NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika langit mulai mendung seson 2

Langit sore itu berwarna kelabu.

Awan menggantung berat, seolah siap menumpahkan hujan kapan saja.

Di rumah kecil kami, suara detik jam terdengar lebih jelas dari biasanya. Entah kenapa, akhir-akhir ini rumah terasa lebih sunyi — bukan karena tidak ada tawa, tapi karena tawa itu sudah jarang terdengar.

Raka sudah seminggu penuh pulang larut.

Kadang aku hanya mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki pelan sebelum akhirnya dia merebah di sofa, tertidur tanpa sempat bicara.

Aku tidak pernah marah. Aku tahu pekerjaannya berat, dan aku bangga padanya. Tapi di sisi lain, aku mulai merasa… kosong.

Aku mencoba mengisi hari-hariku dengan mengajar, merawat tanaman, dan menulis di buku catatanku — kebiasaan lama yang tak pernah hilang.

Namun, malam-malam terasa panjang tanpa suaranya di ruang tamu, tanpa aroma kopi yang dulu selalu menemaniku membaca.

Hari Senin, di sekolah, udara terasa sejuk setelah hujan pagi.

Anak-anak berlari di halaman, tertawa di bawah langit yang masih mendung.

Aku duduk di ruang guru, menyiapkan soal ujian sambil menatap jendela yang berembun.

“Bu Alya.”

Aku menoleh. Seorang guru baru berdiri di depan meja — laki-laki muda, mungkin awal 30-an, berpenampilan rapi dengan senyum ramah.

“Saya Revan,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Guru baru mata pelajaran IPS. Mulai hari ini saya resmi ngajar di sini.”

Aku menjabat tangannya sambil tersenyum sopan. “Selamat datang, Pak Revan. Saya Alya, guru biologi.”

“Wah, Bu Alya yang suka bawa tanaman kecil ke kelas, ya?” katanya, tertawa kecil. “Saya pernah dengar anak-anak cerita. Katanya Ibu ngajarnya paling adem.”

Aku ikut tertawa kecil. “Ya, mungkin karena saya lebih suka suasana tenang daripada ramai.”

Dia mengangguk. “Kebetulan saya juga begitu. Senang akhirnya bisa kerja bareng orang yang kelihatannya damai kayak Ibu.”

Aku hanya tersenyum, lalu kembali ke lembar soal di depanku. Tapi entah kenapa, kata-kata “damai” itu terasa menempel di kepalaku.

Damai. Kata yang dulu sering aku rasakan setiap kali bersama Raka — sekarang malah terasa jauh.

Sore harinya, hujan turun lagi.

Aku pulang lebih cepat dari sekolah, menyalakan lampu ruang tamu, dan membuat teh hangat.

Biasanya Raka akan pulang jam delapan, tapi sudah pukul sembilan malam dan belum ada kabar.

Aku menatap layar ponsel — tidak ada pesan masuk.

Lalu aku mengetik pelan:

“Udah makan, Rak?”

Beberapa menit berlalu tanpa balasan.

Aku meletakkan ponsel di meja, lalu melangkah ke balkon. Hujan menetes lembut di atap, menciptakan suara yang menenangkan tapi juga menyayat.

Aku menatap pohon flamboyan di halaman.

Daunnya basah, tapi batangnya tetap kokoh. Akar pohon itu tumbuh dari tanah yang dulu kami gali bersama, saat Raka berkata,

“Tiap cinta butuh tempat buat tumbuh.”

Aku tersenyum getir. “Tapi kalau tanahnya retak, bisa tumbuh nggak, Rak?” gumamku.

Keesokan harinya di sekolah, aku kembali bertemu Revan.

Ia membantu memindahkan pot tanaman ke depan kelas karena aku kesulitan mengangkatnya sendiri.

“Biar saya bantu, Bu,” katanya. “Nggak usah dipaksain.”

Aku mengangguk. “Terima kasih, ya.”

Setelah selesai, kami duduk sebentar di tangga koridor.

Suasana tenang, hanya terdengar suara hujan kecil di kejauhan.

“Bu Alya,” katanya tiba-tiba. “Boleh saya tanya sesuatu?”

Aku menoleh. “Apa?”

“Kalau Ibu lagi ngerasa capek banget, biasanya Ibu ngapain?”

Aku berpikir sejenak. “Saya… biasanya duduk di taman, diam, atau nulis. Kadang cuma liat langit.”

Dia tersenyum kecil. “Berarti kita sama. Bedanya, saya biasanya cuma liat langitnya, nggak punya taman.”

Aku ikut tersenyum, tapi tak berkata apa-apa.

Kami hanya duduk dalam diam, membiarkan waktu berjalan perlahan.

