. Mereka tidak lagi datang sebagai tamu formal, tapi sebagai keluarga.
Ratna membawa dua hadiah besar. Satu berupa robot rakitan advance yang harganya pasti selangit. Satu lagi boneka bear besar yang lembut.
"Nenek nggak tahu kamu suka yang mana, jadi Nenek bawa dua-duanya." Ratna tersenyum, sedikit malu.
Arka memeluk boneka itu dengan senang. "Terima kasih, Nek! Aku suka dua-duanya!"
Mereka menghabiskan sore itu dengan bermain. Reyhan Senior mengajari Arka main catur, sabar menjelaskan langkah demi langkah. Ratna membacakan buku cerita, dengan suara yang hidup dan penuh ekspresi.
Reyhan menatap mereka dari kejauhan. Ada kehangatan di dadanya yang sudah lama hilang.
Saat mereka pulang, Ratna memeluk Reyhan. Bukan pelukan canggung seperti minggu lalu. Tapi pelukan yang tulus, yang lama, yang penuh perasaan.
"Ibu sayang kamu, Rey." Bisiknya di telinga Reyhan. "Maafin Ibu yang telat bilang itu."
Reyhan membalas pelukan itu. Erat.
"Aku juga sayang Ibu. Dan... aku maafin."
Mobil mereka melaju pergi. Reyhan berdiri di teras, menatap hingga hilang. Alya datang, berdiri di sampingnya.
"Rey, kamu nangis lagi."
Reyhan tertawa kecil, mengusap matanya. "Iya. Tapi kali ini... bahagia."
Alya tersenyum, meraih tangannya. "Aku tahu."
Malam itu, saat mereka bertiga duduk di ruang keluarga Arka di tengah dengan boneka bear besarnya, Reyhan dan Alya di sampingnya Reyhan merasakan sesuatu yang sudah lama ia cari.
Rumah. Bukan hanya bangunan, tapi tempat di mana hati berada.
Keluarga. Bukan hanya ikatan darah, tapi ikatan cinta yang tulus.
Penyembuhan. Dari luka masa lalu yang akhirnya mulai tertutup.
Dan ketika Arka tiba-tiba berkata, "Ayah, Mama, aku seneng keluarga kita lengkap," Reyhan dan Alya hanya bisa saling pandang, lalu memeluk Arka bersama.
Keluarga Mahardika.
Tidak sempurna, tapi saling melengkapi.
Dan dengan satu anggota baru yang sedang tumbuh di perut Alya, keluarga ini akan semakin utuh.
[Bersambung]