Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: TOPENG SANG PERMATA
Valerie menyadari kengerian rencana kakaknya. Jika ia disuntik sekarang, ia akan terbangun dalam keadaan sudah didiagnosis gila, dan kata-katanya tidak akan dipercaya lagi oleh hukum. Revan pun tidak akan bisa menyelamatkannya jika ada surat keterangan medis resmi dari dokter spesialis seperti Adrian.
Tepat saat jarum itu hampir menyentuh kulit lengannya, pintu ruangan terbuka dengan suara hantaman keras.
"Hentikan tindakan medismu sekarang juga, Dokter Adrian, atau Anda akan keluar dari ruangan ini dengan tangan terborgol!"
Bukan Revan yang muncul, melainkan Bimo yang masuk dengan seragam kurir kesehatan, namun tangannya memegang sebuah ponsel yang sedang melakukan siaran langsung (live streaming) ke sebuah platform rahasia.
"Siapa kau?!" bentak Adrian, terkejut.
"Saya hanya orang yang diperintahkan untuk memastikan bahwa 'praktik malapraktik' Anda sore ini disaksikan oleh Dewan Etik Kedokteran secara real-time," ucap Bimo tenang.
Di telinga Valerie, suara Revan terdengar melalui earpiece yang sangat kecil. "Tetap tenang, Erie. Aku sudah berada di depan klinik. Bimo sedang memancingnya untuk mengakui niatnya."
Adrian melepaskan cengkeramannya pada Valerie, wajahnya pucat pasi melihat kamera yang menyorotnya. Ia tahu, sekali saja ia menyuntikkan obat itu tanpa prosedur yang benar di depan kamera, kariernya berakhir.
"Kau pikir kau bisa menang, Revan?!" teriak Adrian ke arah kamera, menyadari bahwa Revan-lah otak di balik ini.
"Aku tidak sedang bertanding denganmu, Adrian," suara Revan tiba-tiba menggema dari arah pintu. Revan melangkah masuk dengan wibawa yang mematikan, mengabaikan rapat senat di kampus demi istrinya. "Aku sedang memusnahkan ancaman bagi istriku."
Revan berdiri di depan Valerie, menarik gadis itu ke belakang punggungnya. Ia menatap Adrian dengan pandangan yang membuat kakaknya itu gemetar.
"Diagnosis palsu, penyekapan, dan percobaan malapraktik. Pilihannya ada padamu, Adrian. Kau menyerahkan semua dokumen penggelapan dana yang kau lakukan, atau video ini akan sampai ke tangan kepolisian dalam lima menit."
Wajah Adrian yang semula tenang dan berwibawa kini berubah menjadi topeng kegilaan yang mengerikan. Ia menyadari bahwa seluruh karier dan rencananya runtuh dalam sekejap. Di hadapannya, Revan berdiri seperti tembok kokoh yang menghalanginya menyentuh Valerie—harta karun yang sangat ia dambakan untuk menguasai dinasti Adiwijaya.
"Kau pikir kau sudah menang, Revan?!" teriak Adrian histeris.
Dalam gerakan yang terlalu cepat untuk dicegah, Adrian menyambar sebuah pisau bedah (scalpel) tajam dari meja instrumen di sampingnya. Dengan nekat, ia menerjang ke arah samping Revan, bukan untuk melukainya, melainkan untuk meraih Valerie yang berdiri di belakang suaminya.
"Mundur! Atau aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa melukis lagi!" bentak Adrian.
Ia berhasil menarik Valerie ke dalam dekapannya, menempelkan mata pisau bedah yang tipis namun sangat tajam itu tepat di nadi leher Valerie. Revan membeku. Detak jantungnya seolah berhenti melihat kilatan baja di leher istrinya. Bimo segera menurunkan ponselnya, bersiap melakukan gerakan taktis, namun Revan mengangkat tangan, memberi isyarat agar Bimo tidak bergerak.
"Lepaskan dia, Adrian. Ini sudah berakhir," suara Revan terdengar tenang, namun mereka yang mengenalnya tahu bahwa itu adalah ketenangan sebelum badai yang menghancurkan.
"Belum! Ini belum berakhir!" Adrian menyeret Valerie mundur menuju sudut ruangan. Valerie bernapas pendek-pendek, ia bisa merasakan ujung pisau itu menggores sedikit kulit lehernya, memberikan sensasi dingin yang menyakitkan.