Entah kenapa, obrolan singkat itu membuat dadaku hangat — bukan karena sesuatu yang salah, tapi karena aku lupa rasanya didengarkan.

Malamnya, Raka pulang lewat tengah malam.

Aku sudah menunggu di ruang tamu, tidak bisa tidur.

Begitu dia masuk, aku langsung berdiri. “Rak, kamu capek banget ya?”

Dia mengangguk pelan. “Iya, Ly. Maaf, aku sibuk banget belakangan ini. Kliennya rewel.”

Aku berjalan mendekat, menyentuh bahunya. “Kamu udah makan?”

“Udah di kantor,” jawabnya singkat.

Aku menatap wajahnya yang lelah. “Kamu nggak apa-apa?”

Dia menarik napas dalam. “Aku cuma butuh istirahat, Ly. Aku tidur dulu, ya.”

Aku mengangguk, meski hatiku terasa kosong.

Setelah dia masuk kamar, aku duduk lagi di ruang tamu.

Suara hujan di luar makin deras, tapi rasanya lebih sepi dari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya dalam hati —

Apakah cinta yang tumbuh dari waktu juga bisa memudar karena waktu?

Hari berganti minggu.

Raka semakin sibuk, sementara aku semakin sering pulang larut karena kegiatan sekolah.

Aku tidak sengaja bertemu Revan lagi di ruang guru saat semua orang sudah pulang.

“Kok belum pulang, Bu Alya?” tanyanya.

“Lagi nyelesain nilai anak-anak,” jawabku sambil tersenyum kecil.

Dia mendekat, meletakkan dua bungkus roti di mejaku. “Saya beli roti lebih, buat Ibu. Takutnya belum makan.”

Aku tertegun sejenak. “Oh… makasih, tapi harusnya nggak usah repot.”

“Bukan repot, kok. Lagian saya juga makan,” katanya sambil membuka satu bungkus untuk dirinya.

Kami makan roti itu bersama sambil membahas murid dan kelas. Obrolan ringan, tapi hangat.

Saat aku tertawa karena ceritanya, aku menyadari sesuatu — sudah lama sekali aku tidak tertawa selepas itu.

Namun begitu aku sadar pikiran itu muncul, aku langsung terdiam.

Aku meneguk air mineral di botolku cepat-cepat, mencoba menenangkan diri.

“Sudah malam, saya pulang duluan ya,” kataku buru-buru.

Revan menatapku sopan. “Iya, hati-hati di jalan, Bu Alya.”

Di perjalanan pulang, hujan kembali turun.

Aku menatap jalan yang basah dan lampu-lampu yang buram di kejauhan.

Dan di dada, ada rasa aneh yang tidak bisa aku jelaskan — bukan cinta baru, tapi kerinduan yang belum sempat sembuh.

Sesampainya di rumah, Raka belum pulang.

Di meja makan, ada catatan kecil yang ditulis cepat:

“Meeting mendadak. Jangan tungguin. — Raka”

Aku menatap catatan itu lama, lalu menaruhnya di dalam buku catatanku, di antara halaman-halaman yang penuh tulisan lama tentang cinta dan taman.

Aku menulis di bawahnya dengan pena biru:

“Dulu, kamu janji mau pulang setiap hujan turun. Tapi kali ini, aku cuma berharap kamu masih inget arah pulang.”

Aku menutup buku itu perlahan.

Langit di luar gelap, tapi kilat sesekali menyambar, menerangi ruangan sesaat.

Aku menatap cermin di ruang tamu — wajahku terlihat lelah, tapi bukan karena bekerja, melainkan karena menunggu.

Dan aku sadar, menunggu cinta yang mulai redup jauh lebih melelahkan daripada menunggu orang yang pulang terlambat.

Keesokan harinya, di sekolah, Revan menyapaku seperti biasa. Tapi aku menjaga jarak.

Aku tidak ingin melangkah terlalu jauh ke tempat yang salah. Aku hanya ingin tetap berdiri di tempat yang benar, meski kadang terasa sepi.

Hari itu, setelah semua murid pulang, aku berdiri di halaman sekolah menatap langit sore.

Awan mulai bergerak pergi, menyisakan sedikit sinar matahari.

Aku menarik napas panjang.

“Aku masih cinta kamu, Rak,” bisikku pelan. “Tapi aku juga mulai belajar mencintai diriku sendiri.”

Langit tampak mulai cerah, tapi aku tahu — badai belum benar-benar pergi.

Dan mungkin, cinta kami sedang berada di tengahnya.

Namun, di balik semua itu, aku percaya satu hal:

Jika kami benar-benar tumbuh dari akar yang sama, maka setelah hujan ini, cinta kami akan bersemi lagi — mungkin tidak seindah dulu, tapi lebih kuat dari sebelumnya. 🌧️

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!