Namun, di tengah ketakutannya, Valerie teringat latihan singkat yang diberikan Revan di apartemen semalam.
"Jika lawanmu menggunakan senjata tajam dan memegangmu dari belakang, jangan melawan dengan tenaga. Gunakan titik lemahnya atau ketidaksiapannya saat kau diam."
Valerie berhenti memberontak. Ia mendadak lemas di pelukan Adrian, membuat kakaknya itu kehilangan sedikit keseimbangan karena harus menopang berat tubuh Valerie.
"Mas..." lirih Valerie, matanya menatap Revan dengan kode yang hanya mereka berdua pahami.
"Adrian," Revan melangkah maju satu langkah, suaranya kini sangat rendah dan mengintimidasi. "Kau seorang dokter. Kau tahu anatomi tubuh manusia. Tapi kau lupa satu hal tentang psikologi... orang yang merasa menang biasanya akan lengah pada apa yang ada di depan kakinya."
"Diam! Mundur atau aku..."
Brakk!
Valerie menggunakan seluruh tenaganya untuk menginjak kaki Adrian dengan tumit sepatunya sekuat mungkin, tepat di bagian tulang kering. Saat Adrian mengerang kesakitan dan pegangannya melonggar, Valerie merunduk dengan cepat.
Tanpa membuang sedetik pun, Revan menerjang maju. Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Adrian, membuat pisau bedah itu terlempar ke lantai. Revan tidak berhenti di sana, ia memiting tangan Adrian ke belakang dan menekannya ke tembok dengan tenaga yang mampu mematahkan tulang.
"Bimo, bawa Valerie keluar!" perintah Revan dengan suara menggelegar.
Bimo segera menarik Valerie yang gemetar ke arah pintu. Namun, Valerie berhenti sejenak. Ia melihat kakaknya yang kini meringkuk di bawah kendali Revan.
"Kak Adrian," suara Valerie terdengar dingin dan tajam. "Kau bilang aku gila? Tidak. Kau yang gila karena menganggap cinta dan kesetiaan sebagai kelemahan yang bisa kau beli dengan uang."
Revan menoleh sejenak ke arah Valerie, memastikan istrinya aman, sebelum kembali menatap Adrian dengan jijik. "Kau akan menghabiskan sisa hidupmu bukan di kantor direktur, tapi di balik jeruji besi, tempat yang seharusnya dihuni oleh orang tua kalian bertahun-tahun lalu."
Di luar klinik, sirine polisi mulai terdengar mendekat. Revan melepaskan Adrian saat petugas masuk untuk memborgolnya. Revan segera menghampiri Valerie, meraih wajahnya dengan cemas.
"Kau berdarah, Erie," ucap Revan, jemarinya menyentuh luka goresan kecil di leher Valerie. Matanya memancarkan rasa bersalah yang luar biasa. "Maafkan aku... aku terlambat."
Valerie menggeleng, ia memeluk pinggang Revan erat-erat, tidak peduli pada keramaian polisi di sekitar mereka. "Kau tidak terlambat, Mas. Kau tepat waktu. Selalu tepat waktu."
Keluarga Adiwijaya tidak tinggal diam melihat "permata" mereka diseret ke balik jeruji besi. Bagi mereka, Adrian adalah masa depan dan kehormatan keluarga, sementara Valerie hanyalah noda yang seharusnya bisa dikendalikan.
Begitu kabar penangkapan Adrian sampai ke telinga orang tua Valerie, mereka segera bergerak menggunakan sisa-sisa pengaruh dan kekayaan mereka untuk memutarbalikkan fakta.
Malam itu, di kediaman utama Adiwijaya, suasana terasa mencekam. Ayah Valerie, Hendrawan Adiwijaya, membanting berkas laporan ke meja. "Bagaimana bisa Revanza memegang bukti video itu? Di mana Arsenio?!"
"Arsenio sedang bersembunyi, Mas," jawab ibu Valerie, wajahnya sembap namun matanya memancarkan kebencian. "Kita tidak bisa membiarkan Adrian membusuk di penjara. Dia dokter berprestasi! Dia hanya mencoba menolong adiknya yang tidak stabil."
"Kita akan gunakan kartu terakhir," desis Hendrawan. "Kita suap pihak administrasi rumah sakit untuk menghilangkan catatan medis Kakek, dan kita buat pernyataan bahwa Revanza melakukan kekerasan dalam rumah tangga sehingga Adrian terpaksa membela diri dengan pisau bedah itu."